
Elsubha.com – Makna Al Asqam, Muthalsam dan ‘Ain Dzat ‘Aliyyah
Ada kaum yang berprasangka bahwa kata, “Al Asqam,” yang ada didalam shalawat jauharatul kamal berasal dari kata, “As-Saqamu yang bermakna Al Maradhu (sakit).
Disebutkan dalam kitab Gharib Al-Lughah, kata Saqama-yasqimu dengan wazan ‘Adala -ya’dilu yang wazan dan juga maknanya sesuai. Orang arab berkata, Saqamtu idza ‘adaltu (Aku bersikap adil ketika mengadili),
meski demikian, kata, “Al Maradhu,” bukan termasuk hal yang buruk pada sisi kenabian. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَنَبَذْنٰهُ بِا لْعَرَآءِ وَهُوَ سَقِيْمٌ
fa nabaznaahu bil-‘arooo-i wa huwa saqiim
“Kemudian Kami lemparkan dia ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 145)
Telah diriwayatkan pula dengan shahih, sabda Rasulullah Saw,
إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ
“Sungguh aku juga sakit sebagaimana sakitnya dua orang diantara kalian,” (HR. Al Bukhari; Muslim; Ahmad; Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra, Ibnu Abi Syalbah dalam Mushannaf-nya; Ad-Darimi; An-Nasa’i; Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman, Al Bazzar dalam Sunan-nya.) buruknya penyakit pada nabi merupakan ciri kesempurnaan, sebab dalam hal tersebut terdapat sisi merasa berduka dan turut merasakan kesengsaraan umatnya.
Sedangkan kata, “Al Muthalsam,” ditinjau secara bahasa adalah kata “Tharsama,” dalam kamus Lisan Al ‘Arab, kata, “Tharsama Ath-athariq, maknanya adalah jalan itu tersembunyi, maka kata “Al Muthalsam,” maknanya adalah hal tersembunyi yang jarang sekali orang bisa mengungkapnya. Oleh karena itu, dia tersembunyi dari manusia lainnya, lantaran mereka belum mampu menggapainya.
Sementara redaksi dalam Shalawat Al Ghaibiyyah, “Allahumma Shalli wa Sallim ‘ala ‘Aini Dzatikal ‘Aliyyah,” struktur kata mudhaf dan mudhaf ilaih disini (‘Ainid Dzatikal ‘Aliyyah) adalah untuk malaikat yang merupakan kendaraan Allah, ruh Allah. Pengkhususan dengan adanya idhofah ini mengandung maksud memuliakan dan penjelasan akan sisi khusus. Redaksi, “‘Ain,” disini maksudnya adalah pusat mata air. Nabi Muhammad Saw lah airnya Allah, yang didalam beliau terdapat sisi tajalli Allah yang sempurna, dari air inilah ditularkan kepada yang lainnya sesuai dengan kecocokan diri, sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
wa maaa arsalnaaka illaa rohmatal lil-‘aalamiin
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)
Maka jika ada yang beranggapan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah inti dari dzat Allah, maka dia kafir, keluar dari Islam. Bahkan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah menjelaskan ini dalam Jawahirul Ma’âni, bahkan Nabi Saw adalah hamba sekaligus rasul-Nya.
