You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Sifat Murid Tijany 4. At-Taqwa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 4. At-Taqwa

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَا رَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
yaaa ayyuhan-naasu innaa kholaqnaakum ming zakariw wa ungsaa wa ja’alnaakum syu’uubaw wa qobaaa-ila lita’aarofuu, inna akromakum ‘ingdallohi atqookum, innalloha ‘aliimun khobiir

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْصِنِي، قَالَ: عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّهَا جِمَاعُ كُلِّ خَيْرٍ

Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw seraya berkata, “Wahai nabi Allah, berilah aku wasiat?” Beliau bersabda, “Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah sebab sungguh ia merupakan pokok segala kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi).

Tentang penafsiran ayat,

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha haqqo tuqootihii wa laa tamuutunna illaa wa angtum muslimuun

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 102); maknanya adalah engkau taat kepada Allah dan tidak bermaksiat, senantiasa ingat kepada-Nya dan tidak lupa, senantiasa bersyukur dan tidak kufur.”

Para ulama berbeda pendapat mengenai hakekat makna takwa yang sebenarnya:

Ada ulama yang mengatakan, takwa adalah mengikuti nabi dari sisi perkataan dan perbuatan Nabi Saw.

Ada ulama yang mengatakan, takwa adalah menjaga ragam adab syari’at.

Ada pula yang mengatakan, takwa adalah seorang hamba menjauhkan diri dari ibadah kepada selain-Nya.

Ada juga yang mengatakan, takwa adalah menjauhkan diri dari segala perkara yang dapat menjauhkan diri dari Allah Swt.

Ada pula yang mengatakan, takwa adalah meninggalkan tuntutan jiwa dan larangan yang nampak jelas.

Ada juga yang mengatakan, takwa adalah tidak melihat sesuatu pada jiwa selain Allah Swt.

Ada ulama yang mengatakan, takwa adalah tidak melihat dirimu lebih baik dari seseorang.

Sebagian pembesar sufi mengatakan, “Barang siapa yang melazimkan ketakwaan diri, maka diapun akan rindu berpisah dari dunia, sebab Allah Swt pernah berfirman,

وَ مَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗ وَلَـلدَّا رُ الْاٰ خِرَةُ خَيْرٌ لِّـلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
wa mal-hayaatud-dun-yaaa illaa la’ibuw wa lahw, wa lad-daarul-aakhirotu khoirul lillaziina yattaquun, a fa laa ta’qiluun

“Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 32)

Tokoh pembesar sufi lainnya mengatakan, “Barangsiapa yang Allah mantapkan ketakwaan diri dalam dirinya, maka Allah pun akan entengkan kalbunya untuk menolak dunia.”

Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari pernah mengata kan, “Takwa itu ada yang zhahir (nampak) dan ada pula yang bathin (tersembunyi). Takwa yang zhahir adalah menjaga batasan-batasan Allah Swt, sedangkan takwa bathir-nya adalah niat dan keikhlasan diri.”

Dzun-Nun Al Mishri pernah bersenandung:

فَلَا عَيْشَ إِلَّا مَعَ رِجَالِ قُلُوْبُهُمْ # تَحِنُّ إِلَى التَّقْوَى وَتَرْتَاحُ الذِّكْرِ

سُكُونَ إِلَى رُوْحِ الْيَقِيْنِ وَطَيِّبُهُ # كَمَا سَكَنَ الطَّفْلُ الصَّغِيرُ إِلَى الْحِجْرِ

“Tidak ada hidup kecuali bersama orang-orang yang kalbunya # condong pada ketakwaan diri dan dirinya nyaman untuk berdzikir

Ketenangan merasuki ruh keyakinan # sebagaimana bayi kecil yang tenang dipangkuan.

Sebagian tokoh sufi ada yang mengatakan, “Barangsiapa yang harta pokoknya adalah ketakwaan, maka lidahpun kaku mensifati keuntungannya.”

Sayyidina Ali Kw pernah mengatakan, “Orang-orang mulia di dunia adalah orang-orang yang dermawan, sementara orang-orang mulia di akhirat adalah orang-orang yang bertakwa.”

Sumber : BUKU 40 SIFAT MURID TIJANY (AL QAUL AS-SADID FI SHIFAT AL MURID) SYAIKH MUHAMMAD BIN MUHAMMAD AL HAJUJI AT-TIJANY