You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 28. Akupun bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang makna dahr

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Akupun bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang makna dahr,

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Hakekat makna dahr adalah keberlangsungan wujud Allah Al Haq tanpa awal dan akhir. Hal ini sering dibahasakan dengan sifat baga. Inilah yang dimaksud makna redaksi bacaan As-Saifi; “Dâiman minad-Dahri ilad-Dahri bi Alwân at-Tasbih,” [selamanya dari masa ke masa dengan berbagai macam tasbih.] Arti kata min (dari) dan ilaa (ke) tidak terbatas hanya dalam masalah ini, dan tidak pula dibahas, karena kalimat ini tercipta oleh bashirah nâfidzah (mata batin yang kuat), yang tidak bisa ditembus oleh kebatilan dengan berbagai macam cara.

Sayyidi Abu Madyan Ra berkata: “Seandainya aku tidak mengoyak kemuliaan syari’at, tentu aku masuk dalam bagian orang-orang yang dilindungi, karena Allah Swt berjanji padaku bahwa siapa yang pandanganku tertuju kepadanya atau pandangannya tertuju kepadaku, maka Allah mengharamkan jasadnya tersentuh api neraka.” Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Diantara perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, beliau berkata:

Aku ber-tafakkur tentang kekhususan Sayyidil Wujud Muhammad Saw dengan hari Senin, maka tampak jelas bagiku karena beliau adalah wujud yang kedua, tidak ada yang mendahului beliau kecuali wujud yang qadim (Allah Swt). Demikian pula dengan hari Senin adalah hari yang kedua dari hari-hari yang lain, tidak ada yang mendahuluinya kecuali hari Ahad. Oleh karena itu, perubahan kondisi beliau Saw terjadi pada hari Senin. Pada hari Senin beliau hijrah, pada hari Senin beliau masuk kota Thayyibah (Madinah), dan pada hari Senin pula beliau diutus sebagai rasul.

Demikian pula kekhususan Nabi Adam As dengan hari Jum’at dan perubahan kondisinya pada hari itu sesuai dengan penciptaannya, karena Nabi Adam As adalah ciptaan terakhir dari segala ciptaan. Orang-orang yang ‘Arifbillah mengistilahkannya dengan tajalli yang terakhir dan pakaian yang terakhir. Hari Jum’at adalah hari terakhir Allah Swt menciptakan makhluk-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۚ اَلرَّحْمٰنُ فَسْئَـلْ بِهٖ خَبِيْرًا
allazii kholaqos-samaawaati wal-ardho wa maa bainahumaa fii sittati ayyaaming summastawaa ‘alal-‘arsy, ar-rohmaanu fas-al bihii khobiiroo

“yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, (Dialah) Yang Maha Pengasih, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada orang yang lebih mengetahui (Muhammad).”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 59)

اَلَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ
allazii kholaqos-samaawaati wal-ardho wa maa bainahumaa fii sittati ayyaaming

“yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa,(QS. Al-Furqan 25: Ayat 59). Pada hari ketujuh, Allah Swt berfirman,

ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ
summastawaa ‘alal-‘arsy,

kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, (Qs. Al Furgân [25]: 59) sesuai dengan apa yang dikehendaki dan diketahui Allah Swt. Di dalamnya, Allah tidak menciptakan makhluk. Oleh karena itu, perubahan kondisi nabi Adam As terjadi pada hari Jum’at, mulai dari penciptaan, masuk surga, keluar dari surga dan tobatnya diterima.

Kemudian ada yang bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra: “Berdasarkan analogi ini, maka hari Senin lebih utama daripada hari Jum’at, karena kekhususan sayyidil wujud, Muhammad Saw dengan hari Senin?”

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

“Tidak, keutamaan itu adalah urusan Allah Swt, bukan lantaran adanya illat dan analogi. Allah Swt mengutamakan apa yang dikehendaki-Nya dengan apa yang dikehendaki-Nya atas apa yang dikehendaki-Nya, sehingga apa yang didengar tentang keutamaan makhluk berdasarkan khabar dari Allah Swt dan Rasul-Nya Saw, maka ialah yang diutamakan. Jika tidak, maka tidak bisa diutamakan.” -Selesai sudah apa yang di-imlakan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 3 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY