
Elsubha.com – Menyelami Makna Khatmiyyah dan Wilayah
Dalam Safinah, Ar-Raghib mengutip perkataan seputar kewalian dan wali khatam dalam bahasa Persia, ia menyenandungkan sya’ir:
أَنَا خَتْمُ الْوِلَايَةِ دُوْنَ شَكٍّ # بِوَرِثِ الْهَاشِمِيِّ مَعَ الْمَسِيحِ
“Tanpa ragu akulah penutup wali # dengan warisan al Hasyimi bersama al Masih.”
Ada akidah Syaikh Akbar Muhyiddin Ibnu Araby yang akan kami (penulis) nukilkan di sini dan kami pun sudah sebutkan dalam al Kaukab al Wahhaj, redaksinya sebagai berikut: “Ketahuilah bahwa ragam pangkat seperti kenabian, risalah, kewalian, khilafah, wali quthub, wali ghauts dan lain sebagainya telah ada dalam hakekat al Muhammadiyyah, Pertama, hakekat ini dimutlakkan pada ruhnya Nabi Muhammad Saw secara global, kemudian secara terperinci pada unsur tanah kelahiran beliau Saw.
Para ulama telah sepakat, bahwa setiap nama dari nama-nama Allah Swt memiliki hakekat keilmuan dan ini disebut sebagai inti yang tetap keberadaannya, inti inilah yang disebut sebagai wujud inti, dimana setiap nana Allah Swt ada mazhar (wujud penampakannya).
Para ulama juga sepakat bahwa Nabi Muhammad Saw sebagai mazhar (penampakan) dari nama Allah al Jami’ (yang mengandung segalanya), sehingga beliau menjadi bagian dari sisi Rububiyah-Nya Allah Swt bagi seluruh alam semesta yang ada, beliau memiliki sisi zhahir dan bathin bagi alam ini. Sesuai dengan sisi zhahir-nya, beliau mengayomi alam ini (dengan kemampuan yang diberi oleh Allah Swt), sebagaimana dengan sisi bathin nya, beliau juga mengayomi sisi bathin alam ini. Beliau memiliki sisi dimana bisa mengayomi seluruh alam ini (dengan kemampuan yang diberi oleh Allah Swt). Oleh karena itu, beliau (Nabi Muhammad Saw) dikhususkan dengan surah al Fâtihah, karena kekhususan tersebut bersumber dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
al-hamdu lillaahi robbil-‘aalamiin
“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 2)
Beliau Saw adalah titik pertemuan dua samudera (samudera zhahir dan samudera bathin), beliau Saw lah pemilik maqam khilafah, pemilik maqam quthbaniyyah, maqam nubuwwah, maqam risalah dan sisi kewalian yang sempurna dari Allah Swt.
Ini merupakan bentuk perhatian dari Allah Swt untuk Nabi Muhammad Saw, agar beliau menjadi barzakh antara Allah dan makhluk. Ketika perhatian Allah Swt ini harus berjalan terus menerus dan berlaku pada setiap zaman, maka Allah tampakkan dari sisi Nur al Muhammady berupa gambaran para nabi As, hal ini bertujuan agar syari’at nampak pada setiap zaman sesuai dengan hikmah Allah Swt. Dengan demikian, maka khalifah sejatinya hanya ada satu jika dilihat dari sisi sumbernya, meskipun mazhar (penampakannya) banyak. Kepada hal tersebut diisyaratkan dengan perkataan, “Ragam pangkat tersebut memiliki asalnya; yaitu Dzatnya Nabi Muhammad Saw dan cabangnya adalah para nabi dan utusan Allah dan wali.”
Nabi Muhammad Saw telah mendapat pangkat nabi, sementara nabi Adam As masih berada diantara air dan tanah, sebab ruh beliau Saw merupakan makhluk awal, sementara ruh makhluk lainnya berasal dari ruh beliau Saw. Beliau Saw telah mendapatkan pangkat nabi sejak dari unsur ruh, sedangkan para nabi lainnya mendapatkan pangkat kenabian ketika mereka diutus oleh Allah Swt. Kenabian selain Nabi Muhammad Saw merupakan satu dari ragam mazhar (penampakan) kenabian Nabi Muhammad Saw.
Ketika kondisi kewalian sama seperti kondisi kenabian, bahwa keberadaannya memiliki sisi asalnya; yaitu Nabi Muhammad Saw dan yang lain mengikuti beliau, maka begitu juga sisi kewalian; Nabi Muhammad Saw telah mendapatkan pangkat wali, sementara nabi Adam masih berada diantara air dan tanah. Atas dasar inilah semua pangkat tersebut berlaku.
Disaat permasalahan pangkat menjadi perbincangan hangat dikalangan orang yang sibuk mengkaji kitab Futûhât al Makkiyyah, ketika itupula maqam khatam al wilayah turut menjadi perbincangan. Disatu sisi ada yang menyebutkan maqam khatmiyyah ada pada nabi Isa As, pada sisi lain ada yang menyebutkan maqam khatmiyyah ada pada Muhammad al Mahdi. Dengan kata lain, tidak mungkin wali khatam itu banyak. Keutamaan sisi kewalian tidak nampak sampai munculnya wali khatam dan muncul lagi wali khatam yang banyak.
Sebenarnya Syaikh muhaqqiq akan memberikan penjelasan tentang dua hal; yang pertama tentang golongan wali; dan yang kedua, tentang jatah pangkat masing-masing wali Allah yang tertuang dalam perkataan beliau berikut: “Ketahuilah bahwa kewalian adalah sebuah ungkapan dari sisi bathin seseorang bersama Allah Swt. Kewalian ini terbagi menjadi dua bagian:
Bagian pertama, kewalian wujudiyyah yang mencakup semua makhluk. Setiap makhluk memiliki keterkaitan dengan hadhrah wujud yang mutlak (Allah Swt). Pada bagian ini, iblis juga disebut sebagai wali. Oleh karena itu, disaat Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا كْتُبْ لَـنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ اِنَّا هُدْنَاۤ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ عَذَا بِيْۤ اُصِيْبُ بِهٖ مَنْ اَشَآءُ ۚ وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۗ فَسَاَ كْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِاٰ يٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَ
waktub lana fii haazihid-dun-yaa hasanataw wa fil-aakhiroti innaa hudnaaa ilaiik, qoola ‘azaabiii ushiibu bihii man asyaaa, wa rohmatii wasi’at kulla syaii, fa sa-aktubuhaa lillaziina yattaquuna wa yu-tuunaz-zakaata wallaziina hum bi-aayaatinaa yu-minuun
“Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh, kami kembali (bertobat) kepada Engkau. (Allah) berfirman, “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku (Rahmat wujudiyah) meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 156),
Dimana ‘Aku’ adalah sesuatu itu. Kepadanyalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِ ۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
wa likulliw wij-hatun huwa muwalliihaa fastabiqul-khoiroot, aina maa takuunuu ya-ti bikumullohu jamii’aa, innalloha ‘alaa kulli syai-ing qodiir
“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 148)
Maka Allah adalah wali bagi semuanya, dan semua adalah walinya Allah. Sisi kewalian ini tidak pernah terputus selamanya, disaat kita mampu melihat alam ini dengan jelas, maka penisbatan alam ini pun tidak terpisah dari-Nya (Allah Swt).
Bagian kedua, satu dari ragam pangkat kewalian. Pangkat ini memiliki kekhususan di alam semesta, yang tidak dimiliki oleh semua makhluk. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
سَا بِقُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَآءِ وَ الْاَ رْضِ ۙ اُعِدَّتْ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا للّٰهِ وَرُسُلِهٖ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
saabiquuu ilaa maghfirotim mir robbikum wa jannatin ‘ardhuhaa ka’ardhis-samaaa-i wal-ardhi u’iddat lillaziina aamanuu billaahi wa rusulih, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim
“Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 21)
Pangkat kewalian ini terbagi menjadi empat macam:
(1). Kewalian umum; yang meliputi setiap orang yang tulus ikhlas mengatakan,
لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ
“Tiada Ilah yang patut disembah melainkan Allah”. Sisi bathin perkataan ini adalah adanya nilai keikhlasan diri dalam menghamba kepada Allah seraya ber-tawassul mengharap kucuran ilahiyyah dengan perantara Nabi Muhammad Saw.
(2). Kewalian Dzat Nabi Muhammad Saw. Dari sisi kelayakan, dzat beliau adalah hakekat al Muhammady, yang maqam-nya menafikan adanya maqam yang sama dengan yang dimiliki beliau, sehingga maqam beliau murni dan tidak ada batasan yang mampu menyelinap kedalamnya, kepada inilah Nabi Muhammad Saw pernah bersabda,
لِي مَعَ اللَّهِ وَقْتْ لَا يَسَعُنِي فِيْهِ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ وَلَا نَبِيُّ مُرْسَلٌ
“Aku punya waktu bersama Allah, yang mana malaikat muqarrabin dan juga nabi yang diutus oleh Allah tidak bisa nimbrung didalamnya.”
Nabi Muhammad Saw merupakan salah satu dari utusan Allah, sehingga diri beliau masuk ke dalam keumuman redaksi, tidak pula nabi yang diutus oleh Allah.
Andai dikatakan bahwa pada redaksi,
” لَا يَسَعُنِي ”
adalah dhamir mutakallim, maka itu mengharuskan adanya wujud dhamir tersebut; artinya para malaikat dan utusan Allah lainnya ada bersama Allah juga. Maka kami katakan: Redaksi yang menandakan sisi yang kondisinya terbalik tentu tidak membutuhkan adanya dhamir tersebut, terkecuali jika mengandung arti bahwa para malaikat dan juga para utusan Allah benar-benar ada kala itu, sebab tidak dibenarkan dalam pernyataan disebutkan, mereka ada bersama Nabi Saw kala itu namun dinafikan keberadaan bersama Allah pada waktu itu, pahamilah ini!.
Inilah sisi bathin dari hakekat al Muhammady, ia menyendiri lagi murni, sebagaimama telah dijelaskan bahwa ia adalah sisi bathin kenabian, dimana beliau adalah seorang nabi yang menjelaskan ragam hukum syari’at dan menampakkannya. Inilah maksud khusus dari pengutusan Nabi Muhammad Saw secara khusus, dimana kebenaran beliau tidak hanya berhenti pada sisi kenabian saja. Oleh karena itu, benarlah jika maqam ini ditutup oleh al Mahdi sebagaimana yang telah dijelaskan diatas.
(3). Sisi Bathin Risalah Nabi Muhammad Saw ditinjau bahwa diri beliau adalah seorang utusan Allah Swt, maka maksud dari, “Beliau Saw menutup satu dari sekian pangkat kewalian,” itu adalah sebuah ungkapan untuk menunjukkan sempurnanya kehadiran beliau, sehingga setelah beliau, tidak ada lagi yang memiliki pangkat tersebut.
Beliaupun memberikan catatan terkait dengan nukilan diatas;
Pertama, setelah beliau Saw tidak ada lagi yang muncul (dengan pangkat tersebut), sebagaimana pada penutup kenabian, penutup risalah juga ada pada Nabi Muhammad Saw.
Kedua, kemungkinan ada yang muncul kembali namun tidak dengan pangkat sebelumnya, hal ini terjadi dalam kewalian dzatiyyah Nabi Muhammad Saw. Sungguh meski muncul kembali, akan tetapi ia muncul dengan kemunculan yang sempurna, sebagaimana yang terjadi pada Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby yang muncul lalu menyebarkan konsep wahdatul wujud tanpa adanya penjelasan yang komprehensif. Tetapi Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby akan tetap muncul dikalangan para wali yang senantiasa ber-tawassul dengan perantara wali quthub alam semesta ini. Namun yang perlu dicatat, perkara inipun tidak menyebabkan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby lebih unggul dari wali yang lainnya, bahkan lebih baik perkara ini tidak disebarluaskan di kalangan wali Allah yang kamil, sebab kewalian sisi kenabian lebih dominan daripada kewalian sisi dzatiyyah, dimana kewalian sisi dzatiyyah sirna dibawah terangnya matahari kewalian sisi kenabian, ini adalah gambaran sempurnanya sisi seorang wali qurb dengan Nabi Muhammad Saw. Segalanya dipermudah sesuai dengan penciptaannya-.
Perkara ini juga sudah diisyaratkan dalam perkataan: “Ketika ragam pangkat (kewalian) berada pada Nabi Muhammad Saw, yang sirna dibawah sisi kenabian beliau Saw, sehingga hukum kewalian tidak nampak, sisi kenabian dan risalah pun telah ditutup oleh Nabi Muhammad Saw, maka yang tersisa adalah apa yang Allah kehendaki bagi umat Nabi Muhammad Saw; yaitu maqam khatam sebagai pangkat kewalian.
(4). Wali khatam. Pangkat wali khatam pertama dari sisi khalifah ada pada Ali Kw; sebagaimana pangkat kekhilafahan pada awal penciptaan ada nabi Adam As, sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a’lamu maa laa ta’lamuun
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)
Ketika dikatakan, bahwa titik sentral pembahasan kewaliannya adalah mendahulukan wali khatam khilafah daripada wali khatam jabatan, maka ini adalah pandangan yang sempit. Sebab, dalam khilafah itu ada makna risalah, sebagaimana Allah Swt tegaskan untuk nabi Dawud As dengan firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَ رْضِ فَا حْكُمْ بَيْنَ النَّا سِ بِا لْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَا بٌ شَدِيْدٌ بِۢمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَا بِ
yaa daawuudu innaa ja’alnaaka kholiifatang fil-ardhi fahkum bainan-naasi bil-haqqi wa laa tattabi’il-hawaa fa yudhillaka ‘ang sabiilillaah, innallaziina yadhilluuna ‘ang sabiilillaahi lahum ‘azaabung syadiidum bimaa nasuu yaumal-hisaab
“(Allah berfirman), “Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.””
(QS. Sad 38: Ayat 26)
Maksudnya adalah seorang utusan Allah Swt, maka seyogyanya itu bermakna sang penutup yang disusul penutup risalah lainnya. Jabatan imamah juga ada penutupnya, yang disusul selanjutnya oleh para keturunan nya. Maknanya adalah, bahwa sisi ke-imamah-an muncul pada anak keturunan yang bersangkutan, dimana hal ini tidak nampak pada yang lain selain dari mereka (keturunan yang bersangkutan). Hal inipun tidak menafikan jika ada penutup dari jalur lainnya.
Kemudian sisi wali khatam dzatiyyah, maksudnya sempurnanya penyebaran wahdatul wujud pada sosok Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby, lalu wali dari sisi kenabian ditutup oleh al Mahdi yang sudah dekat waktu kedatangannya, lalu risalah ditutup oleh nabi Isa As, selanjutnya wali khatam ditutup oleh anak keturunan beliau yang lahir di China, sosoknya mampu menghilangkan sisi kemandulan dari lelaki dan wanita.
Jika kemudian Allah mewafatkannya beserta orang-orang mukmin di zaman beliau, hingga yang tersisa berupa manusia yang tidak menghalalkan yang halal dan tidak mengharamkan yang haram, mereka bertindak sesuai dengan hukum alam dalam melampiaskan syahwat, tidak melakukan perbuatan yang sesuai syari’at, pada merekalah hari Kiamat akan datang.
Sedangkan ragam pangkat (kewalian) lainnya, maka Allah Swt berikan ini kapanpun dan kepada siapapun hamba Allah yang Dia kehendaki Wallahu a’lam juga dengan ragam pangkat yang belum Allah Swt tutup.-
