
Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 35. Ketika Kondisi Jiwa Syaikh Dianggap Bermasalah
Ketika sang murid menemukan kondisi jiwa Syaikhnya yang dianggapnya bermasalah, maka ingat kembali kisah Nabi Musa As, ketika Khidir menjelaskan rahasia perkara itu dan Nabi Musa menarik keingkaran-nya itu. Seorang murid dengan kapasitas keilmuannya yang minim tidaklah boleh mengingkari Syaikhnya, sebab Syaikhnya pasti memiliki dalih tersendiri dari keilmuan dan hikmah.
Sebagian Syaikh ada yang mengatakan, “Barangsiapa yang tidak mengagungkan kehormatan sosok yang dia perlakukan dengan adab baik (gurunya), maka diapun akan diharamkan keberkahan adab beliau.”
Bahkan ada ulama yang mengatakan, “Ketika sang murid yang mengatakan kepada Syaikhnya; ‘untuk apa?’, maka dia tidak akan beruntung sama sekali.”
Disebutkan dalam Jami’ At-Tirmidzi dari riwayat Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
أَتْرُكُونِي مَا تَرَكْتُمْ فَإِذَا حَدَّثْتُكُمْ فَخُذُوْا عَنِّي، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ
“Tinggalkalah untukku apa yang kalian tinggalkan, jika aku berbicara kepada kalian, maka ambillah itu dariku, sungguh binasanya orang-orang sebelum kalian lantaran mereka banyak bertanya dan berselisih mengenai perkara nabi mereka.”
Seorang murid seyogyanya menyembunyikan kondisi jiwa yang terjadi pada Syaikhnya, termasuk ragam pemberian Allah Swt pada beliau, ragam karomah beliau, serta menjawab dan menyingkap kondisi jiwa beliau yang Allah Swt beritahukan tentangnya dan yang beliau malu singkapkan.
Sebab ketika hati sang murid terdetik pada suatu perkara yang Syaikh tidak singkapkan secara vulgar dan sembunyi-sembunyi, sebenarnya dibatin sang murid ada ikatan dalam thariqah ini. Dengan berbicara kepada Syaikhnya, maka ikatan batin tersebut pun dapat terurai.
Tidak datang kepada Syaikhnya kecuali setelah dia mengetahui bahwa Syaikhnya ingin menggembleng adabnya, beliaulah yang paling bisa menggembelng adab sang murid. Ketika sang murid tertarik kepada Syaikh lainnya, maka suhbah sang murid tadi kepada Syaikhnya sudah tidak bersih, sehingga perkataan Syaikhnya itu tidak lagi manjur baginya dan bathin sang murid tidak lagi siap menerima kucuran kondisi jiwa Syaikhnya.
Seorang murid, selagi dirinya yakin dengan Syaikhnya, maka sang murid pun akan tahu keutamaan Syaikhnya itu, rasa cinta kepada Syaikhnya akan semakin kuat. Sebab, rasa cinta dan keterikatan batin dengan syaikhnya, itu adalah perantara antara sang murid dengan Syaikh tersebut. Maka sesuai kuatnya kadar kecintaan sang murid kepada Syaikhnya, sebesar itu pula kucuran kondisi jiwa Syaikhnya dapat diserap oleh sang murid. Sebab rasa cinta merupakan tandanya kenal, dan kenal merupakan ciri dari sejenis, dimana sejenis itu mampu membuat sang murid memahami sebagian kondisi jiwa gurunya.
