
Elsubha.com – Dalil dari ilmu Nim (Semiotika) Bukti Penguat Maqam Khatmiyyah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra
Ilmu ini merupakan bagian dari seni matematika yang disematkan pada ilmu hikmah. Dengan ilmu ini, kita mampu mengetahui sesuatu sesuai dengan hisab jumal yang khusus dengan huruf yang khusus pula; hisab ini berbeda dengan hisab jumal al kabir dan juga hisab jumal ash-shaghir, kecuali hanya pada sebagian kecil hurufnya saja yang sama. Kamipun tidak pelit untuk sedikit mengenalkan terminologi ilmu ini agar bermanfaat bagi orang yang hendak mempelajarinya, tentunya disisi yang bisa dijadikan dalil tentang pembahasan kita.
Pakar ilmu ini menyebutkan, bahwa huruf itu ada 28 sampai 29 martabat. Martabat pertama menunjukkan nilai satu, martabat kedua menunjukkan nilai dua dan seterusnya hingga martabat kesembilan menunjukkan nilai sembilan, yang secara tertib hurufnya adalah
أرب، يسفك, جزلط، مدوص، هف، تحز، عش، خع، ثضط
Dengan memperhatikan hisab ini tanpa kita menoleh kepada kaidah hisab secara global, maka kita akan temui jumlah dari kata “Ahmad At-Tijany” adalah 37, begitu pula jumlah kata “khatam al wilayah.” Maka benarlah dalil kita terkait dengan sisi khatmiyyah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Aku pun terinspirasi untuk mengeluarkan jumlah hitungan ini secara tidak kebetulan, hanya saja aku gambarkan dihadapanku kata “Ahmad At-Tijany” yang berhadapan dengan kata “khatam al wilayah,” dan ternyata jumlah yang dihasilkan pun tepat serta sesuai dengan jumlah huruf, termasuk juga sisi kekhususan pada kedua hitungan tersebut.
Sebelumnya kami telah nukilkan perkataan yang terdapat dalam Manâhil as-Shafa terkait komentar terhadap firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
خِتٰمُهٗ مِسْكٌ ۗ وَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَا فَسِ الْمُتَنَا فِسُوْنَ
khitaamuhuu misk, wa fii zaalika falyatanaafasil-mutanaafisuun
“laknya dari kasturi. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”
(QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 26)
Dimana kata “misik” dalam hisab sesuai dengan kata “‘Ali.”
Dalil itu pula yang dijadikan dalil untuk menunjuk kan Sayyidi Ali Wafa sebagai wali khatam, akan tetapi meskipun benar adanya, maka sisi khatmiyyah beliau terikat dengan zaman dimana beliau berada. Aku pun coba memperhatikan hal tersebut, pada kata “Ali” terkandung dua huruf, sementara kaedah ilmu ini menyebutkan, bahwa itu dihitung sebagai huruf tambahan pada hisab yang biasa berlaku. Nah, hisab yang memperhatikan sisi ini adalah hisab jumal ash-shaghir al aifasi, sementara hisab yang biasa diberlakukan adalah berdasarkan hisab jumal ash-shaghir al abjadi yang berbeda dengan hitungan ilmu semiotika ini, dimana itu khusus berkaitan dengan huruf-huruf yang telah kami sebutkan sebelumnya. Di sini aku telah berikan beberapa catatan penting sebagai bentuk pemberian tambahan ilmu dari seni ini, sehingga dapat memberikan faedah tambahan bagi orang yang mempelajarinya.
