You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Sifat Murid Tijany 6. Al Khalwah wal ‘Uzlah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 6. Al Khalwah wal ‘Uzlah

Khalwat maksudnya adalah pembicaraan rahasia dengan Allah Swt, dimana tidak ada lagi orang bahkan malaikat sekalipun.

Sedangkan ‘uzlah maksudnya adalah pergi menjauh dari manusia dengan cara menyendiri dipojokan dan terputus dari banyak orang.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ مِنْ خَيْرِ مَعَايِشِ النَّاسِ كُلُّهُمْ: رَجُلاً أَخِذًا بِعَنَّانِ فُرْسِهِ ففِي سَبِيْلِ اللَّهِ أَنْ سَمِعَ فُرْعَةً أَوْ هَيْعَةً، كَانَ عَلَى مَتْنِ فُرِسِهِ يَبْتَغِي الْمَوْتَ أَوِ الْقَتْلَ فِي حَظَانِهُ، وَرَجُلٌ فِي غَنِيْمَةٍ لَهُ فِي أَسْرِ شُعْبَةٍ مِنْ هَذِهِ الشُّعَابِ أَوْ بَطْنِ وَادٍ مِنْ هَذِهِ الْأَوْدِيَةِ يُقِيمُ الصَّلَاةَ وَيُؤْتِي الزَّكَاةَ وَيَعْبُدُ رَبَّهُ حَتَّى يَأْتِيْهِ الْيَقِينَ لَيْسَ مِنَ النَّاسِ إِلَّا فِي خَيْرٍ

“Diantara kehidupan manusia yang terbaik adalah seorang lelaki yang banyak menunggangi kuda di jalan Allah Swt ketika dia mendengar berita yang menakutkan, dia berada diatas kudanya mencari kematian atau terbunuh di atas pelananya; atau seorang lelaki yang memiliki harta rampasan perang bagian dari bangsa atau suku ini yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan menyembah Rabbnya hingga ajal menjemput, tidaklah manusia demikian kecuali ia berada dalam kebaikan.”

Imam Al Qusyairi pernah mengatakan, “Khalwat merupakan sifatnya ahlu shafwah, sedangkan ‘uzlah adalah bagian dari tanda-tanda wushul. Pada awal perjalanan suluk-nya seorang murid seyogyanya dia ber-‘uzlah dari manusia dan pada akhir perjalanan suluknya dia ber-khalwat guna menanggung penderitaan.”

Diriwayatkan dari Abu Yazid, dia berkata: Dalam mimpi aku melihat Allah Swt, akupun berkata, “Bagaimana aku bisa menemukan-Mu?” Allah Swt menjawab, “Pisahkanlah dirimu (dengan yang lain) kemudian kemarilah.”

Dzun-Nun Al Mishri pernah mengatakan, “Aku belum pernah melihat perkara yang lebih mampu menghantarkan kepada ikhlas daripada ber-khalwat.”

Abu Abdillah Ar-Ramli pernah mengatakan, “Hendaknya yang menjadi sahabatmu adalah khalwat, makananmu adalah kelaparan dan pembicaraanmu yang mampu menyelamatkan; baik itu kematian atau wushul kepada Allah.”

Yahya bin Mu’adz pernah mengatakan, “Kesendirian itu teman duduknya Ash-Shiddiqin (orang-orang yang jujur jiwanya).”

Asy-Syibli juga pernah mengatakan, “Diantara kerugian adalah merasa nyaman dengan manusia.”

Al Junaid Al Baghdadi pernah mengatakan, “Barangsiapa yang agamanya ingin selamat, badan dan kalbunya rehat, maka hendaknya dia menyendiri dari manusia. Sungguh zaman ini sangatlah buruk dan orang yang berakal adalah orang yang memilih menyendiri di zaman ini.”

Ada ulama yang berkata kepada yang lainnya, “Apakah disini ada yang merasa nyaman?” Seseorang menjawab, “Saya,” maka ulama tersebut melongok kepada tempat tidurnya seraya bersenandung:

وَكُتُبِيَ حَوْلِي لَا تُفَارِقُهُ مَضْجَعِي # وَفِيْهَا شِفَاءٌ لِلَّذِي أَنَا كَاتِمُ

“Bukuku (Al Qur’an) ada di sekitarku, tidak terpisah dari tempat tidurku # didalamnya ada kesembuhan yang sudah aku sembunyikan.”

Umar bin Al Khaththab pernah mengatakan, “Jadikanlah uzlah bagian dari diri kalian.”

Ibnu Sirin pernah mengatakan, “‘Uzlah adalah ibadah.”

Ada ulama yang mengatakan, “Jadikanlah ‘uzlah sebagai teman dan biarkan manusia ada di sisimu.”

Abu Ar-Rabi’ Az-Zahid berkata kepada Daud Ath-Tha’i, “Berilah aku nasehat,” beliaupun berkata, “Berpuasalah dari dunia, jadikan akhirat sebagai jamuan berbuka puasamu, berlarilah dari manusia seperti larimu dari singa.”

Al Hasan pernah mengatakan, “Ada kalimat yang aku masih hafal dari taurat, ‘Anak cucu Adam itu qana’ah (diri merasa cukup) sehingga dia cukup, ber-uzlah-lah dari manusia niscaya akan selamat, tinggalkanlah syahwat niscaya akan jadi orang yang merdeka, tinggalkanlah hasud niscaya nampak perangai baik, bersabarlah sedikit, maka engkau akan rasakan kenikmatan selanjutnya.”

Ats-Tsauri pernah mengatakan, “Ini adalah waktunya diam dan melazimkan berada di rumah.”

Fudhail bin ‘lyadh pernah mengatakan, “Diantara kedermawanan akal seseorang adalah banyaknya pengetahuan yang dia miliki.”

Ibnu Abbas pernah mengatakan, “Paling utamanya majelis adalah majelis di dalam rumahmu yang tidak bisa melihat (keluar) dan tidak terlihat (dari luar).”

Sebagian ulama mengatakan, “Apabila Allah ingin mengangkat manusia dari hinanya kemaksiatan kepada mulianya ketaatan, Allah akan nyamankan dia dengan menyendiri (dari orang lain) dan cukupkan dia dengan qana’ah, serta Allah perlihatkan ragam aib dirinya. Orang yang telah diberikan itu, berarti dia telah diberikan kebaikan dunia dan akhirat.”

Sumber : BUKU 40 SIFAT MURID TIJANY (AL QAUL AS-SADID FI SHIFAT AL MURID) SYAIKH MUHAMMAD BIN MUHAMMAD AL HAJUJI AT-TIJANY