You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Tarbiyah dalam Thariqah at-Tijaniyyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Tarbiyah dalam Thariqah at-Tijaniyyah

Poros pembicaraan seputar tarbiyah dalam thariqah at-Tijaniyyah ada sisi: Pertama, mendirikan shalat lima waktu dengan memenuhi ragam persyaratannya. Kedua, bershalawat kepada Nabi Saw sepanjang siang dan malam dengan niat menjalankan perintah Allah, sebagai bentuk pengagungan dan cinta. Ini setelah dirimu melazimkan wirid lazim yang membenarkan sisi ke-tijaniyahanmu. Sayyidi al ‘Arabi bin Sa’ih mengatakan dalam Bughyah-nya sebagai berikut:

Objek pembicaraan seputar tarbiyah dan juga tazkiyah dalam thariqah kita; al Muhammadiyyah asy-Syarifah al Mardhiyyah adalah mengamalkan wiridan asli dan telah diketahui bersama, dimana orang yang tidak mengamalkannya tidak sah ke-tijaniyahan-nya, baik dari kalangan umum dan khusus. Begitu juga diikuti dengan wiridan wazhifah dan dzikir hailalah setelah shalat Ashar di hari Jum’at dengan tetap menjaga ragam syarat dan adab sebaik mungkin. Ditambah lagi syarat yang ditekankan berupa menjaga shalat lima waktu dengan ragan adab yang telah ditetapkan dalam syari’at sesuai kemampuan dan dengan menyempurnakan ragan syarat dan adab serta rukun-rukunnya. Kemudian mengisi waktu kosong dengan bershalawat kepada Nabi Saw, khususnya dengan shalawat fatih yang merupakan simpanan terbaik dan amat berharga dalam bersuluk melalui jalan mahabbah, syukur dan juga bersandar pada keutamaan murni (dari Allah Swt), tanpa perlu melakukan khalwat, banyaknya mujahadah dan lain sebagainya yang biasa diistilahkan dalam tarbiyah sejak generasi pertama (pasca sayyidi syaikh Ra dipercaya dengan thariqah ini), dimana ini adalah thariqahnya sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra; jalan beliau Ra bersuluk, bahkan beliau sendiri yang diperintah oleh sayyid al wujûd wa manba’ al imdâd wal jûd Saw.

Dalam Jawahir al Ma’ani disebutkan: Setelah Rasulullah Saw memberitahu sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra bahwa beliau Saw adalah perantaranya menuju Allah Swt sekaligus pemberi madad secara pasti. Nabi Saw pun berbicara secara lantang bahwa beliaulah penanggung dan sosok yang mentarbiyah sayyidi syaikh Ra dan bukan masyayikh thariqah lainnya. Nabi Saw pun mengabarkan pada beliau bahwa beliau tidak bisa berharap lagi pada salah satu dari mereka (masyayikh thariqah). Sebab, semua yang sampai dari Allah, maka itu ada pada tangan Nabi Saw, beliaulah yang menjadi perantara dari Allah dan kepada Allah Swt. Nabi Saw berwasiat pada sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra, “Lazimkan thariqah ini tanpa perlu khalwat, tidak pula menyendiri dari manusia hingga sampai pada maqam-mu yang telah dijanjikan dan engkau pada kondisimu tanpa adanya keterhimpitan, tidak pula kesulitan dan tidak pula banyak ber-mujahadah.”

Imam al Bushiri Ra pernah menyenandungkan sya’ir berikut:

وَالْفَضْلُ لَيْسَ يَنَالُهُ مُتَوَسِّلٌ # بِتَوَرُّعِ حَرَجٍ وَلَا بِتَزَهُّدِ

إِنْ قِيْلَ ذَاكَ هُوَ الدَّوَاءُ فَقُلْ لَهُ # كَحْلُ الصَّحِيحِ خِلَافُ كَحْلِ الْأَرْمَدِ

يَمْشِي الْمُصْرِفُ حَيْثُ شَاءَ وَغَيْرُهُ # يَمْشِي بِحُكْمِ الْحِجْرِ مَشْيَ مَصَفَّدِ

“Keutamaan tidaklah diberikan kepada orang yang bertawasul # dengan berlagak menjauhi luka dan tidak pula dengan berlagak zuhud

Andai dikatakan itu adalah obat, maka katakan lagi padanya, ‘celak matanya orang yang benar itu berbeda dengan celak matanya orang yang sakit mata

Dzat yang mentashrif berjalan sesuai kehendaknya, sedang yang lain # berjalan dengan paksaan layak jalannya orang yang terbelenggu.”

Dalam al Jawab asy-Syafi disebutkan: Tidak ada lagi orang yang digiring kepada kebaikan hingga bisa masuk ke dalam thariqah al Ahmadiyyah ini dan jiwanya ditarik dengan tarikan sisi inayah Allah hingga ia bergabung dalam suluk ahli silsilah thariqah al Muhammadiyyah ini, Allah pun siapkan ia dengan keutamaan-Nya untuk menyaksikan perkara khusus nan agung dan itu dengan sisi kedermawanan-Nya, Allah posisikan ia dengan perbendaharaan yang paling agung dan terbaik, hanya saja ia harus berpegang teguh pada ustadz yang agung ini dan menutup hidup didepan pintunya seraya terus berada di hadapan pintunya melalui jalan mahabbah, taslim, tercerabutnya kehendak diri dan penghakimannya, ajek dengan wiridan beliau al Muhammady asy-Syarif dengan terus menjaganya sesuai ragam persyaratannya dan berusaha seoptimal mungkin menjaga wiridan tersebut hingga Allah Swt memberikan futuh tanpa perlu khalwat, tidak pula perlu ber-mujahadah dengan ragam riyadhah yang dikenal setelah generasi pertama. Sungguh jika ia mengamalkannya sesuai dengan gambaran diatas; bisa jadi ia mendapatkan futuh secara tiba-tiba atau futuh itu terus menyerangnya.

Bisa juga Allah karuniakan ia untuk mengangkat hijab dari mata kalbunya, sehingga ia bisa berkumpul dengan ruhaninya sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra atau ruhaninya Nabi Saw; dengan demikian tarbiyahnya langsung dari salah satu atau keduanya; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سَا بِقُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَآءِ وَ الْاَ رْضِ ۙ اُعِدَّتْ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا للّٰهِ وَرُسُلِهٖ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
saabiquuu ilaa maghfirotim mir robbikum wa jannatin ‘ardhuhaa ka’ardhis-samaaa-i wal-ardhi u’iddat lillaziina aamanuu billaahi wa rusulih, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim

“Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 21)

Mengenai persyaratan yang tertera di dalam Jawahir al Ma’ani yang berupa menghadirkan gambaran sayyidi syaikh Ra atau gambaran Nabi Saw disaat berdzikir; artinya ada orang yang mampu untuk itu. Penjelasan gamblangnya dapat dilihat dalam Mizab ar-Rahmah ar-Rabbâniyyah.

Atau bisa juga Allah mengaitkan ia dengan seseorang dalam thariqah yang mampu mentarbiyah dirinya; Allah Swt pun akan tampakkan rahasia kekhususannya. Allah pun akan hilangkan hijab sisi kemanusiaannya sehingga dalam kondisi itu ia bisa berjalan menuju Allah secara lirih atau bersuara lantang.

Orang yang futuh dengan gambaran diatas, maka ia akan mendapatkan cahaya yang sempurna. Sebab kondisi futuh itu sesuai dengan futuh orang yang ia ikuti dan juga cahayanya. Maka orang yang mengambil dari Al Qur’an dan As-Sunnah, maka futuh dan cahayanya sempurna jika memang ia dipersiapkan untuk itu akan tetapi ia terlewat cahaya iqtida dan futuh. Oleh karena itu, para ulama senantiasa menjaga tradisi ini hingga Ibnu al Madini pernah mengatakan: Ibnu Mahdi berpendapat dengan pendapatnya Imam Malik; Imam Malik berpendapat dengan pendapatnya Sulaiman bin Yasar; Sulaiman berpendapat dengan pendapatnya ‘Umar bin al Khaththab. Dengan demikian maka madzhabnya Imam Malik adalah madzhabnya ‘Umar bin al Khaththab.

Imam Junaid al Baghdadi pernah berkata: Orang yang belum mendengar hadits dan belajar kepada para ahli fikih dan ia mengambil adab dari orang-orang yang beradab baik, maka ia telah merusak orang yang mengikuti dirinya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْۤ اَدْعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ ۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَاۡ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
qul haazihii sabiiliii ad’uuu ilalloh, ‘alaa bashiirotin ana wa manittaba’anii, wa sub-haanallohi wa maaa ana minal-musyrikiin

“Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.””
(QS. Yusuf 12: Ayat 108)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَ نَّ هٰذَا صِرَا طِيْ مُسْتَقِيْمًا فَا تَّبِعُوْهُ ۚ وَلَا تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗ ذٰ لِكُمْ وَصّٰٮكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
wa anna haazaa shiroothii mustaqiimang fattabi’uuh, wa laa tattabi’us-subula fa tafarroqo bikum ‘ang sabiilih, zaalikum washshookum bihii la’allakum tattaquun

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 153). Maka pahamilah ini!.

Kami kira berikut ini akan kami paparkan sya’ir kami yang didalamnya ada ragam isyarat yang dapat mentarbiyah murid yang shadiq, sebagian sya’ir terkait haknya orang yang bersuluk dan yang lainnya terkait ahwal orang yang majdzub. Kami tuliskan demikian:

نَصِيْحَةٌ مَنْ يُلْقِي إِلَيَّ الْمَسَامِعَا # يَبْغِي صِرَاطَ الْمُهْتَدِينَ مُسَارِعًا

لِيَأْخُذْ طَرِيقَ الشَّيْخِ مِنْ إِذْنِ أَهْلِهِ # وَلَيْسُوْا سَوَاءٌ وَاصْحَبَنْ مُتَابِعًا

وَمَا الْوِرْدُ إِلَّا اسْتَغْفِرُوا ثُمَّ هَلِّلُوْا # وَصَلُّوْا عَلَى الْمُخْتَارِ وَارْعَ الْمَجَامِعَا

بِشَرْطِ حُضُورُ الْقَلْبِ مَقْطُوْعُ نَظْرَةٍ # عَنِ الْخَلْقِ وَاحْفَظْ فِي النَّصِيحَةِ سَامِعَا

وَلَا تَعْتَمِدْ إِلَّا عَلَى فَضْلِ رَبِّنَا # لِمَا فِيْكَ مِنْ عَجْزٍ فَمَا أَنْتَ نَافِعًا

بِذَاكَ شُهُودٌ لِامْتِنَانِ إِلَهِنَا # فَلَا تَلْفُ ذَا عَجَبٍ لِسَعْيِ فَخَاضِعَا

وَتَحْسِيْنُ ظَنِّ بِالإِلَهِ مُحْتَمُ # وَفَوَّضْ إِلَيْهِ الْأَمْرَ وَلِتَلْكَ خَاشِعَا

صَلَاةٌ وَتَسْلِيمٌ مِنَ الْحَقِّ دَائِمًا # لِأَوَّلِ وُجُوْدٍ وَ آخِرِ جَامِعَا

“Ada sebuah nasehat bagi orang yang pendengarannya mendengarkanku # hingga ia bersegera menuju jalannya orang-orang yang senantiasa diberi hidayah

Hendaknya mengambil thariqah dengan izin dari ahlinya, #tentu ini akan berbeda, dan teruslah engkau bersuhbah dengan beliau dalam rangka mengikutinya

Sedangkan dzikiran, maka itu hanya istighfar, kemudian hailalah #dan bershalawatlah atas nabi Mukhtar dan peliharalah semuanya

Dengan syarat hadirnya kalbu, memutus pandangan # dari manusia, dan dengar serta jaga nasehat ini

Janganlah engkau bersandar kecuali pada kautamaan Rabb kita #lantaran dalam dirimu ada kelemahan, maka engkaupun tidak bisa memberikan manfaat

Dengan itulah engkau akan menyaksikan karunia Tuhan kita # janganlah engkau rusak itu dengan sifat ujub atas usahamu, maka tunduklah pada-Nya

Seraya berhusnuzhan kepada Dzat yang patut disembah secara totalitas #serahkanlah pada-Nya perkaramu dan dengan itulah engkau akan khusyu’

Semoga shalawat dan salam dari Allah senantiasa tercurah #bagi yang wujudnya di awal dan akhir.

Kami pun mempunyai sya’ir lainnya:

فَدَعْ عَنْكَ الْمَغَانِي وَالْغَوَانِي # وَدَعْ عَنْكَ الْمَوَائِدَ وَالْمَبَانِي

وَصَاحِبُ كُلِّ قَوْمٍ حَازَ جَمْعُ الشَّرِ # يْعَةِ وَالْحَقِيقَةِ غَيْرَوَانِ

أَخَا وَرَعٍ وَزُهْدٍ لَيْسَ يَلْفِي # لَهُ هَمْ يَزِي عَلَى الْتِقَانِ

وَحَاذِرْ مِنْ هَوَى نَفْسٍ وَحَاذِرْ # أَخَا مَيْلٍ لَهُ مَرَّ الْأَوَانِ

وَمَلَّكَهُ الْقِيَادَ وَأَنْتَ تَدْرِي # بِأَنَّ مَا فَوْقَهُ فِي الشَّأْنِ ثَانِ

تَحَقَّقْ أَنَّهُ قَدْ دَكَ جَهْرًا # وَأَوْصَلَهُ الْمُقَدَّسُ بِالتَّدَانِي

وَقُرْبُهُ وَقُدْسُهُ وَنَادَى # لَهُ بِالْإِذْنِ مَقُوْلُ كُلَّ دَانِ

“Tinggalkanlah kekayaan yang menyesatkan, # tinggalkanlah pula kekayaan dan tempat tinggal

Pemimpin setiap kaum itu adalah orang yang mampu menghimpun syari’at dan hakekat, dan bukan hanya satu sisi

Sosoknya wara’ lagi zuhud nan tidak pernah terhimpit kesulitan

Berhati-hatilah dari kecondongan negatif dalam jiwa, berhati-hati # pula orang yang memiliki kecenderungan negatif selama waktu masih berjalan Dia (Allah) lah berikan ia kepemimpinan (umat) # engkaupun tahu sungguh tidak ada sosok yang lain (yang unggul) diatas beliau

Yakinlah bahwa sungguh beliau telah memiliki (maqam) dengan bukti yang nyata # dan Diapun me-wushul-kannya pada tempat suci dengan jalan mendekatkan diri (pada-Nya)

Dengan sisi taqarrub dan kesucian-Nya dan ada seruan yang memanggil dengan diberinya izin atas segala yang dikatakan

Hal itu untuk menyenangkanmu bisa wushul kapan engkau melihat-Nya # dan memimpikan-Nya adalah perkara yang paling kuat bagi orang yang memiliki mata

Shalawat yang dibalut salam semoga tercurahan kepada # Nabi Mukhtar dari orang yang membaca dan menyanjung beliau.

Kamipun punya sya’ir lainnya:

أُوْصِيْكُمْ مَعَاشِرَ الْأَقْرَانِ # بِالصَّبْرِ وَالصَّفْحِ عَنِ الْإِخْوَانِ

بِالْقِيْلِ وَالْقَالِ فَلَا تَشْتَغِلُوْا # وَبِصَلَاةِ الْفَاتِحِ القَلْبُ أَشْغِلُوا

فَلْتَعْلَمُوْا بِأَنَّ مَا يَشَاءُ # إِلَهُنَا يَكُوْنُ لَا تَشَاءُوا

“Aku wasiatkan untukmu wahai kawan # agar engkau bersabar dan memaafkan kesalahan ikhwan

Janganlah kalian sibuk dengan perkatakan orang ini dan itu #tetapi buatlah kalbumu sibuk dengan shalawat fatih

Hendaknya kalian tahu bahwa sungguh apa yang dikehendaki Tuhan kita # bisa jadi tidak sesuai dengan yang kalian kehendaki.”

Kami pun punya sya’ir lainnya:

عَلَيْكُمْ بِالنُّفُوسِ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ # فَمَا ضَرَّ الْمُرْشِدُ ذُوْ الضَّلَالِ

وَمَهْمَا قِيْلَ أَنْتُمْ فِي ضَلَالٍ # كَفَى عِلْمُ الْمُهَيْمِنُ ذِي الْجَلَالِ

وَإِنْ صَرِمَ الْوِصَالَ أَخُوْ وِصَالٍ # وَوَاصَلَنَا الْمُهَيْمِنُ لَا نُبَالِ

وَإِنْ تَمَرَّرَ بِلَغْوٍ كُنْ كَرِيمًا # فَمَا نَقَصَ الْكَلَامُ أَخَا الْكَمَالِ

“Hendaknya kalian memperhatikan jiwa apabila kalian telah diberi hidayah # sehingga seorang mursyid yang sesat sekalipun tak dapat memudharatkanmu

Meski dikatakan ‘kalian dalam kesesatan’, # cukuplah pengetahuan Allah yang Maha memelihara lagi perkasa

Andai ketersambungan bagi orang yang wushul itu dikatakan terputus, #maka Dzat Allah yang Maha memeliharalah yang mewushulkan kami dan kami pun tak peduli

Andai perbuatan sia-sia kerap melewatimu, maka jadilah orang yang santun, # tidaklah dikatakan ‘kurang’ ketika orang yang sudah sempurna berbicara.”

Kamipun punya sya’ir berikut:

مُحَمَّدُ بْنُ مَالِكٍ فَلْتَذْكُرُوا # أَوْرَادَنَا وَالْقَلْبُ مِنْكَ إِحْضَرًا

وَاخْرُجْ مِنَ الْخَلْقِ جَمِيعًا وَالْأَثَرِ # وَلْتَطْلُبِ الْمَوْلَى سِوَاهُ خُلَّ ذُرِّ

نَصِيْحَةٌ تُغْنِيْكَ وَهِيَ تُغْنِي # كُلَّ الْمُرِيدِيْنَ فَهَاكَ عَنِّى

“Berdzikirlah kalian dengan awrad kita dan hadirkanlah kalbu kalian (ketika membacanya) mengingat Muhammad bin Malik

Keluarlah engkau dari (minta kepada) makhluk dan pengaruhnya # dan mintalah kepada Tuhan. Selain-Nya adalah sahabat yang kerap meninggalkan

Inilah nasehat yang cukup bagimu, dan ini cukup bagi setiap murid, maka perhatikan ini.”

Kamipun punya sya’ir berikut:

أُوْصِيْكَ يَا مَحْذُوْبٍ أَنْ لَا تَرْحَلَا # خَوَاطِرًا سِوَى إِلَى الْحَقِّ عَلَا

لَا تَرْحَلَنْ مِنْ عَدَمٍ لِعَدَمٍ # فَإِنَّ ذَاكَ فِعْلُ مَحْنُوْنٍ عُمْيٍ

فَإِنَّمَا ذَا الْعَالَمُ السُّفْلَى # طُرًّا كَذَاكَ الْعَالَمُ الْعُلْوِى

مَا فِيْهِ مِنْ نَفْعٍ وَلَا مِنْ ضَرَرٍ # لَقِيَا الْمُؤْثِرُ بِتَرْكِ الْأَثَرِ

عَلَيْكَ بِاللَّهِ فَلَا تَشْتَغِلْ # بِمَا سِوَاهَ إِنَّ ذَا تَقْوى الْوَلِيِّ

مَا الشَّأْنُ فِي كَشْفِ الْمُكَوِّنَاتِ # وَلَا إِطْلَاعِ بِالْمُغِيْبَاتِ

فَاللَّهُ أَقْرَبُ وَأَعْلَى وَأَجَلُّ # فَلْتَصْرِفِ الْأَوْقَاتَ فِي الإِلَهِ جَل

وَصَلِّيْنَ عَلَى الرَّسُوْلِ الْمُصْطَفَى # لَهُ الْوَسِيْلَةُ لَهُ قَبْلَ اصْطَفَا

صَلَّى عَلَيْهِ اللَّهُ مَا تَجَلَّى # فِي قَلْبِ مَنْ زَكَا إِذَا تَخَلَّى

“Wahai majdzub, aku wasiatkan padamu agar # khowatirmu jangan pergi kecuali kepada Allah

Janganlah engkau pergi dari ketiadaan menuju ketiadaan # sungguh itu merupakan perbuatan orang gila lagi buta Sungguh semua ini adalah alam rendah # dan itu alam tinggi

Yang didalamnya tidak ada perkara yang bermanfaat dan tidak pula memberikan mudharat # yang didapati didua alam itu seperti orang yang berjalan meninggalkan jejaknya

Hendaknya engkau senantiasa dengan Allah, jangan engkau sibuk # dengan selain-Nya, sungguh ini adalah takwanya wali

Perkaranya bukan pada penyingkapan alam # bukan pula tentang melihat hal-hal yang ghaib

Allahlah yang paling dekat, paling tinggi dan paling luhur #maka hendaknya engkau memalingkan ragam waktu pada-Nya

Dan bershalawatlah atas Rasul nan terpilih # ia memiliki wasilah sebelum beliau diutus

Semoga Allah berkenan menyampaikan shalawat padanya # tidaklah Dia bertajalli pada kalbunya orang yang bersih.”

Kamipun punya sya’ir berikut:

يَا أَيُّهَا الْمَجْذُوبُ إِنْ لَمْ تَسْلُكْ # فَأَنْتَ أَبْتَرُ فَوَيْكَ فَاسْلُكْ

وَأَيُّهَا السَّالِكُ إِنْ لَمْ تَحْذِبْ # فَأَنْتَ مَحْجُوْبٌ فَسَائِرٌ وَانْصَبْ

وَإِنَّمَا الْكَامِلُ مَنْ قَدْ جَمَعَا # بَيْنَ الْمَقَامَيْنِ فَهَذَا مِنْ سَعْيِ

جَعَلَنَا اللَّهُ مِنَ الَّذِيْنَا # قَدْ جَذَبُوا حَقًّا وَيَسْلُكُوْنَا

بِجَاهِ نَحْلِ الْحَاجِ عَبْدُ اللَّهِ # مُرْشِدُ كُلِّ عَاقِلٍ وَلَّاهُ

إِمَامُ أَهْلِ الْفَيْضَةِ التِّجَانِي # فِي عَصْرِهِ وَحُجَّةُ الْعُرْفَانِ

وَجَاهُ خَتْمُ سَالِكِنَا التَّجَانِي # وَجَاهِ جَدِّهِ النَّبِيِّ الْعَدْنَانِي

صَلَّى عَلَيْهِ اللهُ سَرْمَدًا أَبَدًا # مِنْ أَزَلِ الْأَزَلِ فَاللَّهُ أَحَدٌ

“Wahai orang yang majdzub, andai engkau belum bersuluk #maka engkau terputus (dari keberkahan) dan celaka, maka bersuluklah!

Wahai orang yang bersuluk andai belum jadzab # engkau terhijab, maka berjalanlah (menuju Allah) dan terus bekerja keras untuk itu

Sungguh sosok yang kamil adalah orang yang telah mengumpulkan # kedua maqam (jadzab dan suluk), ini bagi orang yang berusaha (menggapainya)

Semoga Allah menjadikan kami termasuk orang yang telah jadzab dan bersuluk

Dengan pengkat al Hajj Abdullah #mursyidnya setiap orang yang lalai dan lupa

Imamnya ahli faidhah at-Tijany # pada zamannya dan hujjahnya sisi kema’rifatan

Dan dengan jah (pangkat) wali khatam at-Tijany # dan juga jah kakeknya; Nabi Adnani

Semoga Allah senantiasa bershalawat padanya sepanjang masa dan selamanya # sejak zaman paling azali, maka Allah lah yang Esa

Kamipun punya sya’ir berikut:

فَلَا يَنْبَغِي لِلْوَاصِلِيْنَ تَصَدُّرٌ # قُبَيْلَ وُجُوْدِ الإِذْنِ فَالسِّرُّ يَسْتُرُ

وَيُعْجِبُنى الصُّمْتُ الطَّوِيلُ فَإِنَّهُ # دَلِيْلٌ عَلَى الْعِرْفَانِ وَالْحَالُ مُخْبِرُ

وَلَا خَيْرَ فِي التَّعْبِيرِ فِي كُلِّ مَحْفَلٍ # قَدِ انْتَقَلَ الْإِسْرَارُ مِنْ حَيْثُ يَجْهَرُ

رَعَانَا إِلَهُ الْعَرْشِ بِالسِّرِّ سِرُّهُ # عَلَيْهِ صَلَاةُ اللَّهِ فَهُوَ الْمُدَبِّرُ

“Maka tidak seyogyanya orang-orang yang telah wushul # menonjolkan diri sebelum adanya izin, sebab rahasia itu tersembunyi

Diam yang panjang mengejutkanku sungguh # itu merupakan tanda ma’rifat, dimana ahwal jiwa pun akan mengabarkan itu

Tidak ada kebaikan mengekspos diri disetiap tempat # dimana ucapan lirih itu berubah diucapkan lantang

Tuhannya Arasy menjaga kita dengan rahasia, # semoga shalawat Allah membahagiakan beliau, Dialah Allah yang mengatur.

Orang yang ingin tambahan lain dari ragam pujian diatas, hendaknya ber-shuhbah kepada rijal (wali Allah), serta berkhidmah pada ahli kamal.

Inilah yang kami sampaikan pada pasal ini. Semoga Allah senantiasa memberi taufik ke arah kebaikan. Kepada-Nyalah tempat kembali dan harapan.

Sumber : BUKU FAIDHAH TIJANI (KASYIFUL ILBAS ‘AN FAIDHATI AL KHATMI ABIL ABBAS) SYAIKH IBRAHIM NIASS AL KULKHI AT-TIJANY