
Elsubha.com – Keutamaan Shalawat Fatih : Ulasan Pelengkap Ketiga
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan: “Sepulang dari ibadah haji, dalam perjalanan menuju Tilimsan, aku sibuk membaca shalawat fatih lantaran aku melihat keutamaannya; bahwa satu kali bacaan shalawat fatih senilai 600.000 shalawat sebagaimana dalam wirid Juyub.”
Pengarang Al Wardah menyebutkan bahwa pemiliknya adalah Sayyidi Muhammad Al Bakri Ash-Shiddiqi, pendatang kota Mesir, beliau adalah seorang wali quthub, beliau berkata: “Barangsiapa yang membacanya satu kali dan dia masuk neraka, ia bisa menangkapku di hadapan Allah.” Akupun masih berdzikir dengannya hingga aku pergi dari Tilimsan ke Abu Samghun. Ketika aku melihat ada shalawat yang ketika dibaca satu kali berpahala 70.000 meng-khatam-kan dala ilul khairat aku tinggalkan shalawat fatih dan aku sibukkan diriku dengannya; yaitu redaksi:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ صَلَاةً تَعْدِلُ جَمِيعَ صَلَوَاتِ أَهْلِ مَحَبَّتِكَ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ سَلَامًا يَعْدِلُ سَلَامُهُمْ
“Ya Allah, semoga rahmat selalu tercurahkan atas penghulu kami Muhammad dan juga atas keluarganya, dengan shalawat (rahmat) yang setara dengan semua shalawat orang-orang yang mencintai-Mu, begitu juga (semoga) keselamatan selalu tercurah atas penghulu kami, Muhammad dan juga atas keluarganya, dengan salam yang setara dengan semua salam mereka (orang-orang yang mencintai-Mu).”
Aku amalkan itu lantaran banyaknya keutamaan, namun kemudian Nabi Saw memerintahkanku untuk kembali pada shalawat fatih. Ketika beliau Saw memerintahkanku untuk kembali pada shalawat fatih, akupun bertanya kepada beliau Saw tantang keutamaannya, maka beliau Saw menjawab, bahwa satu kali bacaan shalawat fatih setara dengan bacaan Al Qur’an sebanyak enam kali. Kamudian beliau Saw juga mengabarkan, bahwa satu kali bacaan dari shalawat fatih setara dengan setiap bacaan tasbih yang ada di alam ini, juga setara dengan setiap dzikiran yang terucap, setiap do’a yang terpanjatkan dari orang dewasa maupun anak kecil dan juga dari bacaan Al Qur’an sebanyak 600.000 kali, sebab bacaan Al Qur’an bagian dzikiran.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra juga pernah mengatakan dalam Al Ifadah Al Ahmadiyyah, “Orang yang tidak yakin bahwa shalawat fatih bagian dari kalamullah, maka tidak sah pula pahala yang telah disebutkan baginya.”
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra juga pernah mengatakan dalam Jawahirul Ma’ani, “Terkait dengan kadar agungnya shalawat fatih, maka satu kali bacaan shalawat fatih pahalanya setara dengan ibadah selama 128 tahun; bagi orang yang tenggelam dalam shalawat fatih, dengan hitungan setiap sehari semalam ia membacanya sebanyak 10.000.” Syaikh Ali Harazim Ra berkata pada beliau Ra, “Apakah ini dilihat dengan orang yang berdzikir bersamamu?” beliau Ra menjawab, “lya. Karena kami telah diberi kabar bahwa selagi ia berdzikir, maka akan ada 70.000 malaikat yang ikut berdzikir bersamanya, dimana satu kali dzikiran malaikat itu akan dilipatgandakan 1.000 kali, dimana pahala semua dzikiran para malaikat itu untuk tuan kami; Nabi Muhammad Saw sebagai sebuah kemuliaan dari Allah untuk beliau, hal ini sesuai dengan keutamaan syaikh, tuan dan guru kita; Sayyidi Ahmad At-Tijany Ra dari para sahabatnya, maka setiap orang yang berdzikir dari mereka (sahabat Sayyidi Syaikh Ra), maka akan ada 70.000 malaikat yang ikut berdzikir bersama mereka sebagai bentuk keutamaan, rahmat dan pemberian serta bentuk pemuliaan dari Allah Swt.”
Akupun (Syaikh Ali Harazim Ra) pernah bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Apakah kondisi Sayyidi wujud setelah kematian sama seperti ketika beliau Saw masih hidup?” Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menjawab dengan redaksi berikut: Perkara umum yang beliau Saw datangkan untuk umat maka itu berakhir dengan wafatnya beliau Saw, yang tersisa adalah perkara khusus yang diterima oleh orang khusus, dimana ini akan terus terjalin; baik dalam kondisi beliau Saw masih hidup maupun sesudah wafat dan tidak pernah terputus. Juga shalawat fatih merupakan amalan dan ibadah yang paling utama, paling utamanya semua sisi kebaikan secara umum dan mutlak, paling utamanya segala sisi dan tempat serta amalan lainnya, kecuali dairatu ihathah saja; artinya berdzikir dengan itu keutamaannya lebih banyak daripada shalawat fatih.
Andai engkau katakan: Bisa jadi muncul orang-orang yang hanya memiliki sedikit ilmu tantang luasnya keutamaan dan kemurahan Allah Swt dan mengatakan: “Jika memang yang dikatakan itu benar dan itu seperti yang baginda katakan, maka sibuknya kita dengan shalawat fatih itu lebih utama dari segala dzikiran termasuk bacaan Al Qur`an?” Maka Sayyidi Syaikh Ra menjawab, “Membaca Al Qur’an itu lebih utama, sebab itulah yang dipinta oleh syari’at lantaran keutamaan yang banyak disebutkan tentangnya, dimana iapun dasar daripada syari’at dan sisi mu’amalah ilahiyyah, dan juga lantaran meninggalkannya (tidak membacanya) akan mendapatkan adzab yang pedih, dengan demikian maka Al Qur’an tidak boleh untuk tidak dibaca. Sedangkan mengenai keutamaan shalawat fatih yang sedang kita bicarakan ini, maka itu masuk ke dalam perkara yang diberikan kebebasan untuk memilihnya, ia tidak mengapa ditinggalkan (tidak seperti Al Qur’an). Kedua, bab ini bukanlah tempat untuk meneliti dan berdebat, akan tetapi ini adalah bagian dari ragam amal perbuatan yang utama dilakukan (fadhail a’mâl, dimana engkau bisa memilih fadhoil a’mal mana yang ingin kau amalkan tanpa perlu lagi berdebat tentangnya.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menjawab orang yang menentang keutamaan shalawat fatih dengan mengatakan, “Tiada pertentangan antara ini dan apa yang diriwayatkan dari keutamaan Al Qur’an, sebab baik Al Qur’an dan kalimat musyarrafah (La ilaha illalah) kautamaannya umum, sementara shalawat fatih memiliki keutaman khusus, sehingga tidak ada pertentangan pada keduanya, sebab Nabi Saw menyampaikan ragan hukum umum untuk orang umum dalam kehiduan beliau; maksudnya adalah jika beliau Saw mengharamkan sesuatu, maka pengharaman itu untuk semuanya, apabila beliau Saw pun mewajibkan sesuatu, maka itu pun untuk semuanya, beginilah semua hukum syari’at yang nampak.
Bersamaan dengan itu, Nabi Saw juga menyampaikan hukum khusus untuk orang khusus, beliau Saw pernah mengkhususkan sebagian perkara khusus untuk sebagian sahabat beliau dan bukan untuk sahabat yang lainnya, dan inipun banyak sekali terdapat dalam khabar beliau Saw. Ketika beliau Saw wafat, maka kondisi beliau Saw seperti semasa beliau Saw hidup di dunia, yaitu menyampaikan perkara khusus untuk oang khusus dan ini tidak ada kaitannya dengan perkara umum untuk orang secara umum, sebab hal itu terputus dengan wafatnya beliau Saw dan tersisa adalah kucuran perkara khusus untuk orang khusus. Orang yang berprasangka bahwa semua madad beliau Saw terputus dengan wafatnya beliau, seperti orang lain secara umum, maka ia tidak mengerti dengan martabat Nabi Saw dan telah beradab buruk serta ditakutkan jika ia meninggal dunia dalam kondisi kafir jika ia tidak bertobat dari keyakinannya itu.
Akupun berkata kepada Sayyidi Syaikh Ra, “Apakah Sayyidil wujud Saw mengetahui keutamaan shalawat fatih yang terakhir ini pada waktunya (sebelum beliau Saw wafat)?” Beliau Ra menjawab, “Iya, beliau tahu itu.” Aku menimpali, “Lantas mengapa beliau Saw tidak menyebutkan itu kepada para sahabat beliau yang lain, jika di dalamnya terdapat ragam kebaikan yang sangat banyak? Sayyidi Syaikh Ra menjawab, “Ada dua perkara yang melarang beliau Saw untuk itu; Pertama, beliau tahu waktu pengabarannya diakhirkan dan pada saat itu tidak ada sosok yang Allah tampakkan itu pada waktu tersebut. Kedua, jikalau Nabi Saw menyebutkannya kepada mereka keutamaan yang besar dengan amalan yang sedikit, maka para sahabat beliau akan memintanya langsung kepada beliau Saw lantaran mereka haus akan ragam amal kebaikan, namun memang belum ada sosok yang nampak pada waktu itu, oleh karena itu beliau Saw tidak menyebutkannya kepada mereka. Dan juga ketika Allah Swt mengetahui lemahnya penduduk zaman ini dan ragam kerusakan yang terjadi, maka Allahpun berikan kepada mereka kebaikan yang banyak dari amalan yang sedikit. Allah Swt mengkhususkan rahmat-Nya bagi siapa saja yang Dia kehendaki pada waktu yang Dia kehendaki. Tidak pula bisa dikatakan bahwa khabar-nya Nabi Saw setelah wafatnya beliau itu tidak sama dengan khabar-nya beliau Saw semasa hidup, sebab keduanya sama terkecuali pada perkara keutamaan sesuatu, seperti yang telah disebutkan diatas; yaitu perkara umum untuk semua orang secara umum dan perkara khusus untuk orang yang khusus juga.”
Akupun menimpali Sayyidi Syaikh Ra, “Dari paparan yang telah disebutkan diatas, bahwa pemilik shalawat ini telah menyebutkan, bahwa shalawat fatih itu memiliki keutamaan yang lebih banyak dari semua yang telah disebutkan bagi hamba Allah yang mukmin, lantaran semua shalawat mereka pada Nabi Saw dan semua dzikiran dan wiridan mereka dilipatgandakan seperti sebelumnya yaitu terkait shalawat fatih.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menjawab, “Itu seperti yang engkau sebutkan terkait pelipatgandaan amalan untuk pengamalnya, akan tetapi setiap orang dari sahabat Nabi Saw; merekalah yang telah menyampaikan ajaran agama tertulis pada lembaran catatan mereka semua amalan orang setelah mereka, sejak itu hingga akhir umat ini. Apabila engkau telah paham ini, maka generasi yang datang setelah mereka tidak lagi bisa tamak akan keutamaan martabat sahabat nabi meski ia termasuk orang yang memperoleh keutaman Allah Swt.”
Kemudian Sayyidi Syaikh Ra membuat perumpamaan amalan sahabat dengan amalan generasi lainnya seraya berkata: Amalan kita dibandingkan dengan amalan mereka para sahabat Nabi, seperti lambatnya jalan semut dengan cepatnya burung qutho. Benarlah perumpamaan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dengan apa yang beliau perumpamakan, sebab para sahabat nabi telah dahulu bersahabat dengan Nabi Muhammad Saw. Nabi Saw pernah bersabda tentang mereka:
إِنَّ اللَّهَ اخْتَارَ أَصْحَابِي عَلَى الْعَالَمِينَ سِوَى النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ
“Sesungguhnya Allah Swt telah memilih para sahabatku dari yang lain di alam semesta ini, selain para nabi dan para rasul utusan Allah.
Beliau juga pernah bersabda lainnya,
لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Jikapun salah seorang dari kalian berinfaq dengan emas sebesar bukit Uhud, maka itu tidak akan dapat menyamai infaq mereka (para sahabat Nabi) meski hanya satu mud ataupun setengahnya.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menyebutkan sisi lain untuk menjelaskan pemilik ragam martabat dengan mengatakan: “Ragam pahala yang telah disebutkan sebelumnya itu lantaran kekhususan sebagian dzikiran, sebagaimana yang telah kami suguhkan bagi setiap orang yang biasa melakukan suatu amal. Jika dengan dzikirannya ia mendapatkan sepuluh kebaikan, atau seratus, atau seribu, atau lebih banyak dari itu, maka inilah yang membuat pahalanya itu dilipatgandakan lantaran kekhususan, seperti kekhususan shalawat fatih, ini bagi orang yang tidak memiliki martabat. Sementara mereka (orang yang memiliki suatu martabat) di sisi Allah, amalan mereka dilipatgandakan sesuai martabat yang mereka miliki, maka martabat risalah tidak sama dengan martabat kenabian, martabat Shiddiqiyyah pun tidak sama dengan martabat kenabian, dimana qiyas tidak bisa digunakan dalam hal ini. Sedangkan jika dilihat kepada perkara yang dominan dan juga kepada semuanya, maka tidak ada perbedaannya, oleh karena itu Jibril As berkata kepada Nabi Saw, sungguh Umar satu dari ragam kebaikannya Abu Bakar, Beliau bersabda, “Jikalau aku ceritakan pada kalian ragam keutamaan Umar seukuran umur dunia, maka akupun tidak bisa menyelesaikan cerita itu, baik dengan bentuk amalan yang sama atau amalan yang mendekati itu. Akan tetapi keunggulan itu adalah karena paling dahulunya bersahabat dengan Nabi Saw dan bukan karena amalan yang dilakukan semata. Oleh karena itu, Nabi Saw bersabda,
مَا فَضَّلَكُمْ أَبُوْ بُكْرٍ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي صَدْرِهِ
“Keutamaan Abu Bakar atas kalian bukanlah karena banyaknya puasa ataupun banyaknya shalat, akan tetapi karena adanya sesuatu detikan yang mantap dalam dadanya.
Syaikh Ali Harazim Ra pernah mendengar Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menyebutkan perbedaan tingkatan para wali dalam amalan dan pahala yang mereka dapat, beliau Ra berkata, “Diantara mereka ada yang kesehariannya seperti orang biasa pada umumnya, ada diantara mereka yang kesehariannya seperti malam lailatul qadar, ada pula diantara mereka yang kesehariannya seperti seribu tahun, ada diantara mereka yang kesehariannya seperti malam mi’raj nya Nabi Saw; senilai 50.000 tahun.” Akupun berkata kepada beliau Ra, “Perkara ini pada satu amalan yang sama atau pada pelipatgandaan pahala?” Beliau Ra menjawab, “Diantara mereka ada yang beramal seperti amalan orang lain secara umum pada waktu tertentu; ia mengerjakannya pada satu hari misalnya, diantara mereka pun ada yang pahala amalannya itu adalah satu hari, sebagaimana ketika ia mengerjakan suatu amalan itu pada suatu waktu.” (Dikutip dari Jawahirul Ma’ani).
