
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِ
marojal-bahroini yaltaqiyaan
“Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu,”
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 19)
بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيٰنِ
bainahumaa barzakhul laa yabghiyaan
“di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.”
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 20)
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Makna dua lautan tersebut adalah lautan uluhiyyah dan lautan makhluk dan penciptaan. Pada lautan penciptaan inilah yang dikatakan oleh Allah, “Kun (Jadilah!),” diantara kedua lautan ini ada barzakh-nya nabi Muhammad Saw. Jikalau tidak ada barzakh-nya Nabi Saw, niscaya seluruh lautan akan terbakar lantaran dahsyatnya wibawa keagungan Dzat Allah Swt.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra melanjutkan: Lautan penciptaan adalah lautan nama dan sifat Allah Swt, tidaklah engkau lihat satu biji atom pun di alam semesta ini kecuali terdapat satu nama atau satu daripada sifat-sifat Allah Swt.
Sedangkan lautan uluhiyyah merupakan lautan Dzat Allah Swt yang mutlak, yang tidak bisa dikira-kira dan tidak pula bisa digambarkan dengan kata-kata, kedua lautan ini tidak dapat bertemu lantaran saking dekatnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلٰـكِنْ لَّا تُبْصِرُوْنَ
wa nahnu aqrobu ilaihi mingkum wa laakil laa tubshiruun
“dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat,”
(QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 85)
Maksudnya adalah keduanya tidak bertemu. Sisi uluhiyyah tidak dapat bercampur dengan sisi ciptaan, tidak pula sisi makhluk bercampur dengan sisi ketuhanan.
Setiap dari kedua lautan tersebut tidak bisa bertemu satu sama lain lantaran ada penghalang di antara keduanya yaitu barzakh yang besar, yang mana ini merupakan kedudukan nabi Muhammad Saw. Semua makhluk yang ada dapat hidup dengan konsistensi keberadaannya dibawah hijab nabi Muhammad Saw dalam rangka menutupi diri dari kedahsyatan Allah Swt, yang ketika makhluk terpapar tanpa adanya penghalang, maka makhluk tersebut akan terbakar dan menjadi sina secepat kedipan mata. Sisi uluhiyyah tetap berdiri pada batasannya begitu pula sisi penciptaan atau makhluk juga ada pada batasannya tersendiri, setiap dari keduanya tidak bisa bertemu dan tidak bisa bercampur lantaran ada barzakh antara keduanya.
Redaksi kata, لَّا يَبْغِيٰنِ “Tidak bercampur,” maknanya adalah satu dengan yang lainnya tidak dapat bercampur.
-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
