
Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 32. Husnul Istima’
Seorang sufi pernah mengatakan, “Pondasi segala kebaikan adalah husnul istima’ (mendengarkan dengan baik).”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَوْ عَلِمَ اللّٰهُ فِيْهِمْ خَيْرًا لَّاَسْمَعَهُمْ ۗ وَلَوْ اَسْمَعَهُمْ لَـتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ
walau ‘alimallohu fiihim khoirol la-asma’ahum, walau asma’ahum latawallaw wa hum mu’ridhuun
“Dan sekiranya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, tentu Dia jadikan mereka dapat mendengar. Dan jika Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka berpaling, sedang mereka memalingkan diri.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 23)
Para ahli tafsir mengatakan, “Jika Allah Swt mengetahui bahwa mereka pantas mendengar, niscaya Allah Swt bukakan pendengaran mereka untuk itu.”
Orang yang dikuasai rasa was-was, dimana batinnya juga didominasi bisikan jiwa, maka dia tidak bisa mendengar dengan baik.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِمَنْ كَا نَ لَهٗ قَلْبٌ اَوْ اَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيْدٌ
inna fii zaalika lazikroo limang kaana lahuu qolbun au alqos-sam’a wa huwa syahiid
“Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”
(QS. Qaf 50: Ayat 37)
Asy-Syibli pernah mengatakan, “Nasehatnya Al Qur’an adalah bagi orang yang memiliki kalbu yang senantiasa terkoneksikan dengan Allah Swt, dia tidak pernah lalai sekejap matapun dari Allah Swt.”
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi pernah mengatakan, “Kalbu itu ada dua: Pertama, kalbu yang telah mati dengan ragam kesibukan dunia; jika satu dari ragam perkara ta’at itu datang, yang bersangkutan tidak tahu apa yang harus dia lakukan lantaran kalbunya sibuk dengan dunia. Kedua, kalbu yang telah mati dengan ragam kondisi akhirat, bahkan jika satu dari ragam perkara dunia itu datang, yang bersangkutan tidak tahu apa yang harus dia lakukan lantaran kalbunya sibuk dengan akhirat. Lihatlah betapa jelasnya perbedaan antara keberkahan pemahaman yang kokoh tersebut dan cacian terhadap ragam kesibukan fana’ yang dapat memalingkanmu dari keta’atan.”
Sebagian ulama berpendapat tentang firman Allah Swt, لِمَنْ كَا نَ لَهٗ قَلْبٌ “Bagi orang-orang yang mempunyai kalbu (akal);” maksudnya adalah terhindar dari ragam tujuan dan barang-barang duniawi.
Sebagian ulama berpendapat tentang firman Allah Swt لِمَنْ كَا نَ لَهٗ قَلْبٌ “Bagi orang-orang yang mempunyai kalbu (akal);” maksudnya adalah kalbu yang tidak terdetik kecuali penyaksian Allah Swt.
Ibnu Mas’ud berpendapat tentang firman Allah Swt, اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِمَنْ كَا نَ لَهٗ قَلْبٌ “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai kalbu (akal);” maksudnya adalah kalbu yang mengetahui ragam adab berkhidmah (pada Allah) dan adab kalbu.”
Muhammad bin Ali Al Baqir mengatakan, “Matinya kalbu dari ragam syahwat jiwa. Selagi dia mampu menolak syahwatnya diapun akan mendapat kan kemampuan berangsur-angsur; yaitu mendengar-kan orang-orang yang masih hidup dan bukan orang yang sudah meninggal dunia, sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتٰى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَآءَ اِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِيْنَ
innaka laa tusmi’ul-mautaa wa laa tusmi’ush-shummad-du’aaa-a izaa wallau mudbiriin
“Sungguh, engkau tidak dapat menjadikan orang yang mati dapat mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka telah berpaling ke belakang.”
(QS. An-Naml 27: Ayat 80)
Telah disebutkan, “Jika bukan karena syaithan kepanasan di kalbu anak cucu Adam, niscaya mereka melihat kekerajaan Allah di langit.”
Sebagian ulama berpendapat tentang firman Allah Swt, لِمَنْ كَا نَ لَهٗ قَلْبٌ “Bagi orang-orang yang mempunyai kalbu (akal);” maksudnya adalah kalbunya menjadi kuat untuk menyendiri bersama Allah Swt hingga ia keluar dari dunia, dari makhluk dan jiwa. Dirinya tidak disibukkan dengan selain-Nya, diapun tidak bersandar kecuali kepada-Nya.”
