You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

I’rab Shalawat Fatih : Faedah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – I’rab Shalawat Fatih : Faedah

Terkait penggunaan kata “Sayyid,” untuk selain Allah, ada tiga pendapat yang masyhur: Pertama, pendapat yang menyatakan kebolehannya. Hal ini ditunjukkan oleh dalil Al Qur’an, hadits dan ijma. Dalil dari Al Qur’an adalah firman Allah Swt,

فَنَا دَتْهُ الْمَلٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٌ يُّصَلِّيْ فِى الْمِحْرَا بِ ۙ اَنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيٰى مُصَدِّقًا بِۢكَلِمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَسَيِّدًا وَّحَصُوْرًا وَّنَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
fa naadat-hul-malaaa-ikatu wa huwa qooo-imuy yushollii fil-mihroobi annalloha yubasysyiruka biyahyaa mushoddiqom bikalimatim minallohi wa sayyidaw wa hashuurow wa nabiyyam minash-shoolihiin

“Kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan sholat di mihrab, “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, teladan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.””
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 39)

Dalil dari hadits; yaitu sabda Rasulullah Saw,

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَلَا فَخْرَ

“Aku adalah penghulunya anak cucu Adam dan Aku tidak bangga (dengan itu).”

Dalil dari ijma: Para ulama sepakat bahwa sikap beradab kepada Rasulullah Saw adalah perkara yang paling pantas untuk tinginya maqam beliau Saw.”

Redaksi, (سَيِّدِ) adalah mudhof dimana (نَا) [kami]; adalah mudhof ilaihi yang ditetapkan lantran kemiripannya dengan huruf dalam peletakannya terdiri dari dua huruf (ن dan ا) yang pada posisi jar, dimana maksudnya kembali pada semua makhluk selain Nabi Saw, katanya bersifat umum lagi khusus; ia adalah dhamir mutakallim yang sendiri atau ia bersama orang lain, namun yang biasa digunakan adalah untuk menunjukkan diri sendiri.

Redaksi, (مُحَمَّدٍ) [Muhammad]; posisinya sebagai badal (pengganti) atau sebagai athaf bayan. Ia tidak mungkin bisa menjadi na’at, sebab ia adalah alam, dimana ‘alam itu di-na’at-kan. la dinukil dari sim maf’ul (حَمَّدَ). Nama Muhammad sering disebutkan dibanding nama beliau Saw yang lainnya karena sudah masyhur dan juga telah disebutkan dalam Al Qur’an. Dengan nama inilah sang kakek Abdul Muthallib memberikan nama, yang mana saat itu ada yang mengatakan kepada beliau, “Mengapa engkau memberikannya nama Muhammad, dimana nama ini bukan salah satu nama ayahnya?” beliau menjawab, “Sungguh aku berharap ia dipuji oleh penghuni langit dan bumi.” Dan nyatanya Allah mewujudkannya. Dimana diriwayatkan bahwa ketika Sayyidah Aminah mengandung beliau Saw, ada suara yang mengatakan, “Engkau kini sedang mengandung penghulunya umat ini, dan apabila nanti ia lahir, maka namai ia dengan Muhammad. Sebab Allah telah memberi beliau nama Muhammad dua juta tahun sebelumnya.”

Disebutkan dalam Mathali’ Al Masarrât. Kata Muhammad adalah sebuah isim mubalaghah. Hal tersebut bertujuan agar pujian itu datang kepada beliau Saw berulang kali. Nama Muhammad memberikan kesesuaian antara sosok dan makna yang diharapkan, dimana sosok beliau dipuji oleh lisannya alam semesta dari segala sisi; baik pujian yang hakiki, pujian pada sifat, pujian pada penciptaan, pujian pada akhlak, pujian pada amal perbuatan, pujian pada kondisi jiwa, pujian pada keilmuan dan pujian pada hukum yang beliau tetapkan. Beliau terpuji di bumi dan langit, beliau terpuji di dunia dan di akhirat; terpuji di dunia lantaran petunjuk beliau yang mengarahkan seseorang pada Allah Swt, ragam ilmu dan hikmah, sedangkan di akhirat beliau terpuji lantaransyafa’at yang nantinya beliau berikan. Makna pujian tersebut berulang sebagaimana keharusan pada lafazh nya, selain itu beliau juga adalah sosok yang memuji, dimana tidaklah ada seseorang yang memuji-Nya kecuali ia selamat. Dimana beliau adalah Nabi semuanya, bisa juga engkau katakan bahwa beliau Saw adalah sang pemuja, tepatnya sosok pemuja Allah Swt secara mutlak, dengan pujian beliau Saw kepada Allah Swt, maka Allahpun memuji beliau melalui lisan para hamba-Nya. Beliaulah sang pemuja dan yang dipuja. Nama beliau Saw di langit adalah Ahmad, di bumi Muhammad dan di surga Abul Qasim. Beliaulah sosok yang paling baik untuk dipuja, yang paling utama dalam memuji. Hakekatnya adalah bahwa tidaklah beliau memuji dan dipuji kecuali kembali kepada beliau sendiri, bagaimana tidak demikian, sementara bendera pujian ada di tangan beliau Saw, beliaulah pemilik maqam terpuji yang mana generasi awal dan akhir memuji beliau.

Redaksi, (الفَاتِحِ) [sang pembuka]; ini merupakan sifat Nabi Muhammad Saw, dimana sifat sejatinya mengikuti sosok yang disifati. Dalam redaksi ini, redaksi (الفَاتِحِ) ikut redaksi sebelumnya dalam kasrah; ia majrur dengan kasrah yang nampak jelas di akhir kata (di bawah huruf ha). Sedangkan (ال) merupakan isim maushul (kata penghubung) yang bermakna (الَّذِى) [yang] Sebab huruf (ال) masuk ke dalam sifat yang musytaqqah (yang dijadikan); dimana perkiraan maknanya adalah beliau yang membuka ragam pintu kebaikan, beliau mengucurkan cahaya kepada semua makhluk. Tidak benar jika (ال) untuk makna janji dengan kedua macamnya, (ال) juga bukan untuk menunjukkan sisi kesempurnaan, sebab (ال) tidak bisa masuk kecuali pada isim jamid (kata benda mati).

Redaksi, (لِمَا) [yang]; jar majrur yang masih berkaitan dengan kata (الفَاتِحِ).

Redaksi, (اُغْلِقَ) [tertutup]; dengan dhammah pada hamzah fi’il dan kasrah pada lam. Fi’ilnya mabni lil maf’ul. Maksudnya adalah apa yang tertutup. la diambil dari kata (أَغْلَقَ الْبَابَ وَنَحْوَهُ إِذَا أَقْفَلَهُ) [Menutup pintu dan semacamnya apabila itu ditutup] yaitu: lawan kata (فَتَحَ) [buka]. Inilah makna secara hakikinya, akan tetapi kata ini lebih sering digunakan pada perkara yang sulit dan pelik, dimana perkiraan maknanya adalah yang menutup kenabian dan risalah.

Redaksi, (وَالْخَاتِمِ) [dan penutup]; huruf waw sebagai athaf, sedangkan kata (الْخَاتِمِ) ma’thuf pada kata (الفَاتِحِ), dimana kata (الْخَاتِمِ) merupakan sifat kedua untuk Nabi Saw. Kata (ال) maushulah, sama seperti sebelumnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَا كَا نَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَا لِكُمْ وَلٰـكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَا تَمَ النَّبِيّٖنَ  ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
maa kaana muhammadun abaaa ahadim mir rijaalikum wa laakir rosuulallohi wa khootaman-nabiyyiin, wa kaanallohu bikulli syai-in ‘aliimaa

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 40)

Redaksi, (لِمَا)[yang]; ia jar majrur yang masih berkaitan dengan kata (الْخَاتِمِ).

Redaksi, (سَبَقَ) [yang telah lampau]; merupakan fi’il madhi dengan dhamir mustatir sebagai fa ‘il yang kembali pada huruf (مَا), maksudnya (مَا سَبَقَ مِنَ النُّبُوَّةِ وَالرِّسَالَةِ) yang telah lampau dari sisi kenabian dan risalah). Beliaulah penutup para nabi dan rasul.

Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوْفُوْنَ بِهِ وَيَعْجَبُوْنَ لَهُ وَيَقُوْلُوْنَ : هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ: فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ

“Sungguh perumpamaanku dan juga perumpamaan para nabi sebelumku seperti lelaki yang membuat sebuah bangunan, ia memperbagusnya kecuali satu tempat batu bata di salah satu pojok bangunan. Orang-orang mengeliling dan kagum dengan bangunan itu, tetapi ada yang mengatakan, “Mengapa tidak ditaruh batu bata? Akulah batu bata itu dan akulah penutup para nabi.”

Diriwayatkan dari Jabir, di dalamnya disebutkan:

جِئْتُ فَحَتَمْتُ الْأَنْبِيَاءَ

“Aku datang maka akulah yang menutup pada nabi.”

Redaksi, (نَاصِرِ)[penolong]; isim fa’il, ini merupakan sifat ketiga untuk Nabi Saw. Redaksi ini merupakan athaf bayan atas kata tersebut dan juga untuk setiap hal. la majrur dengan wujud kasrah yang nampak di bawah huruf (رِ). Maksudnya adalah sungguh Allah menolong agama Islam dengan (keberadaan) beliau, sehingga mataharipun bersinar setelah tenggelam dan nampak bersinar terang seperti waktu siang nan muncul setelah menghilang.; dimana kata (نَاصِرِ) adalah mudhaf.

Redaksi, (الحَقِّ) [kebenaran]; mudhaf ilaihi dari kata sebelumnya; ia majrur dengan kasrah yang nampak jelas di bawah huruf (قِ).

Redaksi, (بِالحَقِّ) [dengan kebenaran]; jar majrur yang masih berkaitan dengan kata (نَاصِرِ).

Redaksi, (وَالْهَادِى)[penolong]; huruf waw adalah huruf athaf, sedangkan kata (الْهَادِى) adalah ma’thuf atas (الْفَاتِحِ) dan (الْخَاتِمِ) dengan ragam athaf yang berbeda, oleh karena itu redaksinya terulang, dimana setiap dari sifat yang ada, ia di-ma’thufkan kepada sifat sebelumnya dan juga pada sifat yang pertama (الفَاتِحِ).

Redaksi, (إِلَى صِرَاطِكَ) [pada jalanmu]; jar majrur yang masih berkaitan dengan kata (بِالْهَادِى). Kata (صِرَاطِ) mudhaf dimana huruf (كَ) adalah mudhaf ilaihi dari kata sebelumnya.

Redaksi, (الْمُسْتَقِيمِ) [yang lurus]; ia adalah sifat dari kata (صِرَاطِكَ) yang tujuannya untuk mensifati kata tersebut. la jar majrur dengan harakat kasrah yang tertulis jelas di bawah huruf mim.

Redaksi, (وَعَلَى اٰلِهِ) [dan atas keluarganya]; waw disini adalah huruf athaf. Kata ‘Ala berhuruf jar dan kata (ال) majrur dengan kata sebelumnya. Ia pun ma thuf kepada kata (سَيِّدِ) di awal. Aku katakan di sini, bahwa ia adalah huruf jar, hal ini bertujuan untuk menjawab anggapan orang syi’ah yang mengira bahwa kata (ال) itu tidak bisa dipisahkan dengan huruf (عَلَى) dimana ia adalah mudhaf. Sedangkan huruf (هِ) pada posisi jar ia adalah mudhaf ilaih kata sebelumnya yang kembali pada Muhammad.

Redaksi, (حَقَّ) [sebenar-benar]; ia manshub sebagai wakil dari bentuk mashdar nau’i, yang maksudnya adalah shalawat yang memiliki hak sama dan cocok. Kata (حَقَّ) juga sebagai mudhaf.

Redaksi, (قَدْرِهِ) [kekuasaan]; ia adalah mashdar dan mudhaf ilaih dari kata sebelumnya. Ia pun juga sebagai mudhaf, dan huruf (ھ) pada posisi jar, ia adalah mudhaf ilaihi dari kata sebelumnya.

Redaksi, (وَمِقْدَارِهِ) [ukuran-Nya]; Huruf waw adalah huruf athaf, pada posisiya diperkirakan sebagai ma thuf pada kata (قَدْرِهِ), dimana ia adalah mudhaf. Huruf (هـ) pada posisi jar, ia adalah mudhaf ilaihi dari kata sebelumnya. Maknanya adalah bahwa ukuran-Nya Allah itu telah pasti untuk beliau Saw.

Redaksi, (العَظِيْمِ) [yang agung]; ia merupakan sifat dari (مِقْدَارِهِ), apun mengikuti posisi jar dengan simbol kasrah yang nampak jelas dibawah huruf (م), dimana ini juga merupakan salah satu nama Allah Swt, yang maknanya adalah yang agung, Dzat yang keutamaan dan nikmat-Nya senantiasa ada untuk semua makhluk, sebagai bentuk pemuliaan dan kedermawanan-Nya.

-Semoga Allah jadikan surga Firdaus sebagai tempat kita, yang bersanding dengan penghulu anak keturunannya Adnan.-

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS SHALAWAT FATIH (AZ-ZUHRUL FA`IH FI FADHLI SHALATIL FATIH) SAYYIDI MUHAMMAD BIN MUHAMMAD BIN AL HASAN IBNU ‘ABDILLAH AL FASI AT-TIJANY