You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Tobat (Taubatan Nasuhaa)

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Tobat

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًا ۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَـكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ ۙ يَوْمَ لَا يُخْزِى اللّٰهُ النَّبِيَّ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ ۚ نُوْرُهُمْ يَسْعٰى بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَ يْمَا نِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَاۤ اَ تْمِمْ لَـنَا نُوْرَنَا وَا غْفِرْ لَـنَا ۚ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu tuubuuu ilallohi taubatan nashuuhaa, ‘asaa robbukum ay yukaffiro ‘angkum sayyi-aatikum wa yudkhilakum jannaating tajrii ming tahtihal-an-haaru yauma laa yukhzillaahun-nabiyya wallaziina aamanuu ma’ah, nuuruhum yas’aa baina aidiihim wa bi-aimaanihim yaquuluuna robbanaaa atmim lanaa nuuronaa waghfir lanaa, innaka ‘alaa kulli syai-ing qodiir

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.””
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 8)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۚ وَلَا تَلْمِزُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَا بَزُوْا بِا لْاَ لْقَا بِ ۗ بِئْسَ الِا سْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِ يْمَا نِ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa yaskhor qoumum ming qoumin ‘asaaa ay yakuunuu khoirom min-hum wa laa nisaaa-um min nisaaa-in ‘asaaa ay yakunna khoirom min-hunn, wa laa talmizuuu angfusakum wa laa tanaabazuu bil-alqoob, bi-sa lismul-fusuuqu ba’dal-iimaan, wa mal lam yatub fa ulaaa-ika humuzh-zhoolimuun

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 11)

Tobat adalah bentuk kembalinya seorang hamba kepada Allah Swt dengan melakukan ketaatan kepada-Nya. Sebab, orang yang melakukan kemaksiatan itu ibarat hamba sahaya yang kabur dari tuannya. Tobat juga merupakan pos pertama yang disinggahi dari rentetan pos perjalanan menuju Allah Swt, iapun merupakan pondasi maqamat yang disinggahi setelahnya, seorang hamba tidak benar posisi dirinya kecuali dengan bertobat terlebih dahulu, dimana seorang salik mengaplikasikan hal tersebut dengan meninggalkan kemaksiatan yang tampak maupun yang tersembunyi; kemaksiatan yang besar ataupun yang kecil dan hendaknya seorang salik meninggalkan maksiat itu murni karena Allah Swt semata, tanpa paksaan dan juga suatu sebab.

Terkait orang yang sudah terbiasa melakukan maksiat, seperti halnya seorang pencuri, dimana hanya penjaralah yang bisa menghentikan perbuatannya itu, maka dirinya ini masih menyandang titel “pencuri” selagi hatinya tidak meninggalkan kezhaliman dan juga ruhnya masih identik mengarah pada keburukan.

Begitu pula orang yang berangan-angan hilangnya suatu nikmat dari saudaranya, inilah bentuk menyakiti orang lain yang datangnya dari hati orang yang lemah dan inilah bentuk adanya kezhaliman di dalam kalbu. Inilah sikap hasud, yang menandakan kesombongan dan bentuk menentang Allah Swt. Ini pulalah asal muasal kerusakan; yang merupakan penyebab diusirnya iblis dari surga.

Pembuka tobat adalah kesadaran diri, dimana kesadaran diri merupakan cahaya yang Allah Swt sisipkan ke dalam kalbu hamba-Nya yang Dia inginkan. Hamba tersebut tersadarkan dari keterputusan diri dengan Allah yang Maha Pengasih; -Dzat yang telah menganugerahinya beragam nikmat yang tidak terhingga.-Namun hamba ini malah menggunakan beragam nikmat itu untuk memerangi-Nya dengan jalan melakukan perbuatan yang dibenci dan hilangnya rasa malu kepada-Nya, sedangkan ia berada di bawah pengawasan-Nya.

Di saat hamba tersebut sudah sadar, ia pun mengetahui perbuatan kriminal dan buruknya tingkah lakunya, sehingga ia pun memulai untuk merubah kondisi dirinya itu. Langkah pertama yang dilakukan untuk merubah kondisinya itu adalah dengan melepas kebiasaanya itu dan menjauhi semua hal yang mengarah pada kemaksiatan; baik berupa menjauhi tempat kemaksiatan maupun teman yang kerap mengajak pada kemaksiatan dan kemudian ia menggembleng dirinya dalam ketaatan dengan berusaha melakukan pensucian jiwa semampu dirinya, jangan malah melakukan perkara yang membebani dirinya.

Ada pepatah yang menyebutkan:

فَإِنَّ الْمُنبَتَ لَا أَرْضًا قَطَعَ، وَلَا ظَهْرًا أَبْقَى

“Sungguh dengan alat pemotong tidak ada lagi rerumputan yang nampak dan tidak ada lagi tanah yang terkena potong.”

Orang yang bertobat adalah seorang hamba yang melepaskan diri dari perbuatan maksiat dan membenci perbuatan tersebut, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt,

وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَ مْرِ لَعَنِتُّمْ وَ لٰـكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِ يْمَا نَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَا لْفُسُوْقَ وَا لْعِصْيَا نَ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الرّٰشِدُوْنَ 
wa’lamuuu anna fiikum rosuulalloh, lau yuthii’ukum fii kasiirim minal-amri la’anittum wa laakinnalloha habbaba ilaikumul-iimaana wa zayyanahuu fii quluubikum wa karroha ilaikumul-kufro wal-fusuuqo wal-‘ishyaan, ulaaa-ika humur-roosyiduun

“Dan ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan) kamu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 7)

Dia juga menyesali perbuatannya yang telah lampau dan bertekad kuat dalam diri untuk tidak kembali pada kemaksiatan itu selamanya. Dia pun mengembalikan beragam hak kepada pemiliknya dan menghalalkan orang lain yang belum mengembalikan haknya.

Jika dia meninggalkan perkara fardhu yang Allah Swt wajibkan secara sengaja atau karena lupa, maka ia akan mengqadhanya. Banyak para mursyid dan juga salik yang lupa akan perkara ini dan kemudian spontan menyematkan sifat sudah futuh kepada mereka yang tidak melakukan perkara tersebut, dimana terkadang engkau melihat orang yang melakukan perkara nawafil berjam-jam lamanya dan terkadang malah meninggalkan yang fardhu baginya, sementara yang fardhu itu sejatinya adalah pondasi. Maka jika ada orang yang bertobat lalu tidak meng-qadha apa ia tinggalkan dari perkara yang telah Allah Swt wajibkan, lantas bagaimana engkau bisa menyematkan sifat keistiqomahan tobat pada dirinya?

Berhati-hati pulalah dengan sikap menganggap remeh dan melalaikan perkara nafilah (yang sunah). Sebab, orang yang meng qadha perkara tersebut, ia akan mendapat pahala nafilah dan juga pahala perkara yang fardhu; -yaitu dalam kondisi dirinya dilarang melakukan perkara nafilah kecuali hanya perkara nafilah itu saja yang bisa dia lakukan.-

Kemudian hendaklah dia berusaha semaksimal mungkin mengejar ketertinggalan melakukan perbuatan baik semasa dahulu dirinya melakukan kemaksiatan.

Sayyidah Rabi’ah Al Adawiyah pernah berkata, “Tobat kita ini selalu memerlukan tobat yang lainnya.” Hal tersebut lantaran keutamaan Allah Swt dan bukan lantaran keutamaan orang yang bertobat itu, sebab  Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّعَلَى الثَّلٰثَةِ الَّذِيْنَ خُلِّفُوْا ۗ حَتّٰۤى اِذَا ضَا قَتْ عَلَيْهِمُ الْاَ رْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَا قَتْ عَلَيْهِمْ اَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوْۤا اَنْ لَّا مَلْجَاَ مِنَ اللّٰهِ اِلَّاۤ اِلَيْهِ ۗ ثُمَّ تَا بَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوْبُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ التَّوَّا بُ الرَّحِيْمُ
wa ‘alas-salaasatillaziina khullifuu, hattaaa izaa dhooqot ‘alaihimul-ardhu bimaa rohubat wa dhooqot ‘alaihim angfusuhum wa zhonnuuu al laa malja-a minallohi illaaa ilaiih, summa taaba ‘alaihim liyatuubuu, innalloha huwat-tawwaabur-rohiim

“dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika Bumi terasa sempit bagi mereka, padahal Bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 118)

Dengan melakukan ini semua, maka telah hilanglah sisi kezhaliman dari diri hamba tersebut, dimana diri orang yang bertobat juga sudah keluar dari putaran kezhaliman, sebagaimana Allah Swt firmankan,

هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰٓئِكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ  ۗ وَكَا نَ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا
huwallazii yushollii ‘alaikum wa malaaa-ikatuhuu liyukhrijakum minazh-zhulumaati ilan-nuur, wa kaana bil-mu-miniina rohiimaa

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 43)

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI