
Elsubha.com – Akupun bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang perkataan sufi, “Mana yang paling utama antara orang miskin nan penyabar dengan orang kaya yang pandai bersyukur?”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Terkait dengan mana yang diutamakan antara orang miskin yang bersabar dengan orang kaya yang pandai bersyukur, perbedaan pendapat mengenai ini sudah masyhur dikalangan ulama.
Aku katakan: Letak perbedaannya adalah bagi orang yang ter-hijab dari Allah Swt dan bukan bagi orang yang sudah mantap keyakinannya dalam hakekat, sedangkan bagi orang yang kerap bergelut pada bahasan hakekat, maka seluruhnya; baik orang kaya atau orang miskin memiliki sisi bersyukur dan bersabar.
Demikian penjelasannya: Jiwa memiliki kecondongan pada hawa dan bercampur tabiat dengan sisi kemanusiaan. Pada kondisi miskin ada usaha untuk mengangkis dan menyibukkan jiwa dengan perkara yang dapat menjauhkan diri dari kemiskinan demi mencari kelezatan dan syahwat serta lari dari pedihnya kemiskinan. Dalam perkara ini jiwa sibuk berpaling dari ragam hak ilahiyyah dan menjauh dari hadhrah Allah nan suci, sebagaimana dalam kondisi orang yang kaya; jiwanya ingin istirahat dan rasa aman, dapat menikmati ragam kelezatan dan syahwat, sisi natural dan tabi’atnya ingin kekal di bumi, maka pada kondisi ini juga jiwa sedang sibuk dari ragam hak ilahiyyah dan menjauh dari ketersambungan dengan hadhrah Allah nan suci.
Kedua kondisi ini merupakan fitnah dalam dua cobaan yang Allah telah sebutkan dalam firman-Nya,
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِا لشَّرِّ وَا لْخَيْرِ فِتْنَةً ۗ وَاِ لَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
kullu nafsing zaaa-iqotul-mauut, wa nabluukum bisy-syarri wal-khoiri fitnah, wa ilainaa turja’uun
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)
Maksud ayat ini adalah pada keduanya (keburukan dan kebaikan) ada cobaan, sebab ketersambungan jiwa dengan hadhrah Allah nan suci akan mematikan jiwa dari syahwat dengan ragam tuntutannya, maka dengan kondisi ini jiwa akan keluar dari tabi’at dan naturalnya, sehingga jiwa pada kondisi ini tidak lagi nampak kecuali bentuknya adalah nampaknya wujud Allah Al Haqq untuk Allah Al Haqq dan dalam kecintaan pada Allah Al Haqq dengan kemampuan jiwa untuk membedakan ragam martabat dan rincian globalnya, mengetahui ragam kekhususannya, dia memberikan setiap orang yang sesuai haknya, dialah inti dari ragam hak ilahiyyah, dalam hadhrah ilahiyyah ia mengejawantahkan ragam hak Allah secara sempurna pada setiap sisi tajalli dari ragam tajalli ilahiyyah, ia pun juga mampu memberikan hak setiap nama dan sifat ilahiyyah, pada setiap perkara ini dia berhasil mensifati diri dengan melaksanakan ragam perkara yang sesuai dengan hukum waktunya pada hadhrah itu.
Jika engkau telah mengetahui ini, maka orang kaya itu adalah orang yang memiliki rasa syukur yang sempurna dengan lengkapnya ragam hak ilahiyyah, ia memiliki kesabaran yang tetap untuk mengekang jiwa dari keinginan natural dan tabi’at untuk hidup kekal di bumi dengan kerasnya kecondongan jiwa untuk melakukan itu secara sempurna, pada ukuran dirinya, dia ini dalam kondisi lelah yang dahsyat, maka dia ini termasuk orang yang bersabar lagi bersyukur. Sebab, pada sisi ini keinginan dirinya untuk kaya bukanlah untuk dirinya saja, akan tetapi agar bisa kuat dalam perkara yang Allah tetapkan untuknya, dari sini engkau bisa lihat bahwa dia adalah orang yang bersabar lagi bersyukur, hal ini lantaran dirinya menyaksikan bahwa ia adalah wakil dari Allah Swt pada perkara harta yang Dia beri kepadanya; tepatnya pada posisi wakil dari pernilik harta, diapun akan memberi ketika pemilik harta memerintahkan untuk itu dan akan menggenggamnya ketika pemilik harta memerintahkan itu, hal ini diperkuat dengan firman Allah Swt,
اٰمِنُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاَ نْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَـكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِ ۗ فَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَ نْفَقُوْا لَهُمْ اَجْرٌ كَبِيْرٌ
aaminuu billaahi wa rosuulihii wa angfiquu mimmaa ja’alakum mustakhlafiina fiih, fallaziina aamanuu mingkum wa angfaquu lahum ajrung kabiir
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 7)
Sedangkan orang yang fakir (miskin); jika jiwanya senantiasa terhubung dengan hadhrah ilahiyyah dan dia mampu melihat Dzat Allah Al Jamal nan suci, maka dalam kefakiran dia termasuk orang yang sabar nan bersyukur. Rasa syukurnya itu merupakan pelengkap jiwa untuk menjalankan ragam hak hadhrah ilahiyyah secara global dan terperinci, dengan bermodal kan ragam hak dari nama-nama dan sifat-sifat ilahiyyah yang telah disingkapkan baginya, diapun berusaha memberikan setiap dari itu semua sesuai dengan haknya, tidak ada yang membuat dirinya lalai dan jiwanya pun tidak terkecoh dengan kedahsyatan ragam kucuran ilham yang turun dari Allah. Sebab, upaya yang dia lakukan sejatinya untuk Allah, dengan pertolongan Allah, dengan kekuatan dari Allah, tidak ada berita selain Dzat Allah dan tidak ada perjanjian dengan selain Allah.
Sesuai dengan aplikasi dirinya dengan berbagai hak yang ada, jiwanya menjadi jiwa yang memiliki rasa syukur yang sempurna pada Rabbnya. Sementara itu kesabaran diri merupakan pengikat agar tidak condong pada tabi’at jiwa dan tidak terjerumus ke taraf yang paling rendah dengan kecondongan diri untuk istirahat, menikmati ragam hal yang lezat, memenuhi syahwat dan bersenang-senang memenuhi tuntutan nasib yang senantiasa mengajak untuk menjauhi tuntunan jiwa, juga senantiasa menjauh dari perkara sebaliknya yang berupa adzab, ujian, berteriak yang merupakan tuntutan kemiskinan, meski demikian diapun dikatakan sebagai orang yang bersabar lagi bersyukur jika kondisi kemiskinannya bukan karena diri sendiri tetapi karena dia menjalankan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt untuknya.
Maka nampaklah kesamaan kondisi keduanya pada sisi ini, akan tetapi mungkin ada sebagian kehinaan bagi orang kaya yang senantiasa memperhatikan kenyamanan diri dari rasa sakit yang ditemui orang miskin dalam menafkahi keluarga, anak dan sahabat serta yang lainnya, tetapi yang perlu dicatat adalah bahwa ragarn perkara ini merupakan perkara lazim yang harus ada pada sisi kemanusiaan saja dan bukan bagi ruh. Begitu juga ada kehinaan bagi orang miskin dengan adanya rasa sakit, teriakan, kehimpitan dan kesukaran dalam sisi kemanusiaan saja, hal tersebut guna memenuhi perkara yang dia tidak mampu memenuhinya seperti tuntutan untuk menafkahi keluarga, anak dan sahabat serta yang lainnya, maka dengan ragam kehinaan tadi, diapun akan mendapatkan buah kesabaran dan syukur, tetapi ada perbedaan dalam hal siapa yang lebih utama. Maka apabila orang miskin berpindah kondisinya menjadi kondisi merasa nyaman dengan kemiskinan dan kesahajaannya dengan ragam nikmat yang ada sehingga dia tidak lagi bisa untuk bersabar saat itu, maka dia termasuk orang yang bersyukur dalam berbagai kondisi, maka diapun masuk ke dalam kategori orang kaya nan pandai bersyukur. Kondisi ini didapatkan hanya melalui pemberian Allah Swt dan tidak bisa diusahakan. Selesai sudah apa yang di-imla’ kan Sayidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
Aku mendengar Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:
Kebodohan akan Allah Swt merupakan wujud kekufuran yang nyata, yang bisa membuat orang tersebut kekal di neraka selamanya. Kebodohan akan Allah Swt juga merupakan wujud ma’rifat pada Allah Swt dan menandakan keimanan yang nyata, yang membuat orang tersebut kekal di surga selamanya.
Yang dimaksud dengan, “Kebodohan akan Allah merupakan wujud kekufuran yang nyata,” adalah kebodohan akan sisi uluhiyyah Allah Swt dengan segala sisi yang wajib dimiliki-Nya dari ragam sisi kesempurnaan, ragam perkara lazim dan ragam tuntutan bagi Dzat-Nya serta ragam perkara mustahil yang disucikan dari Dzat-Nya, maka kebodohan terhadap ragam perkara inilah sebagai wujud kekufuran yang nyata.
Sedangkan yang dimaksud dengan kebodohan yang kedua; Kebodohan akan Allah juga merupakan wujud ma’rifat pada Allah Swt adalah kebodohan akan sisi hakekat Allah Swt bahwa Dialah Inti Dia; dimana Dia adalah Dia, sebab kebodohan semacam ini adalah wujud keimanan yang nyata dan ma’rifat yang sempurna pada Allah Swt, dimana kelemahan untuk mengetahui ma’rifat inti Dzat-Nya adalah hakekat dari keimanan itu sendiri. Apabila ada orang yang mengaku mengetahui ma’rifat inti Dzat Allah Swt, maka dia telah kufur. Selesai sudah apa yang di-imla’ kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
Sayyidi Syaikh Ra pernah menjelaskan tentang wahdatul wujud dan menjelaskan madzhab kaum sufi, serta membatalkan ungkapan dan dalil Ahlu zhahir atas ketidakmungkinan terjadinya wahdatul wujud.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:
Penjelasan akan perkara tersebut (perkara wahdatul wujud) dibagi menjadi dua sisi penjelasan:
Sisi Pertama, sungguh alam yang besar ini; yang dicontohkan seperti tubuh manusia, maka engkau akan dapati bahwa tubuh manusia tersusun menjadi satu dengan perbedaan ragam unsurnya dan juga ragam kekhususan-nya, baik itu ada rambut, kulit, daging, tulang, otot dan otak, begitu pula perbedaan pada tubuh bagian luar dan tabiatnya yang dibentuk, yang dengannya tubuh itu dapat berdiri. Jika engkau telah paham contoh ini, maka akan nampak bahwa ungkapan ketidak mungkinan terjadinya wahdatul wujud itu ternafikan lantaran kesamaan antara orang berdarah biru dengan orang biasa serta mampunya berkumpul antara dua hal yang saling menafikan dan saling bertentangan…demikian sampai akhir perkataan mereka.
Kami katakan: Perkara itu tidak lazim karni ungkapkan disini, sebab sekalipun ragam organ khususpun saling berjauhan, tetapi asalnya adalah dalam satu dzat, sama juga dengan kondisi manusia.
Sisi Kedua, bersatunya dzat alam semesta yang pada intinya adalah tercipta oleh sang Pencipta yang satu, ini merupakan jejak dari nama-Nya Allah Al Khaliq, tidak ada satu dzat pun dari alam semesta ini yang keluar dari hukum ini sekalipun ragam dzat alamnya berbeda-beda. Sebab, asal muasal munculnya adalah satu, maka dengan pandangan inilah alam semesta ini berstatus sama dan semuanya lazim untuk bersatu sekalipun ragam bagiannya berbeda-beda seperti dzat manusia. Akan tetapi penisbatan dzat yang ada ini berbeda-beda sesuai dengan rincian kehendak Allah Al Haq antara orang yang mulia dan orang yang hina, orang yang tinggi dan yang rendah, orang yang hina dan orang yang mulia, orang yang berpangkat tinggi dan yang berpangkat rendah dan seterusnya. Semua ragam itu tidak mengeluarkannya dari satu nisbat, sebagaimana dzat manusia adalah satu, yang tidak menafikan perbedaan ragam nisbat anggota tubuh dan mengkhususkan setiap bagian tertentu dengan kekhususannya sendiri-sendiri, sebab kekhususan tangan tidaklah sama dengan kekhususan kaki, dimana kelebihan kaki pun tak sama dengan kelebihan mata, beginilah semua kelebihan anggota tubuh dan bagiannya. Terangkatnya wajah ciri puncak kemuliaan dan tertunduknya wajah pertanda kehinaan, namun ini tidak mengeluarkannya dari satu dzat; yaitu manusia, meski dengan perbedaan kelebihan yang ada, seperti yang telah kami katakan pada dzat manusia.
Lalu Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kembali berkata menambahkan penjelasan sisi ketiga; yaitu: Bersatunya wujud sesuai dengan kucuran ilahiyyah yang datang padanya nan senantiasa diperbaharui, kemudian ragam kelebihan dan bagian diri berbeda-beda sesuai dengan apa yang Allah Swt berikan pada wujud tersebut, dimana sesuatu itu pun senantiasa terbaharui pada dzat secara global dan berpisah-pisah ketika kondisinya terperinci, perumpamaan perkara ini seperti contohnya tinta, ragam huruf yang berbeda-beda dan kalimat yang beragam bentuk dan maknanya akan mengarah pada tinta dan tidak keluar dari unsur ini, maka sungguh tak lain yang ada adalah tinta yang ditorehkan dengan berbagai model tulisan yang mengarah pada makna yang berbeda-beda, dimana ragam hurufnya pun berbeda-beda, setiap huruf ada kelebihannya tersendiri yang tidak dapat disatukan.
Sungguh ketika engkau melihat gambaran tersebut dengan ragam huruf dan kalimat yang berbeda-beda, maka engkau hanya melihat adanya tinta yang ber-tajalli dalam ragam bentuknya dimana ia adalah inti dari dzat tinta tersebut, maka ia akan menjadi satu dalam tempat tinta dan menampakkan gambaran, kalimat dan makna yang berbeda-beda, sebagaimana tinta pada huruf-huruf tersebut merupakan inti dari huruf itu sendiri dan huruf itu pada tinta juga merupakan inti dari tulisan tersebut yang memang memiliki bentuk, sisi rahasia, kelebihan dan makna yang berbeda-beda. Begitu pula akhir dari wujud alam semesta yang merupakan inti dari dzat itu sendiri.
Ragam dzat yang ada pada alam ini merupakan inti dari wujudnya alam semesta ini, semuanya pun berbeda bentuk, rahasia dan kelebihannya, maka keterpaduannya ada pada inti wujudnya itu, dimana hal ini tidak mengeluarkannya dari berbedanya bentuk, rahasia, makna dan kelebihan dzat-dzat tersebut, bahkan perbedaan rahasia, kelebihan dan maknanya pun tidak mengeluarkannya dari keterpaduan wujud tersebut seperti yang terjadi pada ragam huruf dan tinta, dimana tintanya yang satu tidak mengeluarkannya untuk menjadi ragam bentuk tulisan, ragam rahasia, makna dan kelebihannya, dimana perbedaan akan ragam perkara ini tidak mengeluarkannya dari kesatuan asalnya yaitu tinta.
Sampai ini jelas sudah perkaranya bagi orang yang telah memahaminya. Allahlah yang berfirman dengan kebenaran dan Diapulalah yang menunjukkan jalan yang benar. Selesai sudah apa yang di-imla’kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada Sayyidi Muhammad bin Al Musyri Ra.-
Akupun mendengar Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:
Dalil yang menunjukkan bahwa Al Khidr merupakan wali Afrad dan bukan nabi. Dalilnya adalah apa yang diceritakan oleh Allah Swt dalam Al Qur’an tentang perkara Al Khidir dengan nabi Musa As pada firman Allah Swt,
فَا نْطَلَقَا ۗ حَتّٰۤى اِذَا لَقِيَا غُلٰمًا فَقَتَلَهٗ ۙ قَا لَ اَقَتَلْتَ نَـفْسًا زَكِيَّةً بِۢغَيْرِ نَـفْسٍ ۗ لَـقَدْ جِئْتَ شَيْـئًـا نُّـكْرًا
fangtholaqoo, hattaaa izaa laqiyaa ghulaamang fa qotalahuu qoola a qotalta nafsang zakiyyatam bighoiri nafs, laqod ji-ta syai-an nukroo
“Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”“
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 74)
Jika Al Khidir adalah seorang nabi, maka tidak mungkin nabi Musa As mengingkari perbuatannya itu karena nabi Musa As tau sisi ‘ishmah kenabian dan sahabatnya itu (Al Khidir) tidak mungkin melakukan suatu perbuatan kecuali atas perintah dari Allah Swt. Perkara yang dilakulkan terjadi pada dua hal, yaitu melubangi kapal dan membunuh anak kecil. Sebab kedua hal tersebut termasuk perkara buruk secara syari’at dan tabi’at. Orang-orang cerdas telah sepakat, bahwa kedua hal itu merupakan dua perkara yang hina, dimana perkara ilahiyyah pun telah melarangnya sebab dua hal itu termasuk kedalam perkara merusak bumi. Kalaupun nabi Musa As tahu bahwa Al Khidir adalah seorang nabi, maka nabi Musa As pun akan tahu bahwa dia tidak akan protes terhadap dua perbuatan itu kecuali dengan perintah Allah Swt, dimana nyatanya nabi Musa As mengingkari perbuatannya itu, maka ini menunjuk kan bahwa Al Khidir bukanlah seorang nabi.
Selain itu, tentang dalil bahwa Al Khidir bukanlah seorang nabi merupakan perkara yang besar dari perkara sebelumnya. Sebab, jikalau saja Al Khidir adalah seorang Nabi, niscaya Allah pun akan mengumumkannya pada nabi Musa As, agar nabi Musa As tidak mengingkari perbuatannya, sebab bentuk pengingkaran pada orang yang memiliki martabat kenabian adalah bentuk penyesatan baginya dan orang yang menyesatkan seorang nabi dia telah kafir dan nabi Musa As ma’shum, sehingga dia tidak mungkin berani mengatakan, “Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar,” kecuali lantaran nabi Musa As mengetahui bahwa dia bukanlah seorang nabi. Dari sini jelaslah perkara ini bagimu, segala puji hanya bagi Allah Swt. Selesai sudah apa yang diimla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
Diantara perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, beliau pernah berkata: Ketahuilah bahwa Allah Swt senantiasa memberikan bantuan ruhani (madad) yang sampai pada makhluknya dari kucuran sisi rahmat-Nya yang sesuai dengan sisi ilmu-Nya dan terlaksananya kehendak-Nya melalui sosok yang memiliki kedudukan yang tinggi diantara makhluknya yaitu para nabi dan Ash-Shidiqin. Jika ada penduduk negeri yang hidup bersama dan bersahabat dengan sosok yang memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Allah dengan berusaha mengikuti mereka dan meminta madad Allah Swt dari mereka, maka mereka telah mendapatkan kemenangan dengan mendapat bantuan ruhani yang datangnya dari hadhrah Allah Swt. Begitu pula jika ada orang yang mengingkari ahlu ashrinya dengan mencukupkan diri dengan perkataan para wali sebelumnya yang telah meninggal dunia, maka dia akan dicap dengan keharaman mendapatkan bantuan ruhani. Contoh orang ini seperti orang yang mengingkari nabi yang ada di zamannya dan mengingkari syari’at yang dibawanya dengan mencukupkan diri dengan syari’at para nabi sebelumnya, maka dia akan dicap dengan kekufuran. Wassalam.-
Sayyidi Syaikh Ra kemudian berkata: Dalil yang menyatakan bahwa suhbah hanya berlaku bagi yang hidup saja; yaitu sabda Nabi Saw kepada Abu Juhaifah Ra,
سَلِ الْعُلَمَاءَ وَخَالِطِ الْحُكَمَاءَ وَاصْحَبِ الْكُبَرَاءَ
“Tanyalah ulama, berbaurlah dengan ahli hikmah dan sahabatilah para pembesar (wali Allah).”
Orang yang alim akan menunjukkan perkara umum; baik perintah dan juga larangan yang dengannya seorang hamba wajib dipuji di sisi Allah, menjadi penyebab turunnya malaikat Allah pada seorang hamba dan akhirnya dia masuk surga. Seorang ahli hikmah akan menunjukkanmu sisi taqarrub (mendekatkan diri) pada Allah dengan cara bersuci dari keinginan nafsu dan tuntutan hawa yang akhirnya dapat menempatkan seorang hamba pada sisi Al Qurb. Sementara para pembesar wali Allah akan menunjukkanmu pada Allah dengan cara melenyapkan jiwa dan berlepas diri dari tadbir dengan ragam perkara yang memberikan kemaslahatan bagi urusan dunia dan akhiratnya. Juga dengan ragam perkara yang dapat menolak kemudharatan bagi urusan dunia dan akhiratnya dimana akhirnya adalah Allah.
Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra melanjutkan: Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa suhbah (bersahabat) itu tidak terjadi kecuali dengan yang masih hidup, sebab mayyit tidak lagi disahabati, tidak bisa diajak bicara dan tidak bisa berbaur dengannya. -Selesai.-
Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:
Sungguh kami mempunyai martabat akhir yang paling tinggi disisi Allah Swt sampai pada batasan yang dilarang untuk diungkapkan; martabat bukan yang telah kusebarkan pada kalian, jikalau aku terus terang dengan martabat itu niscaya Ahlul Haq dan orang yang ‘Arifbillah akan mengecapku telah kafir, terlebih orang-orang selain mereka. Martabat itu pun bukan yang telah kusebutkan pada kalian tetapi martabat itu ada dibalik penjelasanku itu. Diantara kekhasiatan martabat tersebut adalah bahwa orang yang tidak menjaga perubahan kalbuku dari para sahabatku; yaitu dengan tidak menjaga kehormatan para sahabatku, niscaya Allah akan usir dia dari sisi qurb -Nya dan Allah akan cabut apa yang telah Allah Swt beri padanya. Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra pernah meng-imla`kan kepada kami dari hafalan dan lafazh beliau:
Mutiara kalbu itu ada tujuh. Kalbu memiliki tujuh perbendaharaan, setiap perbendaharaan ada tempat untuk setiap dari mutiara yang ada.
1. Mutiara pertama adalah mutiara dzikir.
2. Mutiara kedua adalah mutiara kerinduan.
3. Mutiara ketiga adalah mutiara kecintaan pada Allah dan rindu pada-Nya.
4. Mutiara keempat adalah mutiara rahasia Allah Swt; termasuk sisi ghaib yang tidak diketahui seluk beluknya.
5. Mutiara kelima adalah mutiara ruh.
6. Mutiara keenam adalah mutiara ma’rifat.
7. Mutiara ketujuh adalah mutiara ke-faqiran.
Penjelasan mengenai ragam mutiara tersebut:
Mutiara pertama adalah mutiara dzikir: Apabila mutiara ini terbuka didalam kalbu seorang hamba, niscaya hamba tersebut selamanya suka menyendiri dari manusia lainnya, sisi penyaksian jiwanya hilang, kondisi ini biasa dibahasakan dikalangan salikin dengan merasa terkejut dengan alam semesta dan tenangnya kalbu dengan dzikir pada Allah Swt.
Mutiara kedua adalah mutiara kerinduan pada Allah Swt: Yaitu kondisi seorang hamba yang senantiasa rindu dan merindu pada Allah Swt. Dia senantiasa minta kematian pada Allah Swt lantaran panasnya merindu yang dia alami.
Mutiara ketiga adalah mutiara kecintaan pada Allah Swt. Jika ini terbuka pada kalbu seorang hamba, maka hamba tadi selamanya akan ridha kepada Allah Swt dan ridha pula dengan segala hukum-Nya, serta akan lebih mendahulukan hukum Allah Swt daripada yang lainnya, bahkan jika pada suatu waktu terjadi perkara besar yang membinasakan, maka itu lebih ia pilih dibanding semua syahwat yang ada.
Mutiara keempat adalah mutiara sirr yang merupakan sisi ghaib-nya Allah Swt yang tidak diketahui seluk beluknya. Hukum mutiara ini adalah seorang hamba pada kondisi ini tidak bergerak kecuali untuk Allah Swt, dia tidak tenang kecuali dengan Allah, dirinya tidak melakukan perkara yang dilarang syari’at lantaran dia sudah bersuci dengan sempurna.
Mutiara kelima adalah mutiara ruh; yaitu Allah ungkapkan baginya beragam hakekat dan seluk beluk sesuatu dengan kasyaf yang hakiki lagi dapat diindera, dimana secara global maupun terperinci tidak ada yang aneh dan nyeleh. Ini adalah kondisi datangnya ishtilâm yang bentuknya mabuk diri, tidak sadarkan diri dan terhapusnya jiwa.
Mutiara keenam adalah mutiara ma’rifat yang berupa keajekan seorang hamba dalam melakukan sesuatu antara hakekat Rububiyah dan hakekat Ubudiyyah. Pada mutiara inipun seorang hamba akan mengetahui segala hakekat dengan ragam hukum, tuntutan dan ragam perkara lazim pada hakekat tersebut. Ini adalah hadhrah Al Baqa.
Mutiara ketujuh adalah mutiara ke-faqir-an. Jika ini dibukakan pada seorang hamba, maka dia akan menyaksikan kebutuhan jiwanya pada Allah dan merasa sangat membutuhkan-Nya, sehingga dia pun tidak lagi terkejut dengan datangnya perkara antonim dari ke-faqir-an dirinya. Orang yang bisa konsisten dengan ragam mutiara ini, niscaya dia akan menjadi hamba Allah Swt yang paling kaya dari segala sesuatu yang ada, dimana diapun tidak lagi mempedulikan semua makhluk yang ada; apakah manusia mencintainya atau malah membencinya, menerimanya atau menolaknya, hal ini lantaran kekayaan jiwanya yang sempurna pada Allah Swt. Orang yang bisa konsisten dari mutiara ini, maka ia akan aman dari ketercabutan iman di hadhrah Allah Swt. Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, dimana inilah puncaknya orang yang salik menuju Allah.-
