You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 33. Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany pernah ditanya tentang mahabbah (cinta) yang ada diantara manusia di dunia; apakah ia mengikuti apa yang telah terjadi, berupa pertemuan dan perpisahan, saling menerima dan bertolak belakang bagi ruh-ruh ketika Allah Swt menciptakannya atau tidak?

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany pernah ditanya tentang mahabbah (cinta) yang ada diantara manusia di dunia; apakah ia mengikuti apa yang telah terjadi, berupa pertemuan dan perpisahan, saling menerima dan bertolak belakang bagi ruh-ruh ketika Allah Swt menciptakannya atau tidak?

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Disebutkan dalam hadits yang telah diketahui bersama:

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُحَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا اخْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu seperti bala tentara yang terhimpun, yang saling mengenal darinya akan bersatu dan yang saling mengingkari akan berselisih.”

Maksudnya adalah apa yang saling mengenal pada ibtida yang kedua akan bersatu dalam ikhtira’ yang kedua, dan yang saling mengingkari darinya dalam ibtida yang kedua akan berselisih dalam ikhtira’yang kedua.

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra melanjutkan: Karena ruh itu memiliki dua ibtida’ dan dua ikhtira Ibtida pertama ialah penulisan ruh dalam lauh mahfuzh, karena Allah Swt mencatat takdirnya, waktu dan tempatnya, serta setiap apa yang dikehendaki Allah Swt darinya, dengannya dan untuknya, mulai dari permulaannya sampai berada di dunia dan akhirat. Ibtida’ kedua ialah penciptaan ruh-ruh dan mengeluarkannya dari tidak ada menjadi ada.

Sebagian ahli kasyaf berkata: “Allah menciptakan ruh-ruh itu pertama kali dari cahaya yang dimuliakan secara global, kemudian Allah memisah-misahkannya menjadi sebagian dan sebagian, dimana dari setiap bagian itu Dia menciptakan ruh sesuai bilangan ruh-ruh tersebut.”

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: Ikhtira’ pertama ialah mengeluarkan semua ruh-ruh itu dari punggung ayah kita; Adam As, seperti debu. Ada yang mengatakan, bahwa ruh-ruh itu berada dalam perut Na’man, kemudian Allah Swt mengambil perjanjian atas ruh-ruh tersebut. Ikhtira kedua ialah Allah menciptakan setiap manusia sesuai dengan waktunya.

Dalam ikhtira’ pertama, Nabi Saw memanggil ruh-ruh itu untuk beriman kepada Allah Swt dan kepada beliau Saw, siapa yang menjawab panggilan tersebut pada saat itu, maka dia menjadi orang yang beriman di alam tempat lahirnya manusia; dan siapa yang tidak menjawabnya saat itu, maka dia menjadi orang kafir di dunia. Siapa yang menjawab kemudian menarik kembali disana, maka demikian pula dia di alam tempat lahirnya manusia; dan siapa yang tidak menjawab disana saat pertama kali, kemudian dia menjawab selang beberapa waktu, maka demikian pula dia di alam ini. Tidaklah disini tampak, kecuali apa yang telah terjadi disana, sejengkal demi sejengkal.

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kembali melanjutkan: Oleh karena itu, para Syaikh Akbar akan mengenali murid-murid mereka. Apabila murid datang kepada Syaikh, maka Syaikh itu akan melihatnya disana; jika murinya ada, maka dia akan menerimanya disini. Namun, jika disana dia tidak tertulis di sisi Allah Swt sebagai muridnya, maka dia tidak akan menerimanya disini (di dunia). Kemudian dalam ibtida’yang kedua orang yang beriman terpisah dari orang kafir.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

إِنَّ اللّٰهَ خَلَقَ الْخَلْقَ فِي ظُلْمَةٍ ثُمَّ رَبَّ عَلَيْهِمْ مِنْ نُوْرِهِ، فَمَنْ أَصَابَهُ مِنْ ذَلِكَ النُّوْرِ هُوَ الْمُؤْمِنُ، وَالَّذِي لَمْ يُصِبْهُ مِنْ ذَلِكَ النُّوْرِ هُوَ الْكَافِرُ

“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk dalam kegelapan, kemudian Dia menaburkan cahaya-Nya kepada mereka. Siapa yang terkena cahaya itu, maka dialah orang yang beriman, dan siapa yang tidak terkena cahaya itu, maka dialah orang kafir.”

Inilah yang diisyaratkan oleh Syaikh Akbar Muhyiddin Ibnu ‘Arabi dalam shalatnya dengan istilah nur marsyusy dalam zaman azali, dia berkata: “(Yaitu) shalat yang menghiasi mata batinku dengan nur marsyusy (cahaya yang diperciki) pada zaman azali.”

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra melanjutkan: “Ketika Allah Al Haq ber-tajalli kepada ruh-ruh itu saat mengambil perjanjian darinya, maka ruh-ruh itu berterbangan karena kewibawaan dan keagungan-Nya. Setiap orang yang sampai ke sebuah tempat dari muka bumi ini pada saat itu, maka dia akan tinggal disana saat Allah Swt menciptakannya dalam ikhtira yang kedua. Ada yang menempati satu tempat, dan ada pula yang menempati dua tempat atau lebih, sesuai dengan terbangnya ruh tersebut. Demikian pula mahabbah (cinta) antara makhluk terjadi saat kondisinya terbang tersebut sesuai dengan saling menerima dan saling menolak.”

-Demikianlah perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra secara maknanya.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 3 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY