
Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 5. Al Mujahadah
Mujahadah dalam definisi syari’at adalah memerangi jiwa yang condong pada keburukan dengan memberikan ragam rintangan yang dipinta dalam syari’at.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا لَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
wallaziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa, wa innalloha lama’al-muhsiniin
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 69)
Abu Ali Ad-Darqâq pernah mengatakan, “Barangsiapa yang menghiasi dirinya yang zhahir dengan mujahadah, niscaya Allah perbaiki bathin-nya dengan kemampuan menyaksikan Allah Swt.”
Abu Utsman Al Maghrabi pernah mengatakan, “Barangsiapa yang berprasangka bahwa dia diberikan futuh pada thariqah ini atau diberikan kasyaf akan sesuatu tanpa adanya mujahadah, maka ia telah salah persepsi.”
Abu Ali Ad-Darqawi pernah mengatakan, “Perkataan mereka, ‘gerak itu berkah, hal itu karena gerakan jasad menyebabkan keberkahan bathin’.”
Sara Saqathi pernah mengatakan, “Wahai anak muda, berusaha dengan sungguh-sungguh sebelum kalian sampai pada posisiku; niscaya kalian akan semakin melemah dan kurang, sebagaimana akupun kini lemah dan kurang.”
Hasan bin Al Qazzaz pernah mengatakan, “Perkara ini dibangun dengan tiga hal: Pertama, tidak makan kecuali saat membutuhkannya; Kedua, tidak tidur kecuali saat mengantuk berat; Ketiga, tidak berbicara kecuali dalam kondisi darurat.’
Ibrahim bin Adham pernah mengatakan, “Seorang lelaki tidak akan pernah menggapai derajat orang-orang yang shaleh kecuali mampu melewati enam rintangan; Pertama, menutup pintu kenikmatan dan membuka pintu kesengsaraan; kedua, menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan diri; ketiga, menutup pintu kelonggaran diri dan membuka pintu kesungguhan diri; keempat, menutup pintu tidur dan membuka pintu begadang; kelima, menutup pintu kekayaan dan membuka pintu kefaqiran; keenam, menutup pintu angan-angan dan membuka pintu persiapan menuju kematian.”
Ketahuilah bahwa asal muasal mujahadah adalah menyapih jiwa dari ragam kenyamanan dan meng-giringnya kearah yang berbeda pada semua waktu. Jiwa memiliki dua sifat yang keduanya mencegah dari kebaikan; Pertama, tenggelam dalam syahwat; dan kedua, enggan ta’at. Jika kecondongan negatif ini naik, maka ia harus dikekang dengan tali kekang ketakwaan diri. Jika jiwa bersedih ketika menjalankan ketaatan, maka jiwa harus dipalingkan dari kemauan hawa. Jika jiwa terbakar saat marah, maka kondisi jiwanya ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Tidak ada titik balik yang baik kecuali kemarahan; dimana kemarahan sejatinya dapat dirubah dengan akhlak baik dan dipadamkan dengan kelemah- lembutan.
Orang awam ber-mujahadah dengan cara memohon taufik Allah Swt dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan, sementara orang khusus ber-mujahadah dengan membersihkan kondisi jiwa. Sebab ukuran rasa lapar dan begadang itu mudah, sementara mengobati akhlak dan membersihkan ragam keburukannya itu sangat sulit.
Diantara cacat yang tersembunyi adalah merasa diri agung dengan dipuji, sebab orang yang demikian biasanya akan berbuat apa saja. Ciri orang yang merasa dirinya besar dengan pujian adalah ketika pujian itu tidak ada lagi, maka diapun akan mengerjakan sesuatu tersebut dengan malas, bahkan seringkali gagal.
Dzun-Nun Al Mishri pernah mengatakan, “Sungguh masuknya kerusakan pada manusia itu dari enam perkara: Pertama, lemahnya niat untuk beramal karena akhirat; kedua, tubuh mereka menjadi gadaian nafsu syahwat; ketiga, mereka dikalahkan oleh angan-angan yang panjang meski ajal menjelang; keempat, lebih mengutamakan keridhaan makhluk daripada keridhaan Al Khaliq (Allah); kelima, mereka senantiasa mengikuti hawa (kecondongan negatif jiwa); keenam, mereka seringkali menjadikan kesalahan generasi terdahulu sebagai tameng dan malah melupakan ragam kebaikan mereka.
