You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 35. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang mukalamah (kalam Ilahi) yang disebut-sebut oleh ahli sufi, dan apa pengertian mukalamah itu? Apa perbedaan antara mendengarnya para nabi terhadap kalam Allah Swt dengan selain mereka?

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang mukalamah (kalam Ilahi) yang disebut-sebut oleh ahli sufi, dan apa pengertian mukalamah itu? Apa perbedaan antara mendengarnya para nabi terhadap kalam Allah Swt dengan selain mereka?

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Ketahuilah bahwa pengertian mukalamah ahli sufi adalah, apabila Allah Swt menyayangi seorang hamba dari hamba-hamba-Nya dengan mendengar kalam-Nya, maka Dia akan menghilangkan hijab darinya dan merenggut sisi indera perasanya, sehingga dia sirna dari setiap sesuatu dan setiap sesuatu itu sirna darinya hingga dirinya sendiri. Dia tidak tahu dimana kah dia dalam kondisi itu. Kemudian Allah Swt memperdengarkan kepadanya dari kalam-Nya apa yang telah diberikan kepadanya, tanpa huruf dan suara, lalu Allah mengembalikan hijab-nya, sehingga dia kembali kepada rasa dan keadaanya yang pertama.

Kemudian dia juga mendengar kalam dalam alam lathifal-nya, yaitu martabat ruh dari sirr, khafa’, ikhfa dan sirrul sirr. Maka, dia pun sima seperti sirnanya yang pertama, sehingga dia tidak mengetahui sesuatu dari semesta ini, bahkan dirinya sendiri. Kemudian Allah mengembalikan indera perasanya yang semula. Dia pun sadar dari sirnanya, lalu dia mendapati kalam itu berada dalam sirr-nya, dan dia mengetahui seluruh perkara yang telah disaksikannya dalam dua keadaan tersebut. Dalam keadaan demikian itu, dia mengungkapkan apa yang dikehendaki oleh Allah Swt. Demikianlah yang dimaksud dengan mukalamah para wali.

Sedangkan para nabi As lantaran kesempurnaan diri mereka, akal mereka sadar dan mereka dalam keteguhan jiwa.

Terkait dengan pengertian makalamah ini, Al ‘Arifbillah Sayyidi Abu Al Abbas bin Al ‘Arifi Ra bersenandung:

بَدَا لَكَ سِرٌّ طَالَ عَنْكَ اكْتِتَامُهُ # وَلَاحَ صَبَاحٌ كُنْتَ أَنْتَ ظَلَامُهُ

فَأَنْتَ حِجَابُ الْقَلْبِ عَنْ سِرِّ غَيْبِهِ # وَلَوْلَاكَ لَمْ يُطْبَعْ عَلَيْهِ خِتَامُهُ

إِذَا غِبْتَ عَنْهُ حَلَّ فِيْهِ وَطَنَّبَتْ # عَلَى مَوْكِبِ الْكَشْفِ الْمَصُوْنِ خِيَامُهُ

وَجَاءَ حَدِيْثٌ لا يُمَلُّ سَمَاعُهُ  # شَهِيٌّ إِلَيْنَا نَتْرُهُ وَنِظَامُهُ

إِذَا سَمِعَتْهُ النَّفْسُ طَابَ نَعِيْمُهَا # وَزَالَ عَنِ الْقَلْبِ الْمُعَنَّى غَرَامُهُ

“Telah tampak rahasia bagimu yang lama kau simpan, # dan pagi nampak bersinar dimana kau masih berada dalam kegelapannya

Kau adalah hijab kalbu dari rahasia sirnanya, #seandainya bukan karenamu tidak akan tercetak penutupnya

Jika kau sirna darinya, maka ia menempati,# dan tali tendanya terikat pada bintang kasyaf yang terlindungi Kemudian datang perkataan yang tidak pernah bosan mendengarkannya, # bentuk dan susunannya membuat kami lupa

Jika jiwa ini mendengarkannya, maka kenikmatannya terasa, # dan kegundahan pun hilang dari hati yang penat.”

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: Barangsiapa yang Allah bukakan perkara yang agung dan kenikmatan yang sempurna ini, maka dia tidak akan sanggup mendengarkan perkataan makhluk, kecuali dia mengasingkan diri selama tiga hari sambil berdzikir kepada Allah Swt. Maka, dengan demikian dia akan sanggup mendengarkan perkataan mereka. Namun, jika dia tidak melakukan apa yang telah disebutkan itu, setiap kali dia mendengar perkataan mereka, maka dia akan muntah karena begitu buruknya perkataan tersebut dibandingkan dengan kenikmatan mendengar kalam Allah Swt.

Mendengar kalam Allah Swt bagi orang yang dapat mendengarkannya tidak hanya menggunakan telinga saja, tapi dengan seluruh anggota badannya, sehingga setiap bagian dari anggota badannya merasa kan kenikmatan seperti seluruh anggota badannya yang lain dengan sempurna. -Semoga Allah Swt meng anugerahi kita semua dengan apa yang Dia anugerahkan kepada para kekasih-Nya, orang-orang pilihan-Nya dan orang-orang yang khusus bagi-Nya lagi mulia dari makhluk-Nya. Sesunggunya Dialah yang Maha Memiliki dan Maha Kuasa atas itu semua.- Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 3 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY