
Elsubha.com – Kata Pengantar Syaikh Hasan ‘Ali Sîsî (Cisse) At-Tijany dalam Kitab Kâsyiful Ilbâs ‘an Faidhati al Khatmi Abil Abbâs
Segala puji hanya bagi Allah Dzat yang Awwal dan Akhir, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰ نَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَا لُهَا
a fa laa yatadabbaruunal-qur-aana am ‘alaa quluubin aqfaaluhaa
“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?”
(QS. Muhammad 47: Ayat 24)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يُؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَآءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ
yu-til-hikmata may yasyaaa, wa may yu-tal-hikmata fa qod uutiya khoirong kasiiroo, wa maa yazzakkaru illaaa ulul-albaab
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 269)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُ خَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَ مَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَا بَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَا بْتِغَآءَ تَأْوِيْلِهٖ ۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗۤ اِلَّا اللّٰهُ ۘ وَ الرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖ ۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ
huwallaziii angzala ‘alaikal-kitaaba min-hu aayaatum muhkamaatun hunna ummul-kitaabi wa ukhoru mutasyaabihaat, fa ammallaziina fii quluubihim zaighung fayattabi’uuna maa tasyaabaha min-hubtighooo-al-fitnati wabtighooo-a ta-wiilih, wa maa ya’lamu ta-wiilahuuu illalloh, war-roosikhuuna fil-‘ilmi yaquuluuna aamannaa bihii kullum min ‘ingdi robbinaa, wa maa yazzakkaru illaaa ulul-albaab
“Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 7)
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada [cahaya dan kilatan yang menyambar, sumber faidh ilahi dan cahaya Allah yang menawan] penghulu kami Muhammad; Sang Nabi pembuka yang terkunci, penutup semua yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar, dan petunjuk kepada jalan-Mu yang lurus, dan juga (curahkanlah rahmat dan keselamatan) atas keluarganya dengan sebenar-benar kekuasaan dan ukuran Allah yang Maha Agung. Wa Ba’du
Tasawuf merupakan ilmu yang me-wushulkan seseorang kepada Allah; berdiri tegak dengannya dihadapan Allah, fana didalam-Nya bahkan kembali kepada Allah Swt. Pengamal ilmu tasawuf merupakan hamba Allah; penjaga agama dan ajaran-Nya; pengemban Al Qur’an dan syariat-Nya di setiap tempat dan waktu. Semua perkataan; perbuatan; gerakan tubuh; diamnya tubuh; sisi ma’rifat mereka; kucuran ilahiyah, amal perbuatan dan maqamat mereka semua berporos dari Allah dan kepada Allah Swt. Allah lah yang men-tarbiyah mereka; pengajar mereka; pemberi hidayah mereka lagi mursyid mereka ke jalan yang lurus.
Dengan koneksivitas inilah, yang semuanya terdiri dari wajd, hub (cinta), uns (ketentraman), qurb (merasa dekat) bahkan istighraq (tenggelam) pada Dzat Allah Swt, sehingga engkau tidak akan mendapati para sufi dimanapun kecuali ia menghadap kepada Allah dan tidak memandang kepada selain-Nya, sampai-sampai ada sufi yang mendefinisikan, “Tasawuf adalah Allah mematikan jiwamu dan menghidupkannya dengan (kecintaan pada-Nya).”
Penghulu, tuan, lagi guru kami Abu al ‘Abbas at-Tijany Ra pernah ditanya tentang hakekat tasawuf dan beliau Ra pun menjawab, “Ketahuilah bahwa tasawuf adalah pengejawantahan ragam perintah dan menjauhi larangan pada sisi zhahir dan bathin sesuai dengan yang Allah ridhai, bukan sesuai dengan keridhaanmu.”
rles Kini kita tidak sedang melakukan pembelaan terhadap para sufi, sebab Allahlah yang senantiasa membela mereka, sebagaimana Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (Qs. Al Hajj [22]: 38). Selanjutnya merekapun membela diri mereka dengan membebaskan diri dari perkara menyelisihi syari’at yang dinisbatkan kepada mereka. Maulana Abul Abbas Ahmad at-Tijany Ra pernah berkata, “Apabila kalian mendengar sesuatu dariku, timbanglah itu dengan neraca syari’at; jika sesuai amalkanlah dan jika menyelisihi tinggalkanlah.”
Atas dasar inilah kamipun memberikan berita gembira prihal dicetaknya kembali kitab Kasyif al Ilbas ‘An Faidhati al Khatm Abi al ‘Abbas setelah melalui proses tashih dari naskah aslinya. Sebenarnya kitab ini layak ditulis dengan tinta emas, lantaran isinya memuat beragam ilmu; asrâr; fuyûdhât lagi luapan cahaya pengarangnya yang telah memberikan manfaat bagi para hamba Allah. Didalam kitab ini juga dikumpulkan banyak perkataan sufi yang tercecer dari ragam kitab sufi, bahkan kitab ini mengumpulkan inti yang pernah dibahas pada sisi keilmuan tersebut, bahkan Syaikh Ibrahim Niass pernah berkata, “Sungguh orang yang melihat dengan seksama lagi insyaf, ia akan senantiasa tahu bahwa seolah-olah kitab ini dibuat sendiri oleh Syaikh Ahmad at-Tijany Ra, semoga Allah memberikan kita manfaat dari Sayyidi Syaikh Ra dan pengarang kitab ini [Syaikh Ibrahim Inyas].-
Sebelum saya akhiri, sayapun berterimakasih kepada saudaraku as-Sayyid asy-Syaikh at-Tijany ‘Ali Sisi yang telah berupaya mengerahkan semua usahanya untuk kembali menerbitkan kitab ini setelah di-tashih dan di-takhrij haditsnya dari ragam kitab induk hadits, semisal Shahih Al Bukhari, Shahih Muslim, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Sunan An-Nasa `i dan 30 kitab hadits lainnya. Begitu juga diambil dari kitab Ittihafu Sâdatil Muttaqin, Syarh Ihya Ulumuddin untuk mempermudah pembaca menemukan hadits tersebut atau juga hadits dengan lafazh lainnya sesuai riwayat yang ada. Wallâhu waliyyut-Taufiq
Kamipun memohon pada Allah agar jadinya buku ini tergolong perkara yang tulus ikhlas. Juga semoga Allah melihat beliau dengan pandangan ridha dan qabul. Juga termasuk sebagai khidmah yang diterima disisi Syaikh Ibrahim bin al Hajj Abdullah at-Tijany Ra..Amîn.
Al Hasan ‘Ali Sisi
Kota Kulkh, Dzul Qa`dah 1421 Η
