
Elsubha.com – Ash-Shidq
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha wa kuunuu ma’ash-shoodiqiin
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 119)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَا لٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗ ۙ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًا
minal-mu-miniina rijaalung shodaquu maa ‘aahadulloha ‘alaiih, fa min-hum mang qodhoo nahbahuu wa min-hum may yangtazhiru wa maa baddaluu tabdiilaa
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya),”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 23)
Yang dimaksud dengan Ash-Shidq adalah menggapai suatu tujuan dengan tekad kuat, berusaha sungguh-sungguh mencapainya dengan beragam kesempurnaan.
Dalam maqam istiqomah, semua perkara yang baik kedudukannya setara di dalam diri. Sedangkan dalam maqam shidq, perkara baik pada dirinya berada pada puncak tertinggi, sekalipun kedudukannya setara.
Sebagian orang ada yang kecintaan dirinya bersifat tenang, tanpa adanya rasa rindu yang memuncah dan membakar hati. Sebagian yang lain ada yang selalu haus dengan rasa rindu yang memuncah, kondisi dirinya seperti orang kehausan yang mencari-cari keberadaan air. Atau juga kondisi orang kelaparan yang mencari-cari makanan. Dirinya dikuasai oleh cinta yang menyala dan bergejolak, sehingga tidak ada istirahat, tidak ada ketenangan, tidak ada sikap sabar dan tidak pula sikap menyabarkan diri. Setiap kali ada waktu lapang, maka kecintaan itu semakin bertambah. Demikian inilah kondisi bathinnya, ia mencintai Allah Swt lantaran Allah Swt telah menganugerahinya begitu banyak nikmat, ia pun mencintai-Nya lantaran Dia Dzat yang dermawan, pemberi nikmat dan segalanya; ia pun mencintai-Nya karena Dialah satu-satunya pemilik kesempurnaan Dzat, yang tidak bisa digambarkan.
Jika kita anggap bahwa ketika itu dirinya hanyut untuk menyaksikan beragam nikmat yang telah Allah Swt berikan kepadanya (tidak lagi memandang nikmat tersebut) dan juga hanyut dari penyaksian beragam sifat Allah Swt yang berkaitan dengan wujudnya alam semesta ini, maka yang menjadi fokusnya kala itu adalah, bahwa dirinya melihat pada kesempurnaan Dzat Allah Swt yang azali dan juga abadi; Dzat yang suci dari segala kekurangan, Dzat-Nya tidak bisa dicerna oleh akal manusia dan tidak dapat dilihat oleh mata, la memiliki kesempurnaan diri; maka hal ini merupakan bagian kecintaan dirinya kepada Allah Swt dengan kecintaan tinggi dan melekat kuat, dimana kecintaannya ini memaksa dirinya untuk selalu rindu kepada Dzat yang ia cintai, layaknya orang tenggelam yang butuh pertolongan. Dia pun mencintai semua yang berasal dari-Nya; baik berupa beragam nikmat, rahmat dan keutamaan milik-Nya.
Rabi’ah Al ‘Adawiyah pernah berkata,
أُحِبُّكَ حُبَّيْنِ: حُبَّ الْهَوَى # وَحُبًّا لِأَنَّكَ أَهْلٌ لِذَاكَا
“Aku mencintaimu dengan dua kecintaan; cinta lantaran hawa (kecenderungan biologis;) dan juga cinta lantaran Engkaulah yang patut dicinta.”
Perkataan ini merupakan kondisi maqam seseorang yang tenggelam dalam cinta, dirinya terasa terbelenggu dan menjadi tawanan Allah Swt. Kecintaan dan akhlak orang yang dalam kondisi ini merupakan hal natural yang tidak ada kaitannya dengan bentuk pembebanan seseorang dengan suatu perkara.
Orang yang memiliki kecintaan yang murni luar dalam, dirinya tidak akan terkejut saat mendapatkan ujian dan cabaan; bentuk cobaan bisa berbentuk kebaikan, sebagaimana cobaan yang juga identik dengan keburukan. Beragam kabar gembira tidak membuat dirinya berbuat semena-mena dan ancaman pun tidak pernah menyusahkan dirinya. Fitnah yang menerpa malah menambah kokohnya keimanan. Kesabaran dirinya adalah bentuk kesabaran yang sesungguhnya, begitu pula rasa syukur dirinya yang merupakan bentuk syukur sesungguhnya, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا لْقَوْلِ الثَّا بِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰ خِرَةِ ۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَ ۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَآءُ
yusabbitullohullaziina aamanuu bil-qoulis-saabiti fil-hayaatid-dun-yaa wa fil-aakhiroh, wa yudhillullohuzh-zhoolimiin, wa yaf’alullohu maa yasyaaa
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 27)
Kerjaannya adalan mencinta, sehingga semuanya berkaitan dengan cinta. Kecintaan itu menggiring dirinya dari sikap ikhlas (beribadah) menuju kecintaan murni; dimana dalam kecintaan tersebut ada murninya pengharapan, murninya kesabaran, muminya sikap bersyukur, dimana murninya kejujuran dalam setiap akhlak yang baik merupakan perbuatan yang terpuji.
Yang dimaksud jujurnya lisan pada hal yang lalu, bukanlah bermakna bahwa itu merupakan bagian dari pelengkapnya maqam tobat, namun yang kami maksud di sini adalah jujur atau murninya kondisi jiwa. Di dalam sebuah hadits disebutkan,
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَسَمْعِي وَبَصَرِي وَأَهْلِي وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ
“Ya Allah, jadikanlah kecintaan-Mu lebih aku sukai daripada diri, pendengaran, penglihatan, keluarga, serta hartaku dan juga (kecintaan itu bahkan lebih) daripada air yang dingin (sekalipun).”
Maka orang yang mencintai Allah Swt, secara otomatis ia akan mencintai Dzat-Nya dan murni mencintai karena-Nya.
Yang termasuk anak tangga mencintai Allah Swt adalah mencintai orang-orang yang Allah Swt cintai sesuai kadar kedekatan mereka kepada Allah Swt; sebab mereka memiliki kecintaan tulus untuk Allah Swt, lantaran mereka adalah orang-orang yang Allah Swt cintai, sebagaimana firman Allah Swt,
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu may yartadda mingkum ‘ang diinihii fa saufa ya-tillaahu biqoumiy yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu azillatin ‘alal-mu-miniina a’izzatin ‘alal-kaafiriina yujaahiduuna fii sabiilillaahi wa laa yakhoofuuna laumata laaa-im, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim
“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 54)
Juga sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits qudsi,
وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِينَ فِيَّ
“Kecintaan-Ku wajib (didapatkan) bagi orang-orang yang saling mencintai pada-Ku.”
Cinta merupakan sifat yang menonjol dalam magam Ash Shida (murninya kejujuran jiwa). Dan pada cintalah pusat magam Ash-Shidq ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لِّيَجْزِيَ اللّٰهُ الصّٰدِقِيْنَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِيْنَ اِنْ شَآءَ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
liyajziyallohush-shoodiqiina bishidqihim wa yu’azzibal-munaafiqiina ing syaaa-a au yatuuba ‘alaihim, innalloha kaana ghofuuror rohiimaa
“agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazab orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 24)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَا بُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ
innamal-mu-minuunallaziina aamanuu billaahi wa rosuulihii summa lam yartaabuu wa jaahaduu bi-amwaalihim wa angfusihim fii sabiilillaah, ulaaa-ika humush-shoodiquun
“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 15)
