You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Biografi Sayyidi Muhammad Ibnu al ‘Araby Ad-Damrawy Ra

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Biografi Sayyidi Muhammad Ibnu al ‘Araby Ad-Damrawy Ra

Beliau adalah wali besar, seorang Arifbillah yang terkenal, beliau memiliki beragam karomah yang nampak jelas, sahabat khusus Sayyidi Ahmad at-Tijany Ra, sang perantara antara Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra dengan Rasulillah Saw; beliau adalah Abu Abdillah Sayyidi Muhammad Ibnu al ‘Araby Ad-Damrawy Ra. Allah muliakan beliau dengan kemampuan yang bisa berjumpa dengan Rasulullah Saw, bahkan Sayyidi Ahmad al ‘Abdalawi Ra mengatakan bahwa Sayyidi Ad-Damrawy Ra dalam sehari bisa berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw sebanyak 24 kali. Oleh karena itu, terkadang Sayyidi Syaikh Ra pun pergi ke rumah beliau kala ada hajat untuk ditanyakan kepada Nabi Saw.

Sejak belia, beliau termasuk orang yang lekat dengan ilmu supranatural, hikmah dan wafaq sebelum bertemu dengan Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra, beliau berguru pada Bul bin ‘Azuz yang digambarkan oleh Syaikh Ahmad at-Tijany Ra dari Nabi Saw bahwa ia adalah syaithan umat ini. Setelah Sayyidi Ad-Damrawy Ra bertemu dengan Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra dan melihat langsung karomah yang Sayyidi Syaikh Ra, beliaupun minta diberikan izin thariqah Sayyidi Syaikh Ra. Maka Sayyidi Syaikh Ra pun mengabulkan permintaan itu lantaran wasiat dari Nabi Saw terhadap beliau dan Sayyidi Syaikh Ra sejak itu memintanya meninggalkan yang sudah ia pelajari dan lakukan terdahulu jika ingin mendapatkan futuh dan dengan kepatuhan beliau inilah akhirnya membuahkan hasil futuh akbar. Sejak inilah beliau menjadi sahabat khusus Sayyidi Syaikh Ra hingga beliau wafat.

Banyak hal mulia yang ada pada diri beliau, tapi cukuplah bahwa Nabi Saw secara jelas menyatakan cinta pada beliau dalam sabda, “Jika bukan lantaran kecintaanmu pada at-Tijany, maka engkaupun tidak bisa melihatku.” Pada sisi lain, beliau pun meninggalkan meninggalkan amalan yang beliau langsung ambil ijazahnya dari nabi Saw, yaitu Hizib Daur al Anwar, Beliau juga memiliki karya lainnya, yaitu Sholawat Yaqutat al Muhtaj fi ash-Sholati ‘ala Shahib al Mi’raj, dimana karya yang terakhir ini ditulis oleh beliau hanya dalam waktu tiga hari, kala itu usia beliau masih muda dan belum pernah belajar khusus ilmu kebahasaan, ini menunjukkan bahwa sholawat itu seolah datang dari ilhamnya Allah Swt.

Karomah yang pernah nampak pada beliau seperti halnya yang diceritakan oleh Sayyidi Ahmad al ‘Abdalawy Ra, bahwa seketika beliau menjalankan perintah Sayyidi Syaikh Ra untuk pergi ke suatu tampat, di tengah perjalanan kuda yang beliau naiki mati, maka seketika itulah beliau memerintahkan ruhaniyyun untuk masuk ke dalam tubuh kuda, kuda itupun kembali hidup dan mampu membawanya ke Abu Samghun. Sesampainya di Abu Samghun, kuda itupun langsung jatuh dan langusng mengeluarkan belatung.

Karomah beliau lainnya pun pernah diceritakan oleh Sayyidi Muhammad al Habib -putra Sayyidi Syaikh Syaikh Ra-, bahwa di Ainu Madhi, ketika itu istri Sayyidi ad-Damrawy Ra ingin madu, yang mana kala itupun bukan musimnya, beliau minta maaf tidak bisa memberikannya, namun sang istri tidak peduli, yang pasti dia ingin madu seketika itu, hingga Sayyidi Ad-Damrawy Ra berkata, “Engkau keluar ke emperan rumah, sungguh Sayyidi Ahmad at-Tijany Ra telah mengirimkannya untukmu.” Seketika itu sang istri pun keluar dan ia mendapati ada kantong yang terpenuhi dengan madu.

Beliau wafat pada tahun 1214 M dan dikebumikan di ‘Ainu Madhi, kini makam beliaupun ramai diziarahi. Selepas beliau wafat, maka yang menempati posisi beliau kemudian adalah Sayyidi ‘Ali Harazim. Diantara salah satu nasehat beliau adalah

كُلُّ مَنِ اشْتَغَلَ بِالْخَوَارِقِ وَالدِّعَاءِ عَلَى النَّاسِ قَبْلَ الْكَمَالِ، لَمْ يَبْلُغْ دَرَجَاتَ الرِّجَالِ

“Siapapun orang yang menyibukkan diri dengan menampakkan ragam hal diluar nalar manusia dan mengaku-ngaku memilikinya pada orang lain sebelum ajek pada kesempurnaan diri, maka sejatinya ia belum sampai pada derajat rijal-Nya Allah.”

Sumber : BUKU YAQUTAT AL MUHTAJ (YAQUTAT AL MUHTAJ FI ASH-SHALATI ‘ALA SHAHIB AL MI’RAJ) SYAIKH MUHAMMAD IBNU AL ‘ARABY AD-DAMRAWY AT-TIJANY