
Elsubha.com – Kedustaan Terhadap Sufi
Tidak diragukan lagi, bahwa memang ada banyak perkara yang dinisbatkan secara dusta kepada banyak ulama, seperti yang dinisbatkan kepada Syaikh Muhyiddin bin Arabi, Imam Ahmad, Syaikh Majd Ad-Dîn Al Fairuz Abadi; sang pengarang kamus. Juga seperti perkara dusta yang sengaja dinisbatkan kepada Syaikh Asy-Sya’rani dan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata, ketika dikatakan kepada beliau, “Apakah kelak ada orang yang akan berdusta atas namamu?,” beliau berkata, “Iya, oleh karena itu, apabila kalian mendengar suatu perkara yang dinisbatkan kepadaku, timbanglah dengan neraca syari’at; jika sesuai, maka lakukanlah dan jika bertentangan, maka tinggalkanlah.”
Begitu juga para sahabat Syaikh Ahmad At-Tijany telah menyatakan bahwa memang ada beberapa perkataan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang diubah, bahkan yang tidak pernah beliau katakan. Pengarang Jawahir Al Ma’ani sendiri telah menyebutkan bahwa beberapa perkataan itu tidak bersumber dari Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Sebagian orang ada yang menyampaikan bahwa perkataan Syaikh Ahmad At-Tijani Ra dari kaum lainnya dan sebagian lainnya menyatakan itu sebatas pemahaman dirinya, bahkan banyak orang yang keliru dalam pemahaman mereka tersebut. Sementara beragam dasar dan kaidah ilmiah menyebutkan bahwa jika kondisi transformasi perkataan itu demikian, maka tidak dinyatakan sebagai transformasi yang bersambung dari Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Oleh karena itu, jika ditemukan perkataan yang melanggar syari’at -yang sudah tidak bisa digiring kepada makna syari’at-, maka secara syari’at tidak dapat dijadikan hujjah terhadap orang yang dinisbatkan kepadanya perkataan tersebut.
Pada setiap masa, semua yang berafiliasi kepada thariqah At-Tijaniyyah berakidahkan salafush-shalih, mereka bermadzhab Maliki, Syafi’i, Hanafi dan Hanbali. Tidak ada yang berakidah sesat, mereka hanya terikat dengan apa yang sudah ditetapkan oleh syari’at. Hal ini juga pernah disebutkan oleh Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Terkait dengan manuskrip kitab Jawahir Al Ma’ani memang ada beberapa perbedaan, sebagian ada yang redaksinya lebih dan yang lainnya ada yang kurang dibanding manuskrip aslinya. Syaikh Ibrahim Inyâs pernah mengabarkan kepadaku bahwa dia memiliki satu manuskrip kitab tersebut yang ditulis oleh pengarangnya langsung yang didalamnya tidak ada ragam perkara yang dipertentangkan sebagaimana pertentangan yang terdapat dalam kitab yang sudah dicetak. Kamipun melihat beragam perkataan yang dapat merusak makna pada kitab Jawahir dan juga kitab-kitab yang telah tercetak lainnya, baik dengan adanya tambahan maupun pengurangan redaksinya. Jika kondisinya demikian, lantas bagaimana dengan manuskrip yang berupa tulisan tangan?!.
