
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud bacaan tasbih, yaitu: “Subhanallahi mil`al mîzân wa muntahal ilmi, wa mablaghr-ridha wa zinatal ‘arsyi.”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Maksudnya adalah aku bertasbih kepada Allah dengan tasbih yang memenuhi timbangan amal, baik berupa ragam kebaikan atau cahaya atau tasbih.
Redaksi, “Wa muntahal ‘ilmi” maksudnya adalah: Aku bertasbih kepada Allah dengan tasbih yang bilangannya seperti bilangan sesuatu yang diketahui oleh Allah Swt dan berujung seperti ujungnya. Sebagaimana tidak ada ujung bagi sesuatu yang diketahui oleh Allah Swt, maka demikian pula tidak ada ujung bagi tasbih ini.
Redaksi, “Wa mablaghar-ridha maksudnya adalah: Aku bertasbih kepada Allah dengan tasbih yang dapat menggapai ridha Allah Swt, dimana ridha Allah Swt adalah efek yang muncul dari sikap ridha terhadap anugerah, mawahib, pemberian, nikmat dan yang lain nya.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: Aku bertasbih kepada Allah dengan tasbih yang kadar dan bilangannya seperti setiap sesuatu yang diliputi ilmu Allah, yang juga dengan tasbih itu kehendak-Nya terlaksana; berupa sesuatu yang akan Allah Swt berikan kepada makhluk-Nya dari seluruh bentuk kenikmatan dan anugerah, pemberian dan bonus, hadiah dan mawahib, sejak zaman azali sampai selamanya.
Mengenai ridha Allah Swt, maka ini memiliki dua makna: Makna pertama, adalah sifat yang ada dalam Dzat-Nya yang tidak bisa berubah lantaran marah atau rela, cinta atau benci. Ini adalah sifat yang sempurna lagi paripurna, tidak akan pernah berubah, berkurang dan bertambah. Makna tersebut adalah sifat yang ada dalam Dzat-Nya. Oleh karena itu, ia tidak memiliki kadar, puncak dan ujung. Ini adalah salah satu sifat yang wajib bagi Dzat-Nya.
Makna kedua adalah ridha yang muncul dari ridha (seorang hamba) atas nikmat, hadiah, pemberian dan bonus, menjauhi perkara yang dibenci dan mendatangkan bahaya, serta menyempurnakan nikmat dan cita-cita.
Sedangkan yang dimaksud “Memohon lindungan dengan ridha,” dalam sebuah hadits Nabi Saw: أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ “Aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu.” adalah ridha yang pertama, yaitu sifat yang ada dalam Dzat-Nya, bukan ridha yang kedua. Karena ridha yang kedua adalah hal baru bagian dari perkara yang baru, dan tidak dibenarkan memohon perlindungan dengan hal baru, tetapi memohon perlindungan itu dengan sifat yang qadim, yaitu sifat Dzat.
Redaksi, “Wa zînatal ‘arsy” maksudnya adalah: Aku bertasbih kepada Allah Swt dengan tasbih yang timbangannya seperti timbangan ‘Arasy jika bisa ditimbang. -Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
Diantara perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, beliau berkata:
Syirik aghradh (orientasi) adalah salah satu bagian dari syirik yang enam. Menurut ahli syari’at syirik aghradh adalah melakukan amalan baik untuk selain Allah Swt. Bahkan, untuk mendapatkan pujian dari makhluk atau untuk mewujudkan keinginan dari hati mereka atau untuk menolak bahaya dari mereka, atau untuk menghindari cacian; atau amalan untuk mendapatkan istana dan bidadari surga saja, tanpa adanya tujuan untuk melaksanakan perintah-Nya.
Apabila seorang hamba meniatkan ibadah dan amalnya untuk mendapatkan ridha Allah Swt, melaksana kan perintah-Nya, menunaikan hak Rububiyah-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya; serta ibadahnya itu murni karena Allah Swt, bukan karena hal lain. Disamping itu, dia berharap mendapatkan sisi keutamaan Allah Swt, apa yang telah Dia siapkan untuknya dalam surga, berupa ragam bidadari, istana dan yang lainnya, bukan murni untuk beribadah kepada-Nya. Bahkan, murni ingin mendapatkan keutamaan, kemuliaan dan membenarkan janji Allah Swt. Maka, di dalamnya tidak ada dosa dan keikhlasannya tidak tercemari. Namun, apabila dia beramal karena untuk mendapatkan keutamaan Allah Swt, tanpa ada keinginan untuk mendapatkan ridha-Nya dan beribadah murni karena-Nya, maka inilah yang disebut “penyembah hawa nafsunya sendiri,” pahala amalnya hilang, bahkan dia mendapatkan dosa, lebih dari sekedar hilangnya pahala amal.
Orang yang menyembah Allah karena-Nya atau karena ingin mendapatkan rahmat-Nya atau mengharap kan ridha-Nya atau melaksanakan perintah-Nya atau menunaikan perintah-Nya dengan beribadah kepada-Nya atau memenuhi hak ubudiyah, atau menunaikan hak Rububiyah, atau ta’zhim kepada-Nya, atau mengagungkan-Nya, atau mencintai-Nya, atau malu kepada-Nya jika dilihat-Nya menyelisihi perintah-Nya atau karena rindu kepada-Nya, atau bersyukur atas nikmat-Nya, maka dia adalah orang yang ikhlas, tidak tercampur riya, sehingga terhindar dari ragam tujuan yang telah disebutkan di atas.
Orang yang menyembah Allah Swt dengan semua bentuk keikhlasan, maka dia adalah orang ikhlas yang sempurna. Kemudian jika disertai dengan harapan terhadap keutamaan Allah Swt, serta mengharapkan ragam bidadari, istana dan kenikmatan surga dengan kemurnian fadhal, dan meyakini bahwa Allah Swt memberikan kepadanya disamping ibadah, bukan sebab ibadah, maka keikhlasannya tidak tercemari, menurut ahli syari’at.
Namun, menurut orang-orang yang ‘Arifbillah, hal itu termasuk syirik aghradh (syirik orientasi). Menurut mereka, ikhlas adalah mempersembahkan ibadah karena Allah Swt, dan ibadahnya murni karena-Nya, serta menggugurkan harapan dari selain-Nya. Mereka merasa malu jika menoleh kepada makhluk dengan hati mereka walau hanya sesaat atau bermaksud kepadanya walau hanya sekejap, atau mencintai sesuatu darinya di samping Tuhan Yang dicintai lagi Maha Besar, yaitu Allah Swt. Sebab mereka hanya mencintai apa yang dicintai Allah Swt karena-Nya, dan mereka tidak mencintai selain Allah Swt, karena syahwat, atau tujuan tertentu atau menunaikan hajat.
Oleh karena itu, orang-orang yang ‘Arifbillah berbeda dengan ahli syari’at dalam kecintaan pada surga dan menjauh dari api neraka.
Ahli syari’at mencintai surga karena untuk menunaikan syahwat mereka di dalamnya dan menjauh dari neraka karena di dalamnya terdapat banyak perkara yang menyakitkan. Terhadap ciptaan ini terkadang mereka mencari, terkadang pula mereka lari.
Sedangkan orang-orang yang ‘Arifbillah, seluruh ciptaan bagi mereka sama, tidak ada yang spesial, kecuali apa yang telah dijadikan spesial oleh Kekasih mereka; Allah Swt. Mereka menjauh dari neraka dan memohon agar diselamatkan darinya, bukan karena nerakanya, bukan pula karena sakitnya, tetapi karena neraka adalah tempat musuh-musuh Allah. Mereka tidak ingin bersama musuh walau hanya sesaat, apalagi selamanya. Disamping itu, para penghuni neraka ter-hijab dari melihat Allah Swt, dan melihat kepada-Nya adalah tujuan mereka yang terbesar. Disamping itu, untuk melaksanakan perintah, karena Allah Swt memerintahkan mereka untuk berlindung dari neraka dan mencari keselamatan darinya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَا ظٌ شِدَا دٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu quuu angfusakum wa ahliikum naarow wa quuduhan-naasu wal-hijaarotu ‘alaihaa malaaa-ikatun ghilaazhung syidaadul laa ya’shuunalloha maaa amarohum wa yaf’aluuna maa yu-maruun
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ
allaziina yazkuruunalloha qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubihim wa yatafakkaruuna fii kholqis-samaawaati wal-ardh, robbanaa maa kholaqta haazaa baathilaa, sub-haanaka fa qinaa ‘azaaban-naar
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191)
Jadi, orang-orang yang ‘Arifbillah (berlindung dari neraka) karena mengikuti perintah-Nya, bukan karena neraka itu sendiri, bukan pula karena sakitnya. Mereka juga mencintai surga bukan karena surga itu sendiri, bukan pula untuk menunaikan syahwat dan tujuan mereka. Bahkan, mereka mencintai surga, karena ia merupakan negeri dan tempat tinggal para wali Allah Swt. Surga adalah tempat yang dapat melihat Allah Swt. Juga karena Allah Swt mencintai surga dengan hukum syari’at-Nya, sehingga Dia memilihnya untuk para wali, kemudian mereka mencintainya kerena kecintaan Allah Swt.
Pecinta sejati akan mencintai kekasihnya, mencintai orang yang dicintai kekasihnya, dan mencintai sesuatu yang dicintai kekasihnya. Demikian itu termasuk konsekuensi cinta yang murni. Disamping itu, mereka juga mengikuti perintah Allah Swt untuk mencari surga, mencintai bidadari-bidadari dan wildar-nya. Karena mereka mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka. Barangsiapa yang mencintai Allah, dia akan mencintai apa yang dicintai Allah, termasuk cinta kepada surga. Menjauh dari neraka juga karena Allah dan dengan Allah, bukan karena diri mereka, bukan pula dengan diri mereka. Beda halnya dengan kelompok yang pertama (ahli syari’at), mereka mencintai dan menjauhi sesuatu karena diri mereka sendiri. Tetapi, setelah memurnikan ibadah kepada Allah Swt, mereka akan mencintai bagian dari semesta ini selama tidak menjauhkan mereka dari cinta-Nya. Masing-masing tidak keluar dari wilayah syari’at dan tidak bisa menyamai orang-orang yang ‘Arifbillah, karena cintanya ahli syari’at termasuk dosa terbesar menurut orang-orang yang ‘Arifbillah, sebagaimana dikatakan, “Kebaikan-kebaikan abrar (ahli syari’at yang melakukan kebaikan) adalah keburukan-keburukan muqarrabin (Arifbillah yang didekatkan kepada Allah Swt).”
Sebab, orang-orang yang ‘Arifbillah menghabiskan seluruh waktunya tenggelam dalam samudera tauhid, sirna dari seluruh ciptaan dengan musyahadah Tuhan Yang Maha Memiliki lagi Maha Benar. Mereka tidak melihat kepada selain-Nya sedikitpun, kecuali karena-Nya sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Mereka bersama dengan seluruh ciptaan hanya sebatas jasad mereka, namun menjauhinya dengan ruh, sirr, hati dan akal mereka. Mereka tidak memiliki hasrat untuk selain-Nya. Mereka tidak memiliki waktu walau hanya sekecil biji sawi atau lebih kecil darinya untuk selain Allah. Sirr mereka terenggut dari selain-Nya, terikat di sisi-Nya dalam hadhrah-Nya, menetapi musyahadah-Nya sehingga tidak mengenal selain-Nya, ruh-ruh mereka tunduk kepada sirr mereka sehingga tidak akan mampu untuk menyelisihi-nya. Ruh-ruh mereka terbang dipermukaan alam Jabarut. Kerinduannya kepada kekasihnya (Allah Swt) tidak akan pernah terobati selamanya.
Hati mereka tunduk kepada ruh mereka dan tidak akan mampu untuk menyelisihinya. Hati mereka menggigil karena kewibawaan dan keagungan-Nya, terdiam karena malu dan tercengang akan keagungan dan kebesaran-Nya. Akal mereka tunduk kepada hati dan ruh mereka dan tidak akan mampu menyelisihinya. Ia hanya memikirkan kehebatan karya-Nya, menyaksikan rahasia-rahasia hikmah-Nya dalam makhluk-Nya karena begitu mengenal Nya. Jiwa dan raga mereka tunduk kepada akal dan tidak akan mampu untuk menyelisihinya. Jiwa mereka terenggut dari hasratnya di bawah keagungan-Nya, dan tubuh mereka sebagai kendaraan dalam berkhidmat kepada-Nya. Sang Kekasih telah mencuri sebagian dan keseluruhan diri mereka. Sedikitpun mereka tidak akan menyelisihi kehendak-Nya. Oleh karena itu, mereka untuk Allah, dengan Allah, bersama Allah. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari mereka dengan fadhal-Nya, dan mem peroleh apa yang mereka peroleh berkat kemuliaan Sayyidina Muhammad Saw.
Mengenai dzikir dan ibadah untuk meluaskan rezeki dan menolak bahaya, menghancurkan orang zhalim, menolak fakir, menunaikan hajat dan yang lainya; maka hal itu tidak dicari untuk mendatangkan rezeki, menolak fakir dan menunaikan hajat dengan dzikir atau ibadah itu sendiri. Karena yang demikian itu adalah syirik aghradh, dan haram sesuai konsensus ulama. Namun, jika yang dicari adalah untuk membantu dalam beribadah kepada Allah Swt, maka itu tidak terlepas dari dua perkara. Adakalanya, tujuannya dalam dzikir tertentu atau ibadah tertentu itu hanya untuk meluaskan rezeki dan yang lainnya, sehingga tidak bertujuan untuk mendapatkan ridha Allah Swt, maka hal itu termasuk syirik aghradh dan haram.
Namun, jika seorang hamba dengan dzikir dan ibadah itu bertujuan untuk mendapatkan ridha Allah Swt, disamping itu dia berharap keinginannya tercapai untuk menolongnya dalam beribadah kepada Allah dan memohon setelah ibadahnya kepada Allah agar hajatnya terkabul, maka itu boleh, tidak ada dosa di dalamnya, tetapi setelah meyakini bahwa Allah Swt melakukan sesuai keinginan-Nya, bukan karena dzikir tersebut, dan dengan dzikir itu dia mengharap ridha Allah Swt. Dzikir dan ibadah tidak memiliki pengaruh. Keistimewaannya adalah pahala di dunia dan akhirat. Dan Allah Swt adalah Yang Maha melakukan sesuai dengan keinginan-Nya murni, bukan karena suatu alasan. Inilah cara yang benar. Semua itu berdasarkan dalil-dalil naqli.
Kesimpulan dari semua paparan diatas adalah bahwa siapa yang beribadah kepada Allah Swt karena mengharapkan ridha-Nya, maka dia tidak keluar dari wilayah syari’at, bukan selainnya. Hanya saja masih ada perbedaan di antara mereka; sebagian dari mereka yang memotivasi untuk beribadah kepada Swt Allah adalah ridha-Nya. Maksudnya, yang menyinari dan mem bangkitkan mereka untuk beribadah adalah harapan mendapatkan fadhal Allah Swt dan terpelihara dari siksa-Nya. Mereka adalah ahli syari’at; dan sebagian mereka yang memotivasi untuk beribadah kepada Allah Swt dan membangkitkan mereka adalah sisi ma’rifat mereka terhadap kemuliaan, kebesaran dan keagungan-Nya, sehingga mereka beribadah kepada-Nya berdasarkan cinta dan rindu, untuk menunaikan hak Rububiyah-Nya, bukan karena ada tujuan lain. Mereka adalah orang-orang yang Arifbillah.
Sedangkan selain kedua kelompok ini adalah orang yang binasa, tidak ada ibadah baginya, apalagi pahala.
Catatan Penting:
Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu-, bahwa seluruh ciptaan menurut orang-orang yang ‘Arifbillah jika dinisbatkan kepada Allah Swt adalah sama. Dari sisi dzatnya, ia tidak memiliki keutamaan, keistimewaan dan perbedaan, kecuali jika Tuhan yang menciptakan meng utamakannya. Orang-orang yang Arifbillah memutus pandangan mereka dari dzat seluruh ciptaan. Mereka tidak melihat bentuk dan keadaanya. Mereka tidak mencintai karena dzatnya. Setiap sesuatu selain Allah Swt adalah bagian dari-Nya. Mereka tidak mencintainya kecuali apa yang dicintai oleh Allah Swt.
Maka, karena cinta-Nya mereka mencintai. Mereka juga tidak mengistimewakannya, kecuali jika Allah Swt mengistimewakannya. Apa yang Allah Swt agungkan, mereka juga mengagungkannya. Apa yang Allah remehkan, mereka juga meremehkannya. Apa yang Allah rendahkan, mereka juga merendahkannya. Apa yang Allah puji, mereka juga memujinya. Apa yang Allah cela, mereka juga mencelanya. Apa yang Allah benci, mereka juga membencinya. Mereka bersama Allah, karena Allah, dengan Allah, bukan karena diri mereka, dengan diri mereka dan bersama diri mereka.
Kehendak mereka sirna dibawah kehendak Allah Swt. Pilihan mereka dibawah pilihan Allah Swt. Pandangan mereka dibawah pandangan Allah Swt. Mereka mencintai para nabi, para malaikat dan para wali karena Allah Swt. Mereka membenci kebalikan dari mereka karena Allah Swt. Mereka mencari surga juga karena-Nya, bukan karena tujuan yang lain.
Penjelasan inilah yang diisyaratkan oleh ucapan Asy-Syaikh Al ‘Arif Maulana ‘Abdussalam bin Masyisy Ra, ketika Al Imam Asy-Syadzili Ra menanyakan kepadanya apa wiridnya ahli hakekat? Dia menjawab, “Membuang hawa dan mencintai Maula.” Maksudnya, mereka melakukan setiap sesuatu karena kehendak Allah Swt, karena cinta dan beribadah kepada-Nya, menunaikan hak Rububiyyah-Nya dengan menyamping kan tujuan mereka sendiri, memisah syahwat mereka dan menyingkirkan hasrat mereka, meninggalkan keuntungan bagi mereka sendiri, mereka tidak melakukan karena hajat mereka, tetapi mereka melakukan setiap sesuatu karena kehendak Allah Swt, bukan karena sesuatu selain Dia. Bagaimana mungkin keadaan mereka berkutat dalam amal dan kehendak, sementara semua itu karena Allah dengan Allah bersama Allah, dengan mengacuhkan diri, mengacuhkan syahwat mereka, serta penunaian hajat mereka. Setiap kali terdapat keinginan dari mereka dalam hal tersebut, mareka segera lari dan meninggalkannya.
Inilah madzhab mereka, berbeda dengan selain mereka. Karena selain mereka tidak pernah keluar dari wilayah mencari keuntungan. Motivasi mendapatkan keuntungan adalah tamak. Semua bentuk tamak adalah dusta. Mengikuti ketamakan adalah sumber kehancuran. Yang menuntun mereka kepada tamak adalah angan-angan, dan angan-angan adalah khayalan kosong seperti fatamorgana. Tamak dalam madzhab mereka adalah haram. Bahkan, tamak adalah perusak agama. Penjaga agama adalah sikap wara.
Orang-orang yang ‘Arifbillah memperhatikan segala sesuatu selain Allah Swt, lalu mereka mendapatinya tidak memiliki manfaat untuk dirinya sendiri dan untuk selainnya. Mereka mendapatinya tidak memiliki bahaya dan manfaat dari dzatnya, sehingga merekapun memutuskan perhatian mereka serta membuangnya dari hati mereka; yang berupa ketergantungan, keinginan, cinta, pegangan dan harapan. Ketika mereka bersikap wara’dari itu semua, maka mereka kembali kepada Penciptanya secara totalitas. Semua keinginan mereka menyatu dengan bergantung kepada-Nya, lalu mereka melihat segala sesuatu, ternyata mereka dapati dalam genggaman-Nya. Kemudian mereka ber-tafakkur tentang hal itu, maka mereka mendapati perkaranya menjadi dua bagian:
1) Sesuatu yang ditakdirkan bermanfaat bagi mereka atau berbahaya atas mereka, sehingga mau tidak mau mereka pasti menemuinya bagaimanapun keadaan nya, karena mereka mengetahui bahwa kehendak Allah Swt pasti terwujud. Mereka melihat bahwa berpaling dari apa yang Allah Swt takdirkan kepada mereka; baik bermanfaat atau berbahaya, termasuk tamak yang terbesar, sehingga mereka meninggalkan tamak, dan bersikap wara. Karena tamak adalah kesibukan untuk memperoleh sesuatu yang sudah pasti dan sibuk dengan sesuatu yang sudah pasti adalah igauan. Memperturuti hawa nafsu adalah terpedaya, dimana terpedaya termasuk bagian dari tamak, sehingga mereka pun meninggalkan nya.
2) Sesuatu yang Allah Swt tidak takdirkan bagi mereka, sehingga tidak ada jalan untuk mendapatkan dan memperolehnya, baik bermanfaat atau ber bahaya.
Seandainya seluruh strategi dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang Allah Swt tidak takdirkan, maka ia tidak akan didapatkan walau hanya sekecil biji sawi atau bahkan lebih kecil. Orang-orang yang ‘Arifbillah melihat bahwa mengharapkan sesuatu yang tidak ditakdirkan; baik bermanfaat atau berbahaya; termasuk tamak yang terbesar, dan tamak itu haram. Mereka pun bersikap wara’ dari setiap bentuk tamak, dan memejam kan mata mereka dari sesuatu yang telah ditakdirkan dengan setiap sisinya; baik ia tercapai atau tidak tercapai. Kemudian mereka mengarahkan pandangan mereka kepada Allah Swt dengan memutus ketergantungan dan keinginan.
Apa yang telah ditakdirkan untuk mereka, pasti akan berjumpa dengan mereka, tanpa mengharapkannya. Bahkan, dengan ridha, taslim dan tafwidh kepada Allah Swt. Sementara apa yang tidak ditakdirkan untuk mereka, mereka tidak pernah menginginkannya, jiwa mereka lapang dalam meninggalkannya. Mereka bersikap zuhud dalam apa yang telah ditakdirkan dan apa yang tidak ditakdirkan. Inilah madzhab mereka. Semoga Allah Swt memberikan hal itu kepada kita dengan fadhal-Nya-. Maka, mereka berada dalam rahmat Allah Swt dan ketenangan di dunia dan akhirat.
Oleh karena itu, dikatakan bahwa “Siapa yang mengenal hakekat Allah, dia tidak akan pernah bersedih.” Bahkan, dalam keadaan sulit sekalipun mereka merasakan kenikmatan seperti kenikmatan mendapatkan kebahagia-an. Ketika mereka mengetahui bahwa itu berasal dari pilihan Allah Swt, maka mereka pun menyukai kesulitan dan mampu menikmatinya lantaran Kekasih mereka; Allah Swt. Sebab perkara itu berasal dari pilihan-Nya. Mereka selalu merasa bahagia dalam setiap keadaan; baik berbahaya atau bermanfaat, karena mereka menghadapi segala sesuatu dengan Allah, karena Allah, bersama Allah, lagi-lagi sebab perkara itu berasal dari pilihan Allah Swt.
Oleh karena itu, engkau tidak akan pernah mendapati mereka merasa kesakitan dalam keadaan yang sangat berbahaya sekalipun, bahkan sampai pada perkara yang tidak dapat ditanggung oleh kemampuan manusia biasa, hal itu terjadi karena mereka merasa bahagia bersama Allah Swt, hingga mereka melupakan perkara itu. Segala sesuatu bagi mereka adalah kenikmatan, bagaimana mungkin itu akan menjadi berbahaya atau bermanfaat, dekat atau jauh, semua itu lantaran sebab yang telah kami sebutkan, yaitu sirnanya keinginan dan ambisi mereka dibawah pilihan dan cinta-Nya Allah Swt.
Inilah isyarat yang terdapat dalam apa yang difirman Allah Swt, sekan-akan Dia berfirman: “Hai hamba-Ku, kau punya keinginan Aku pun punya keinginan, tinggalkan apa yang kau inginkan dan jadilah sesuai keinginan-Ku. Aku akan mewujudkan apa yang kau inginkan, namun Aku akan memberikan kenikmatan dalam apa yang Aku inginkan. Jika engkau tidak meninggalkan apa yang kau inginkan karena apa yang Aku inginkan, maka Aku akan membuatmu lelah dalam apa yang kau inginkan. Aku akan mengadzabmu sebab Aku ingin kau meninggalkan keinginanmu. Tidak ada yang terwujud kecuali apa yang Aku inginkan.” Atau sebagaimana yang disampaikan dari Allah Swt.
Engkau tahu bahwa bahagia karena kenikmatan itu terbagi menjadi tiga bagian:
(1) Bahagia dengan kenikmatan, karena itu sebagai pemuas keinginan dan syahwat. Pemilik kebahagiaan ini seperti binatang.
(2) Bahagia dengan kenikmatan, karena didalam-nya dapat memenuhi keinginan dan syahwat. Juga karena ia merupakan anugerah dari Allah Swt sesuai pilihan-Nya. Bagian ini berada di tengah-tengah antara hina dan mulia;
(3) Bahagia dengan kenikmatan, karena Allah Swt. Ini berasal dari keinginan-Nya, bukan karena di dalamnya dapat memenuhi keinginan dan syahwat. Inilah puncak kemuliaan dan ketinggian bagi pemilik kebahagiaan. Demikian pula dengan kebalikan dari kenikmatan, yaitu ketidaksukaan. Oleh karena itu, perkara ini berbeda dalam kecintaan terhadap surga berserta seisinya dan ketidaksukaan terhadap neraka.
Bagian pertama tercela secara pasti. Bagian kedua tercela dan terpuji. Bagian ketiga terpuji lagi mulia secara pasti, sebab dia tidak merasa bahagia dengan surga karena dzat dan syahwatnya. Justru, karena surga termasuk pilihan terbaik Allah Swt, surga termasuk anugerah-Nya yang paling agung, dan surga adalah tempat para tetangga dan kekasih-Nya. Jadi, mereka mencintai surga dan bahagia dengannya karena Allah Swt. Sebab mereka telah berhasil menyingkirkan syahwat dan hasrat mereka, karena keinginan dan pilihan Allah Swt. Semoga Allah Swt memberikan pangkat itu kepada kita dari kucuran anugerah dan kemurahan-Nya dengan kemuliaan Sayyidina Muhammad Saw.
Kesimpulannya, tidak akan sempurna seseorang berdiri di hadapan Allah karena Allah, dengan Allah, bersama Allah, yang dilakukan murni karena Allah Swt sampai ia bersikap wara’ dari segala sesuatu yang telah ditakdirkan, memutus sifat tamak dirinya dari Allah Swt agar Dia memberinya selain apa yang telah ditakdirkan kepadanya, atau menahan apa yang telah ditakdirkan kepadanya. Dia tidak akan wushul kepada Allah Swt sampai tidak tersisa lagi keinginan dalam dirinya untuk mendapatkan sesuatu dari alam semesta ini, sebagaimana ada kalimat yang berbunyi, “Engkau tidak bisa wushul kepada Kekasih (Allah Swt), namun engkau masih bisa menemani-Nya di alam semesta ini.” Demikianlah inti dari bab ini.
Terkait dengan perkara ini ada yang mengatakan, “Tidaklah ada matahari yang terbit dan tenggelam pada makhluk ini kecuali mereka dalam kondisi tidak mengenal Allah Swt, kecuali orang-orang yang lebih mementingkan Allah Swt daripada jiwa dan hawa-nya, akhirat dan dunianya.”
Perhatikanlah kondisi ini, apakah dia masih memiliki keinginan dalam semesta ini? Inilah kemerdekaan yang terbebas dari segala kotoran semesta. Barangsiapa yang mencapai maqam ini, maka do’a baginya murni karena ubudiyyah saja, bukan karena berharap untuk mendapatkan sesuatu. Karena jika dengan do’anya dia berharap mendapatkan apa yang telah ditakdirkan baginya, atau terhindar dari apa yang telah dijauhkan darinya, maka itu adalah perbuatan yang sia-sia, tidak berfaedah baginya. Dia harus menata hati agar terhindar dari harapan yang berakibat melakukan hal yang sia-sia. Jika dia mengharapkan hal tersebut, maka dia tamak dan menentang ragam hukum yang berlaku pada sisi Rububiyah Allah Swt.
Keduanya (tamak dan menentang hukum Allah) adalah haram dalam madzhab orang-orang yang ‘Arifbillah, dia harus menata hati agar terhindar dari segala keremehan ini, sehingga tidak tersisa kecuali bergantung kepada Allah Swt sebagai bentuk ‘ubudiyyah kepada-Nya, bukan karena untuk mendapatkan sesuatu dengan bergantung kepada-Nya, juga agar tidak masuk dalam dirinya apa yang telah disebutkan di atas, berupa tamak, kesia-siaan dan persekutuan dalam tujuan. Dalam situasi demikian, dia wajib berhenti bersama Swt di atas batasan-batasan adab dengan ridha kepada Allah Swt dalam setiap sesuatu, ridha dengan hukum-hukum-Nya dalam setiap sesuatu, tafwidh kepada-Nya dalam setiap keadaan, taslim kepada-Nya dalam setiap sesuatu, istislâm kepada-Nya dalam setiap keadaan dan mempersiapkan diri untuk-Nya atas apa yang dikehendaki-Nya.
Yang dimaksud ridha kepada Allah Swt adalah meninggalkan amarah kepada-Nya dalam apa yang Allah berlakukan atas dirinya berupa bahaya. Bahkan, dia menghadapi keputusan-Nya itu dengan bahagia dan sukacita, walaupun dia binasa lantaran cintanya yang tulus.
Dia tidak pernah berharap sedikit pun bahaya itu hilang darinya sampai Allah Swt sendiri yang menghilangkannya.
Sedangkan yang dimaksud ridha kepada hukum dan takdir-Nya adalah menafikan amarah karena apa yang telah Allah Swt putuskan bagi dirinya atau selainnya, sehingga bahaya dan manfaat sama saja baginya, dia tidak akan sampai pada maqam ini, kecuali dengan kesempurnaan zuhud dalam dirimu, dan kesempurnaan cinta kepada Allah Swt dan karena Allah Swt semata, bukan karena sesuatu yang akan kembali kepadanya dari Allah, sehingga penglihatan tentang bahaya dan manfaat sima darinya, pembeda antara bahaya dan manfaat dari sisi dzatnya gugur darinya; baik suka atau benci, kecuali cinta dan benci itu karena-Nya. Maka, hendaklah dia berada dalam kondisi itu karena Allah, dengan Allah dan bersama Allah Swt.
Yang dimaksud dengan tafwidh adalah meninggalkan tindakan atau langkah guna mendapatkan suatu manfaat atau menolak bahaya; baik yang bentuknya hanya sekedar tamanni (angan-angan) atau juga usaha mendapatkannya secara rill, hal ini ia lakukan karena tahu tindakan Allah Swt lebih dulu. Sehingga tidak ada tempat pelarian dari apa yang telah ditakdirkan keberadaannya; baik bermanfaat atau berbahaya, bahkan tidak ada jalan (untuk mendapatkan) apa yang telah ditakdirkan ketiadaan nya; baik bermanfaat atau berbahaya. Tidak ada yang tersisa kecuali meninggalkan tindakan dan itulah yang disebut dengan tafwidh.
Sedangkan penafsiran daripada taslim kepada Allah Swt adalah meninggalkan sikap menentang takdir; baik berupa harapan atau usaha, menarik (manfaat) atau menolak, terjadi atau terhindar, karena takdir Allah Swt adanya lebih dahulu, dan pilihan-Nya telah ada pada zaman azali untuk apa yang telah ditakdirkan terjadi atau tidak terjadi. Semua bentuk sikap menentang adalah haram menurut para arif, baik intervensi atau tamak sebagaimana yang telah disebutkan. Tidak ada yang tersisa kecuali taslim, yaitu meninggalkan sikap menentang sebagai bentuk ubudiyah, bukan usaha untuk menarik atau menolak sesuatu, sehingga dia akan masuk dalam syirik aghradh, tamak dan intervensi.
Yang dimaksud dengan istislâm kepada Allah Swt adalah menggugurkan daya dan upaya, sehingga dia seperti mayat di hadapan orang yang memandikan, dia membolak-balikkanmu sesuai yang diinginkannya, tanpa ada pilihan lain. Tidak ada kehendak, upaya dan daya. Karena hakekatnya, dia tidak memiliki daya dan upaya. Sesungguhnya hal itu bagian dari bujuk rayu jiwa yang dusta. Diantara kondisi jiwanya adalah dipenuhi oleh spekulasi. Tidak ada yang tersisa kecuali meninggalkan bujuk rayu itu dan mendidik jiwa agar terlepas dari spekulasi, kemudian mengembalikannya pada kemurnian ubudiyyah kepada Allah Swt, tidak ada yang tersisa kecuali berpegang teguh kepada Allah Swt.
Yang dimaksud dengan berpegang teguh kepada Allah Swt adalah menenangkan hati agar tidak berontak dari sifat Qayyum-nya Allah Swt, pengaturan dan pilihan-Nya yang lebih dahulu, serta melepaskan dari tamak dan Intervensi sebagaimana yang telah disebutkan.
Semua ini adalah maqam-maqam yang sebagian nya menarik sebagian yang lain. Tidak ada yang bisa menempatinya dengan sempurna kecuali orang-orang yang Arifbillah. Setiap kali dia merasa tenang dengan adanya sesuatu selain Allah Swt, apapun keadaannya, maka dia telah berpegang teguh kepada-Nya.
Yang dimaksud dengan tenang adalah hati merasa tenteram dan terpengaruh dengan adanya sesuatu yang membuatnya tenang. Namun, berontak, bingung dan sedih saat sesuatu yang membuatnya tenang itu hilang.
Barangsiapa yang keadaannya seperti ini bersama selain Allah Swt, maka dia akan diserahkan kepada sesuatu yang membuatnya tenang. Kebinasaannya sudah pasti, tidak diragukan lagi. Tidak ada harapan baginya untuk menggapai kebahagiaan yang sempurna. Namun, barangsiapa yang merasa tenang bersama Allah Swt, dan bahagia bersama-Nya bukan yang lain-Nya, maka Allah Swt akan menyerahkannya kepada pengaturan uluhiyyah dan ikhtiyar-Nya. Dia menguasainya dengan pertolongan azaliyah, menganugerahinya sesuatu yang tidak ada ujungnya berupa ahwal yang mulia, maqam yang agung dan akhlak yang suci.
Janganlah engkau bertanya tentang apa yang didapatnya disana berupa kebahagiaan dan kenikmatan, tinggi dan mulia. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang telah dianugerahi pengetahuan tersebut. Tidak ada yang menempati maqam ini kecuali orang yang ‘Arifbillah, karena mereka terbebas dari semua pakaian-pakaian makhluk dan kembali kepada Allah Swt. Mereka mensucikan jiwa dari perhatian kepada ragam pakaian makhluk, walau hanya sekejap, banyak atau sedikit, mereka kembali kepada Allah Swt dengan ragam rahasia yang merampas dari selain-Nya, mereka diliputi dengan penyaksian kepada-Nya, mereka sirna dari wujud selain Allah Swt, mereka terikat disisi-Nya dalam hadhrah-Nya, mereka duduk bersimpuh di atas hamparan tafrid-Nya dengan ruh-ruh yang disucikan dari ketergantungan kepada jasad yang gelap, mereka terbebas dari sesuatu yang menghalanginya, mereka terbang di kebun-kebun Jabarut, mereka dibersihkan dari sesuatu yang dapat menodai cinta dan kesempurnaan rindu kepada Allah Swt selamanya.
Dengan akal yang suci dari kotoran hawa, senantiasa berusaha, berfikir dan melihat karya-karya Allah Swt, mengungkap rahasia-rahasia hikmah-Nya dalam makhluk-Nya, dengan hati yang bergantung kepada-Nya secara sempurna, dengan memutus semua bentuk ketergantungan dan menyucikan dari semua bentuk keinginan, menjauhi semua bentuk kenikmatan, memejamkan mata dari semua makhluk, dan berdiam diri di atas batasan-batasan adab di hadapan Pencipta bumi dan langit dengan jiwa yang bersih lagi tenang dari semua bentuk pemberontakan, suci lagi disucikan yang terbebas hawa dan syahwat; juga dengan jasad yang tenggelam; sebagian dan keseluruhan. Tidak ada yang tertinggal darinya, walau hanya sehelai rambut dan sebiji sawi, dari berkhidmat kepada Tuhan yang menciptakan semua makhluk.
Ketahuilah, bahwa sesuatu yang dapat meng-hijab seorang hamba dari Allah Swt adalah ketenangan mereka pada selain-Nya. Seandainya hal itu tidak ada, tentu mereka semua dapat melihat-Nya dengan mata batin mereka. Tetapi, hijab sebagian dari mereka lebih tebal daripada sebagian yang lain. Namun, masing-masing mereka dari ke-terhijab-annya dari Allah Swt adalah sama, karena jauhnya jarak, tempat dan arah dari-Nya Swt. Hal itu jika dinisbatkan kepada sesuatu yang meng-hijab seorang hamba dari melihat-Nya, maka sebagian dari mereka ter-hijab oleh cinta dunia dan menetap di dalamnya. Hijab inilah yang paling besar. Sebagian dari mereka ter-hijab dari Allah Swt oleh syahwat, keinginan, hasrat dan jiwa mereka. Hijab ini lebih rendah daripada hijab yang pertama. Sebagian dari mereka ter-hijab oleh akhirat dan berbagai macam kenikmatannya, bidadari dan istananya, rasa sakit dari siksaannya, dan takut akan neraka Jahannam. Sebagian dari mereka ter-hijab dari Allah Swt oleh rasa tenang mereka kepada ilmu dan ma’rifat, asrâr, anwâr, ahwâl dan maqâmât. Tetapi, inilah tujuan mereka dari Allah Swt dan tuntutan mereka dari-Nya, sehingga mereka pun merasa tenang dengan keberadaannya dan merasa gelisah dengan ketiadaannya.
Orang-orang yang ‘Arifbillah telah berhasil merobek semua hijab itu, kemudian mereka duduk bersama Allah Swt di atas hamparan musyahadah kepada-Nya, dan terlepas dari melihat ahwâl, maqâmât dan ragam keinginan mendapatkannya, karena semua itu bagian dari makhluk, dimana mereka telah berhasil keluar darinya. Hijab orang-orang yang pertama (hijab cinta dunia) lebih besar daripada orang yang setelah mereka, karena mereka ter-hijab oleh hijab yang pertama setelah yang kedua (hijab syahwat, hasrat dan jiwa). Orang yang ter-hijab dengan hijab yang kedua telah berhasil merobek hijab yang pertama dengan zuhud. Lalu, perjalanan mereka terputus oleh bujuk rayu jiwa dan hawa, sehingga mereka pun ter-hijab. Orang yang ter-hijab dengan hijab yang ketiga (hijab akhirat) telah berhasil merobek dua hijab sebelumnya. Lalu, perjalanan mereka terputus oleh lezatnya kenikmatan, sehingga mereka pun ter-hijab. Orang yang ter-hijab dengan hijab yang keempat (hijab rasa tenang dengan ilmu dan ma’rifat, asrår, anwâr, ahwal dan maqâmât telah berhasil merobek ketiga hijab sebelumnya, kemudian perjalanan mereka terputus oleh keinginan (untuk mendapatkan) kemuliaan dan kedudukan sebab berhasil mendapatkan maqâmât. Hanya saja, tiga golongan pertama ter-hijab oleh kegelapan, sedangkan golongan yang terakhir ter-hijab dari Allah Swt dengan anwar, semuanya adalah sama, sehingga mereka tidak dapat melihat kepada Allah Swt. Barangsiapa yang berhasil merobek semua hijab tersebut, maka dia akan melihat Allah Swt dengan mata batin.
Yang dimaksud dengan redaksi, “Mempersiapkan jiwa karena Allah Swt atas apa yang dikehendaki-Nya,” adalah melaksanakan keinginan-Nya sebagai bentuk ‘ubudiyyah karena-Nya dan mencari ridha-Nya dengan menggugurkan harapan dari-Nya dalam ibadah. Bukan, memutus harapan dari-Nya karena mengharapkan kebaikan-Nya. Sebab yang demikian itu adalah kekufuran yang nyata lagi terlarang. Sesungguhnya menggugurkan harapan dalam ibadah itu agar ibadahnya murni karena Rabbnya, bersih dari syirik aghradh, dan mengharapkan kebaikan dari Rabbnya murni karena fadhal dan kedermawanan. Harapan merupakan bentuk berbaik sangka kepada Allah Swt, karena Dia memiliki sifat-sifat agung yang baik.
Sedangkan harapan untuk memperoleh sesuatu dari dunia atau akhirat, maka ini adalah tamak menurut orang yang ‘Arifbillah, semuanya adalah haram. Karena telah diketahui bahwa takdir dan pembagian-Nya ada sejak zaman azali. Sehingga tidak ada harapan untuk mem peroleh sesuatu yang tidak ditakdirkan sebagai mana tidak takut kehilangan sesuatu yang telah ditakdirkan keberhasilannya. Lantas, adakah harapan lain setelah ini? Tidak ada kecuali berbaik sangka kepada Allah Swt dengan memutus sifat tamak dari-Nya dalam memperoleh sesuatu yang tidak ditakdirkan, dan memutus kegelisahannya lantaran kehilangan sesuatu yang tidak ditakdirkan.
Maka, tidak ada yang tersisa kecuali pemurnian ubudiyyah kepada Allah Swt sesuai apa yang dikehendaki-Nya dalam hukum syari’at-Nya dengan menceraikan kebahagiaan, memutus pilihan bersama-Nya dan meninggal kan segala kehendak bersama kehendak-Nya. Hendaklah dia bersama-Nya seperti mayat di hadapan orang yang memandikannya, yang bisa membolak-balik sesuai kehendaknya, dia melihat dirinya tidak memiliki daya dan upaya. Pasrah total dalam menjalani keputusan yang harus dilalui, tanpa kebencian sedikitpun kepadanya.
Seandainya semua kesulitan yang menimpa makhluk diberikan kepadanya, maka dia tidak merasa kesakitan walau hanya sehelai rambut, karena dia memahami hakekat sifat qayyum dari kekasihnya (Allah). Inilah ahwal yang murni dari mawahib (pemberian) İlahiyyah. Tidak ada usaha yang mampu menggapainya.
Orang yang berada di dalamnya secara sempurna tidak akan menoleh kepada dirinya sendiri dan kepada selain Allah Swt walau hanya sesaat. Semoga Allah Swt memberikannya kepada kita semua dengan kemurnian fadha-Nya dan dengan kemuliaan Sayyidina Muhammad Saw. Amîn.
Kewajiban bagi salik (penempuh jalan spritual) adalah dia memasuki sore dan pagi hari, berteduh dan bermalam tidak memiliki tujuan kecuali dua hal:
Pertama, Allah Swt memilih dirinya dari semua makhluk, memohon perlindungan kepada-Nya dari semua itu, serta tidak meliriknya sedikitpun, dan cemburu jika Dia memilih selainnya. Jadikan Allah Swt sebagai permulaan dan penghujung tujuannya, awal dan akhir tujuannya, pembuka dan penutupnya. Hilangkan semua keinginan pribadi yang begitu lemah dalam semua itu, sehingga tidak ada sedikitpun tujuan kepada selain-Nya. Karena tujuan kepada yang lain, adakalanya tamak dan adakalanya permainan sebagaimana yang telah disebutkan sebelum-nya.
Kedua, menjadikan semuanya karena Allah Swt sebagai bentuk pembebasan dari sifat kehambaan kepada selain-Nya. Bergantung kepada-Nya secara totalitas, sirr dan ruh, akal dan jiwa, hati dan detaknya. Sehingga tidak tersisa sedikitpun darinya sikap menyelisihi Allah Swt, berdiam diri bersama kehendak-Nya, terbebas dari seluruh kehendak, keinginan, pengaturan, keberuntungan, syahwat dan tujuan. Berdiam diri dalam hal itu karena Allah, dengan Allah, bersama Allah. Tidak ada sedikitpun darinya karena dirinya dengan dirinya dan bersama dirinya.
Hendaklah semua itu dilakukan sebagai bentuk ubudiyyah kepada Allah Swt karena-Nya, berharap mendapatkan ridha-Nya dan menunaikan hak Rububiyah -Nya. Bukan karena ingin mendapatkan balasan sedikitpun darinya. Dia tidak memaksa Allah Swt untuk mewujudkan keinginannya. Justru agar ubudiyyah-nya murni karena Rabbnya. Tidak berharap kebaikan-Nya agar dia tidak kufur dan berbaik sangka kepada-Nya. Dia-lah yang memiliki kesempurnaan sifat-sifat yang terpuji. Tanbih ini ditulis oleh Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra saat beliau masih mengajar ilmu dan aku menulisnya langsung dari tulisan tangan beliau.-
