
Elsubha.com – Penjelasan Lafazh dan Makna Shalawat Fatih
Pendahuluan
Bab ini berisikan ragam penjelasan lafazh dan makna shalawat fatih, agar orang yang menjadikannya sebagai dzikiran maupun yang sekedar membacanya menjadi paham maknanya dan mampu menggambarkan ragam pendapat mengenai shalawat fatih tersebut. Sebab, berdzikir dengan mampu menghadirkan maknanya, dapat membuat dirinya menempati maqam yang tinggi. Jika seseorang yang berdzikir mampu memposisikan makna dzikir yang ia baca, maka ini akan mampu menghadirkan jiwa dalam berdzikir, ketika kondisi jiwa ini demikian, maka ia bisa berkumpul dengan Nabi Saw. Semoga Allah karuniakan kepada kita dengan kondisi ini; kondisi yang tinggi dan memiliki nilai di hadapan Allah Swt, sehingga dengan itu kita bisa bersama dengan para wali Allah Swt dan diberikan kenikmatan dalam membaca dzikiran, sehingga kita memperoleh kebahagiaan dari Allah di surga nanti; aku, kedua orang tuaku dan orang yang masih memiliki hubungan denganku dari orang-orang pilihan lagi kucintai. Billahit-taufiq.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ
“Ya Allah curahkanlah rahmat dan keselamatan atas penghulu kami Nabi Muhammad pembuka sesuatu yang tertutup, penutup dari semua yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar, dan petunjuk kepada jalan-Mu yang lurus, dan juga (curahkanlah rahmat dan keselamatan) atas keluarganya dengan sebenar-benar kekuasaan dan ukuran Allah yang Maha Agung.”
Penjelasan Lafazh dan Makna Shalawat Fatih
Redaksi, (اَللَّهُمَّ) [Ya Allah]; Sayyidi Al Arabi bin Sa’ih memberikan penjelasan ketika beliau me-syarah kitab Munyatul Murid, Maknanya adalah wahai Allah pemilik Asmaul Husna. Hal tersebut karena ketika dikatakan bahwa asal dari kata (اَللَّهُمَّ) adalah (يَا اللّٰهُ) [Wahai Allah], huruf mim yang berharakat fathah dan bertasydid ini ditambahkan ke dalam kata agar dapat merasakan bahwa ini adalah isim a’zham, yang didalamnya terkumpul semua nama-nama Allah Swt. Maka isim aham (اللّٰهُ) ialah yang mengakomodir semua nama-nama dan sifat-sifat Allah Swt yang luhur. Maka hadirnya huruf mim dibelakangnya bertujuan untuk membantu menghadirkan sisi ketercakupan semua nama-nama Allah Swt.
Kemudian ketahuilah, bahwa lantaran apa yang terkandung dalam lafazh yang berisikan keagungan perkara ini, maka lafazh tersebut biasa digunakan untuk ber-tawajjuh kepada Allah Swt dalam do’a.
Ada ulama yang mengatakan, bahwa ia adalah isim al azhîm al a’zham yang apabila seseorang berdo’a dengannya niscaya Allah ijabah dan apabila ia meminta (pada-Nya) pasti Allah Swt beri.
Dalam Jawahirul Ma’ani, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan: Ketahuilah, bahwa kalimat ini (اَللَّهُمَّ) biasa diucapkan orang Arab untuk memohon pada Allah Swt dalam semua do’a mereka, bagi mereka itu layaknya mereka ber-istighatsah, merendahkan diri, berdo’a sepenuh hati dan meminta dipercepat ijabah do’a, seolah-olah orang tersebut berkata, “Percepat ijabah do’aku, percepat Engkau beri pertolongan padaku ya Allah.”
Redaksi, (صَلِّ) [curahkanlah rahmat dan keselamatan]; Ketahuilah bahwa makna shalawat itu berbeda-beda; ada yang menyebutkan bahwa maknanya adalah rahmat dan keridhaan; ada juga yang mengatakan bahwa shalawatnya Allah itu berupa ampunan-Nya dan shalawatnya malaikat itu berupa istighfar-nya malaikat untuk orang yang bershalawat. Ada juga yang mengatakan bahwa shalawatnya Allah itu berupa rahmat-Nya, sedangkan shalawatnya malaikat itu berupa do’anya malaikat agar orang yang bershalawat itu mendapatkan rahmat.
Ada juga yang mengatakan, bahwa shalawatnya malaikat itu adalah do’a dengan keberkahan. Ada juga yang mengatakan, bahwa shalawat dari Allah itu bentuknya rahmat yang diselipkan nilai pengagungan, sedangkan shalawat dari malaikat berupa istighfar dan shalawat dari manusia berupa kerendahan hati dengan terus berdo’a. Ada juga yang mengatakan, bahwa shalawatnya Allah Swt bagi para nabi-Nya berupa pujian dan pengagungan bagi mereka dan shalawatnya Allah untuk selain mereka (Selain Nabi) berupa rahmat. Ada juga yang mengatakan, bahwa shalawatnya Allah Swt bagi para nabi-Nya itu adalah bentuk penghormatan dan bertambahnya kemuliaan, sementara bagi selain mereka bentuknya berupa rahmat Allah.
Allah Swt membedakan antara shalawat Allah Swt pada Nabi-Nya dan sholawat Allah bagi semua orang mukmin. Perlu pula diketahui, bahwa kadar yang pantas untuk Nabi Saw adalah kadar yang lebih tinggi dari yang lainnya. Al Hulaimi mengatakan dalam Asy-Syu’ab, bahwa makna shalawat pada Nabi Saw; Allahumma shalli ‘ala Muhammad,” adalah muliakanlah Muhammad. Maksud pemuliaan pada beliau di dunia adalah dengan meninggikan dzikirnya (memperbanyak shalawat pada beliau), mengokohkan agamanya dan menetapkan syari’atnya, sedangkan di akhirat adalah dengan adanya ganjaran yang besar dan syafa’at beliau Saw untuk umat-Nya dan dimulainya keutamaan beliau dengan diberikannya maqam yang terpuji; maksudnya adalah dengan firman Allah Swt,
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
innalloha wa malaaa-ikatahuu yusholluuna ‘alan-nabiyy, yaaa ayyuhallaziina aamanuu sholluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56)
Maknanya adalah berdo’alah pada Rabb kalian dengan bershalawat.
Abul ‘Aliyah mengatakan, bahwa shalawat-Nya Allah Swt pada Nabi-Nya adalah pujian bagi beliau di hadapan para malaikat-Nya, sedangkan shalawatnya malaikat pada beliau Saw adalah do’a untuk beliau Saw. Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan, “Ini adalah pendapat yang utama, sehingga makna shalawat-Nya Allah adalah pujian dan bentuk pengagungan bagi beliau Saw dan shalawatnya malaikat dan yang lainnya adalah bentuk permohonan tambahan pujian dan pengagungan beliau Saw dari Allah Swt.”
Ada yang mengatakan, “Yang dimaksud dengan shalawat adalah perhatian akan sosok yang dishalawati dan menginginkan kebaikan bagi beliau Saw.” Pendapat inilah yang diridhai Al Ghazali dan dinilai baik oleh Az-Zarkasyi. (Dikutip dari Mathâli’ul Musirrât).
Dalam Ar-Rimah disebutkan: Ketahuilah bahwa shalawat pada haknya Allah Swt pada Nabi-Nya adalah sebuah sifat yang berdiri dengan Dzat-Nya Allah yang sesuai dengan keagungan dan keperkasaan Allah Swt. Perkara ini di luar nalar manusia. Sebab sifat yang ada pada setiap makhluk meski banyak yang sama dalam namanya, tetapi hakekatnya pun sudah jelas makhluk tersebut. Shalawat pada hak kita untuk beliau Saw sebatas ucapan yang nampak dalam lisan kita ketika berdo’a dan merendahkan jiwa kepada Allah Swt yang mensimbolkan pengagungan untuk Nabi-Nya Saw, akan tetapi ini berbeda dengan shalawat-Nya Allah Swt pada nabi-Nya, inilah yang tidak bisa diketahui dan tidak bisa pula dinalar, jangan engkau menafsirkan shalawat-Nya Allah pada Nabi-Nya, akan tetapi katakanlah, “Allah bershalawat pada Nabi-Nya yang tidak perlu ditanya bagaimana cara Allah bershalawat pada nabi-Nya.”
Tidakkah engkau melihat sujudnya makhluk kepada Allah Swt? Semua makhluk itu bersujud pada Allah Swt, akan tetapi sujudnya manusia kepada Allah Swt tidaklah sama dengan sujudnya benda mati, hewan dan pepohonan. Sebab setiap makhluk tersebut bersujud sesuai dengan kondisi yang cocok bagi mereka, meski ibadah mereka memiliki nama yang sama tetapi memiliki cara yang berbeda, tetapi semuanya mengakui bahwa setiap makhluk bersujud dengan tata caranya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sedangkan shalawat malaikat pada Nabi Saw, maka keterkaitan shalawat mereka pun sama seperti keterkaitan makna shalawat pada kita manusia.
Makna shalawat yang kita pinta dari Allah Swt adalah tambahan kemuliaan dari Allah Swt untuk sosok yang Dia cintai; Muhammad Saw, dimana makna asal dari kemuliaan tentu kita sudah melihatnya, sedangkan yang dipinta adalah tambahan kemuliaan yang lainnya untuk beliau Saw. Yang perlu diperhatikan oleh orang yang bershalawat di sini adalah bagaimana ia merasa diri ini lemah untuk bershalawat pada beliau Saw, sementara beliau Saw dalam puncak kemuliaan yang tidak bisa di irikan oleh semua makhluk yang ada. Sedangkan kita adalah hamba Allah yang lemah nan lagi banyak aib dan kekurangan diri, karena inilah kita diperintah pertama kali untuk bershalawat pada Nabi Saw. Kedua sebagai bentuk pembelajaran tentang apa yang kita diperintahkan untuknya, yaitu kita meminta kepada Allah Swt agar Allah yang bershalawat kepada Nabi Saw, dengan demikian itu menjadi seimbang antara keagungan Allah Swt dengan keagungan sosok yang dicintai; yaitu Nabi Muhammad Saw, dimana tidak ada yang tahu hakekat beliau Saw selain Allah Swt, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw,
لَا يَعْرِفُنِي حَقِيقَةً غَيْرَ رَبِّي
“Tidak ada yang mengetahui hakekatku selain Rabbku.” Maka kepada makna inilah Ibnu Al Khatib As-Sulaimani Al Andalusi menggubah sya’ir:
مَدَحَتْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ فَمَا عَسَى # يُثْنِي عَلَى عَلِيًّا كَنَظْم مَدِيْحِي
وَإِذَا كِتَابُ اللَّهِ أَثْنَى مُفَصَّحًا # كَانَ الْقُصُوْرُ قُصَارَى كُلَّ فَصِيْحِ
“Ayat-ayat Al Qur’an/Al Kitab telah memujimu # maka mana bisa sya’irku ini memuji sosok yang luhur
Apabila kitab Allah saja telah memujimu dengan fasih # maka yang kurang itu adalah kurang banyaknya orang fasih.”
Ada juga yang menggubah sya’ir berikut:
يَا مُصْطَفَى مِنْ قَبْلِ أَدَمَ # وَالْكَوْنُ لَمْ تُفْتُحْ لَهُ أَغْلَاقُ
أَيَرُوْمُ مَخْلُوْقٌ ثَنَاءَكَ بَعْدَ مَا # أَثْنَى عَلَى أَخْلَاقِكَ الْخَلَّاقُ
“Wahai sosok yang terpilih sebelum Adam tercipta # dan alam pun belum terbuka keberadaannya
Apakah masih ada orang yang memujimu setelah #Allah sang pencipta memuji akhlakmu.”
Redaksi, (عَلَى سَيِّدِنَا) [atas penghulu kami]; Kata sayyid sendiri memiliki beragam makna, diantaranya adalah yang unggul di atas, dimana tidak diragukan lagi bahwa Nabi Saw unggul dari semua manusia, dimana kesempurnaan beliau tidak ada batasannya. Kepada makna inilah, ada yang menggubah sya’ir berikut:
فَاقَ الْأَنَامَ خُلُقًا وَخَلْقًا # وَهُوَ كَمَا قَدْقِيْلَ فِيْهِ حَقًّا
مُحَمَّدٌ بَشَرٌ لَا كَالْبَشَرِ # بَلْ هُوَ كَالْيَقُوْتِ بَيْنَ الْحَجَرِ
“Sosok beliau mengungguli manusia dalam akhlak dan penciptaan # Benar adanya Beliau Saw sebagaimana yang dikatakan
Muhammad adalah manusia tapi tidak seperti manusia # akan tetapi beliau Saw seperti batu yaqut diantara bebatuan kerikil.”
Diantara sifat beliau Saw adalah Al Halim. Sifat ini merupakan salah satu sifat Nabi Saw, dimana beliau Saw adalah orang yang paling sabar/halim, dimana Al Halim bermakna orang yang bisa mengendalikan diri ketika marah. Diantara sifat beliau Saw lainnya adalah Al Karim dan Al Jalil, kepada makna inilah ada yang menggubah sya’ir berikut:
لَهُ رَاحَةٌ لَوْ أَنَّ مِعْشَارَ جُوْدِهَا # عَلَى الْبَرِّ كَانَ البَرِ أَنْدَى مِنَ الْبَحْرِ
لَهُ هِمَمٌ لَا مُنْتَهَى لِكِبَارِهَا # وَهِمَّتُهُ الصُّغْرَى أَجَلٌ مِنَ الدَّهْرِ
“Beliau memiliki keluwesan jiwa, yang jika secuil kedermawanan beliau itu # jatuh ke daratan, maka daratan itu lebih lembab daripada lautan
Beliau memiliki ragam himmah yang besarannya tidak berujung # dimana himmah kecil beliau lebih agung dari semesta ini,”
Tidak diragukan lagi semua makna diatas ada pada Nabi Muhammad Saw bahkan nilainya berlipat ganda tanpa batasan. Kita pun tahu bahwa lafazh “sayyid inilah yang biasa digunakan oleh para pembesar wali dalam bershalawat. Al Haththabi mengatakan, “Perkara yang nampak dan aku amalkan adalah menggunakan kata sayyidina dalam bershalawat dan perkara lainnya.”
Yang perlu diperhatikan bagi orang yang bershalawat dalam kata “ala sayyidina,” bahwa Nabi Muhammad Saw adalah penghulu seluruh makhluk dan semua alam yang ada, hal ini sebagaimana diriwayatkan secara ijma, maka orang yang bershalawat dengan menggunakan kata “sayyidina,” maka masuklah semua makhluk dari kalangan para nabi dan rasul, malaikat dalam shalawat yang ia baca itu.
نَبِيُّنَا أَفْضَلُ بِالإِطْبَاقِ # مِنْ كُلِّ مَخْلُوْقٍ عَلَى الإِطْلَاقِ
وَانْعَقَدَ الإِجْمَاعُ أَنَّ الْمُصْطَفَى # أَفْضَلُ خَلْقِ اللَّهِ وَالْخَلْقُ انْتَقَى
وَمَا انْتَحَى الْكَشَافَ فِي التَّكْوِيرِ # خِلَافَ الْإِجْمَاعِ ذَوِى التَّنْوِيرِ
“Nabi kita; Muhammad Saw paling utama dalam setiap tingkatan # makhluk secara mutlak
Telah disepakati bahwa Al Musthafa # paling utamanya makhluk Allah dan paling terjaga akhlaknya
Meski orang yang mampu menyingkap itu menghimpun penolakan # tetap itu berbeda dengan apa yang disepakati ulama yang terterangi cahaya Ilahi.”
Redaksi, (مُحَمَّدٍ) [Muhammad]; maknanya adalah yang pujian manusia banyak tercurahkan untuk beliau, dimana penghuni langit dan bumipun memuji Nabi Muhammad Saw. Kata, “Muhammad,” merupakan kata yang digunakan sebagai simbol (mubalaghah); membesar-besarkan sesuatu. Oleh karena itu, orang yang bershalawat patut memperhatikan tentang nama yang sejatinya penghuni tujuh langit dan tujuh bumi memuji beliau dengan pujian yang berlipat ganda sesuai dengan pelipatgandaan atas dasar kehendak Allah Swt.
Kemudian perlu engkau ketahui bahwa nama Muhammad itu sendiri memiliki beberapa kekhususan; Dalam kitab Al Mawahib disebutkan kekhususan tersebut, diantaranya: Nama Muhammad terdiri dari empat huruf agar nama “Allah,” yang terdiri dari empat huruf ( ا، ل، ل هـ ) ini pun cocok dengan nama “Muhammad,” (م، ح، م،د)

Diantara kekhususan lainnya adalah: Ada ulama yang mengatakan, bahwa salah satu tanda Allah Swt memuliakan anak keturunan Adam adalah menjadikan bentuk tubuhnya seperti bentuk nama “Muhammad;” Mim pertama simbol kepala; Ha sebagai simbol rongga dada,; Mim kedua sebagai simbol panggulnya; dan Dal sebagai simbol kedua kaki. Imam Az-Zurqani berkata, Asy-Syami menambahkan bahwa perutnya huruf Ha itu seperti perut dan bagian atasnya seperti punggung, tulang ekor dan lubang pembuangan seperti huruf Mim, serta huruf Dal pada penghujungnya seperti dua kaki. Pada makna inilah ada ulama yang menggubah sya’ir berikut:
لَهُ اِسْمُ صُوَرِ الرَّحْمَانِ رَبِّي # خَلَائِفُهُ عَلَيْهِ كَمَا تَرَاهُ
لَهُ رِجْلٌ فَوْقَ الرِّجْلِ بَطْنٌ # وَتَحْتَ الرَّأْسِ قَدْ خُلِقَتْ يَدَاهُ
“Dia memiliki nama gambaran Tuhanku yang Maha Penyayang # Dialah khalifah-Nya sebagaimana engkau melihatnya
Dia memiliki kaki, yang diatas kaki ada perut # dan di bawah kepala Aku telah ciptakan kedua tangannya.”
Kemudian beliau berkata dalam Al Mawahib, yang menukil perkataan Ibnu Al Marzuq: Ada ulama yang mengatakan: Orang yang memang berhak masuk ke dalam neraka, maka Allah memasukkan ke dalamnya dengan wujud yang binasa sebagai gambaran pemuliaan atas gambaran lafazh, “Muhammad.”
Al Imam Ar-Rashsha’ mengatakan dalam Tadzkiratul Muhibbin: Ibnu Zakariya dalam Syarah Al Masyisyiyah memaparkan: Lantaran kebanyakan manusia tidak mengetahui sisi Al Ahmadiyyah beliau Saw dan hanya mengetahui sisi Al Muhammadiyyah, maka kebanyakan manusia banyak menggunakan huruf “Muhammad dan bukan Ahmad.” Al Baki mengatakan: Mim yang pertama adalah isyarat dari alam malaikat yang tinggi, huruf Ha adalah isyarat dari kehidupan para malaikat, yang di dalamnya ada Al Qalam yang menuliskan (takdir), huruf mim bertasydid adalah isyarat alam malaikat yang rendah dan juga alam malaikat yang wujudnya nampak, sedangkan huruf Dal adalah isyarat dari kekonsistenan dan ketersambungan.
Sebagian ulama mengatakan: Huruf Mim yang pertama adalah ma’rifat (pengetahuan); Allah Swt memberikan beliau Saw ilmu dari generasi awal hingga generasi akhir. Huruf Ha adalah Allah menghidupkan hamba-nya ditangan beliau Saw dari kekufuran menuju Islam (penyerahan diri), dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِا للّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَا تًا فَاَ حْيَا کُمْ ۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
kaifa takfuruuna billaahi wa kungtum amwaatang fa ahyaakum, summa yumiitukum summa yuhyiikum summa ilaihi turja’uun
“Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 28)
Huruf Mim kedua adalah Allah memberikan kepada beliau Saw kerajaan yang belum pernah Allah Swt berikan kepada seorang pun. Hal tersebut dikarenakan nama beliau yang bersanding dengan nama Allah Swt itu sudah masyhur diketahui seantero timur hingga barat. Huruf Dal adalah pegangannya para makhluk untuk menuju surga Firdausnya Allah Swt.
Ada ulama yang juga mengatakan: Huruf “Mim (yang pertama) dan huruf Ha,” keduanya diambil dari akar kata Mahha-yamuhhu yang berarti membinasakan; sedangkan huruf “Mim (yang kedua) dan huruf Dal,” keduanya diambil dari akar kata Madda-yamuddu yang berarti bahwa Nabi Muhammad Saw adalah sosok yang membumihanguskan kekufuran dan menyebarkan Islam di bumi yang luas sehingga banyak yang menyembah Allah Swt. Kepada makna inilah ada ulama yang menggubah sya’ir berikut:
مُحَمَّدُنَا مَعَ الإِلَهُ بِدِيْنِهِ # عِبَادًا طَغُوْا فِي الْأَرْضِ دِينَهُمُ الْكُفْرَ
وَمَدَّ لَنَا الإِسْلَامَ طَرًّا فَلَمْ يَزَلْ # بِهِ النَّصْرَ وَالْإِمْكَانَ وَالظُّفْرَ وَالْبُشْرَ
“Tuhan Muhammad kami menghapus hamba-hamba yang melampaui batas nan beragama kufur dengan datangnya agama-Nya
Menghamparkan Islam bagi kita # Maka beliau senantiasa mendapatkan pertolongan, kemenangan dan kabar gembira.”
Dalam Al Mawahib disebutkan: Diantaranya adalah bahwa Allah Swt mendasarkan penamaan beliau pada nama Allah “Al Mahmud,” sebagaimana perkataan Hassan bin Tsabit Ra:
أَغَرَّ عَلَيْهِ لِلنُّبُوْءَةِ خَاتِمٌ # مِنَ اللَّهِ نُوْرٌ يَلُوْحُ وَيَشْهَدُ
وَضَمَّ الْإِلَهُ اسْمَ النَّبِيِّ إِلَى إِسْمِهِ # إِذَا قَالَ فِي الْخُمُسِ الْمُؤَذِّنُ أَشْهَدُ
وَشَقَّ لَهُ مِنْ اِسْمِهِ لِيُجَلِّهِ # فَذُو الْعَرْشِ مَحْمُوْدٌ وَهَذَا مُحَمَّدٌ
“Aku iri terhadap beliau untuk kenabian ditutup # (berita) yang datangnya dari Allah berupa cahaya yang semakin nampak dan dapat disaksikan
Tuhan menggabungkan nama Nabi pada nama-Nya # ketika mu’adzdzin mengumandangkan Asyhadu dalam lima waktu shalat
Pemisahan nama beliau dari nama-Nya (dalam syahadat) guna mengagungkannya # Pemilik Arasy telah menyatakan beliau terpuji, dan inilah Muhammad.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ka’ab Al Ahbar, ia berkata: Allah Swt menurunkan tongkat pada Nabi Adam As sejumlah para nabi dan rasul, kemudian dia menemui anaknya Syaits seraya berkata: Wahai Anakku Its, engkau adalah khalifah setelahku, maka ambillah sejumlah tongkat ini dengan pilar-pilar takwa dan ikatan yang kuat (ikatan keimanan), setiap kali engkau sebutkan nama Allah, maka sebutlah pula disisi-Nya nama Muhammad. Sebab aku melihat namanya tertulis di kaki Arasy kala aku berada diantara ruh dan tanah, kemudian aku mengitari tujuh langit, tidak ada tempat kecuali tertulis nama Muhammad, dimana Rabbku pun menempatkanku di Surga dan akupun tidak melihat pada istana di Surga dan tidak pula pada ruangannya kecuali aku temui nama Muhammad tertulis di dalamnya. Aku juga telah melihat nama Muhammad tertulis pada sungai-sungainya bidadari, tertulis pada dedaunan, tertancap pada pilar surga, tertulis pada dedaunan pohon thuba, tertulis pada dedaunan Sidratul Muntaha, tertulis diatas ujung tirai penghalang, tertulis diantara mata para malaikat dan masih banyak lagi untuk disebutkan, bahkan malaikat terdahulu senantiasa menyebutkan namanya pada setiap waktu.
Al Imam Ar-Rasysya’ menyebutkan dalam Tadzkiratul Muhibbin: Telah datang berita bahwa gambaran tubuh orang kafir memiliki bentuk paling buruk untuk dilihat, iapun tidak berhenti dan diberi balasan kecuali gambaran tubuh yang nampak dihapus, sebagaimana gambaran tubuh yang bathin (tersembunyi) pun dihapus. Sedangkan penghuni surga, semuanya nampak dengan gambaran Nabi Muhammad Saw; maksudnya gambaran tubuhnya seperti tulisan nama Muhammad Saw, hal ini bertujuan untuk memuliakannya di hadapan Allah Swt, sedangkan penghuni neraka, gambaran tubuh itupun akan hilang darinya sebagai bentuk penghinaan baginya, sehingga dengan kondisi inilah mereka diberi adzab, maka ingat-ingatlah hal ini, semoga Allah Swt senantiasa merahmatimu dan menambahkan kecintaanmu pada beliau Saw dengan engkau banyak bershalawat padanya, niscaya Allah Swt memasukkanmu pada naungan Arasy-Nya di hari Kiamat.
Al Imam Az-Zurqani dalam Syarah Al Mawahib dan yang lainnya mengatakan: Diantara kekhususan nama Muhammad dapat kita lihat dengan cara mengkalikan dan menjabarkannya yang nantinya dari nama Muhammad mendapatkan jumlah 313, demikian lengkapnya: Huruf mim dalam kata Muhammad ada tiga; Yang pertama huruf mim yang pertama, dan dua mim lainnya disimbolkan dengan mim yang bertasydid yang senilai dengan 270, sedangkan huruf dal senilai 35 dan huruf ha senilai 8, sehingga jika kita jumlahkan hasilnya adalah 313. Jumlah 313 adalah jumlah dari utusan Allah Swt ini menurut satu pendapat ulama, sebab ada ulama lain yang berpendapat, bahwa jumlah utusan Allah sebanyak 314 dan ada juga yang berpendapat sebanyak 315.
Al ‘Allamah Al Adib Sayyidi Hamdun bin Al Hajj menambahkan penjelasan diatas saat beliau menjelaskan Uqûd Al Fatihah, menurut beliau, dari nama Muhammad juga muncullah jumlah nabi yaitu 124.000. Maka dikatakan bahwa nama beliau; Muhammad Saw mengandung dua nilai (ratusan dan puluhan) tanpa melihat dari hitungan lipat ganda pada huruf mim, begitu juga dengan huruf ha dan juga dal, sehingga engkau bisa hitung itu dengan hitungan jumal shaghir tanpa dijabarkan, maka huruf mim pertama bernilai 4, begitu juga huruf mim kedua bernilai 4, huruf ha bernilai 8 dan huruf dal bernilai 4 maka jumlahnya ada 20 kemudian dikalikan dengan angka semisal hingga menghasilkan jumah 400. Dari kata Muhammad ada 4 nilai; 300 dan 10, maka jika kita kalikan 400 dengan 300 dan 400 dengan 10, maka akan menghasilkan jumlah sebesar 124.000. Sedangkan bilangan lebihan dari 310 tersebut, yang 4 diberikan untuk keempat khalifah dan satu lainnya sang wali quthub fard.
