You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 2. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 125),
وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّا تَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗ وَا تَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّا تَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗ وَا تَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا
wa man ahsanu diinam mim man aslama waj-hahuu lillaahi wa huwa muhsinuw wattaba’a millata ibroohiima haniifaa, wattakhozallohu ibroohiima kholiilaa

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan-(Nya).”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 125)

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Maknanya adalah tidak ada satupun yang agamanya lebih baik daripada orang yang ikhlas menyerahkan diri kepada Allah Swt, ini seperti yang difirmankan dalam ayat lainnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُّسْلِمْ وَجْهَهٗۤ اِلَى اللّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِا لْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى ۗ وَاِ لَى اللّٰهِ عَا قِبَةُ الْاُ مُوْرِ
wa may yuslim waj-hahuuu ilallohi wa huwa muhsinung fa qodistamsaka bil-‘urwatil-wusqoo, wa ilallohi ‘aaqibatul-umuur

“Dan barang siapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kukuh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.”
(QS. Luqman 31: Ayat 22)

Yang dimaksud dengan “wijhah” yang dengannya seseorang menyerahkan diri adalah tawajjuh-nya kalbu pada Allah Swt dengan membelakangi segala sesuatu, Nabi Saw pernah bersabda,

إِنَّ اللّٰهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

“Sungguh Allah tidak melihat pada tubuh kalian, tidak pula melihat gambaran kalian, akan tetapi Dia melihat pada kalbu kalian.” Dalam riwayat lain disebutkan,

إِنَّ اللّٰهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.

“Sungguh Allah tidak melihat pada gambaran dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada kalbu dan amal kalian.”

Redaksi, “Ihsan,” diatas memiliki makna seperti yang Rasulullah Saw sabdakan dalam menafsirkan kata ihsan, yaitu:

أَنْ تَعْبُدَ اللّٰهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ

“Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya,” ini adalah sisi ihsar-nya penyerahan diri kepada Allah Swt.

Sedangkan redaksi, وَّا تَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا “sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? (Qs. An-Nisa [4]:125). Maknanya adalah apa yang Allah Swt firmankan tentang nabi Ibrahim As, yaitu:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِذْ قَا لَ لَهٗ رَبُّهٗۤ اَسْلِمْ ۙ قَا لَ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
iz qoola lahuu robbuhuuu aslim qoola aslamtu lirobbil-‘aalamiin

“(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserah dirilah!” Dia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 131)

Perkataan nabi Ibrahim As ini ditafsirkan dengan apa yang Allah Swt firmankan, dimana nabi Ibrahim As berkata kepada kaumnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَا زِغَةً قَا لَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَاۤ اَكْبَرُ ۚ فَلَمَّاۤ اَفَلَتْ قَا لَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ
fa lammaa ro-asy-syamsa baazighotang qoola haazaa robbii haazaaa akbar, fa lammaaa afalat qoola yaa qoumi innii bariii-um mimmaa tusyrikuun

“Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.””
(QS. Al-An’am 6: Ayat 78)

اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ حَنِيْفًا وَّمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ 
innii wajjahtu waj-hiya lillazii fathoros-samaawaati wal-ardho haniifaw wa maaa ana minal-musyrikiin

“Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 79)

Ayat-ayat diatas memerintahkan untuk mengikuti agama nabi Ibrahim As, sebagaimana nabi kita Muhammad Saw memerintahkan kita untuk mengikuti agama nabi Ibrahim As. Sedangkan agama nabi Ibrahim As adalah seperti yang disebutkan sebelumnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُواارْكَعُوْا وَا سْجُدُوْا وَ اعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَا فْعَلُوْا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ 
yaaa ayyuhallaziina aamanurka’uu wasjuduu wa’buduu robbakum waf’alul-khoiro la’allakum tuflihuun

“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 77)

Perintah untuk mengikuti nabi Ibrahim As merupakan bentuk pemuliaan bagi beliau. Nabi Ibrahim As telah diberikan bagian dari maqam nabi Muhammad Saw yang berupa kepatuhan dan ketundukan lantaran tajalli-Nya Allah Swt. Oleh karena itu, ia tidak pernah mengangkat suara pada seseorang lantaran benci, ini karena keagungan tajalli Allah Swt; yaitu dalam bentuk tajalli Allah pada kalbu nabi Ibrahim As dengan sisi keagungan dan sisi kesombongan-Dzat-Nya. Oleh karena itu, nabi Muhammad Saw tidak berani menentang ketika dikatakan,

ارْجِعْ إِلَى رَبَّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ

“Kembalilah pada Rabbmu, mintalah keringanan.”

Sebagaimana nabi Musa As mengatakan kepada nabi Ibrahim As, “Itu lantaran ada sisi tajalli yang besar pada kalbunya.”

Setiap nabi dan rasul telah diberikan secuil dari kedudukan Nabi Saw, sebab nabi Muhammad Saw lah yang jami’ nan meliputi semuanya. Seluruh nabi dan rasul merupakan satu titik dari lautan Nabi Saw. Sedangkan nabi Musa As berani berucap kepada nabi Muhammad Saw untuk meminta keringanan, karena pada waktu itu nabi Musa As memandang pada sisi rahmat Allah semata. Oleh karena itu, nabi Musa As berani berucap kepada nabi Muhammad Saw dan dia membalasnya agar meminta keringanan. Sementara nabi Ibrahim As tidak berani demikian lantaran agungnya sisi tajalli Allah pada kalbu beliau,

-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY