You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Ikhlas; Maqam Furqan

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Ikhlas; Maqam Furqan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا صْبِرْ نَـفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِا لْغَدٰوةِ وَا لْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْ ۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَ لَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ وَكَا نَ اَمْرُهٗ فُرُطًا
washbir nafsaka ma’allaziina yad’uuna robbahum bil-ghodaati wal-‘asyiyyi yuriiduuna waj-hahuu wa laa ta’du ‘ainaaka ‘an-hum, turiidu ziinatal-hayaatid-dun-yaa, wa laa tuthi’ man aghfalnaa qolbahuu ‘ang zikrinaa wattaba’a hawaahu wa kaana amruhuu furuthoo

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 28)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنَّ صَلَا تِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَا تِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ 
qul inna sholaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi robbil-‘aalamiin

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 162)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَ لَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَا لِصُ ۗ وَا لَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ ۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَاۤ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّا رٌ
alaa lillaahid-diinul-khoolish, wallaziinattakhozuu ming duunihiii auliyaaa, maa na’buduhum illaa liyuqorribuunaaa ilallohi zulfaa, innalloha yahkumu bainahum fii maa hum fiihi yakhtalifuun, innalloha laa yahdii man huwa kaazibung kaffaar

“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 3)

Ikhlas adalah bentuk memurnikan haluan ibadah kepada Allah Swt.

Andai Allah Swt tidak menciptakan neraka, maka manusia dalam peribadatannya ada yang berubah dan juga ada yang tidak berubah. Begitu pula andai Allah Swt tidak menciptakan surga. Anggap saja Allah Swt telah memutuskan suatu kaum untuk dimasukkan ke dalam neraka, sekalipun mereka tahu hal itu secara pasti sebagai berita yang tidak mungkin bohong. Begitu pula sebaliknya, andai Allah Swt telah menetapkan suatu kaum masuk ke dalam neraka, maka diantara kaum tersebut ada yang ibadahnya berubah dan ada juga yang tidak. Rasulullah Saw pernah bersabda,

أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُورًا

“Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang bersyukur.”

Orang-orang yang ibadahnya tidak berubah, mereka adalah orang-orang yang murni menyembah Allah Swt, dimana penyembahannya itu murni untuk Allah Swt semata. Maka sekalipun ada perkataan sufi yang menyatakan, bahwa dalam beribadah mereka tidak melihat surga atau juga neraka, yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Rabi’ah Al ‘Adawiyyah Ra:

الْكُلُّ يَعْبُدُوكَ مِنْ خَوْفِ نَارٍ # يَرَوْنَ النَّجَاةَ حَظًّا جَزِيلاً

“Seluruhnya menyembah-Mu lantaran takut pada neraka, # mereka melihat keselamatan adalah keberuntungan yang besar.”

Yang mereka maksud bukanlah menyepelekan adzab dan pahala Allah Swt -mereka berlindung dari hal demikian-, sebab mereka adalah orang-orang yang memiliki adab yang luhur kepada Allah Swt; Allah lah yang telah memberikan karunia kepada mereka berupa adab tersebut. Akan tetapi yang mereka inginkan dari pernyataan itu adalah sikap ikhlas beribadah hanya untuk Allah Swt semata.

Jika Allah Swt telah menganugerahkan karunia kepada orang-orang yang ibadahnya demikian, mereka pun akan hanyut dengan Allah tanpa memandang sisi keilmuan mereka, mereka inilah orang-orang yang ikhlas.

Dalam maqam takwa, mereka tidak lagi memandang pahala, sedangkan dalam maqam ikhlas mereka hanyut dan tidak lagi memandang amal perbuatan dan patokan sisi keikhlasan diri.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّـكُمْ فُرْقَا نًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ۗ وَ اللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu ing tattaqulloha yaj’al lakum furqoonaw wa yukaffir ‘angkum sayyi-aatikum wa yaghfir lakum, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 29)

Furqân di sini adalah cahaya yang mampu membedakan antara yang benar dan yang batil dalam perkara yang kondisinya telah berbaur, dimana cahaya ini mampu mengurai permasalahan yang tersembunyi dengan memberikan pengetahuan dan juga solusinya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يُؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَآءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ
yu-til-hikmata may yasyaaa, wa may yu-tal-hikmata fa qod uutiya khoirong kasiiroo, wa maa yazzakkaru illaaa ulul-albaab

“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 269)

Yang dimaksud dari Al Hikmah adalah mengenai sasaran kebenaran makrifat -pada dzat, pada inti diri, pada sisi manfaat dan pada tujuan akhirnya- meskipun sangat sulit diketahui. Dengan bahasa lain, bahwa Al Hikmah adalah ulasan yang dapat membawa seseorang sampai pada hal yang ia inginkan dari segi makna dan juga dari segi kontradiksi yang disuguhkan pada makna tersebut.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَا كْتُبُوْهُ ۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَا تِبٌ بِۢا لْعَدْلِ ۖ وَلَا يَأْبَ كَا تِبٌ اَنْ يَّكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّٰهُ فَلْيَكْتُبْ ۚ وَلْيُمْلِلِ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَـقُّ وَلْيَتَّقِ اللّٰهَ رَبَّهٗ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْــئًا ۗ فَاِ نْ كَا نَ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَـقُّ سَفِيْهًا اَوْ ضَعِيْفًا اَوْ لَا يَسْتَطِيْعُ اَنْ يُّمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهٗ بِا لْعَدْلِ ۗ وَا سْتَشْهِدُوْا شَهِيْدَيْنِ مِنْ رِّجَا لِكُمْ ۚ فَاِ نْ لَّمْ يَكُوْنَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَّا مْرَاَ تٰنِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَآءِ اَنْ تَضِلَّ اِحْدٰٮهُمَا فَتُذَكِّرَ اِحْدٰٮهُمَا الْاُ خْرٰى ۗ وَ لَا يَأْبَ الشُّهَدَآءُ اِذَا مَا دُعُوْا ۗ وَلَا تَسْــئَمُوْۤا اَنْ تَكْتُبُوْهُ صَغِيْرًا اَوْ كَبِيْرًا اِلٰۤى اَجَلِهٖ ۗ ذٰ لِكُمْ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ وَاَ قْوَمُ لِلشَّهَا دَةِ وَاَ دْنٰۤى اَ لَّا تَرْتَا بُوْۤا اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَا رَةً حَا ضِرَةً تُدِيْرُوْنَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَا حٌ اَ لَّا تَكْتُبُوْهَا ۗ وَاَ شْهِدُوْۤا اِذَا تَبَايَعْتُمْ ۖ وَلَا يُضَآ رَّ كَا تِبٌ وَّلَا شَهِيْدٌ ۗ وَاِ نْ تَفْعَلُوْا فَاِ نَّهٗ فُسُوْقٌ بِۢكُمْ ۗ وَ اتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu izaa tadaayangtum bidainin ilaaa ajalim musammang faktubuuh, walyaktub bainakum kaatibum bil-‘adli wa laa ya-ba kaatibun ay yaktuba kamaa ‘allamahullohu falyaktub, walyumlilillazii ‘alaihil-haqqu walyattaqillaaha robbahuu wa laa yabkhos min-hu syai-aa, fa ing kaanallazii ‘alaihil-haqqu safiihan au dho’iifan au laa yastathii’u ay yumilla huwa falyumlil waliyyuhuu bil-‘adl, wastasy-hiduu syahiidaini mir rijaalikum, fa il lam yakuunaa rojulaini fa rojuluw wamro-ataani mim mang tardhouna minasy-syuhadaaa-i ang tadhilla ihdaahumaa fa tuzakkiro ihdaahumal-ukhroo, wa laa ya-basy-syuhadaaa-u izaa maa du’uu, wa laa tas-amuuu ang taktubuuhu shoghiiron au kabiiron ilaaa ajalih, zaalikum aqsathu ‘ingdallohi wa aqwamu lisy-syahaadati wa adnaaa allaa tartaabuuu illaaa ang takuuna tijaarotan haadhirotang tudiiruunahaa bainakum fa laisa ‘alaikum junaahun allaa taktubuuhaa, wa asy-hiduuu izaa tabaaya’tum wa laa yudhooorro kaatibuw wa laa syahiid, wa ing taf’aluu fa innahuu fusuuqum bikum, wattaqulloh, wa yu’allimukumulloh, wallohu bikulli syai-in ‘aliim

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang-piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun dari padanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual-beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 282)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَا دِنَاۤ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
fa wajadaa ‘abdam min ‘ibaadinaaa aatainaahu rohmatam min ‘ingdinaa wa ‘allamnaahu mil ladunnaa ‘ilmaa

“lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 65)

Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ عَمِلَ بِمَا يَعْلَمُ وَرَّثَهُ اللَّهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Barangsiapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, niscaya Allah akan mewariskan ilmu yang tidak dia ketahui.”

Diriwayatkan dari Abu Umamah, dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَنْظُرُ إِلَى مَحَاسِنِ امْرَأَةٍ، ثُمَّ يَغْضُّ بَصَرَهُ إِلَّا أَحْدَثَ اللَّهُ لَهُ عِبَادَةً يَجِدُ حَلَاوَتَهَا

“Tidaklah ada seorang muslim yang melihat keindahan seorang wanita, kemudian ia menundukkan pandangannya, kecuali Allah akan membuatkan untuknya ibadah yang kenikmatannya terasa di kalbu.” (HR. Ahmad; Ath-Thabrani; dan Al Baihaqi)

Al Baihaqi lalu berkata, “Akan tetapi yang dimaksud dari hadits tersebut -jika memang benar; Wallahu A’lam bahwa ketika mata sang lelaki tak sengaja melihat wanita tersebut tanpa tujuan apa-apa dan sang lelaki langsung membuang pandangannya itu lantaran sikap wara. Maka ibadah itu merupakan cahaya yang datangnya dari Allah Swt.

Ikhlash merupakan permulaan turunnya limpahan karunia (Al Faidh) yang khusus dan juga bentuk merasakan nikmatnya kedekatan diri dengan Allah Swt. Kondisi ini selalu meningkat, sehingga yang difokuskan adalah kondisi Ash-Shidq (jujurnya kondisi jiwa), hingga ia sampai pada maqam yakin.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِلَّا الَّذِيْنَ تَا بُوْا وَاَ صْلَحُوْا وَا عْتَصَمُوْا بِا للّٰهِ وَاَ خْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُ ولٰٓئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ وَسَوْفَ يُـؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا
illallaziina taabuu wa ashlahuu wa’tashomuu billaahi wa akhlashuu diinahum lillaahi fa ulaaa-ika ma’al-mu-miniin, wa saufa yu-tillaahul-mu-miniina ajron ‘azhiimaa

“kecuali orang-orang yang bertobat memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 146)

Allah Swt lah yang memberikan karunia kepada mereka berupa keikhlasan dan menjadikan diri mereka ikhlas, sehingga mereka pun bisa ikhlas dalam amal perbuatan mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰٓئِفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِ ذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَ 
innallaziinattaqou izaa massahum thooo-ifum minasy-syaithooni tazakkaruu fa izaa hum mubshiruun

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 201)

Maksudnya adalah, bahwa mereka melihat dengan mata kalbu dan bukan mata yang merupakan anggota tubuh; inilah maqam takwa.

Sedangkan dalam maqam ikhlas, mereka pun selalu melihat (kesalahan-kesalahan) yang mereka perbuat, mereka layaknya memiliki mata baru yang lainnya. Maka andai syeithan pun mendatangi mereka dengan beragam tipu muslihat yang tersembunyi-, maka mereka pun mampu menggagalkan dan mengidentifikasi tipuan tersebut, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah atsar.

لَوْ لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَبًّا إِلَّا سَلَكَ فَبًّا غَيْرَ فَجِّكَ

“Jika syeithan menemuimu sedang berjalan di suatu gang, maka ia akan memilih gang lainnya.”

Diriwayatkan bahwa Ali Ra memerangi seorang lelaki yang keluar dari barisan kaum musyrikin dan membantai kaum muslimin serta membunuh beberapa orang; maka keduanya berduel hingga pedang dan tombak keduanya patah, lalu keduanya bergulat dan Ali berhasil mengalahkannya dengan mencekiknya, lalu lelaki itu meludahi Ali, kemudian ia berdiri dan lalu lari. Ali pun pernah ditanya mengapa lelaki itu dibiarkan begitu saja, setelah berusaha menjatuhkannya. Diriwayatkan bahwa beliau lalu berkata, “Aku takut, kemarahanku karena Allah Swt itu bercampur dengan kemarahan yang timbul dari dalam diriku, sehingga aku pun binasa.” Maka lelaki itu pun kemudian memeluk Islam dan Ali pun banyak berbaur dengannya. -Aku tidak tahu keabsahan riwayat ini, akan tetapi kusebutkan riwayat ini sebagai sarana pembelajaran.-

Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menilai dirinya telah beramal dan juga sudah ikhlas.

Maqam dirinya berada pada maqam penyaksian kekuatan diri, ia selalu mengharapkan kautamaan dari Allah Swt dimulai dari level merasa belum memiliki amal simpanan, sebab apa yang telah ia kerjakan, bagi dirinya sama saja ia belum berbuat apa-apa.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِ نَّهٗ يَأْمُرُ بِا لْـفَحْشَآءِ وَا لْمُنْكَرِ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ مَا زَكٰى مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ اَبَدًا وَّلٰـكِنَّ اللّٰهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa tattabi’uu khuthuwaatisy-syaithoon, wa may yattabi’ khuthuwaatisy-syaithooni fa innahuu ya-muru bil-fahsyaaa-i wal-mungkar, walau laa fadhlullohi ‘alaikum wa rohmatuhuu maa zakaa mingkum min ahadin abadaw wa laakinnalloha yuzakkii may yasyaaa, wallohu samii’un ‘aliim

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 21)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اَ تُحَآ جُّوْنَـنَا فِى اللّٰهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّکُمْ ۚ وَلَنَاۤ اَعْمَا لُـنَا وَلَـكُمْ اَعْمَا لُكُمْ ۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُخْلِصُوْنَ 
qul a tuhaaajjuunanaa fillaahi wa huwa robbunaa wa robbukum, wa lanaaa a’maalunaa wa lakum a’maalukum, wa nahnu lahuu mukhlishuun

“Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 139)

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI