You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Syarat Muakkadnya Suatu Wiridan

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Syarat Muakkadnya Suatu Wiridan

Beberapa perkara dibawah ini merupakan syarat muakkad dan ragam adab dalam membaca wiridan, memang hal-hal berikut tidak membatalkan wiridan namun mengurangi anwar-nya. Hal-hal tersebut adalah:

1. Duduk.

Hendaknya dia tidak berdzikir dalam keadaan berbaring dan berdiri kecuali ada udzur (halangan). Bacaan dzikirannya akan tetap sah walaupun dilakukan dengan berjalan kaki, dengan syarat sebisa mungkin menghindari hal-hal yang najis.

2. Menghadap Kiblat.

Kecuali apabila ada udzur layaknya seorang musafir yang tidak memungkinkan untuk menghadap kiblat walaupun dalam perjalanan jarak dekat.

3. Membaca Wiridan Dengan Perlahan,

Yaitu sekedar didengar oleh dirinya sendiri. Membaca Wadzhifah dan Hailalah secara berjama’ah, hendaknya menggunakan suara yang keras. Apabila dia membacanya sendiri, maka hendak membacanya dengan perlahan.

4. Berusaha Sebisa Mungkin Untuk Menghadirkan Makna Dzikir Dengan Cara Membacanya Secara Tartil Dan Tidak Banyak Melantunkannya Dengan Lagu.

5. Berusaha Gambaran Menghadirkan Syaikh (Sayyidi Ahmad At-Tijany Ra), Bahkan Yang Lebih Utama Adalah Jika Dirinya Dapat Menghadirkan Gambaran Rasulullah Saw.

Sebab, perkara tersebut dapat menyibukkan akal untuk berfantasi tentang hal yang tidak baik, sehingga dirinya tidak lalai dan tidak terbawa khayalan. Perkara tersebut juga dapat memfokuskan pikiran, sehingga pikiran tidak buyar. Juga dapat melatih jiwa untuk beradab di hadapan mereka, seolah-olah kita hidup di zaman mereka. Hal ini juga dapat mewujudkan ikatan batin dengan keduanya (Rasulullah Saw dan Sayyidi Ahmad At-Tijany Ra) guna mempersiapkan diri untuk sebuah pertemuan yang sempurna dengan mereka secara ruhani, dan inilah yang diharapkan. Menghadirkan gambaran ini merupakan awal dari suatu dzikiran, dimana seorang murid akan selalu dan terus berusaha membiasakan diri hingga dapat wushu/kepada Allah Swt.

Sumber : BUKU QASDUSSABIL FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYAH, SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI