You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 28. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. Asy-Syura 42: Ayat 52),
وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗ مَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِ يْمَا نُ وَلٰـكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَآءُ مِنْ عِبَا دِنَا ۗ وَاِ نَّكَ لَتَهْدِيْۤ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗ مَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِ يْمَا نُ وَلٰـكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَآءُ مِنْ عِبَا دِنَا ۗ وَاِ نَّكَ لَتَهْدِيْۤ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ 
wa kazaalika auhainaaa ilaika ruuham min amrinaa, maa kungta tadrii mal-kitaabu wa lal-iimaanu wa laaking ja’alnaahu nuuron nahdii bihii man nasyaaa-u min ‘ibaadinaa, wa innaka latahdiii ilaa shiroothim mustaqiim

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus,”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 52)

Dalam ayat lain disebutkan,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَمَاۤ اَدْرِيْ مَا يُفْعَلُ بِيْ وَلَا بِكُمْ ۗ اِنْ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوْحٰۤى اِلَيَّ وَمَاۤ اَنَاۡ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ
qul maa kungtu bid’am minar-rusuli wa maaa adrii maa yuf’alu bii wa laa bikum, in attabi’u illaa maa yuuhaaa ilayya wa maaa ana illaa naziirum mubiin

“Katakanlah (Muhammad), “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul, dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku dan terhadapmu. Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan.””
(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 9)

Dan beragam ayat semisal ini dan juga tentang makna perkataan sayyidah ‘Aisyah Ra, “Barangsiapa yang berkata bahwa Muhammad mengetahui apa yang ada pada esok hari, maka ia telah kafir,” atau perkataan yang semakna dengan ini, sementara kita pun telah mengetahui bahwa ilmu generasi awal hingga generasi akhir terkandung pada Dzat nabi Muhammad Saw, ilmu inilah yang lantas sampai keseluruh tatanan makhluk sesuai dengan kadarnya?

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Ketahuilah bahwa nabi Muhammad Saw mengetahui seluruh ilmu dari generasi awal hingga generasi akhir secara global dan mutlak. Diantara perkara globalnya adalah pengetahuan beliau tentang beragam kitab ilahiyyah, terlebih lagi mengenai Al Qur’an, beliaupun mengetahui beragam tuntunan keimanan dari awal hingga akhir. Beliau mengetahui apa pentingnya keimanan, apa saja yang dapat merusaknya dan apa pula yang dapat memperkuatnya. Seluruh pengetahuan ini ada pada hakikat Al Muhammadiyyah Saw.

Sedangkan tentang firman Allah Swt,

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗ مَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِ يْمَا نُ وَلٰـكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَآءُ مِنْ عِبَا دِنَا ۗ وَاِ نَّكَ لَتَهْدِيْۤ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ 
wa kazaalika auhainaaa ilaika ruuham min amrinaa, maa kungta tadrii mal-kitaabu wa lal-iimaanu wa laaking ja’alnaahu nuuron nahdii bihii man nasyaaa-u min ‘ibaadinaa, wa innaka latahdiii ilaa shiroothim mustaqiim

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus,”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 52)

Kondisi ini merupakan kondisi nabi Muhammad Saw sebelum beliau menjadi nabi dan Allah belum mengajarkan hakikat keimanan pada beliau, Allah juga belum mengajarkan bagaimana membaca Al Qur’an secara tartil, bahkan Allah juga belum mengajarkan seluk-beluk risalah dan beragam rincian yang dipinta dari risalah tersebut. Semua perkara ini Allah Swt tutupi dari beliau sebelum masa kenabian, semua ini tersimpan pada hakikat Al Muhammadiyyah (nabi Muhammad Saw tidak mengetahui, dan tidak pula dapat merasakannya, hingga sampai pada masa kenabian, dimana kala itu Allah Swt angkat tirai penghalang-Nya dan memperlihatkan kepada beliau semua yang ada pada hakikat Al Muhammadiyyah), yang memperkuat hal ini adalah sabda Rasulullah Saw,

رَأَيْتُ رَبِّي فِي صُورَةٍ شَابٌ

“Aku telah melihat Rabbku pada gambaran pemuda…”

sampai sabda,

وَضَعَ يَدَهُ بَيْنَ كَيْفِيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَهَا بَيْنَ ثَدْيَيَّ، فَعَلَّمَنِي عُلُوْمَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ

“la menaruh tangan-Nya diantara pundakku, sampai aku dapat merasakan kedinginan diantara dua tetekku (bagian dada), maka la mengajariku beragam ilmu generasi awal hingga akhir,”

Kondisi ini ada pada masa kenabian, Allah Swt mengangkat tirai penghalang-Nya dan memperlihatkannya kepada Nabi Saw beragam simpanan pengetahuan, ilmu dan ragam rahasia berikut tingkatannya pada hakikat Al Muhammadiyyah yang tepiannya tidak terbatas dan penghujungnya tidak ada akhirnya.

Dari penjabaran ini hati-hatilah jika engkau memahami bahwa hakikat Al Muhammadiyyah-nya nabi Muhammad Saw sebelum masa kenabian kosong dari beragam pengetahuan tersebut, bahkan yang benar adalah bahwa hakikat Al Muhammadiyyah terisi dengan semua pengetahuan dan ilmu awal semesta ini, ditinjau bahwa hakikat Al Muhammadiyyah adalah makhluk pertama yang Allah Swt ciptakan sebelum la menciptakan segala sesuatu dan Allah Swt membuka ragam kucuran ilmu, pengetahuan serta rahasia pada hakikat Al Muhammadiyyah ini, dimana beragam perkara ini masih tersimpan hingga adanya jasad nabi Muhammad Saw, kemudian Allah Swt memberikan tirai penghalang antara hakikat Al Muhammadiyyah dengan jasad Nabi Muhammad Saw sampai tiba masa kenabian. Ketika itulah, Allah Swt angkat tirai penghalang itu dan memperlihatkan beragam perkara yang Allah titipkan pada hakikat Al Muhammadiyyah; yang sudah kami sebutkan sebelumnya.

Sedangkan apa yang menjadi perbincangan dalam firman-Nya,

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗ مَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِ يْمَا نُ وَلٰـكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَآءُ مِنْ عِبَا دِنَا ۗ وَاِ نَّكَ لَتَهْدِيْۤ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ 
wa kazaalika auhainaaa ilaika ruuham min amrinaa, maa kungta tadrii mal-kitaabu wa lal-iimaanu wa laaking ja’alnaahu nuuron nahdii bihii man nasyaaa-u min ‘ibaadinaa, wa innaka latahdiii ilaa shiroothim mustaqiim

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus,”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 52)

Ayat ini menjelaskan kondisi keterhalangan beliau dari beragam ilmu yang ada pada hakikat Al Muhammadiyyah pada awal permulaan kehidupan beliau saja dan bukannya beliau tidak mengetahui hakikat Al Muhammadiyyah itu sendiri.

Kondisi nabi Muhammad Saw sebelum menjadi nabi, sejak beliau dilahirkan, beliau termasuk pembesar orang-orang yang Arif billah. sisi kemanusiaan beliau bukanlah penghalang beliau untuk bisa mengetahui sisi ilahiyyah yang suci, beliaulah satu-satunya sosok yang memiliki kemampuan tersebut dari kalangan orang-orang yang ‘Arif billah dan Ash-Shiddiqin, sebagaimana penisbatan orang yang Arif billah dikalangan orang secara umum yang tidak mengetahui apa-apa. Pada martabat inilah, nabi Muhammad Saw mampu mengambil ilmu dari Allah Swt tanpa perantara, beliaupun bukannya tidak tahu beragam kondisi hadhrah ilahiyyah, tiada yang luput satupun dari pengetahuan beliau. Beragam ilmu yang ada pada orang-orang yang ‘Arif billah pun ada pada diri beliau, akan tetapi yang Allah Swt berikan penghalang dari beliau Saw adalah tentang risalah dan ragam tuntutannya, apa yang harus dilakukan dan apa yang ingin dicapai dari risalah tersebut. Allah pun memberikan penghalang dari beliau tentang pengetahuan yang berkaitan dengan bagaimana turunnya Al Qur’an, apa yang ingin dicapai dan apa yang diinginkan dari Al Qur’an, serta beragam perkara yang diminta dari turunnya Al Qur’an sampai beliau mencapai martabat kenabian, lalu diangkatlah tirai penghalang antara pengetahuan yang beliau miliki dan apa yang Allah Swt telah simpan dalam hakikat Al Muhammadiyyah, yang berupa ragam ilmu, pengetahuan dan asrar.

Dalil yang menunjukkan apa yang kami sampaikan adalah sabda Rasulullah Saw,

كُنتُ نَبِيًّا وَآدَمُ بَيْنَ المَاءِ وَالطَّيْنِ

“Aku telah menjadi nabi sementara Adam masih ada diantara air dan tanah.”

Dimana pada waktu itulah mustahil jika seorang nabi tidak mengetahui perihal risalah, kenabian, Al Qur’an dan beragam perkara yang diharapkan dari itu semua, semua yang hendak dicapai dan beragam perkara yang dimaksud dari itu semua, hadits diatas menunjuk pada apa yang telah kami paparkan.

Dalil lain yang menunjukkan apa yang kami sampaikan adalah, bahwa sebelum Allah Swt menciptakan wujud nabi Muhammad Saw, Allah Swt belum pernah mengutus nabi, tidak pula rasul di bumi ini, kecuali setelah adanya nabi Muhammad Saw yang memberikan kucuran madad ghaib pada utusan atau nabi tersebut, dimana beragam ilmu, pengetahuan, asrar, fuyudhat, tajalliyat, mawahib, minah, luapan cahaya dan kondisi jiwa yang kadarnya sedikit maupun banyak tidak serta-merta bisa sampai pada seorang nabi atau utusan Allah tanpa adanya perantara permohonan madad dari nabi Muhammad Saw, beliaulah pemberi madad bagi semuanya pada alam ghaib.

Bagaimana bisa nabi Muhammad Saw memberikan madad dengan ragam pengetahuan yang belum beliau miliki, beliau terus saja menjalani sisi yang belum pernah dilakukan oleh yang lainnya, tidak ada yang mampu mengendus maqam beliau yang paling mulia ini, kondisi beliau Saw sebelum wujud beliau ada, sama seperti kondisi pengetahuan beliau setelah mendapat mandat risalah tentang beragam fuyudhat dan madad bagi semua ruh.

Akan tetapi Allah Swt memberikan tirai penghalang pada ragam perkara ini; yang aku maksud adalah tentang pengetahuan nabi Muhammad Saw setelah wujud beliau ada sampai sebelum kenabian; dimana ragam perkara ini tersimpan dalam hakikat Al Muhammadiyyah lantaran adanya rahasia Allah Swt. Sebab, jikalau Allah Swt telah menyingkap semua ini sebelum masa kenabian beliau Saw, maka Allah pun tidak akan sisipkan itu pada hakikat Al Muhammadiyyah dan akan memperbincangkan itu sebelum masa kenabian dan masa pengutusan beliau sebagai seorang rasul.

Jika demikian kondisinya, maka pada saat yang samapun akan terjadi keraguan dengan mukjizat yang dibawa dari pengutusan beliau Saw sebagai seorang rasul, merekapun akan berkata, “Engkau sudah katakan ini sejak usia beliamu, engkau nukil itu dari orang lain, maka engkau bukanlah seorang nabi.” Oleh karena itu, Allah Swt halangi perkara ini agar beliau Saw tidak mengucapkannya.

Ketika tiba masa kenabian beliau, Allah Swt angkat tirai penghalang pengetahuan tersebut dan Allah pun memperlihatkan kepada manusia dari sisi beliau sebelum masa kenabian berupa sosok beliau yang ummi (tidak pandai membaca dan menulis) dan tidak mengetahui apa-apa, beliau pun tidak pemah bercampur dengan satupun ahlu kitab, ataupun mereka mendekat kepada beliau. Hal ini bertujuan agar disaat beliau Saw dapat berbicara kepada mereka dengan perkataan yang menyelimuti kondisi pengutusan beliau sebagai seorang utusan Allah dan juga kondisi kenabian, sehingga merekapun tahu bahwa perkataan itu benar adanya lantaran keluar dari seorang yang tidak pandai membaca dan tidak pula pandai menulis, serta tidak mengetahui apa-apa, terkecuali perkataan itu memang muncul dari sisi kenabian beliau. Inilah rahasia adanya tirai penghalang pada nabi Muhammad Saw sebelum masa kenabian. Dalil yang menguatkan pernyataan ini adalah firman Allah Swt,

وَمَا كُنْتَ تَـتْلُوْا مِنْ قَبْلِهٖ مِنْ كِتٰبٍ وَّلَا تَخُطُّهٗ بِيَمِيْنِكَ اِذًا لَّا رْتَا بَ الْمُبْطِلُوْنَ
wa maa kungta tatluu ming qoblihii ming kitaabiw wa laa takhuththuhuu biyamiinika izal lartaabal-mubthiluun

“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu Kitab sebelum (Al-Qur’an) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 48)

Sementara tentang firman-Nya,

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَمَاۤ اَدْرِيْ مَا يُفْعَلُ بِيْ وَلَا بِكُمْ ۗ اِنْ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوْحٰۤى اِلَيَّ وَمَاۤ اَنَاۡ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ
qul maa kungtu bid’am minar-rusuli wa maaa adrii maa yuf’alu bii wa laa bikum, in attabi’u illaa maa yuuhaaa ilayya wa maaa ana illaa naziirum mubiin

“Katakanlah (Muhammad), “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul, dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku dan terhadapmu. Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan.””
(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 9)

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:

Nabi Muhammad Saw memiliki ilmu yang pasti, bahwa beliaulah pengantinnya kerajaan Allah, tidak ada pada semua makhluk ciptaan ini yang lebih mulia, paling dicintai, paling dipuji dan paling agung langkahnya disisi Allah daripada beliau. Akhir hayat beliau telah dijamin di Akhirat, yaitu akhir hayat yang tidak ada kepedihan dan adzab. Beliau memiliki derajat yang tinggi dari ragam kenikmatan yang kekal, mendapatkan keridhaan Allah Swt selama-lamanya. Ini semua ragam perkara yang tidak lagi dihinggapi kecurigaan dan keraguan.

Apa yang diucapkan oleh nabi Muhammad Saw yang diabadikan dalam Al Qur’an,

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَمَاۤ اَدْرِيْ مَا يُفْعَلُ بِيْ وَلَا بِكُمْ ۗ اِنْ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوْحٰۤى اِلَيَّ وَمَاۤ اَنَاۡ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ
qul maa kungtu bid’am minar-rusuli wa maaa adrii maa yuf’alu bii wa laa bikum, in attabi’u illaa maa yuuhaaa ilayya wa maaa ana illaa naziirum mubiin

“Katakanlah (Muhammad), “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul, dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku dan terhadapmu. Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan.””
(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 9)

Mungkin dapat dimaknai: Beliau ingin merinci semua nikmat, pemberian dan minah Allah Swt pada beliau. Karena bisa jadi ketika beliau mengetahuinya secara global, maka beragam perincian yang ada di surga tidak bisa dibatasi selama-lamanya, sebab akal manusia tidak mampu mengetahui ilmu Allah Swt. Andaipun kami katakan bahwa Nabi Saw mampu meliputi semua ilmu ini, niscaya akan terdetik kembali pada kalbu beliau beragam pemberian dan minah yang Allah Swt berikan di surga, beliau belum mengetahui sebelum ada wujudnya, inilah kiranya pandangan kami yang tidak jauh dari pembahasan.

Mungkin pula yang diinginkan dari perkataan beliau Saw (yang diabadikan dalam Al Qur’an) adalah, bahwa nabi Muhammad Saw mengembalikan perkara tersebut pada pengetahuan ilahiyyah yang ada di zaman azali, karena ilmu Allah Swt pada lingkup ini tidak terbatas dengan apapun, tidak seorang nabi, tidak pula yang lainnya. Hal ini dikuatkan dengan perkataan nabi Muhammad Saw,

وَلَا أَعْلَمُ إِلَّا مَا عَلَّمَنِيَ اللَّهُ

“Aku tidak mengetahui apa-apa kecuali apa yang Allah ajarkan padaku.”

Dan juga firman Allah Swt ketika beliau menceritakan dirinya sendiri tentang apa yang Allah Swt sebutkan dalam ayat,

قُلْ لَّاۤ اَقُوْلُ لَـكُمْ عِنْدِيْ خَزَآئِنُ اللّٰهِ وَلَاۤ اَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَاۤ اَقُوْلُ لَـكُمْ اِنِّيْ مَلَكٌ ۚ اِنْ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوْحٰۤى اِلَيَّ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْاَ عْمٰى وَا لْبَصِيْرُ ۗ اَفَلَا تَتَفَكَّرُوْنَ
qul laaa aquulu lakum ‘ingdii khozaaa-inullohi wa laaa a’lamul-ghoiba wa laaa aquulu lakum innii malak, in attabi’u illaa maa yuuhaaa ilayy, qul hal yastawil-a’maa wal-bashiir, a fa laa tatafakkaruun

“Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” Katakanlah, “Apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?””
(QS. Al-An’am 6: Ayat 50)

Mungkin pula yang diinginkan dari ayat tersebut adalah perkara itu dikembalikan pada hakikat ilmu azali, sebab ilmu tersebut tidak bisa dibatasi, sekalipun beliau sudah mengetahui apa yang telah disebutkan pada pertama tadi.

Sementara apa yang dikabarkan dari khabar ini bahwa nabi Muhammad Saw tidak mengetahui apakah Allah Swt akan merahmati beliau atau akan mengadzab beliau atau akan mendekatkan beliau ke sisi-Nya atau akan menolak beliau di akhirat kelak, maka ini tidak bisa diterima secara hakikat, hal ini dikuatkan dengan firman Allah Swt,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰى 
wa lasaufa yu’thiika robbuka fa tardhoo

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.”
(QS. Ad-Duha 93: Ayat 5)

Dan juga firman-Nya,

وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهٗ لَهَمَّتْ طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ اَنْ يُّضِلُّوْكَ ۗ وَمَا يُضِلُّوْنَ اِلَّاۤ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّوْنَكَ مِنْ شَيْءٍ ۗ وَاَ نْزَلَ اللّٰهُ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۗ وَكَا نَ فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا
walau laa fadhlullohi ‘alaika wa rohmatuhuu lahammath thooo-ifatum min-hum ay yudhilluuk, wa maa yudhilluuna illaaa angfusahum wa maa yadhurruunaka ming syaii, wa angzalallohu ‘alaikal-kitaaba wal-hikmata wa ‘allamaka maa lam takung ta’lam, wa kaana fadhlullohi ‘alaika ‘azhiimaa

“Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (Muhammad), tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka hanya menyesatkan dirinya sendiri, dan tidak membahayakanmu sedikit pun. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 113)

Maka mustahil ini dari Allah Swt, sementara Dia menakut-nakuti beliau Saw dengan adzab, sebab janji Allah Swt tidaklah pernah diingkari.

Sedangkan mengenai khabar ‘Aisyah Ra, meski itu shahih, yaitu pernyataan, “Barangsiapa yang berkata, ‘sungguh Nabi Saw mengetahui apa yang ada pada esok hari, maka ia telah kafir,” atau redaksi yang semakna dengan itu. Maka redaksi ini tidak serta-merta terucap andai ia mendengarnya dari Nabi Saw, kecuali Nabi Saw menyembunyikan perkara ini darinya lantaran rahasia yang nampak pada nabi Muhammad Saw diwaktu itu, yang mana perkara ini tidak mungkin disingkapkan baginya (‘Aisyah Ra), sebagaimana beliau menyembunyikan darinya perihal telah melihat Allah Swt dengan mata kepala dan ini benar telah terjadi sesuai kesepakatan oleh ulama.

Maka kondisi nabi Muhammad Saw menyembunyikan darinya (‘Aisyah Ra) adalah lantaran adanya rahasia yang nampak pada beliau di waktu itu. Beragam khabar dan atsar serta beragam kitab hadits yang ada, seluruhnya dipenuhi beragam informasi dari Nabi Saw untuk jangka pendek maupun panjang setelah masa kenabian, bahkan sebagian sahabat nabi sampai menyatakan, “Nabi Muhammad Saw tidak meninggalkan deretan nama pemimpin sebagai pengganti beliau bagi umatnya sepeninggal beliau, beliau sebutkan itu sampai hari Kiamat tiba.” Juga sebagaimana sabda Nabi Saw,

مَا مِنْ شَيْءٍ لَمْ أَكُنْ أُرِيتُهُ إِلَّا قَدْ رَأَيْتُهُ فِي مَقَامِي هَذَا حَتَّى الْجَنَّةَ وَالنَّارَ

“Segala sesuatu yang belum diperlihatkan padaku sebelumnya, kecuali aku lihat itu semua pada maqamku ini, bahkan sampai surga dan neraka.”

Beragam hadits semisal sangat banyak hingga tidak bisa membuat ragu kaum muslimin.

Yang tersisa dari pembahasan ini adalah sanggahan atas apa yang telah kami sebutkan, yaitu apabila yang kalian sebutkan benar adanya, dimana rahasia ini adalah penghalang yang menghalangi beliau untuk menampakkan apa yang ada didalam hakikat Al Muhammadiyyah sebelum masa kenabian, lantas mengapa beliau tidak menjadi utusan Allah dan tidak pula menjadi nabi sejak belia, sehingga beliau tidak lagi terhalangi akan apa yang ada didalam hakikat Al Muhammadiyyah, sebagaimana kondisi ghaib beliau sebelum adanya jasad beliau yang mulia?

Jawaban untuk perkara ini: Allah Swt melarang beliau untuk mendapatkan mandat utusan Allah dan juga kenabian sebelum berumur empat puluh tahun, alasannya adalah karena kenabian dan juga pengutusan beliau sebagai utusan Allah tidak bisa terwujud kecuali dengan adanya sisi tajalli ilahiyyah, sehingga andai bagian terkecil ini dibebankan pada apa yang ada pada bola bumi ini, niscaya semuanya akan sirna lantaran beratnya beban tanggung jawab dan dahsyatnya kekuasaan Allah Swt, maka para nabipun tidak mampu mengemban tugas ini lantaran dahsyatnya kekuasaan Allah Swt kecuali setelah mereka melampaui umur empat puluh tahun.

Sementara sebelum berumur empat puluh tahun, tidak ada satupun nabi yang mampu memikul beban tajalli tersebut, hal ini lantaran Allah Swt bukakan sisi lemah pada manusia sampai manusia tersebut mencapai usia empat puluh tahun dan dalam ilmunya Allah dia adalah seorang nabi atau utusan Allah, ketika demikian maka Allah memberikan kucuran faidh yang berupa kekuatan ilahiyyah pada ruhnya, yang dengannya dia mampu menanggung sisi tajalli tersebut. Lantaran rahasia inilah, Allah Swt belum memberitahukan seorang pun kecuali telah mencapai usia empat puluh tahun. Inilah penghalang sebenarnya yang menghalangi nabi Muhammad Saw dan para nabi lainnya dalam mengungkap sisi kenabian mereka sebelum batasan usia itu.

Sedangkan nabi Isa As yang kenabiannya sebelum berusia empat puluh tahun, maka jawaban akan hal ini adalah bahwa nabi Isa As kala itu tidak hanya memiliki sisi kemanusiaan saja, akan tetapi separuhnya manusia dan separuh lainnya sisi ruhani, yang terealisasi dengan tiupan malaikat Jibril pada kemaluan ibunya, yang dengan itulah sisi lemahnya kemanusiaan beliau semakin menguat, dengan itulah Allah Swt menambahkan kekuatan nabi Isa As daripada kekuatan para nabi lainnya. Oleh karena itulah, nabi Isa As diutus sebelum usia empat puluh tahun, yaitu lantaran kekuatan yang diberikan kepadanya dari tiupan malaikat Jibril di kemaluan ibunya. Jika demikian maka nabi Isa tentu lebih kuat dari nabi Muhammad Saw?

Jawaban untuk perkara ini: Nabi Isa As tidak lebih kuat dari nabi Muhammad Saw, akan tetapi disaat status nabi Muhammad Saw memiliki kesempurnaan pada sisi kemanusiaan beliau; dari sisi ayah dan ibu beliau, disinilah Allah Swt tutup dengan kekuatan ilahiyyah yang tersimpan pada diri beliau, dengan kekuatan yang melebihi kekuatan nabi Isa As dan para nabi lainnya.

Jikapun ada yang mengatakan bahwa apa yang kalian sebutkan itu tidak benar dan tidak bisa terbayang bahwa beragam ilmu, pengetahuan dan asrar itu tersimpan pada sisi hakikat Al Muhammadiyyah, sementara nabi Muhammad Saw terhalang dari pengetahuan akannya?

Jawaban untuk perkara ini: Apa yang kami suguhkan sebelum ini merupakan perkara nyata yang dapat diindera dan dirasakan, sehingga tidak perlu lagi digambarkan. Hal yang menguatkan apa yang kami utarakan adalah bahwa ruh manusia yang Allah siapkan untuk jasad sebelum Allah pasangkan pada jasad, ia adalah makhluk yang tercipta dari satu sisi sucinya cahaya ilahiyyah. Allah Swt pun sisipkan padanya beragam asrar, ilmu dan pengetahuan-Nya yang tidak ada batasannya dan tidak terhenti pada suatu batasan dan juga titik akhir. Ruh pada waktu itu memiliki sisi ma’rifat pada Allah yang sempurna, yang memiliki kesucian dan kekokohan yang sempurna untuk senantiasa melihat pada hadhrah ilahiyyah, iapun memiliki ilmu yang sempuma yang meliputi ragan ilmu dan pengetahuan yang ada pada sisi hadhrah ilahiyyah, tidak bodoh dengan sesuatu yang ada pada hadhrah ilahiyyah.

Beragam ruh pada ruang ini tidak menggunakan satu pola, bahkan tidak ada batasannya yang mengerucut pada satu pola, akan tetapi beragam ilmu hadhrah ilahiyyah lah yang dibagi kepada ruh-ruh ini sesuai dengan rincian kehendak Allah Swt yang memberikan kucuran faidh dari hadhrah tersebut, sehingga yang berlaku pada ruang tersebut adalah sesuai dengan ketetapan lampau dari kehendak Allah Swt, baik ada yang mendapatkan bagian sedikit dan ada pula yang mendapatkan bagian yang banyak.

Ketika jasad tersusun dan bercampur dengan kotorannya, lalu berbalik dari penisbatan awalnya yang pada puncak kesucian dan bersinar terang benderang menjadi jasad yang ada pada puncak kegelapan nan tebal, maka beragam ilmu pengetahan yang ada sebelum penyusunan jasad itupun terhalang. Tirai penghalang ini terus berlangsung sejak jasad itu tersusun, maka ketika Allah Swt menginginkan seorang hamba-Nya bisa sampai pada kesucian pengetahuan, Allah pun angkat tirai penghalang antara dirinya dengan apa yang disimpan dalam hakikat ruhnya, yang berupa ragam pengetahuan dan ilmu, maka dari itu ia mampu mengetahui suatu perkara sampai hakikatnya, iapun mengetahui apa yang Allah Swt kucurkan dari hadhrah ilahiyyah setelah kondisinya ma’rifat dan belum ada pada ruhnya sebelum itu, iapun akan mengetahui perbedaan antara dua perkara, inilah yang diketahui oleh semua Arif billah. (Argumen Pertama).

Argumen Kedua: Manusia adalah inti dan esensi ruh dan tidak ada yang lainnya. Sungguh jasad yang nampak ini bagi ruh adalah layaknya baju yang dipakai, maka tidak ada manusia kecuali ruh, kemudian keberadaan ruh saat ini sedang ditutupi dengan tirai yang menghalangi hakikat ruh tersebut, jasad tidak lagi mengetahui bahwa ruh adalah intinya, maka apabila Allah Swt menginginkan jasad tersebut sampai pada kondisi ma’rifat nan suci, Allah Swt angkat tirai penghalang tersebut dari hakikat ruhnya, sehingga jasad tersebut mengetahui hakikat ruh dari sisi intelektualitas dan dari sisi inderawi, dengan bentuk penyingkapan inti yang juga dilihat dari sisi keyakinan.

Jasad pun akan tahu beragam ilmu dan pengetahuan yang Allah Swt titipkan pada ruh tersebut, sementara kini ia terhalangi padahal ia adalah inti dari jasad itu sendiri. Inilah argumentasi sandaran kami atas apa yang kami ucapkan berkaitan dengan hak nabi Muhammad Saw.

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:

Sisi uluhiyyah yang disaksikan bagi selain Allah Swt ada dua macam:

Pertama, bagian dari sisi uluhiyyah yang hanya berkaitan dengan sisi uluhiyyah saja.

Kedua, bagian dari sisi uluhiyyah yang berkaitan dengan makhluk, dimana beragam makna ilahiyyah dapat diketahui oleh makhluk, dengan makna ilahiyyah itulah beragam makhluk dapat diketahui. Sementara bagi seorang wali yang kamil haruslah mampu menyaksikan dua perkara tersebut.

Argumentasi terbesar atas apa yang kami sebutkan adalah, apa yang disebutkan pada sosok nabi Muhammad Saw sebelum masa kenabian; yaitu tentang ragam ilmu, sisi kenabian, sisi risalah, beragam kitab dan keimanan sudah ada pada hakikat ruh beliau Saw namun tertutupi dengan tirai penghalang. Hal ini sama seperti kondisi orang yang sedang tidur, sebab beragam ilmu yang diketahui pada kondisi sadar tertutup dengan kondisi tidur sampai bangun dan hilang tirai penghalang yang berupa tidur tersebut dan ruh pun akan mendapati ragam ilmu tersebut masih ada pada dzatnya. Inilah kondisi nabi Muhammad Saw sejak beliau diciptakan hingga masa kenabian.

-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY