
Elsubha.com – Dzat Wajib, Mungkin dan Mustahil
Gambaran akal manusia tidak akan terlepas dari: dzat yang wujudnya ada, yang tidak mungkin dzatnya tiada, ia adalah Dzat (Allah) yang wajib. Kemudian dzat yang wujudnya bisa ada, bisa juga tiada; juga dzat yang wujudnya tiada, namun wujudnya mungkin ada, ia adalah dzat yang mungkin, yang bisa jadi wujudnya ada dan juga tidak ada. Lalu dzat yang tiada dan tidak mungkin wujudnya ada, ia adalah dzat yang mustahil; yaitu yang tidak ada keberadaannya.
Dzat yang wajib adalah Allah Swt, yang wujud Dzatnya selalu ada dan tidak pernah tiada, dimana ia memberikan wujud diri-Nya itu kepada yang lain, Dzat-Nya tidak pernah terkena imbas ketiadaan dari segala segi.
Kemudian dzat yang bersifat mungkin, wujud keberadaan dirinya berkaitan dengan kehendak Allah Swt di zaman azali, bahwa wujud keberadaannya harus ada. Andaipun dinyatakan ia harus ada, maka sisi wajib dirinya ada itu bersifat nisbi, karena keberadaan dirinya memang harusnya ada, dimana ini tidak keluar dari perkara kemungkinan bisa terjadi. Sebab, dari sisi keberadaan dirinya memang bisa saja dirinya ada, jika hal ini masih berkaitan dengan sisi kehendak Allah Swt.
Kemudian dzat yang mungkin keberadaannya, dzatnya berkaitan dengan kehendak Allah Swt di zaman azali, bahwa wujud dirinya tidak ada dan tidak ada jalan bahwa dirinya menjadi ada. Andaipun ia dinyatakan mustahil keberadaannya dari segala sisi, maka sisi mustahil dirinya ini bersifat nisbi, sebab ia tidak serta merta bisa disifati sebagai dzat yang wujudnya ada, ia pun tidak bisa berpindah dari kemungkinan dzatnya mungkin ada. Sebab, dari sisi wujud dirinya, bisa jadi wujudnya ada jika hal itu berkaitan dengan sisi kehendak Allah Swt.
Sementara dzat yang wujudnya mustahil dan dzat yang wujudnya mungkin ada dan dzat yang mungkin diadakan wujudnya sebelum wujudnya ada, maka semua tingkatan ini bergantung pada pemikiran yang sehat, bersamaan dengan penyifatan tidak ada.
Dzat yang mustahil, wujud dirinya tidak boleh dikaitkan dengan ketentuan masa azali.
Dzat yang mungkin, yang keberadaan dirinya tidak mungkin ada; jika keberadaan dirinya dikaitkan dengan ketentuan masa azali, maka ia bisa saja wujudnya ada. Sedangkan dzat mungkin yang berkaitan dengan kehendak Allah Swt di masa azali, maka ketiadaan wujudnya itu sudah pasti, bahwa ia akan nampak dengan sifat wujud tambahan, dimana dirinya tidak memiliki kuasa apapun.
Beragam tingkatan ini saling memiliki keistimewaan tersendiri dalam kondisi ketiadaan dzatnya.
Dzat yang mungkin, yang keberadaan dirinya dikaitkan dengan ketentuan masa azali, martabat ketiadaan wujudnya tidak sama dengan kondisi keberadaan wujudnya.
Semua martabat ini tidak benar jika dicampuradukkan dengan akal sehat atau pada dalil yang shahih atau juga dalam kasyaf yang benar, maka hal ini tidak serta merta menjadi dzat yang wujud dirinya mustahil ada dengan adanya dzat lain dan bukan seuatu yang sifatnya mungkin terjadi. Hal ini pun tidak serta merta menjadikan dzat yang mungkin itu menjadi wajib atau dzat yang wujudnya wajib menjadi wujudnya mungkin ada, dimana tidak ada campur tangan akal, tidak pula dalil yang mendukung serta tidak pula kasyaf dalam semua kondisi ini.
Semua sufi sepakat, hal mendasar yang tidak diselisihi oleh seorang pun adalah, bahwa beragam martabat ilmu itu tidak berubah, semua yang dipahami dari pernyataan mereka (para sufi). Yang tidak sesuai dengan pemahaman ini, maka orang tersebut telah salah dalam memahami pernyataan mereka, sebab ia tidak mengenal istilah mereka (para sufi). Penjelasan global pernyataan mereka sudah cukup sebagai hujjah dalam memahami pernyataan mereka.
Setiap orang yang mencampuradukkan dzat yang hadits dan dzat yang qadim (Allah Swt), maka ia bukanlah orang yang ma’rifat pada Allah Swt, ia pun dinyatakan tidak paham akan syari’at dan tidak pula mengerti tentang hakikat, bahkan ia pun dinyatakan tidak mengetahui seluk beluk alam semesta, ia tersisihkan dari jalur ma’rifat, seperti tersisihkannya Islan dari dasar-dasarnya.
Orang yang berkata, “Aku Allah atau aku di dalam Allah atau sungguh Allah ada di dalamnya,” jika memang kesadaran jiwanya mengalahkan dirinya, maka syari’at memakluminya dan ia pun dimaklumi di sisi Allah Swt. Dirinya yang dalam kondisi demikian ini, tidaklah menginginkan pemahaman yang terkenal dengan tajsid [Allah memiliki tubuh) atau hulul [Allah bisa menempati hamba-Nya] atau ittihad [Allah bisa menyatu dengan hamba-Nya] atau juga perubahan. Terkadang yang digunakan adalah sisi metaforanya dalam memberikan makna terminologi hal tersebut yang hanya bisa dipahami oleh lawan bicara saja. Orang yang banyak menelaah buku-buku para sufi, ia pun akan menemukan ulasan ini dengan penjelasan yang gamblang dalam buku mereka, yaitu tentang ungkapan mereka yang masih rancu.
Orang yang mengatakan hal ini dan yang ia inginkan adalah makna yang sudah banyak dikenal ini (seperti tajsid [Allah memiliki tubuh), hulul [Allah bisa menempati hamba-Nya], ittihad [Allah bisa menyatu dengan hamba-Nya]), maka ia kafir, bodoh dengan prihal Rabbnya, ia tidak lagi menjadi bagian dari agama Islam. -semoga Allah Swt menjaga kita dari keterplesetan ini dengan karunia-Nya.-
Jika ada orang yang mengira, bahwa Syaikh Akbar Sayyidi Muhyiddin Ibnu ‘Araby tidak bisa membedakan beragam martabat tersebut, maka ia tidak mengenal sosoknya. Dalam beberapa karya beliau, sungguh dipenuhi dengan beragam rincian hal ini,beliau pun memberikan penjelasan secara gamblang pada setiap martabatnya. Kami tidak menemukan ada penentang Ibnu ‘Arabi yang selamat dari perbuatan durjana padanya ataupun kajian mereka itu tidak tuntas. Bahkan di dalam pernyataan beliau ada beragam kaidah dasar yang menunjukkan, bahwa pernyataan beliau itu ada pada satu bagian dan pernyataan penentangnya ada pada bagian lainnya.
Dzat yang sempuma nan dermawan serta yang mampu memberikan; andai Dia tidak memberikan dengan perbuatan, maka Dia pun memberikannya dengan kekuatan. Pemberian dengan perbuatan memiliki martabat yang tertinggi daripada pemberian dengan kekuatan.
Allah Swt memiliki kesempunaan Dzat yang tidak ada tandingannya, Dia bahkan di atas kesempurnaan, Dialah dzat yang memberi dengan perbuatan. Jikalau dzat yang mungkin dihadapkan pada Dzat yang wajib di zaman azali, niscaya Dia akan memberikannya wujud tu. A kan tetapi yang menjadi catatan adalah, bahwa martabat dzat yang mungkin itu tidak bisa terjadi kecuali didahului dengan ketiadaan sebelumnya. Allah Swt telah memberikan dzat yang mungkin ini keberadaan wujud dirinya sesuai dengan martabat yang dimiliki, dimana ketentuan di zaman azali tersebut sudah berkaitan dengan pemberian ini, maka Allah Swt pun telah memberikan pemberian ini sejak zaman azali, Dialah yang telah memberi dengan perbuatan-Nya pada masa azali. Dzat yang mungkin wujud, asal wujud dirinya adalah ketiadaan -sebelum ditiupkan keberadaan diri sekalipun ia bersama dzat mustahil yang statusnya tidak ada, terkecuali jikadzat yang mungkin itu mungkin bisa ada, sedangkan dzat yang mustahil sejatinya tidak mungkin bisa ada keberadaannya. Tingkatan keberadaan wujud dzat yang mungkin itu lebih tinggi daripada tingkatan ketiadaan wujud dzat yang mungkin. Atas dasar inilah, maka kesempurnaan dzat yang mungkin itu sesungguhnya terletak pada wujud dirinya.
Seolah-olah beragam martabat dzat yang mungkin dalam kisaran ketiadaan wujudnya, meminta keberadaan diri dari Allah Swt sang Pemberi nikmat, agar Dia memberikan nikmat wujud dan yang lebih dari itu.
Orang yang ‘Arif billah melihat kesempurnaan ini sebagaimana mestinya. Pada tingkatan ini ia tidak lagi melihat rasa sakit dan nikmat yang tampak. la pun tidak menafikan, bahwa dzat yang paling banyak disifati dengan kesempurnaan diri, maka ia memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari yang lainnya, sekalipun yang tertinggi kesempurnaan dirinya itu merasakan sakit pada masa hidupnya dan yang memiliki tingkatan di bawahnya merasakan kenikmatan.
Atas dasar inilah, semua makhluk hidup sejatinya sedang berenang pada ragam nikmat yang dikucurkan lantaran kesempurnaan wujud diri-Nya.
Inilah titik fokus pandangan orang-orang yang ‘Arif billah, yaitu dengan tetap menjaga berbagai tingkatan kesempurnaan. Setiap kali dzat itu meningkat naik dan bertambah sempurna, maka engkau sejatinya lebih dekat dengan kesempurnaan dzat, yaitu kesempurnaannya Allah Swt.
Sedangkan mengenai martabat dzat yang mungkin, diantaranya adalah martabat yang di dalamnya nampak sifat wujud saja, lalu martabat yang di dalamnya nampak dua atau tiga atau empat atau juga lima sifat dan seterusnya.
Dzat wujud yang mungkin (makhluk; manusia) tidak lain hanyalah berupa beberapa martabat kesempurnaan Allah Swt, tidak ada yang nampak pada beragam tingkatan wujud ini kecuali berupa perwujudan Asma Al Husna, Al Haqq, Al Qadir, Al Murid, Al ‘Alîm, Al Hayy, As-Samî’, Al Bashîr, Al Mutakallim; dan juga rahasia dalam kesempurnaan Dzat.
Beragam martabat dzat yang mungkin, wujud keberadaan dirinya tidak mungkin dapat tampak kecuali membawa kesempurnaan Dzat Allah Swt, dimana martabat dzat yang mungkin ini meminta sendiri keberadaan dirinya untuk bisa tampak (terlihat) dengan kesempurnaan tersebut yang terwujud dalam Asma Al Husna.
Apabila engkau katakan, “Beragam martabat atau tingkatan di atas itu terlihat dengan kehendak Allah Swt dan pada Dzat Allah Swt,” maka engkau adalah orang yang jujur. Maksud perkataan, “Bi al haqqi,” adalah dengan kehendak Allah Swt sendiri. Diantara dangkalnya pengetahuan akan hakikat adalah ketika engkau menyangka bahwa kata “فِي” ini menunjukkan sebuah posisi atau juga sebuah gambaran dalam dzat yang wujudnya mungkin ada, akan tetapi yang dimaksud di sini adalah bahwa wujudnya itu tidak berkaitan dengan dzatnya, ia hilang dalam wujudnya Allah Swt bersamaan dengan bersandarnya diripada Allah Swt, juga tegaknya Dzat Allah Swt. Bukan dengan dzat lain yang wujud dirinya mungkin ada, serta juga bukan dengan dzat dirinya sendiri.
Apabila engkau katakan, “Sungguh nama-nama Allah Swt nampak dari beragam martabat atau tingkatan ini. Atau bahwa kesempurnaan Dzat Allah Swt itu nampak pada Asma’ Al Husna, maka engkau adalah orang yang jujur. Sebab, Allah yang Maha Pemberi telah menganugerahkannya pada masa azali, maka kehendak-Nya itu berkaitan dengan penampakan Dzat-Nya pada beragam martabat dzat yang mungkin keberadaan wujudnya ada (makhluk), dengan beragam kesempurnaan Dzat yang tidak dapat dihitung pada semua martabat dzat yang wujudnya mungkin ada.
Maka tidak ada keinginan dalam hakikat diri-Nya, kecuali dengan nampaknya kesempurnaan Dzat-Nya pada beragam martabat tersebut. Terkait kesempurnaan Dzat-Nya, maka itu sudah ditetapkan sejak zaman azali, dimana terlihatnya kesempurnaan Dzat adalah dengan nampak-Nya Allah Swt. Maka tidak ada yang tampak di alam ini kecuali kesempurnaan Dzat-Nya atau bahwa tidak ada yang nampak dari alam ini kecuali dengan tajalli-nya Dzat Allah Swt dengan segala kesempurnaan-Nya. Dengan kesempurnaan Dzat-Nya dan juga dengan perantara Asma’ Al Husna, Dia ingin memperlihatkan ragam kesempurnaan atau Allah terlihat dengan ragam kesempurnaan Dzat-Nya dalam alam semesta ini dan pada ragam martabat dzat yang wujudnya mungkin ada. Maksudnya adalah, nampaknya Allah Swt pada martabat dzat yang wujudnya mungkin ada, dimana Allah ber-tajalli dengan Asma’ Al Husna.
Pernyataan Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi, “Dzat-Nya nampak,” sebab itulah tingkatan tertinggi dari dzat yang wujudnya mungkin ada, dimana Allah Swt membentangkan selendang kesempumaan Dzat-Nya.
Tidak mungkin Allah Swt menginginkan Dzat-Nya tidak sempurna dalam penampakan Dzat pada beragam martabat dzat yang wujudnya mungkin ada. -Maha Suci Allah dari hal yang demikian. Penampakan Dzat Allah berujung pada sisi kekayaan dan dermawannya Dzat; wujudnya Allah yang demikian merupakan lawan kata dari “membutuhkan.”
Permohonan dzat yang wujudnya mungkin ada dengan gambaran kondisi dzatnya, itu merupakan simbol pengagungan sifat ilahi pada dzat tersebut (dzat yang wujudnya mungkin ada) dengan beragam nama-nama ketuhanan yang mengarah pada kesempurnaan Dzat Allah Swt tanpa dugaan adanya pengaruh permohonan dzat yang wujudnya mungkin ada tersebut untuk nampak, namun hal itu murni bentuk kedermawanan Allah Swt.
Tidak ada penisbatan antara pencipta dengan makhluk kecuali bentuk kekayaan mutlak (pada sisi Dzat Allah) sebagai lawan dari membutuhkan secara mutlak (yang ada pada sisi makhluk). Hal tersebut lantaran Dzat Allah Swt yang bersifat dermawan, dimana la menampakkan beragam rahasia kepada hamba-Nya tersebut.
Seolah-olah dzat yang wujudnya mungkin ada meminta kepada Allah Swt agar Allah menyelubungkan diri orang tersebut dengan hiasan kesempurnaan, dimana setiap martabat itudisesuaikan dengan diri dzat tersebut. Maka martabat yang kemudian nampak itu adalah “isim Allah Swt.”
Beragam Asma’ Al Husna seperti, Ar-Rahmân, Ar-Rahîm, Al Malik, Al Quddus, Al Mu’thi, Al Mâni’, Al Hadi, Al Muhyi dan Al Mumit kembali pada isim jami’ yaitu “Allah”.
Setiap martabat makhluk sejatinya memohon Asma Allah yang sesuai dengan tujuan martabatnya, ia juga memohon kepada Allah; sebagai isim jami yang merupakan pusat kembalinya seluruh Asma Al Husna, baik sebagai isim yang menyendiri (seperti: Al Quddûs) maupun bersamaan dengan yang lain.
Dengan penjelasan ini, maka jelas sudah pernyataan Syaikh Ibnu ‘Arabi, yang menyatakan, “Sungguh setiap dzat yang wujudnya mungkin ada meminta Asma Al Husna, dimana Asma masuk dalam isim jami, yang mana semua ini meminta pada Allah Swt agar Allah memberikan karunia pada dzat yang wujud dirinya mungkin ada dengan nampaknya Asma Al Husna pada dzat tersebut, dimana isim jami’ masuk kepada dzat tersebut.” -Selesai sudah penyataan Ibnu Arabi.-
Semua paparan tersebut sebenarnya merupakan gambaran kebutuhan dzat terhadap kedermawanan dan juga kekayaan mutlak (yang dimiliki oleh Allah Swt), dimana alam semesta adalah deretan martabat dzat yang wujudnya mungkin tidak ada, dalam rangka bentuk penghormatan Allah Swt terhadap nampaknya kesempurnaan dzat (makhluk). Kesempurnaan Allah Swt adalah kesempurnaan Dzat-Nya, mustahil jika Dzat Allah itu semakinsempurna dengan nampaknya alam semesta ini atau juga menjadi berkurang tanpanya.
Alam semesta merupakan gambaran kesempurnaan Allah Swt yang hakiki, yaitu gambaran yang sesuai dengan ragam martabatnya secara terperinci dan juga global, dimana itu merupakan isim jami’.
Ini pula yang menjadi makna pernyataan mereka (kaum sufi), “Alam semesta dengan seisinya ini merupakan kumpulan gambaran Allah Swt,” maksudnya bahwa kesempurnaan Dzat Allah Swt nampak pada beragam martabatnya; seperti Al Hayat, Al Qudrah, Al ‘Ilm, Al Hikmah, Al Jûd, Al ‘Adl. Ini pulalah makna dari hadits Nabi Saw yang menyatakan, bahwa “Allah Swt menciptakan Adam dengan gambaran-Nya.” Maksudnya adalah disifati dengan kesempurnaan sisi ketuhanan dan bukan bermakna yang kerap berlaku bagi manusia. Sebab hal itu mustahil lantaran di dalam dirinya terdapat ilmu, kehidupan, kemampuan diri, pendengaran, penglihatan, mampu berbicara, sikap dermawan, rahmat, hikmah dan beragam kesempurnaan lainnya.
