You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 6. Aku bertanya pada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra: Apa yang dimaksud dengan ragam cahaya yang nampak pada orang yang baru menapaki thariqah?

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya pada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra: Wahai penghulu kami, tempo hari ada permasalahan yang sulit bagi kami, maka kami ingin dari Allah kemudian dari sisi keutamaan antum agar berkenan menjelaskan untuk kami ragam ilmu yang nampak pada Sayyidi Syaikh Ra; apa yang dimaksud dengan ragam cahaya yang nampak pada orang yang baru menapaki thariqah? Apakah ini merupakan cahaya azaliyah yang ada pada seorang mukmin yang disingkapkan baginya lantaran sebab dia bertobat ataukah cahaya ini tidak akan nampak kecuali iman benar-benar telah ada dalam kalbu, apa yang menyendat cahaya mata batin untuk dapat menyaksikan karunia Allah (bahasa kiasan)?

Lantas apa minuman dari makanan keridhaan yang dingin, yang kaitannya dengan apa yang dilakukan pada Dzat yang dicintai murid tadi? dan dengan apa seorang murid bisa mengitari kerajaan Allah daripada berada di alam yang gelap? Dengan apa seorang murid mengitari alam malaikat; apakah dengan ilmu atau dengan pemahaman? Apakah ada ruang untuk akal disitu? Apakah ilmu itu memiliki pengetahuan untuk memastikan jalan yang sedang dijalani oleh kaum sufi?

Apakah pemahaman memiliki pengetahuan akan alam yang bersinar? Apakah yang dimaksud dengan bulan tauhid yang mendapatkan support dari mataharinya ma’rifaf? Angin pagi apa yang mampu menguasai ruh? Apakah sang murid tadi ada pada penanganan seorang Syaikh atau selain penanganan Nabi Saw? Apakah Syaikh tersebut menunjukkan murid pada Allah dengan ucapannya atau dengan perbuatannya? Ataukah Syaikh tersebut memiliki kekuatan dan rahasia yang dapat menarik ruh menuju hadhrah Allah yang Maha Suci?

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

-Semoga Allah memberikan taufik ke arah jalan yang benar- Perlu diketahui, bahwa ragam cahaya itu bukanlah cahaya azali, bahkan ruh tadi sengaja diciptakan sebagai hiburan dari Allah Swt bagi pengamal thariqah, namun cahaya ini tidaklah lazim ada pada setiap salikin, tidak lazim ada pada setiap maqam, tidak lazim ada pada setiap kondisi jiwa bahkan tidak lazim ada pada setiap murid itu ber-tawajjuh, sehingga cahaya ini terkadang bisa muncul dan terkadang juga tidak muncul.

Pernyataan penanya: Lantas apa yang menyendat cahaya mata batin untuk menyaksikan karunia Allah (bahasa kiasan)?

Jawaban pernyataan ini adalah:

Karunia Allah merupakan cahaya pemberian Allah yang nampak dari hadhrah ilahiyyah, yang mempengaruhi pemberian Allah Swt yang datangnya dari perbendaharaan nama-nama dan sifat-sifat Allah, yang dengan inilah Allah Swt tampakkan nikmat tersebut, dimana cahaya mata batin ini tidak bersambung dengan orang tersebut sampai ia melihat cahaya itu dengan mata kepala sendiri. Yang dapat dilihat oleh cahaya mata batin hanya pada pemberiannya saja, sedangkan cahaya yang datang dari hadhrah ilahiyyah yang mempengaruhi pemberian ini, tak lain ini datangnya dari sisi kehendak ilahiyyah, yang merupakan bagian dari perbendaharaan Allah yang Dia tampakkan dengan ilmu-Nya, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa mengetahuinya, namun terkadang perkara ini bisa diketahui oleh pembesar ‘Arifin; orang yang khusus di hadapan Allah saja sehingga mereka bisa melihat cahaya ini dengan mata kepala mereka.

Pernyataan penanya: Lantas apa minuman dari makanan keridhaan yang dingin, yang kaitannya dengan apa yang dilakukan pada Dzat yang dicintai murid tadi (bahasa kiasan)?

Jawaban pernyataan ini adalah:

Maksud dari minuman diatas adalah sebuah kondisi kenyamanan diri dengan perkara yang sukar, dengan perkara yang membinasakan dan mushibah yang berat, kondisi kenyamanan jiwa ketika seseorang sampai pada puncak kelaparan yang dahsyat, lalu makan dengan makanan yang paling enak. Gambaran ini bukan dari kebiasaan seorang hamba, bukan pula trik yang digunakan untuk segera wushul pada Allah Swt, tetapi kondisi jiwa seperti ini benar-benar merupakan satu dari ragam hadiah Allah Swt yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dengan keutamaan-Nya. Memang terkadang rasa kenyamanan jiwa itu sampai pada titik demikian yang membuat hamba tersebut tidak lagi merasakan derita ragam mushibah dan perkara yang membinasakan.

Pernyataan penanya: Dengan apa seorang murid bisa mengitari kerajaan Allah daripada berada di alam yang gelap? Dan dengan apa pula seorang murid bisa mengitari alam malaikat; apakah dengan ilmu atau dengan pemahaman? Apakah akal memiliki ruang untuk perkara itu? Apakah ilmu itu memiliki pengetahuan tahqiq tentang apa dijalani oleh kaum sufi? Apakah pemahaman itu memiliki pengetahuan terkait alam yang bersinar?

Jawaban pernyataan ini adalah:

Sang murid berkeliling mengitari alam malaikat; baik dengan khayalan atau dengan ruhnya, semua perkara itu tidak ada kaitannya dengan ilmu dan juga pemahaman, tetapi dengan cahaya suci yang dilemparkan dari hadhrah Allah yang Maha Suci, cahaya ini mengenai orang yang patut mendapatkannya, sehingga cahaya ini memberikan efek kejernihan, keajegan dan kedekatan dengan hadhrah ilahiyyah, dengan cahaya inilah sang murid bisa mengitari alam manusia, alam malaikat dan alam Jabarut (alam Allah) sesuai dengan kehendak-Nya.

Pernyataan penanya: Apakah yang dimaksud dengan bulannya tauhid yang meminta madad dari mataharinya ma’rifat (bahasa kiasan)?

Jawaban pernyataan ini adalah:

Bulannya tauhid adalah bentuk penyaksian sisi kemanunggalan Allah Swt pada semua perkara yang ada pada makhluk; penyaksian ini dilakukan secara dzauqi (dirasakan), secara disingkapkan dengan nyata dan yakin, sehingga sang murid akan melihat ragam perkara yang terpisah-pisah namun memiliki satu esensi, seperti permata yang tidak bisa dibagi-bagi.

Penyaksian semacam ini jika diberikan pada yang lainnya, maka belum tentu diapun akan melihat perkara yang banyak tadi. Penyaksian semacam ini dikalangan orang yang ‘Arifbillah kerap disebut dengan taqrir al muthlaq.

Penyaksian semacam ini tidak akan diberikan kecuali setelah sang murid memiliki kejernihan dan kesempurnaan ma’rifat pada Allah Swt.

Pernyataan penanya: Angin pagi apa yang mampu menguasai ruh? Apakah sang murid tadi ada pada penanganan seorang Syaikh atau penanganan Nabi Saw?

Jawaban pernyataan ini adalah:

Yang dimaksud dengan angin pagi adalah ragam karunia cahaya yang datang dari hadhrah Allah Al Haq; yang mencakup cahaya nan suci, kondisi jiwa yang luhur, akhlak yang suci, bersih nan jernih, kondisi jiwa yang tenggelam dalam lautan keyakinan. Kondisi ini dikalangan orang yang ‘Arifbillah kerap dibahasakan dengan jadzab.

Kondisi ini datang dari sisi ilahiyyah yang lembut bagi orang yang Allah cintai, Allah Swt pilih dan siapkan untuk senantiasa bisa memantau hadhrah-Nya.

Apabila cahaya ini datang pada ruh atau pada kalbu atau juga pada asrar, cahaya ini akan menariknya kepada hadhrah ilahiyyah dengan cara dipaksa, sehingga orang tersebut pun tidak bisa mengelaknya. Datangnya cahaya ini kepada seorang murid murni dari pemberian Allah Swt tanpa ada penyebabnya; bahkan cahaya ini adalah sisi perhatian dan pilihan Allah Al Haqq bagi siapa saja yang Dia kehendaki, cahaya ini datang ke hakekat Al Muhammadiyyah dan darisinilah cahaya itu akan kembali disumberkan.

Terkadang Syaikhnya akan hadir bersama cahaya ini dan terkadang beliaupun tidak hadir bersama cahaya ini. Terkadang cahaya ini datang dengan cara ber-tawajjuh dengan himmah Syaikh, jika memang Allah Swt inginkan ini kepada sebagian murid Syaikh tersebut, tetapi disisi lain terkadang cara ini pun tidak memberikan hasil apa-apa.

Pernyataan penanya, “Apakah Syaikh tersebut menunjukkan murid pada Allah dengan ucapannya atau dengan perbuatannya? Ataukah Syaikh tersebut memiliki kekuatan dan rahasia yang dapat menarik ruh menuju hadhrah Allah yang Maha Suci?”

Jawaban pernyataan ini adalah:

Sungguh Syaikh menunjukkan muridnya secara totalitas pada sisi zhahir maupun bathin, dengan perkataannya, dengan perbuatannya, dengan kondisi jiwanya, dengan gerakannya dan dengan sisi diamnya;

Sementara pernyataan penanya: Syaikh dapat menarik ruh….”

Jawaban pernyataan ini sudah kami paparkan pada jawaban mengenai kata kiasan “angin pagi.”

Pertanyaan penanya: Lantas apa yang diyakini pada diri Syaikh tersebut; apakah dia adalah penampakan sisi hakekat yang tidak bisa dicerna akal dan juga tidak bisa dipahami, atau dia adalah hakim bagi jiwa dengan adanya ketakwaan ruh saja? Atau dia adalah makanan jiwa untuk dapat menerima kucuran ilahiyyah yang cocok bagi sang murid? Ataukah Syaikh adalah wakilnya Rasulullah Saw yang men-yampaikan ragam rahasia batin yang tidak diketahui oleh orang yang bergelut di keilmuan zhahir, Jika yang benar adalah seperti apa yang telah kami sebutkan, yaitu Syaikh hanya menunjukkan sisi yang nampak saja, terkadang masih berkaitan dengan panca indera, maka yang terkalahkan dalam perkara ini adalah ruh tidak dapat meningkat pada tingkatannya?.

Jawaban pernyataan ini adalah:

Syaikh dalam sebuah thariqah menempati posisi memberi petunjuk, dia mengetahui seluk beluk thariqah dan ragam perkara yang menakutkannya, dia menyiapkan ragam tunggangan dan bekal pada setiap tempat. Syaikh ini juga menempati posisi dokter ahli yang mengetahui ragam jenis penyakit, mengetahui seluk beluk penyakit dan juga mengetahui bagaimana cara mengobati, berapa takaran dan bagaimana caranya, diapun mengetahui ragam obat yang akan diberikan pada penyakit tersebut sampai kalbu dan ruh kembali pada kesehatan yang sempurna. Inilah yang dimiliki seorang Syaikh.

Sedangkan selain perkara ini; yaitu yang berupa kucuran ilahiyyah, sisi tajalli, ragam cahaya, ragam rahasia, ragam kondisi jiwa, ragam ilmu dan ma’rifat, tauhid dan menyendiri dengan Tuhan yang satu, senantiasa meningkat dalam ragam manâzil dan maqâmat, maka ini semua perkara ini ada di tangan Allah Swt, Dia bisa memberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan dapat melarang siapa saja yang Dia kehendaki. Syaikh tersebut adalah penyebabnya, sesuai dengan aturan yang berlaku diawal.

Pernyataan penanya: Apakah seorang guru bisa berbuat sesuatu pada ruhnya ruh atau dia hanyalah tempat besar untuk ruh saja? hingga sang murid sampai dan kembali lagi, atau ruhnya tidak pernah terpisah dengan dirinya sama sekali? Akupun bertanya mengenai kondisi jiwa Syaikh, apa penyebab terkadang Syaikh meng-umpulkan sang murid pada dirinya, terkadang pada nabi Saw dan terkadang pada Allah Swt; apakah semuanya itu terstruktur pada sifat dan kondisi jiwanya atau tidak?”

Jawaban pernyataan ini adalah:

Yang dimaksud dengan Ruhnya ruh adalah ruh hadhrah Al Quds yang datang dengan membawa kucuran ilahiyyah nan suci, yang dipenuhi dengan ragam ma’rifat dan ilmu, ragam asrâr dan cahaya Ilahiyyah, ragam hikmah dan permasalahan yang mendalam sekaligus yang sepele, ragam pemberian dan hadiah yang tidak bisa diketahui dan tidak pula bisa dinalar, ragam akhlak dan kondisi jiwa, keyakinan dan tauhid, penyingkapan alam ghaib yang sempurna dan penyaksian yang paling besar (futûh), puncak ma’rifat dengan segenap martabatnya; yang berupa ma’rifat secara dzauqiyyah dan nyata terlihat bukan secara keyakinan saja; inilah ruh yang kerap dibahasakan dengan ruhnya ruh.

Ruh bagi Ruhnya ruh seperti jasad yang tipis bagi ruhnya hewan yang mampu mengatur kerja jasad, maka ruh manapun dari ruhnya manusia yang terlihat didalamnya ada ruhnya ruh, dimana ruhnya ruh ini terpasangkan pada ruh-ruh tersebut sebagaimana ruh-ruh hewan dipasangkan pada jasad yang tipis, maka ruhnya ruh inilah yang membuat ruh tadi menjadi ruh yang abadi dan tetap ada, ruh ini tidak tertimpa kematian di dunia maupun di akhirat, ruh ini tidak akan merasakan kematian yang dirasakan manusia, akan tetapi kematian ruh ini adalah sebuah perkara yang berkaitan dengan berpisahnya ruh hewan dari jasad yang tipis saja, kemudian ruh ini akan kembali bersambung dengan Dzat yang hakekatnya tidak bisa diketahui dari sisi ragam kenikmatan dan kesenangan yang tidak bisa digambarkan dan tidak bisa dinalar oleh orang yang melihatnya. Sampai sinilah perkara diatas ditunjukkan pada firman Allah Swt,

اَوَمَنْ كَا نَ مَيْتًا فَاَ حْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّا سِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَـيْسَ بِخَا رِجٍ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكٰفِرِيْنَ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ
a wa mang kaana maitang fa ahyainaahu wa ja’alnaa lahuu nuuroy yamsyii bihii fin-naasi kamam masaluhuu fizh-zhulumaati laisa bikhoorijim min-haa, kazaalika zuyyina lil-kaafiriina maa kaanuu ya’maluun

“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 122)

Sedangkan barzakhiyyatul arwah adalah ruh yang bersambung ke hadhrah Allah Al Haq dengan posisinya yang memiliki ma’rifat sempurna, keyakinan yang jernih dan ruhnya musyahadah. Barzakh ruh yang ada diantara ruhnya ruh dan hadhrah Allah Al Haqq adalah hakekat AlMuhammadiyyah, yaitu Nabi Muhammad Saw dan bukan yang lainnya. sang guru tidak memiliki barzakh ini.

Pernyataan penanya, “Apakah puncak peranan seorang guru pada sang murid sampai menyampaikan sang murid pada hadhrah Allah, kemudian memutuskan sang murid atau tidak memutuskannya?”

Jawaban pernyataan ini adalah:

Ketahuilah bahwa ketika sang murid sudah wushul pada hadhrah ilahiyyah, maka sang murid tidak lagi terputus dari hadhrah tersebut, sang murid pun tidak lagi melihat gurunya kecuali berupa sikap penghormatan nan memuliakan dan ma’rifat akan martabat yang beliau miliki.

Andai sang murid terfokus pada sang guru dalam perkara ini daripada perkara dirinya dengan Allah Swt, maka kenikmatan wushul tadi akan diambil kembali dan dirinya diusir dari hadhrah-Nya.

Pernyataan penanya, “Akupun bertanya mengenai kondisi jiwa Syaikh, apa penyebab terkadang Syaikh mengumpulkan sang muridpada dirinya, terkadang pada nabi Saw dan terkadang pada Allah Swt; apakah semuanya itu terstruktur pada sifat dan kondisi jiwanya atau tidak?”

Jawaban pernyataan ini adalah:

Sungguh ketiga kondisi tadi tidak dinafikan dari kondisi jiwanya sang guru; jika beliau menunjukkan jalan kepada Allah Swt, maka inilah puncak yang diharapkan; jika beliau menunjukkan untuk berkumpul kepada Nabi Saw, maka ini juga jalan perkumpulan menuju Allah Swt, karena Nabi Saw merupakan khalifah Allah yang mutlak secara zhahir dan batin. Maka orang yang berkumpul pada Nabi Saw sejatinya ia berkumpul menuju Allah Swt. Atau bisa juga sang guru ini mengumpulkan sang murid pada dirinya, sebab beliau pun sejatinya adalah khalifahnya Nabi Saw dalam menunjukkan jalan dan berdakwah kepada Allah Swt, maka kumpulnya sang murid pada sang guru juga merupakan perkumpulan menuju Allah Swt, sebab sang guru adalah khalifah yang benar. -Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 2 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY