
Elsubha.com – Kemiripan Syari’at Satu Dengan Yang Lainnya
Adanya kemiripan dalam syari’at, seperti akhlak dan penggemblengan jiwa -tazkiyatun-nafs, ini dikarenakan sumbernya satu, yaitu Allah Swt. Dia pulalah yang mengirimkan Kitab sebagai perantara antara Tuhan dan hamba-Nya. Sudah tidak diragukan lagi, bahwa ilmu akhlak merupakan ilmu pokok dalam semua syari’at Islam.
Jika memang terbukti bahwa di India, Persia atau China ada sederetan nama-nama nabi, yang mana syari’at mereka adalah syari’at tauhid, tetapi syari’at tersebut kemudian sengaja disisipi syari’at lainnya, seperti yang terjadi pada Sayyiduna Isa As yang memang syari’atnya adalah syari’at tauhid, namun kemudian tersisipi ajaran atau syari’at lain yang bukan bagian dari ajaran agamanya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَّنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَّنْ لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ وَمَا كَا نَ لِرَسُوْلٍ اَنْ يَّأْتِيَ بِاٰ يَةٍ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۚ فَاِ ذَا جَآءَ اَمْرُ اللّٰهِ قُضِيَ بِا لْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَا لِكَ الْمُبْطِلُوْنَ
wa laqod arsalnaa rusulam ming qoblika min-hum mang qoshoshnaa ‘alaika wa min-hum mal lam naqshush ‘alaiik, wa maa kaana lirosuulin ay ya-tiya bi-aayatin illaa bi-iznillaah, fa izaa jaaa-a amrullohi qudhiya bil-haqqi wa khosiro hunaalikal-mubthiluun
“Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad), di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antaranya ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak ada seorang rasul membawa suatu mukjizat kecuali seizin Allah. Maka apabila telah datang perintah Allah, (untuk semua perkara) diputuskan dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.”
(QS. Ghafir 40: Ayat 78)
Adanya keserupaan ini, tidaklah mengharuskan bahwa yang satu mengambil (syariat) dari yang lainnya. Bahkan sering kali ada kondisi dan beragam faktor serupa namun setiap dari mereka tidak mengambil (meniru) dari lainnya, seperti halnya dua orang yang hidup di dua pulau yang berjauhan dan tidak pernah bertemu satu sama lainnya namun memiliki gagasan yang sama, maka yang satu tidak mungkin meniru dari yang lainnya.
Seperti halnya orang yang tertidur karena dihipnotis, kemudian engkau bertanya padanya dan ia menjawab. Sedangkan ada orang lain di tempat yang berbeda juga sama dapat mejawab pertanyaan yang dilontarkan, ini bukan berarti bahwa yang satu meniru jawaban yang lainnya.
Sebab, sumber syari’at adalah satu, yaitu Allah Swt, tujuannya pun juga satu, maka adanya kemiripan antara syari’at yang ada tidaklah memiliki mudharat, sebagaimana Allah Swt mewahyukan pada satu umat, seperti yang diwahyukan pada umat lainnya, maka selagi kita berserah diri dan percaya pada “Pembelajaran Allah Swt” -bahwa itu benar-benar ada-, maka selesailah segala permasalahan yang ada.
Apabila akhlak dan beragam prinsip para sufi terdapat di dalam Al Qur’an dan As-Sunnah Al Musyarrafah, maka orang yang mengatakan bahwa semua itu (akhlak dan beragam prinsip Sufi) diambil dari agama lain, itu hanyalah bualan semata. Sebab, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰ خِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا
laqod kaana lakum fii rosuulillaahi uswatun hasanatul limang kaana yarjulloha wal-yaumal-aakhiro wa zakarolloha kasiiroo
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)
Rasulullah Saw juga bersabda,
وَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي، عَضُوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Hendaklah (kalian) selalu (berpatokan) dengan Sunnah ku dan juga beragam Sunnah Khulafaur-rasyidin Al Mahdiyyin setelahku, peganglah ia dengan gigi kalian (pegang erat-erat).”
Barangsiapa yang masuk Islam dari tangan orang yang bukan ahlinya, maka yang bersangkutan pun tetap menjadi seorang muslim, karena di dalam Islam tidak ada pergantian dan perubahan ajaran. Tidak pula diperbolehkan bagi siapapun, tidak juga bagi para sahabat Nabi Saw untuk menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, setinggi apapun martabat kewaliannya, ia -dan juga orang yang mengambil agama darinya-tetap terikat dengan beragam perkara dasar Islam.
