You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 19. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 64),
وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِـيُـطَا عَ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ جَآءُوْكَ فَا سْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَا سْتَغْفَرَ لَـهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّا بًا رَّحِيْمًا

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِـيُـطَا عَ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ جَآءُوْكَ فَا سْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَا سْتَغْفَرَ لَـهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّا بًا رَّحِيْمًا
wa maaa arsalnaa mir rosuulin illaa liyuthoo’a bi-iznillaah, walau annahum iz zholamuuu angfusahum jaaa-uuka fastaghfarulloha wastaghfaro lahumur-rosuulu lawajadulloha tawwaabar rohiimaa

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 64)

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Orang yang terjerumus dalam sebuah dosa, lalu memohon ampunan Allah dan bertobat dengan cara mendatangi Rasulullah Saw, maka dia akan menemui Allah Swt dalam kondisi Allah mengampuni dan merahmatinya. Mendatangi Rasulullah setelah beliau meninggal dunia sama dengan mendatangi beliau ketika beliau masih hidup.

Sedangkan terkait dengan diterimanya tobat, maka perbuatan mendatangi Rasulullah Saw ini boleh dilakukan oleh semua orang mukmin jika sesuai dengan aturan syari’at dan terbebas dari ragam perkara yang membatalkan pengampunan dosa tersebut; baik yang masih berkaitan dengan perbuatan dosa itu maupun diluar perkara tersebut.

Ragam perkara yang membatalkan pengampunan dosa adalah adanya sifat riya, sikap dibuat-buat agar mendapatkan sesuatu dari makhluk; baik positif maupun negatif, adanya sikap ujub. Terkait dengan sikap ujub ini hanya bagi orang yang super khusus saja. Sementara ragam perkara yang membatalkan pengampunan dosa diluar perbuatan dosa tersebut adalah seperti meninggalkan shalat Ashar sampai tenggelam matahari tanpa adanya udzur seperti lupa atau juga tidur, sikap menuduh zina orang mukmin yang sudah berkeluarga, memakan upah pekerja setelah sang pekerja menuntaskan pekerjaannya, kesengajaannya memakan makanan yang haram dan tidak bertobat dari perbuatan itu, serta murtad -kami memohon perlindungan dari hal ini-. Begitu juga seperti sikap mencela para sahabat Nabi Saw sesuai dengan hadits tentang hal ini.

Setiap perkara yang membatalkan pengampunan dosa, perbuatan itu dapat membatalkan pengampunan dosa yang terkait saja dan tidak merambat pada dosa yang lainnya. Sedangkan ragam perkara yang membatalkan pengampunan dosa diluar perbuatan dosa tersebut, maka dapat membatalkan semua perbuatan yang dilakukan sebelumnya. -Wassalam-

-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY