
Elsubha.com – Istiqomah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا سْتَقِمْ كَمَاۤ اُمِرْتَ وَمَنْ تَا بَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
fastaqim kamaaa umirta wa mang taaba ma’aka wa laa tathghou, innahuu bimaa ta’maluuna bashiir
“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Hud 11: Ayat 112)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلَّذِيْنَ يَحْمِلُوْنَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهٗ يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُوْنَ بِهٖ وَيَسْتَغْفِرُوْنَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۚ رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَّعِلْمًا فَا غْفِرْ لِلَّذِيْنَ تَا بُوْا وَا تَّبَعُوْا سَبِيْلَكَ وَقِهِمْ عَذَا بَ الْجَحِيْمِ
allaziina yahmiluunal-‘arsya wa man haulahuu yusabbihuuna bihamdi robbihim wa yu-minuuna bihii wa yastaghfiruuna lillaziina aamanuu, robbanaa wasi’ta kulla syai-ir rohmataw wa ‘ilmang faghfir lillaziina taabuu wattaba’uu sabiilaka wa qihim ‘azaabal-jahiim
“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka.”
(QS. Ghafir 40: Ayat 7)
Istiqomah adalah sikap berjalan di tengah jalan kesungguhan. la pun bermakna imbang dalam perkataan, perbuatan dan juga kondisi diri.
Di saat Allah Swt telah memberikan nikmat berupa tobat, maka Allah Swt telah memindahkan diri orang tersebut kepada cahaya, sehingga orang ini pun berada dalam benteng kesucian ilahi, dimana orang tersebut kala itu sebagai objek daripada firman Allah Swt,
اَلطَّلَا قُ مَرَّتٰنِ ۖ فَاِ مْسَا كٌ بِۢمَعْرُوْفٍ اَوْ تَسْرِيْحٌ بِۢاِحْسَا نٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَـکُمْ اَنْ تَأْخُذُوْا مِمَّاۤ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْــئًا اِلَّاۤ اَنْ يَّخَا فَاۤ اَ لَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِ ۗ فَاِ نْ خِفْتُمْ اَ لَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِ ۙ فَلَا جُنَا حَ عَلَيْهِمَا فِيْمَا افْتَدَتْ بِهٖ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَعْتَدُوْهَا ۚ وَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
ath-tholaaqu marrotaani fa imsaakum bima’ruufin au tasriihum bi-ihsaan, wa laa yahillu lakum ang ta-khuzuu mimmaaa aataitumuuhunna syai-an illaaa ay yakhoofaaa allaa yuqiimaa huduudalloh, fa in khiftum allaa yuqiimaa huduudallohi fa laa junaaha ‘alaihimaa fiimaftadat bih, tilka huduudullohi fa laa ta’taduuhaa, wa may yata’adda huduudallohi fa ulaaa-ika humuzh-zhoolimuun
“Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik atau melepaskan dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zalim.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 229)
Maka jika ada orang yang berada di sisi suatu batas dan ia tidak melampauinya, maka ia pun tidak dikatakan telah keluar dari maqam tobat.
Di dalam maqam istiqomah, ia pun menjadi objek dari firman Allah Swt,Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اُحِلَّ لَـکُمْ لَيْلَةَ الصِّيَا مِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَآئِكُمْ ۗ هُنَّ لِبَا سٌ لَّـكُمْ وَاَ نْـتُمْ لِبَا سٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّکُمْ كُنْتُمْ تَخْتَا نُوْنَ اَنْفُسَکُمْ فَتَا بَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَا لْــئٰنَ بَا شِرُوْهُنَّ وَا بْتَغُوْا مَا کَتَبَ اللّٰهُ لَـكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَا شْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَ بْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَ سْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَا مَ اِلَى الَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَا شِرُوْهُنَّ وَاَ نْـتُمْ عٰكِفُوْنَ ۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
uhilla lakum lailatash-shiyaamir-rofasu ilaa nisaaa-ikum, hunna libaasul lakum wa angtum libaasul lahunn, ‘alimallohu annakum kungtum takhtaanuuna angfusakum fa taaba ‘alaikum wa ‘afaa ‘angkum, fal-aana baasyiruuhunna wabtaghuu maa kataballohu lakum, wa kuluu wasyrobuu hattaa yatabayyana lakumul-khoithul-abyadhu minal-khoithil-aswadi minal-fajr, summa atimmush-shiyaama ilal-laiil, wa laa tubaasyiruuhunna wa angtum ‘aakifuuna fil-masaajid, tilka huduudullohi fa laa taqrobuuhaa, kazaalika yubayyinullohu aayaatihii lin-naasi la’allahum yattaquun
“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 187)
Oleh karena itu, seyogyanya ia membuat batasan antara dirinya dan perkara yang haram, sehingga ia bisa menjauh dari batasan tersebut dan tidak lagi mendekati batasan itu.
Yang dinilai maksiat dalam maqam tobat adalah jika orang tersebut melakukan perbuatan maksiat. Sedangkan yang dinilai maksiat dalam maqam istiqomah dari kemaksiatan adalah mendekati kemaksiatan itu sendiri. -Tinggalkanlah hal yang membuatmu ragu menuju hal yang tidak membuatmu ragu (perkara yang engkau yakini). Orang yang menjaga dirinya dari perkara syubhat, maka ia telah membebaskan agama dan kehormatan dirinya. Diantara perkara syubhat adalah beragam perbedaan dalam kajian fikih lawan debat yang tidak dibarengi dalil yang kuat.
Di saat kemaksiatan itu dilatarbelakangi oleh kecerobohan dan berlebih-lebihan, maka tengah-tengah itu adalah sebuah sikap yang terpuji. -kedermawanan adalah sikap tengah antara boros dan kikir-, maka condong dari batasan tengah itu berarti mendekati arah maksiat; baik itu ceroboh atau juga berlebih-lebihan.
Dalam magam tobat, seseorang yang memperhatikan sisi balasan pahala tidaklah membahayakan dirinya, sedangkan dalam maqam istiqomah, maka janganlah sekali-kali bertujuan mengharapkan balasan pahala. Hendak dirinya berada pada jalur tengah yaitu istiqomah, dimana keistiqomahan ini setara dengan beragam perkara baik yang ada di dalam diri, seperti kesabaran, rasa syukur, tawakkal, ridha, sederhana, berani, berprilaku baik dan juga semua keutamaan serta akhlak baik yang ada di dalam diri.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَا لُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَا فُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَ بْشِرُوْا بِا لْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
innallaziina qooluu robbunallohu summastaqoomuu tatanazzalu ‘alaihimul-malaaa-ikatu allaa takhoofuu wa laa tahzanuu wa absyiruu bil-jannatillatii kungtum tuu’aduun
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.””
(QS. Fussilat 41: Ayat 30)
