
Elsubha.com – Taqwa
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَ لَاۤ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
alaaa inna auliyaaa-allohi laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun
“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
(QS. Yunus 10: Ayat 62)
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَا نُوْا يَتَّقُوْنَ
allaziina aamanuu wa kaanuu yattaquun
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.”
(QS. Yunus 10: Ayat 63)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا تْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِا لْحَـقِّ ۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَا نًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰ خَرِ ۗ قَا لَ لَاَ قْتُلَـنَّكَ ۗ قَا لَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ
watlu ‘alaihim naba-abnai aadama bil-haqq, iz qorrobaa qurbaanang fa tuqubbila min ahadihimaa wa lam yutaqobbal minal-aakhor, qoola la-aqtulannak, qoola innamaa yataqobbalullohu minal-muttaqiin
“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.””
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 27)
Takwa adalah bentuk pencegahan diri dari adzab dan murka Allah Swt, kekurangan diri dan juga bentuk pengagungan Dzat Allah Swt dimata manusia.
Takwa berasal dari kata “waqa-yaqi,” sebagaimana Allah Swt berfirman,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَا ظٌ شِدَا دٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu quuu angfusakum wa ahliikum naarow wa quuduhan-naasu wal-hijaarotu ‘alaihaa malaaa-ikatun ghilaazhung syidaadul laa ya’shuunalloha maaa amarohum wa yaf’aluuna maa yu-maruun
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)
Juga sebagaimana perkataan orang arab, “Tawaqqa as-sahma wattaqaahu.”
Katakwaan adalah bentuk pemeliharaan kebenaran untuk Dzat Allah Swt tanpa memikirkan sisi pahala, dimana hal ini merupakan tingkatan paling rendah dalam menjauhkan diri dari kesyirikan, sedangkan tingkatan yang paling tinggi adalah memurnikan sirr (jiwa) dari kesibukan pada selain Allah Swt.
Nabi Saw pernah bersabda,
لَا يَكُوْنُ الرَّجُلُ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَالَا بَأْسَ بِهِ مَخَافَةَ مِمَّا بِهِ بَأْسٌ
“Seseorang tidaklah digolongkan ke dalam orang yang bertakwa sampai ia meninggalkan perkara yang tidak mengapa (mubah dilakukan) lantaran takut di dalamnya ada perkara yang tidak boleh dilakukan.” (HR. At-Tirmidzi, ia menilainya hasan, Ibnu Majah, Al Hakim, ia menilainya shahih, dari riwayat ‘Athiyyah As Sa’di).
Dari riwayat ini engkau telah mengetahui, bahwa meninggalkan perkara yang dimubahkan lantaran takut di dalamnya terdapat perkara yang dilarang merupakan bentuk pengaplikasian maqam istiqamah dan dari maqam ini dia naik menuju maqam takwa.
Pada maqam tobat, seorang salik takut pada hukuman yang nyata; yaitu berupa ujian yang tampak dan juga akan dimasukkan ke dalam neraka; atau juga berupa ujian yang tidak tampak, yaitu tidak mendapatkan ridho Allah Swt. Sedangkan pada maqam istiqamah, seorang salik seringkali merasa takut jika dirinya kurang sempurna dalam menjalankan perkara yang berkaitan dengan sisi keesaan Allah Swt dalam segala seginya. Sementara pada maqam takwa, seorang salik kerap merasa takut kepada Allah Swt sebagai simbol pengagungan terhadap Dzat-Nya, yaitu di saat dirinya sudah merasa aman dari adzab dan murka Allah Swt. Dan dikatakan kepadanya, “Berbuatlah apa saja sebab engkau telah diampuni,” maka ia pun tidak akan melakukan beragam perkara kecuali yang Allah Swt suka dan mengundang keridhaan-Nya, dirinya pun selalu dikelilingi rasa malu kepada Allah Swt, sebab Nabi Saw pernah bersabda,
دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ خَيْرٌ كُلُّهُ
“Biarkan saja dia, sebab seluruh rasa malu itu adalah baik baginya.”
Pengagungan dirinya kepada kebenaran merupakan cermin pengagungan dirinya kepada Allah Swt, mungkin inilah makna yang tepat. – Wallahu A’lam. Ini pula yang menjadi makna sabda Nabi Muhammad Saw kepada orang-orang yang ikut perang Badar,
إِنَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ، فَقَالَ: اِعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ
“Sungguh Allah melihat orang-orang yang ikut perang Badar dan la berfirman, ‘Lakukanlah sesuka kalian, dimana Aku telah ampuni kalian.”
Rasa malu dan pengagungan mereka kepada Allah Swt itulah yang menjadi pemisah antara diri mereka dan juga pelanggaran (melakukan kemaksiatan). Posisi diri mereka ini berada pada pemeliharaan Dzat Allah Swt untuk diri mereka sendiri, sebab Allah Swt haruslah ditaati dan tidak melakukan kemaksiatan terhadap Dzat-Nya, hal itu dilakukan bukan lantaran takut pada adzab-Nya.
Di dalam maqam takwa terdapat sikap berpegang teguh kepada Allah Swt, yaitu hendaknya ketakwaan dirimu itu untuk Allah Swt, dengan pertolongan Allah dan bukan mengandalkan hawa-mu. Kondisi inilah yang cocok disematkan pada para sahabat Rasulillah Saw.
Sedangkan terkait perbedaan pendapat yang lahir dari kalangan sahabat Nabi, maka makna hal tersebut termasuk dalam kategori yang disabdakan oleh Nabi Saw,
مَنِ اجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَمَنِ اجْتَهَدَ فَأَخْطَا فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ
“Barangsiapa yang berijtihad dan ijtihadnya itu benar, maka ia mendapat dua pahala dan barangsiapa yang berijtihad dan ternyata ijtihadnya salah, maka ia mendapatkan satu pahala.”
Diriwayatkan dari Umar, dari Nabi Saw, terkait dengan Salim maula Abu Hudzaifah,
لَوْ لَمْ يَخَفِ اللَّهَ مَا عَصَاهُ
“Jikalau ia tidak takut kepada Allah, niscaya ia pun tidak akan berbuat maksiat terhadap-Nya.” (HR. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dari riwayat ‘Abdullah bin Al Arqam).
Maknanya adalah, bahwa meskipun diri orang tersebut dalam kondisi aman (tidak merasakan takut), dia tidak akan melakukan pelanggaran (perbuatan maksiat) lantaran malu kepada Allah Swt.
Rasa takut dalam diri -kewibawaan diri- merupakan bentuk pengagungan seorang kepada Allah Swt terhadap sisi Dzat-Nya dan ia berada pada posisi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana yang Allah Swt firmankan,
فَبِاَ يِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
fa bi-ayyi aalaaa-i robbikumaa tukazzibaan
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 47)
