
Elsubha.com – Keutamaan Berkumpul untuk Berdzikir
Syaikh Umar bin Sa’id al Futi pernah menuliskan dalam Ar-Rimah, berikut redaksinya: Ketahuilah, bahwa berkumpul untuk berdzikir telah dianjurkan oleh Allah dan disarankan oleh Nabi Saw, juga telah menjadi amalan para tokoh thariqah dari kalangan Ahlullah di belahan dunia Timur dan Barat.
Al Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa`i, Ibnu Majah dan yang lainnya meriwayatkan secara marfu’:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَا خَيْرٍ مِنْهُمْ.
“Aku sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku. Aku akan senantiasa bersamanya salama ia berdzikir mengingat-Ku. Andai ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Andai ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang, maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus dari kelompoknya.”
Imam ath-Thabrani juga meriwayatkan dengan sanad yang hasan lagi marfu; Nabi Saw bersabda,
لَا يَذْكُرُنِي عَبْدٌ فِي نَفْسِهِ إِلَّا ذَكَرْتُهُ فِي مَلَا مِنْ مَلَائِكَتِي وَلَا يَذْكُرُنِي فِي مَلَا إِلا ذَكَرْتُهُ فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى
“Tidaklah seorang hamba senantiasa mengingat-Ku pada dirinya kecuali Aku ingat dia pada sekelompok malaikat dan tidaklah dia senantiasa mengingat-Ku pada sekelompok orang kecuali Aku ingat dia pada Rafiq al A’la.” (Hadits ini sudah di-takhrij sebelumnya pada buku ini.)
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dengan para periwayat yang tsiqah; dari Sa’id al Khudri Ra, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,
مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللَّهَ، لَا يُرِيدُوْنَ بِذَلِكَ إِلَّا وَجْهَهُ، إِلَّا نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ قُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ، قَدْ بُدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ
“Tidaklah ada suatu kaum, mereka senantiasa berkumpul berdzikir (mengingat) Allah, dengan itu mereka tidak menginginkan kecuali wajah-Nya, kecuali ada yang memanggil mereka dari langit dengan seruan, ‘Berdirilah kalian dalam posisi (dosa-dosa) kalian terampuni, ragam keburukan kalian telah dirubah menjadi ragam kebaikan “Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Ya’la, al Bazzar dan ath-Thabrâni.
(HR. Ahmad dalam Musnad-nya; vol. 3, hal. 142; Muhammad bin Bakr menceritakan kepada kami, Maimun al Mara’i mengabarkan kepada kami, Maimun bin Siyah menceritakan kepada kami, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda, “Tidaklah suatu kaum duduk dalam sebuah majelis, didalamnya mereka senantiasa berdzikir (mengingat) Allah, maka merekapun berdiri, hingga dikatakan pada mereka, Berdirilah kalian, Allah telah ampuni dosa-dosa kalian dan telah menggantikan ragam keburukan kalian dengan ragam kebaikan.”
HR. al Haltsami dalam Majma’ az-Zawa Id, Kitab. Dzikir, Bab. Tentang Majelis Dzikir; vol. 10, hal. 76; Dari riwayat Anas bin Malik.
HR. Abu Nu’alm dalam Hilyah al Auliya; vol. 3, hal. 108); Pada Blografi Malmun bin Siyah.
HR. Abu Ya’la dalam Musnad nya; vol. 2, hal. 464; Musnad Abu Sa’ld al Khudri Ra; no. 1283; Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari al Aghar Abu Muslim, la berkata: Aku bersaksi bahwa Abu Hurairah dan Abu Sa’ld, sungguh keduanya telah menyaksikan Rasulullah Saw, kemudian la menyebutkan haditsnya.)
Al Baihaqi pun meriwayatkan dari hadits ‘Abdullah bin Mughaffal, yang juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari hadits Sahl bin Hanzhalah, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا يَذْكُرُوْنَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيْهِ، فَيَقُوْمُوْنَ حَتَّى يُقَالَ لَهُمْ: قُوْمُوا، قَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَبُدِّلَتْ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ
“Tidaklah suatu kaum duduk dalam sebuah majelis, didalamnya mereka senantiasa berdzikir (mengingat) Allah, maka merekapun berdiri, hingga dikatakan pada mereka, Berdirilah kalian, Allah telah ampuni dosa-dosa kalian dan telah menggantikan ragam keburukan kalian dengan ragam kebaikan, “
(HR. al Haltsami dalam Majma az-Zawa ‘id, Kitab. Dzikir, Bab. Tentang Majelis Dzikir; vol. 10, hal. 76; Dari Sahl bin Hanzhalah. ath Thabrani mengangkat hadits ini kepada jalur Ath-Thabrani. Didalam hadits Ini ada al Mutawakkil bin Abdurrahman; ayahnya Muhammad bin Abu as Sirri, dimana aku tidak mengenalnya. Periwayat lainnya merupakan periwayat yang tsiqah.
HR. al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Bab. Cinta Pada Allah, Pasal. Ragan Khabar Tentang Dzikir Pada Allah; vol. 1, hal. 454, no. 695; Dari Sahal bin Hanzhalah.)
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Ra, ia berkata: Rasulullah Saw keluar menemui kami seraya bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ لِلَّهِ سَرَايَا مِنَ الْمَلَائِكَةِ تَحِلُّ وَتَقِفُ عَلَى مَجَالِسِ الذِّكْرِ فِي الْأَرْضِ، فَارْتَعُوْا فِي رِيَاضِ الْجَنَّةِ. قَالُوا: وَأَيْنَ رِيَاضُ الْجَنَّةِ ؟ قَالَ : مَجَالِسُ الذِّكْرِ، فَاغْدُوا وَرُوْحُوا فِي ذِكْرِ اللهِ، وَذَكِّرُوْهُ أَنْفُسَكُمْ مَنْ كَانَ يُحِبُّ أَنْ يَعْلَمَ مَنْزِلَتَهُ عِنْدَ اللَّهِ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ مَنْزِلَةُ اللَّهِ عِنْدَهُ، فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ الْعَبْدَ مِنْهُ حَيْثُ أَنْزَلَهُ مِنْ نَفْسِهِ
Wahai manusia, sungguh Allah memiliki pasukan dari kalangan malaikat yang bertugas mendatangi majelis-majelis dzikir di bumi, maka masuklah kalian pada taman surga. Para sahabat bertanya, ‘Dimanakah taman surga itu? Beliau Saw menimpali, Majelis-majelis dzikir. Masuklah kalian pada waktu petang dan pagi dalam kondisi berdzikir kepada Allah, ingatkanlah pula jiwa kalian, bahwa orang yang ingin mengetahui kedudukan dirinya di sisi Allah, maka lihatlah bagaimana kedudukan Allah pada dirinya, sungguh Allah memposisikan seorang hamba sesuai dia memposisikan Allah pada dirinya.” (HR. Ibnu Abi Ad-Dunya, Abu Ya’la, al Bazzar, Ath-Thabrani, al Hakim dan al Baihaqi) -Al Hakim mengatakan, “Sanadnya shahih.” Redaksi, “Ar-Rat’u” memiliki makna makan dan minum pada tempat yang mewah lagi luas.
(HR. al Haitsami dalam Majma’ az-Zawa ‘id, Kitab. Dzikir, Bab. Tentang Majelis Dzikir; vol. 10, hal. 77; Dari Jabir bin ‘Abdillah. al Halitsami mengangkat hadits ini kepada Abu Ya’la dan al Bazzar.
HR. ath-Thabrani dalam al Ausath, didalamnya terdapat ‘Umar bin ‘Abdullah; Maula ‘Afrah. Para periwayat menilainya sebagal periwayat yang tsiqah. Sekelompok orang menilainya dha’lf. Sementara periwayat selainnya termasuk periwayat yang shahih. HR. al Balhaqi dalam Sunan al Kubra; vol. 2, hal. 397-398; Abu Abdillah al Hafiz menceritakan kepada kami pada riwayat yang lainnya…)
Diriwayatkan dari Abu Ad-Darda Ra, ia berkata: Rasulullah Saw pernah bersabda,
لَيَبْعَثَنَّ اللَّهُ أَقْوَامًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي وُجُوهِمُ النُّوْرُ عَلَى مَنَابِرَ اللُّؤْلُؤِ، يَغْبِطُهُمُ النَّاسُ لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ، قَالَ: فَجَنَا أَعْرَابِيُّ عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، صِفْهُمْ لَنَا نَعْرِفَهُمْ فَقَالَ : هُمُ الْمُتَحَابُّوْنَ فِي اللَّهِ مِنْ قَبَائِلَ شَتَّى وَبِلَادٍ شَتَّى يَجْتَمِعُوْنَ عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ يَذْكُرُونَهُ.
“Pada hari Kiamat Allah benar-benar akan bangkitkan suatu kaum; wajah mereka memancarkan cahaya permata, orang-orang cemburu bisa demikian, mereka ini bukanlah dari kalangan pada nabi juga bukan dari kalangan orang-orang yang mati syahid. Seorang Arab baduy berlutut dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, gambarkanlah sifat mereka agar kami mengenali mereka’, Rasulullah Saw kembali menimpali, ‘Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, yang berasal dari berbagai kabilah dan negara yang berbeda-beda, mereka berkumpul karena-Ku untuk berdzikir (mengingat)-Ku.”
(HR. al Haitsami dalam Majma Az-Zawa ‘Id, Kitab. Dzikir, Bab. Tentang Majelis Dzikir; vol. 10, hal. 77; dari Abu Darda’, dimana la mengangkatnya kepada ath-Thabrani. Sanadnya hasan.
HR. al Mundziri dalam at-Targhib wat-Tarhib, Kitab. Dzikir dan Do’a, Bab, Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir mengingat Allah kecuali para malaikat menaungi mereka; vol. 2, hal. 406; Dari Abu Ad-Darda, dimana la mengangkatnya kepada Ath-Thabrani, dan la menilal sanadnya hasan.)
Diriwayatkan dari ‘Amru bin ‘Anbasah Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
عَنْ يَمِيْنِ الرَّحْمَنِ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ رِجَالٌ لَيْسُوْا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يُغْشَى بَيَاضُ وُجُوهِهِمْ نَظَرَ النَّاظِرِينَ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّوْنَ وَالشُّهَدَاءُ بِمَقْعَدِهِمْ وَقُرْهِمْ مِنَ اللَّهِ قِيلَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ : هُمْ جُمَّاعٌ مِنْ نَوَازِعِ الْقَبَائِلِ يَجْتَمِعُوْنَ عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى فَيَنْتَقُوْنَ أَطَايِبَ الْكَلَامِ كَمَا يُنْتَقَى أَطَائِبُ التَّمْرِ.
“Di sisi kanan Allah Ar-Rahman; (dimana kedua tangan-Nya adalah kanan) ada orang-orang, mereka bukanlah dari kalangan para nabi dan bukan pula dari kalangan orang-orang yang mati syahid, putihnya wajah mereka menutupi pandangan orang-orang yang memandang; para nabi dan juga orang-orang yang mati syahidpun cemburu kepada mereka lantaran posisi dan kedekatan mereka dari Allah Swt. Dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka?’, Nabi Saw menjawab, ‘Mereka adalah kumpulan orang dari ragam kabilah yang berbeda-beda lagi asing; mereka senantiasa berkumpul berdzikir mengingat Allah, maka mereka pun memilih ragam kata yang baik sebagaimana yang dipilih adalah buah kurma yang baik. “
(HR. al Haitsami dalam Majma az-Zawa ‘id, Kitab. Dzikir, Bab. Tentang Majelis Dzikir; vol. 10, hal. 77; la mengangkatnya kepada ath Thabrani, dimana para periwayatnya merupakan periwayat yang tsiqah.)
Makna hadits ini adalah bahwa mereka tidaklah berkumpul lantaran sisi kekerabatan, tidak pula lantaran nasab, tidak pula lantaran ma’rifat, akan tetapi mereka berkumpul untuk berdzikir (mengingat) Allah Swt.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الجَنَّةِ فَارْتَعُوْا، قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ ؟ قَالَ : حِلَقُ الذِّكْرِ
“Apabila engkau berjalan melewati taman-taman surga, maka singgahlah’, para sahabat berkata, ‘Apakah taman-taman surga itu?’, beliau Saw bersabda, ‘Halaqah dzikir “
(HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya; Kitab. Ragam Do’a, Bab. No. 83; H. No. 3510; vol. 10, hal. 53; Abdul Warits bin Abdusshamad bin Abdul Warlts menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, la berkata: Muhammad bin Tsabit al Bannani menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, dari Anas bin Malik Ra. bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga…, kemudian dia menyebutkan haditsnya. Abu Isa mengatakan: Hadits ini hasan gharib dari sisi Ini; yaitu dari haditsnya Tsabit dari Anas.
HR. Ahmad dalam Musnadnya; vol. 3, hal. 150; Musnad Anas bin Malik Ra, dari jalur periwayatan Abdush-shamad..hingga akhir sanad at Tirmidzi, dimana itu merupakan lafazh-nya.
HR. Abu Nu’ain dalam Hilyatul Auliya’; pada profil Ziyad bin Abdullah an-Numairi; vol, 6, hal. 268; dari Ziyad an-Numairi dari Anas bin Mallik Ra, kemudian la menyebutkan haditsnya.
HR. ath-Thabrani dalam Mu’jam al Kabir, vol. 1, hal. 95, no. 1157; Dari Ibnu’Abbas, kemudian la menyebutkan hadits dengan lafazh-nya Juga dengan sanad yang mendekati la ba ‘sa bihi.)
Hasan al Bashri meriwayatkan, bahwa ia berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa berdzikir mengingat Allah itu baik, ia pergi dengan membawa dosa dan la tidak berdosa dalam berdzikir.”
Diriwayatkan dari Abu ad-Darda”, “Hadir dalam majelis dzikir itu lebih utama daripada shalat seribu raka’at, menyaksikan seribu jenazah dan menjenguk seribu orang yang sakit.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata:
Rasulullah Saw bersabda,
إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةٌ يَطُوْفُوْنَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُوْنَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُوْنَ اللَّهَ تَنَادَوْا : هَلُمُوْا إِلَى حَاجَتِكُمْ، قَالَ: فَيَحُفُوْنَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، قَالَ: فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ، مَا يَقُوْلُ عِبَادِي؟، قَالُوا: يَقُوْلُوْنَ: يُسَبِّحُوْنَكَ وَيُكَبِّرُوْنَكَ وَيَحْمَدُوْنَكَ وَيُمَحِّدُوْنَكَ، قَالَ: فَيَقُوْلُ هَلْ رَأَوْنِي؟، قَالَ: فَيَقُوْلُوْنَ: لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ، قَالَ: فَيَقُوْلُ وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟، قَالَ : يَقُوْلُوْنَ: لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْحِيْدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيْحًا، قَالَ: يَقُوْلُ فَمَا يَسْأَلُوْنِي؟ قَالَ : يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا ؟، قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَا ، وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا، قَالَ: يَقُوْلُ : فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا ؟ ، قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً، قَالَ : فَمِمَّ يَتَعَوَّذُوْنَ؟، قَالَ : يَقُوْلُوْنَ: مِنَ النَّارِ، قَالَ : يَقُوْلُ: وَهَلْ رَأَوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَا ، وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا، قَالَ: يَقُولُ : فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا ؟ ، قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً، قَالَ: فَيَقُوْلُ: فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ، قَالَ: يَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ: فِيْهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ، قَالَ: هُمُ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ
“Sungguh Allah mempunyai para malaikat yang selalu berkeliling di jalan-jalan dan mencari-cari mejelis dzikir; jika mereka mendapati suatu kaum yang berdzikir kepada Allah Swt, mereka memanggil teman-temannya seraya berkata, ‘kemarilah untuk memenuhi apa yang kalian cari’, lalu mereka pun datang seraya menaungi kaum tersebut dengan sayapnya sehingga memenuhi langit bumi. Maka Rabb mereka bertanya padahal Dia lebih tahu tentang mereka, ‘Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku?.’ Para malaikat menjawab, Mereka mensucikan-Mu, memuji- Mu, mengagungkan-Mu’. Allah Swt berfirman, Apakah mereka melihat-Ku?.’ Para malaikat menjawab, ‘Tidak, demi Allah mereka tidak melihat-Mu’. Allah Swt berfirman, ‘Bagaimana sekiranya mereka bisa melihat-Ku?. Para malaikat menjawab, ‘Sekiranya mereka dapat melihat-Mu pasti mereka akan lebih giat lagi dalam beribadah, lebih mengagungkan dan memuji-Mu dan lebih banyak lagi mensucikan-Mu.’ Allah Swt berfirman, ‘Lalu apa yang mereka pinta?. Para malaikat menjawab, ‘Mereka meminta surga’, Allah berfirman, ‘Apakah mereka telah melihatnya?. Para malaikat menjawab, Jika mereka melihatnya tentu mereka akan lebih berkeinginan lagi dan antusias serta sangat berharap. Allah Swt berfirman, ‘Lalu dari apakah mereka meminta berlindung?. Para malaikat menjawab, ‘Dari api neraka. Allah Swt berfirman, ‘Apakah mereka telah melihatnya?.’ Para malaikat menjawab, ‘Belum, demi Allah wahai Rabb, mereka belum melihatnya sama sekali. Allah Swt berfirman, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?.” Para malaikat menjawab, Tentu mereka akan lari dan lebih takut lagi. Beliau melanjutkan, Allah Swt berfirman, ‘Sungguh Aku bersaksi pada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka. Beliau Saw melanjutkan: Salah satu malaikat bertanya, ‘Diantara mereka ada si fulan yang datang untuk suatu keperluan. Allah Swt berfirman, Mereka adalah suatu kaum yang tidak ada kesengsaraan dalam mejelis mereka, “
(HR. al Bukhari dengan redaksi yang panjang dan dengan lafazh-miliknya dalam Shahih-nya; Kitab. Ragam Do’a, Bab. Keutamaan Berdzikir Mengingat Allah; vol.4, hal. 174-175, no. 6408; Quthaibah bin Sa’id menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami, dari al A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh Allah mempunyai para malaikat yang selalu berkeliling di jalan-jalan dan mencari-cari majelis dzikir,” kemudian ia menyebutkan haditsnya secara lengkap.
HR. Muslim dalam Shahih-nya dengan lafazh yang mendekati dan panjang; Kitab. Dzikir, Do’a, Tobat, Istighfar; Bab. Keutamaan Majelis Dzikir; vol. 4, по. 2069-2070; Muhammad bin Hatim bin Maimun menceritakan kepada kami, Bahz menceritakan kepada kami, Wuhalb menceritakan kepada kami, Suhail menceritakan kepada kami, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah, kemudian ia menyebutkan haditsnya yang panjang dan dengan lafazh yang mendekati.
HR. at-Tirmidzi dalam Sunar-nya; Kitab. Ragam Do’a, Bab. Allah Memiliki Para Malaikat yang berjalan di Bumi; vol. 5, hal. 579-580, no. 3600; Abu Kuraib menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, dari al A’masy…hingga akhir sanad al Bukhari, dimana lafazh-nya milik al Bukhari.
HR. Ahmad dalam Musnad-nya; vol. 2, hal. 358-359; Dari Suhall bin Abu Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, kemudian la menyebutkan haditsnya secara ringkas.)
Disebutkan dalam kitab al Adzkar karya al Imam an-Nawawi: Ketahuilah, sebagaimana mustahab-nya dzikir, maka mustahab pula duduk dalam lingkaran orang yang berdzikir, banyak sekali dalil mengenai itu. Sebagian ulama ada yang menyebutkan hadits di atas kemudian berkata: Kamipun meriwayatkan hadits Imam Muslim dari Mu’awiyah Ra, ia berkata:
خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَلَقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهَ، فَقَالَ: مَا أَجْلَسَكُمْ؟ قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا. قَالَ: اللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟ قَالُوا : وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلا ذَاكَ. قَالَ: أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ، فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ.
Rasulullah Saw keluar menuju halaqah para sahabatnya dan bersabda, “Apa yang membuat kalian duduk?” Para sahabat menjawab, ‘Kami duduk untuk senantiasa berdzikir mengingat Allah dan memuji-Nya karena Dia telah menunjukkan kami semua kepada Islam dan mengaruniakan kenikmatan Islam itu kepada kami’. Beliau Saw bersabda, ‘Apakah -Demi Allah tidak ada yang menyebabkan kalian duduk ini melainkan karena itu?. Sungguh aku bukan ingin meminta sumpah dari kalian semua, tetapi Jibril datang kepadaku dan memberitahu-kan sesungguhnya Allah membanggakan kalian di hadapan para malaikať. “
(HR. Muslim dalam Shahih-nya; Kitab. Dzikir, Bab. Keutamaan Berkumpul untuk Membaca Al Qur’an dan Berdzikir; vol. 4, no. 2075); Abu Bakar bin Abu Syaibah menceritakan kepada kami, Marhum bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, dari Abu Na’amah as-Sa’di, dari Abu Utsman, dari Abu Sa’id al Khudri, ia berkata: Mu’awiyah pergi mendatangi halaqah di masjid seraya berkata, “Apa yang membuat kalian duduk? Para sahabat menjawab, Kami duduk untuk senantiasa berdzikir mengingat Allah’, la pun berkata, “Apakah -Demi Allah- tidak ada yang menyebabkan kalian duduk ini melainkan karena itu?, Para sahabat menjawab, “Tidak ada yang menyebabkan kalian duduk ini melainkan karena itu’. Mu’awiyah berkata, “Aku tidak mengambil janji kalian lantaran aku menuduh kalian, tidak ada seorangpun dengan kedudukan ini yang memiliki hadits yang paling sedikit daripadaku. Sungguh Rasulullah Saw ikut dalam halaqah para sahabatnya seraya bersabda, “Apa yang membuat kalian duduk? Para sahabat menjawab, ‘Kami duduk untuk senantiasa berdzikir mengingat Allah dan memuji-Nya karena Dia telah menunjukkan kami semua kepada Islam dan mengaruniakan kenikmatan Islam itu kepada kami.” Kemudian ia menyebutkan haditsnya.
HR. an-Nasa’i dalam Sunan-nya; Kitab. Adab Peradilan, Bab. Bagaimana Seorang Hakim Meminta Bersumpah.
HR. al Hakim; vol. 8, hal. 249; Siwar bin Abdillah mengabarkan kepada kami, la berkata: Marhum bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami….hingga akhir sanad Muslim, dimana itu merupakan lafazh-nya.
HR. Ahmad dalam Musnad-nya; vol. 4, hal. 92; Dari jalur periwayatan ‘All bin Bahr, ia berkata: Marhum bin Abdul Aziz menceritakan kepadaku…hingga akhir sanad Muslim, dimana itu merupakan lafazh-nya Syin: vol. 10, hal. 306; Ath-Thabrani, vol. 19, hal. 142, no. 1011.)
Kamipun meriwayatkan dari Shahih Muslim dari riwayat Abu Sa’id al Khudri dan juga Abu Hurairah, keduanya bersaksi bahwa sungguh Rasulullah Saw pernah bersabda,
لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللَّهَ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ
الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum duduk senantiasa berdzikir (mengingat) Allah, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat menaungi mereka, ketenangan turun pada mereka dan Allah sebut mereka di hadapan para makhluk yang ada di sisi-Nya.”
(HR. Muslim dalam Shahih-nya; Kitab. Dzikir, Bab. Keutamaan Berkumpul untuk Membaca Al Qur’an dan Berdzikir; vol. 4, no. 2074; Muhammad al Mutsanna dan Ibnu Bisyar menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada karni, Syu’bah menceritakan kepada kami, Aku mendengar Abu Ishaq menceritakan dari al Agharr Abu Muslim, bahwa sungguh ia berkata: Aku bersaksi bahwa Abu Hurairah dan Abu Sa’id al Khudri, keduanya menyaksikan Rasulullah Saw, bahwa beliau Saw pernah bersabda, “Tidaklah suatu kaum duduk senantiasa berdzikir (mengingat) Allah,…kemudian ia menyebutkan haditsnya.
HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya; Kitab. Witir, Bab. Pahala al Qur’an; vol. 2, hal. 71-72; Utsman bin Abu Syaíbah menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, dari A’masy, dari Abu Shallh, dari Abu Hurairah Ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) guna membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, kecuali akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.”
Ibnu Majah dalam Sunan-nya; Kitab. Muqaddimah, Bab. Keutamaan Ilmu dan Ajakan untuk Mencari Ilmu… hingga akhir Jalur periwayatan Abu Dawud.)
Syaikh Zarruq pernah mengatakan dalam Ta ‘sisul Qawa `id. Pemberian hukum untuk umum tidak berarti bahwa itu juga berlaku secara khusus, maka dibutuhkan adanya dalil guna mengkhususkan perkara yang khusus tersebut. Diantaranya adalah perkara berdzikir dan juga berdo’a dengan suara lantang. Dalil mengenai perkara ini adalah hadits Nabi Saw berikut:
مَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَاءِ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَاء خَيْرٍ مِنْهُ
“Orang yang berdzikir mengingat-Ku pada sekelompok orang niscaya Aku ingat dia pada kelompok yang lebih baik daripada kelompoknya tersebut.”
Ada juga ulama yang mengatakan bahwa dalil untuk perkara ini adalah firman Allah Swt,
فَاِ ذَا قَضَيْتُمْ مَّنَا سِكَـکُمْ فَا ذْکُرُوا اللّٰهَ كَذِكْرِكُمْ اٰبَآءَکُمْ اَوْ اَشَدَّ ذِکْرًا ۗ فَمِنَ النَّا سِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰ خِرَةِ مِنْ خَلَا قٍ
fa izaa qodhoitum manaasikakum fazkurulloha kazikrikum aabaaa-akum au asyadda zikroo, fa minan-naasi may yaquulu robbanaaa aatinaa fid-dun-yaa wa maa lahuu fil-aakhiroti min kholaaq
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berzikirlah lebih dari itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 200)
Ibnu Abbas pernah berkata, “Pada masa Rasulullah, aku tidak tahu orang-orang selesai shalat kecuali dengan (mendengar) dzikiran.” (HR. al Bukhari).
Mengeraskan suara juga berlaku pada hari led, seusai shalat fardhu, ketika berada di tepi pantai dan juga saat bepergian, bahkan Rasulullah Saw pernah bersabda,
ارْبَعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، لَا تَدْعُوْنَ أَصَمًّا وَلَا غَائِبًا
“Kasihani diri kalian dan lirihkan suara kalian, kalian itu tidaklah sedang berdo’a pada Dzat yang tuli dan tidak pula berdo’a pada Dzat yang ghaib. “
(HR. al Bukhari dalam Shahih-nya; Kitab. Jihad, Bab. Makruhnya Mengangkat Suara Saat Takbir; vol. 2, hal. 257; Muhammad bin Yusuf menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ashim, dari Abu Utsman, dari Abu Musa al Asy’ari Ra: Suatu ketika kami bersama Rasulullah Saw, ketika kami datang ke sebuah lembah, kamipun membaca dzikir hailalah dan juga takbir dengan suara yang lantang, maka Nabi Saw bersabda, “Wahai manusia, pelankanlah suara kalian, sungguh kalian tidaklah berdo’a pada Dzat Tuhan yang tuli, tidak pula ghaib, sungguh Dia bersama kalian, sungguh Dia Maha Mendengar lagi dekat, sungguh Maha Suci isim-Nya Allah.”
Disebutkan pula dalam Kitab Peperangan, Bab. Perang Khaibar; Musa bin Isma’il menceritakan kepada kami, Abdul Wahid menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim…hingga akhir jalur periwayatan di awal tadi dan juga dengan lafazh. Ketika Rasulullah Saw berperang; atau beliau bersabda: Ketika Rasulullah berjalan menuju suatu kaum di sebuah lembah, para sahabat melantangkan suara takbir mereka; Allahu Akbar, Allahu Akbar Lâ ilaha illallah, Rasulullah Saw pun bersabda, “Pelankanlah suara kalian… “kemudian ia menyebutkan haditsnya dengan riwayat semisal riwayat sebelumnya yang merupakan bagian dari hadits yang panjang.
Disebutkan pula dalam Kitab. Qadar, Bab. La haula wala quwata illa billahi, vol. 4, hal 219; Muhammad bin Muqatil Abu Hasan menceritakan kepada kami, Abdullah mengabarkan kepada kami, Khalid al Hadzdza mengabarkan kepada kami, dari Abu Utsman An-Nahdi dari Abu Musa…kemudian dia menyebutkan riwayat semisal dengan riwayat yang kedua di atas.
HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya; Kitab. Witir, Bab. Istighfar, vol. 2, hal. 88, no. 1526; Musa bin Ismall menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, dari Tsabit, Ali bin Zald dan Sa’id al Jurairi, dari Abu Utsman an-Nahdi…hingga akhir jalur periwayatan al Bukhari dan juga dengan hadits yang semisal dengan riwayat yang pertama.
HR. Muslim dalam Shahih-nya; Kitab. Dzikir, Bab. Anjuran Memelankan Suara Kala Berdzikir, Dari jalur periwayatan Abu Mu’awiyah, dari ‘Ashim…hingga akhir sanad al Bukhari, dimana lafazh haditsnya milik al Bukhari; vol. 4, hal. 2076.)
Dalam berbagai situasi, Nabi Saw pun kerap bersuara lantang saat membaca ragam dzikiran dan juga do’a, begitu juga generasi salafush-shalih. Maka benarlah jawaban Nabi Saw bagi orang-orang yang berada di Handaq,
اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُ الْآخِرَةِ، فَاغْفِرْ لِلأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَةِ
“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin.”
Seluruh dalil diatas merupakan dalil perkara bersuara lantang dan juga berkumpul, akan tetapi pada kondisi khusus, keberadaannya haruslah bersandar pada dalil sebab takut ada yang kurang dalam pelaksanaannya, dimana bersuara lantang merupakan maksud untuk perkara lainnya (berdzikir), maka untuk itu perlulah kami berikan dasarnya di sini!.
Dalam Ihya Ulumuddin, Abu Hamid al Ghazali pernah menuliskan: Rasulullah Saw bersabda,
مَا فَعَدَ قَوْمٌ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا كَانَتْ عَلَيْهِمْ حَسْرَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah suatu kaum duduk dalam sebuah tempat berkumpul, mereka tidak berdzikir mengingat Allah, tidak pula beshalawat kepada Nabi Saw, kecuali mereka kelak akan merugi di hari Kiamat.”
(HR. Ahmad dalam Musnad-nya; vol. 2, hal. 463; Musnad Abu Hurairah Ra, dari Nabi Saw, “Tidaklah suatu kaum duduk dalam sebuah tempat duduk, mereka tidak berdzikir mengingat Allah, tidak pula bershalawat kepada Nabi Saw, kecuali mereka kelak akan merugi di hari Kiamat, meski mereka masuk Surga lantaran pahala.”
HR. at-Tirmidzi dalam Sunar-nya; Kitab. Do’a, Bab. Suatu Kaum Yang Duduk Namun Tidak Berdzikir Mengingat Allah; vol. 5, hal. 461, no. 3380; Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Sufyan bin Shaleh Maula at-Tau’amah menceritakan kepada kami, dari Abu Hurairah Ra, dari Nabl Saw, “Tidaklah suatu kaum duduk dalam sebuah tempat duduk, mereka tidak berdzikir mengingat Allah, tidak pula bershalawat kepada Nabi mereka, kecuali mereka kelak akan merugi. Jika Allah berkehendak, Dia bisa mengadzab mereka dan jika Dia berkehendak Dia bisa ampuni mereka. “Abu Isa mengatakan: Hadits Ini hasan shahih)
Nabi Dawud As pernah berdo’a, “Tuhanku, apabila Engkau melihat aku berpindah dari majelis-majelis dzikir kepada majelis-majelis (yang mengarah pada) kelalaian, patahkanlah saja kakiku ini, jangan kaki mereka, sebab sungguh itu adalah kenikmatan yang Engkau beri padaku.”
Rasulullah Saw bersabda,
الْمَجْلِسُ الصَّالِحُ يُكَفِّرُ عَنِ الْمُؤْمِنِ أَلْفَيْ أَلْفِ مَجْلِسٍ مِنْ مَجَالِسِ السُّوْءِ.
“Majelisnya orang shaleh dapat mengampuni dua juta majelis dari ragam majelis yang buruk.”
(Murtadha az-Zabidi dalam İttihåf as-Sadatil Muttaqin Bi Syarhi Ihya Ulamuddin, Kitab Dzikir, Do’a, Bab. Keutamaan Berdzikir; vol. 5, hal. 9; al ‘Iraqi berkata: Pengarang al Firdaus menyebutkannya dari hadits Asad bin Wada’ah, dan itu merupakan hadits mursal)
Abu Hurairah pernah berkata, “Sungguh penduduk langit akan berebut melihat rumah-rumah di bumi; yang didalamnya disebutkan nama Allah, seperti halnya mereka berebut melihat gugusan bintang.
Sufyan bin Uyainah pun pernah berkata, “Apabila suatu kaum berkumpul untuk berdzikir mengingat Allah Swt, maka syaithan dan dunia pun menyingkir; syaithan berkata kepada dunia, ‘Tidakkah engkau lihat apa yang mereka perbuat?’; Dunia berkata, ‘Biarkan saja mereka, sungguh jika mereka sepakat, maka mereka pun akan menjulurkan leher-leher mereka kepadamu’.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, bahwa ketika ia masuk ke dalam pasar, ia berkata, “Aku lihat kalian di sini sementara warisan Rasulullah Saw sedang dibagikan di masjid, maka orang-orang pun pergi ke masjid namun tidak menemukan adanya warisan Rasulullah Saw yang sedang dibagikan. Mereka pun berkata, ‘Wahai Abu Hurairah tidak mendapati adanya warisan Rasulullah Saw yang sedang dibagikan di masjid’. Abu Hurairah kembali bertanya, ‘Lantas apa yang kalian lihat di sana?,’ mereka menjawab, ‘Kami melihat ada suatu kaum yang sedang berdzikir mengingat Allah Swt dan membaca Al Qur’an, Abu Hurairah lanjut menimpali, ‘Itulah warisannya Rasulullah Saw’.” (Selesai).
Pengarang ar-Rimah mengatakan: Dalam Kasyf al Qina’ disebutkan: Jalaluddin as-Suyuthi pernah ditanya prihal kebiasaan yang dilakukan seorang sufi; dari membuat posisi duduk melingkar, bersuara lantang (saat berdzikir) di masjid, bersuara keras membaca kalimat hailalah. Apakah itu perkara yang makruh atau tidak? Beliau menjawab, “Perbuatan tersebut tidak makruh sama sekali.”
Telah disebutkan ragam hadits yang menganjurkan bersuara lantang saat berdzikir, juga ragam hadits yang menganjurkan bersuara lirih saat berdzikir. Maka ketika kita menggabungkan antara kedua hadits tersebut maka dapat ditafsiri bahwa itu semua kembali pada perbedaan ahwal dan juga personal. An-Nawawi juga menggabung-kan hadits tentang anjuran bersuara lantang dalam membaca Al Qur’an dengan hadits lain tentang anjuran membaca Al Qur’an dengan suara lirih.
Beliau berkata: Disebutkan dalam perkataan Sayyidi ‘Ali Khawas: Seyogyanya seorang murid berdzikir dengan kekuatan sempurna dan suara yang lantang, sebab itu memberikan pengaruh pada semua sisi kalbunya. Seyogyanya pula ia berdzikir secara berjama’ah. Sebab sungguh berdzikir secara berjama’ah itu memberikan pengaruh bagi tersingkapnya hijab lantaran Allah perumpamakan kalbu itu dengan batu. Kita pun tahu bahwa batu tidaklah pecah kecuali dengan kekuatan yang besar, maka begitu juga kerasnya kalbu, iapun tidak akan luntur kecuali dengan berdzikir secara berjama’ah dengan tujuan yang sama. Sebab, kekuatan berjama’ah (kelompok) itu lebih dahsyat daripada kekuatan satu orang saja. Sementara dari sisi ‘pahala’ yang didapat; maka setiap orang akan mendapat pahalanya masing-masing dan juga pahala mendengarkan bacaan temannya saat berdzikir.
Syaikh Zarruq Ra pernah mengatakan: Mayoritas pandangan orang sepakat terkait perkara yang mampu menyatukan kalbu mereka pada Tuhan (Allah Swt). Dengan demikian, mereka mengatakan sesuatu pada bab adab yang diingkari oleh orang yang mengetahui tujuan mereka. Mereka mengambil adab orang yang ahwalnya belum sampai tanpa hak, bahkan mereka melebih-lebihkan dan tergelincir, seperti perkara “mendengarkan suara dzikiran orang lain” dan semisalnya. Oleh karena itu, al Junaid al Baghdadi pernah mengisyaratkan perkara ini ketika ia ditanya mengenai prihal “mendengar;” ia berkata: Segala sesuatu yang mengumpulkan seorang hamba kepada Tuhannya, hukumnya mubah. Beliau menjadikan mampu mendengar suara dzikiran itu sebagai perbuatan yang dibenarkan agar hukumnya tidak mengarah pada hukum yang dibekukan, yang nantinya perkara tersebut mengarah pada pengingkaran. (Selesai -Tahqiq al Qawa `id).
Didalamnya pula disebutkan: Keutamaan sesuatu bukanlah paling istimewa dan hukum waktu bukanlah hukum asal, sehingga tidak lazim digiatkan untuk menjadi yang paling utama ketika sudah ada keutamaan tersebut, begitu juga tidak lazim digiatkan untuk mengerjakan atau meninggalkan sesuatu lantaran waktu yang muncul nan mengangkat hukum asal; begitu juga mengenai berkumpul untuk berdzikir, berdo’a dan juga membaca Al Qur’an. Semua perkara ini telah dibenarkan dengan ragam hadits yang telah disebutkan sebelumnya, sehingga tidak dibenarkan menolak hukum asal meski ada hal lain yang memberikan pengaruh. Maka keutamaan yang terdapat pada yang lainnya, semisal dzikir khafi (secara lirih) dan ragam ibadah lain memiliki sisi manfaat seperti ilmu, berjihad dan bekerja, dimana para sahabat pun menaruh perhatian pada ragam perkara itu, perkara itulah yang membuat mereka sibuk hingga menghalangi mereka untuk bisa berkumpul guna berdzikir mengingat Allah, bahkan yang lebih mengagetkan lagi tidak ada alasan lain selain itu.
Tidakkah engkau lihat apa saja kemungkinan yang mereka bisa dapatkan seperti kala mereka bepergian, pada ragam hari led, setiap selesai waktu shalat dan semisalnya. Suatu ketika Nabi Saw ingin datang ke halaqah orang-orang yang sedang berdzikir, beliau Saw malah lewati itu dan duduk bersama orang-orang yang sedang belajar ilmu; maka orang-orang yang sedang belajar ilmu lantaran manfaatnya lebih banyak bagi mereka dan mereka lebih membutuhkan itu, sebab sebelumnya mereka tidak memiliki ilmu. Maka tujuan beliau Saw adalah menyampaikan ilmu yang datang untuk mereka, berbeda ketika beliau Saw dengan orang-orang yang berdzikir, dimana kondisi jiwa dan manfaat yang didapatkan terpusat pada mereka (yang sedang berdzikir mengingat Allah Swt), akan tetapi beliau Saw juga tidak ingkar kepada orang-orang yang mencari ilmu, meski nyatanya mereka mendahulukan ilmu daripada berdzikir. -Wallahu a’lam.-
Sebelumnya telah disebutkan bahwa mayoritas pandangan ulama sepakat terkait perkara yang mampu menyatukan kalbu mereka pada Tuhan (Allah Swt); Imam Malik pernah berkata, “Andai aku tahu bahwa kalbuku baik dengan duduk di gereja, maka aku akan lakukan itu!.”
Perkataan seperti ini banyak terdapat dalam As-Sunnah, Dalam Syarh al Mawâqif disebutkan: Ketika Umar bin Khaththab melihat Abu Musa al Asy’ari, ia berkata, “Kamipun ingat Rabb kami kala ia membaca Al Qur’an dengan suara yang bagus.” Umar mampu merasakan halusnya kalbu dengan cara mendengarkan bacaan Al Qur’an. Yang seperti ini tidaklah mengapa, jika memang benar ia melakukannya demikian.
Aku berkata (Syaikh Ibrahim Inyas): Sedangkan terkait seorang sufi dan sebagian orang shaleh yang mengkhususkan sebagian malam dengan melakukan ragam amalan yang mendekatkan diri kepada Allah Swt; al Qadhi ‘lyadh menjadikan kondisi Nabi Saw mendatangi masjid Quba setiap hari Sabtu sebagai hujjah yang memperbolehkan para imam dan orang-orang shaleh mengkhususkan sebagian hari seperti hari Jum’at, dengan melakukan ragam amalan yang mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Syaikhuna; Sayyidi Ahmad at-Tijany Ra pernah berkata yang termaktub dalam Jawahir al Ma’ani, dimana perkataan beliau ini menutup perbincangan mengenai masalah “mendengar,” perkataan beliau sebagai berikut: Berapa banyak orang yang ‘arifbillah mendapatkan kucuran ilahiyyah pada ahwal dan ma’rifat kala jiwanya hudhur mendengar dari hadhrah qudsiyyah, dengannya ia ber-tarqiyah pada maqâmât, dimana ibadah dan kejernihan waktu selama seribu tahun pun tidak bisa membuatnya ber-tarqiyah.”
