You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

I’rab Shalawat Fatih

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – I’rab Shalawat Fatih

Bab ini dibuat bertujuan agar tidak ada lagi orang yang salah dalam membaca shalawat fatih, sebab dengan pembacaan yang benar, Allah Swt akan mengangkat derajatnya; Allah siapkan pahala bagi orang yang membacanya; Allah menerima dan menjawab do’anya; sehingga iapun mendapatkan apa yang ia pinta dan ia suka, bagaimana tidak, Nabi Saw pernah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ الدُّعَاءَ الْمَلْحُوْنَ

“Sungguh Allah tidak menerima do’a yang gramatikalnya salah.” Sehingga sebagian ulama ada yang menyenandungkan sya’ir:

يُنَاجِي رَبَّهُ بِاللَّحْنِ لَيْثٌ # لِذَاكَ إِذَا دُعَاءَهُ لَا يُجَابُ

“Orang yang lancar bicara bermunajat pada Rabbnya dengan lahn # untuk itu wajar jika do’anya tidak diijabah.”

Al Baihaqi meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulallah Saw bersabda,

أَعْرِبُوا الْقُرْآنَ وَالْتَمِسُوْا غَرَائِبَهُ

“I’rabkanlah Al Qur’an dan carilah ragam keanehannya.”

As-Suyuthi menukil dalam Al Itqân: Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri, ia berkata: Tidaklah wahyu itu diturunkan kecuali dengan berbahasa Arab kemudian setiap nabi menerjemahkannya pada kaumnya.”

Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa shalawat fatih ini bagian dari kalamullah. Sebagaimana dikabarkan oleh sebagian orang yang ‘Arifbillah; ia seperti hadits qudsi; yaitu yang semisal dengan Al Qur’an. Semoga Allah karuniakan keberkahan pada hari Kiamat.-

Redaksi, (اللَّهُمَّ) [Ya Allah]. Asalnya adalah ya Allah, dimana huruf ya sebagai simbol untuk memanggil dalam kata (يا اللّٰه) dihilangkan kemudian digantikan dengan huruf mim di akhir, sehingga menjadi اللَّهُمَّ. Inilah yang kebanyakan dipakai untuk memanggil nama Allah dalam do’a.

Redaksi, اللَّهُمَّ merupakan huruf munada (untuk memanggil), yang mabni secara jelas dengan wujud dhammah diakhir huruf ha, posisinya bertempat pada nashab, yaitu dengan menghilangkan huruf nida (يا) dan menggantikannya dengan huruf mim. Ia pun bisa dikatakan mabni dengan wujud dhammah yang diperkirakan pada mim (مَّ) sebab seolah-olah ia menjadi bagian dari itu; maksudnya fi’il yang harakat mabninya pada huruf mim, seperti harakat pada i’rab huruf ha (اللّٰهُ) dalam banyak wazan yang menunjukkan huruf pengganti, dikembalikan pada wajah awalnya. Perbedaannya adalah bahwa penggantian huruf pada beberapa wazan dari sebagian kalimat, maka huruf Ha itu menjadi bagian dari kata itu sendiri dan ini sisi yang kuat dalam ilmu kebahasaan. Pada kata (اللّٰهُ), ketika posisinya sendiri, maka seolah-olah huruf mim itu bagian atau sebagian sisi yang kuat untuk kata tersebut. Inilah yang dikemukakan oleh Ash-Shabban.

Al Asymuni dalam madzhab ahli Kufah menyebutkan bahwa huruf mim pada kata (اللَّهُمَّ) merupakan sisa kata yang dihapus; yang maknanya adalah (أَمَّنَا); yaitu (أَقْصُدْنَا بِخَيْرٍ)tujukanlah kami pada kebaikan), dan itu bukan pengganti dari huruf nida`.

Aku katakan: Madzhab Kufi inilah yang benar bagi kalangan sufi dalam semua dzikiran dan do’a-do’a, sebab mereka memaknai kata (اللَّهُمْ) dengan makna “Ya Allah kabulkanlah untuk kami!.”

Sayyidi Al Mahdi Al Fasi menukil pernyataan Al Kharubi; bahwa maknanya adalah sikap tawajjuh-nya seseorang akan sesuatu yang dipinta dan permohonan untuk bisa menggapai yang diinginkan dengan cara ber-tawassul dengan isim a’zham yang jika seorang hamba berdo’a dengannya Allah akan ijabah dan jika seorang hamba meminta pada-Nya dengan perantaranya, maka akan diberikan yang dia pinta. Kemudian beliau mengatakan, “Bisa jadi huruf mim menggantikan huruf nida pada lafazh jalalah (اللّٰهُ) mengindikasikan kuatnya keinginan dan kuatnya tekad. Mayoritas Isim a’zham ini biasa diletakkan pada awal do’a, karena lafazh tersebut mampu menghimpun semua makna nama-nama Allah, dimana lafazh (اللّٰهُ) itu adalah kata aslinya.

Redaksi, (صَلِّ) [Bershalawatlah]; ini merupakan fi’il amr (kata kerja perintah) yang tanda i’rab-nya berupa jazm; dengan cara menghilangkan huruf akhirnya (صَلَّى) dimana ia di-mabnikan pada apa yang membuat fi’il mudhari-nya jazm.

Redaksi, عَلَى [atas]; huruf ini merupakan huruf jar yang masih berkaitan dengan kata (صَلِّ), yang makna masyhur-nya adalah untuk menunjukkan posisi tinggi (isti’la); ada yang hakiki seperti kata (صَعِدَتْ عَلَى الْمِنْبَرِ) [naik ke atas mimbar] dan ada juga yang majazi seperti kata (عَلَى سَيِّدِنَا) [atas penghulu kami].

Redaksi, (سَيِّدِنَا) [penghulu kami]; kata ini majrur (berharakat kasrah). Asalnya adalah kata (سَيْوْدِ), dimana huruf waw dibalik menjadi huruf ya dan huruf ya di idgham-kan sehingga menjadi kata (سَيِّدِ). Redaksi sayyid memiliki beberapa makna yang insya Allah akan dijelaskan pada bab IV.

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS SHALAWAT FATIH (AZ-ZUHRUL FA`IH FI FADHLI SHALATIL FATIH) SAYYIDI MUHAMMAD BIN MUHAMMAD BIN AL HASAN IBNU ‘ABDILLAH AL FASI AT-TIJANY