
Elsubha.com – Penegasan Maqam Khatmiyyah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra
Andai dikatakan mengapa Sayyidi ‘Ali Harazim Barrâdah; pengarang kitab Jawahir al Ma’ani dan juga al ‘Allamah al Musyri; pengarang kitab Al Jami’ lima Iftaraqa min al ‘Ulûm tidak menegaskan, bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah wali khatam, padahal keduanya merupakan sosok yang pantas menyebutkan ragam perkara yang Allah Swt telah memuliakan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dengannya; baik dari ragam hal dan juga kekhususan, bahkan jika benar adanya, pengarang kitab Al Jâmi’ menyebutkan, bahwa pangkat wali khatam itu milik Sayyidi Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi, sementara kalian nisbatkan itu untuk Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan selalu mengangkat ragam dalil yang paling baik dalam pembahasan ini?
Kami (penulis) katakan: Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah mengabarkan pada keduanya bahwa beliaulah al Quthub al Maktum. Sayyidi ‘Ali Harazim dan Al ‘Allamah Al Musyri pun telah menyifati Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dengan pangkat al Quthub al Maktum. Maqam wali katam masuk kedalam maqam wali khatam, hanya saja Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra belum menyatakannya secara gamblang kecuali setelah keduanya meninggal dunia, dimana tulisan Abu al Abbas as-Siljimasi; sahabat khusus Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tentang pangkat khatmiyyah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra ditulis sepeninggalan keduanya.
Kamipun telah sebutkan itu dalam kitab kami Kasyf al Hijab dan kami kira itu cukup untuk menetapkan sisi khatmiyyah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dengan nukilan yang jelas dari Sayyidi Syaikh Ra dan beliaupun menyifati itu untuk sahabat khusus beliau Ra, inilah yang kami dapati dalam ragam surat/tulisan mereka, dimana Syaikh pun tidak mengingkari disifati dengan sifat demikian.
Bisa jadi Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra belum mengabarkan kepada pengarang Jawahir al Ma’âni dan pengarang Al Jâmi’ bahwa beliau adalah wali khatam secara menyendiri setelah memperoleh maqam katmiyyah, dan dengan konsekwensi itulah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menyembunyikan kedua maqam tersebut dengan perintah yang datang pada beliau. Atau bisa juga Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra belum memastikan maqam tersebut ketika keduanya masih hidup atau bisa juga Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra belum diizinkan mengungkapkan maqam yang dinisbatkan kepada diri beliau Ra, meski beliau senantiasa menunjukkan itu dalam pernyataan dan jawaban beliau Ra.
Al ‘Allamah al Musyri mengatakan: Aku pernah mendengar Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan: Kewalian itu ada yang umum dan ada juga yang khusus. Kewalian umum itu berlaku sejak nabi Adam As hingga nabi Isa As, sedangkan kewalian khusus berlaku sejak Nabi Muhammad Saw hingga wali khatam.”
Yang dimaksud dengan kewalian khusus disini adalah wali yang sosoknya disifati dengan akhlak Allah yang 300 secara sempurna dan tidak kurang sedikit pun.
Rasulullah Saw bersabda,
إِنَّ اللَّهِ ثَلَاثُمِائَةِ خُلُقٍ، مَنِ اتَّصَفَ بِوَاحِدٍ مِنْهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sungguh Allah memiliki 300 akhlak, siapa yang berakhlak dengan satu akhlak darinya, ia akan masuk Surga.”
Hadits ini khusus untuk Nabi Muhammad Saw dan wali quthub yang mewarisi beliau Saw dari umatnya, seperti inilah yang Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra katakan dan nisbatkan kepada Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi. Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan lebih lanjut, “Perantara kami adalah beliau Ra (Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi).”
Dengan demikian, kekhususan diri bisa memiliki akhlak ilahiyyah secara sempurna tidak mengharuskan sosoknya memiliki maqam yang lebih tinggi daripada yang lain, bahkan terkadang ada sosok wali Allah yang tidak memiliki akhlak ilâhiyyah ini, tetapi memiliki maqam yang lebih tinggi, dan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengisyaratkan hal ini pada diri beliau dan juga sebagian pembesar wali Allah. Sebab sayyidul wujud, Nabi Muhammad Saw telah mengabarkan bahwa maqam Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra lebih tinggi dari semua maqâmât yang pernah ada, seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, dan beliau Ra bukanlah sang wali khatam, sebab wali khatam adalah Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi.
Jawaban ini kami kira sudah cukup mengunggul-kan maqam ini, hanya saja yang dimaksud dengan perkataan kami, “Beliau bukanlah sang wali khatam, sebab wali khatam adalah Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi;” Al ‘Allamah Sayyidi Akansus memaparkan dalam Al Jawab Al Muskit, juga Abu al Mawahib as-Sa `ihi dalam sebagian jawaban beliau, bahwa redaksi tersebut termasuk redaksi yang telah dirubah, inipun sesuai dengan apa yang diisyaratkan oleh al Faqih Abu al Fath Kanun dalam ad-Durr al Mandhûm. Kami akan nukilkan berikut ini:
“Pendapatku seperti pendapatnya pengarang Al Jami’ yang mengatakan, bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra belum memberitahukan bahwa beliau adalah wali khatam.” Atau kami katakan, bahwa maksud dari pernyataan, “Dia bukanlah sang wali khatam, sebab wali khatam adalah Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi; maksudnya adalah bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengisyaratkan maqam tersebut pada diri beliau ketika beliau telah sampai pada maqam itu sebelum memperoleh maqam khatmiyyah dan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi sendiri belum bisa wushul pada maqam tersebut kecuali ketika beliau telah benar-benar sampai pada maqam itu, meski memang pengecualian tersebut mengarah pada dugaan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany bukanlah wali khatam, sebab wali khatam adalah Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi.”
Pernyataan yang ada dalam kitab Al Jâmi diatas mengisyaratkan keutamaan Allah Swt yang Allah berikan dalam mensifati maqam beliau; maqam yang tidak bisa digapai oleh salah seorangpun dari kalangan wali Allah selain sahabat Nabi Saw. Inilah yang diisyaratkan oleh Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby dalam kitab beliau dengan sebutan, “al Quthub al Maktum.”
Aku pernah bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sebelum beliau Ra mengabarkan padaku keluhuran maqam tersebut; apakah nanti ada wali Allah Swt yang mampu menempati posisi dari Syaikh Abdul Qadir dan juga Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi, sebab aku pernah mendengar celetukan keduanya, seperti pernyataan Syaikh Abdul Qadir al Jilani:
مَا فِي الصَّبَابَةِ مَنْهَلْ مُسْتَعْذَبٌ إِلَّا وَفِيهِ الأَلَذُّ الْأَطْيَبُ
“Tidaklah didalam sebuah sumber mata air yang dingin itu # kecuali didalamnya terdapat sumber yang paling lezat lagi wangi.”
Juga seperti perkataan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi:
بِنَا خَتَمَ اللَّهُ الْوِلَايَةَ فَانْتَهَتْ # إِلَيْنَا فَلَا خَتْمَ يَكُوْنُ لَهَا بَعْدِي
وَمَا فَازَ بِالْخَتْمِ الَّذِي لِمُحَمَّدٍ # مِنْ أُمَّتِهِ وَالْعِلْمُ إِلَّا أَنَا وَحْدِى
“Dengan kamilah Allah tutup kewalian, dimana kewalian berakhir pada kami, maka tidak ada penutup lagi setelahku.
Tidaklah ada umatnya yang beruntung mendapatkan maqam khatam sisi Muhammad #, yang jelas, hanya akulah seorang (yang mendapatkannya).”
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pun menjawab seraya mengabarkan apa yang diberitakan oleh Sayyidil wujud, Nabi Muhammad Saw, sebab beliau Ra bertanya kepada Nabi Saw, “Wali manakah yang memiliki maqam tertinggi?,” Nabi Muhammad Saw menjawab, “Sungguh Syaikh Abdul Qadir dan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi memiliki maqam yang paling tinggi dibanding yang lainnya.” Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengabar-kan padaku bahwa maqam beliau lebih tinggi dari kedua Syaikh tersebut dengan perkara yang keduanya belum pernah gapai. Sungguh keutamaan Allah Swt tidak terbatas pada siapapun kecuali sisi kenabian yang telah Allah Swt batasi. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda,
أُمَّتِي كَالْمَطَرِ لَا يَدْرِي أَيَنْفَعُ أَوَّلُهُ أَوْ آخِرُهُ
“Umatku seperti air hujan, tidak tahu apakah yang memberi manfaat yang awal atau yang akhir.”
Kini engkau melihat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah disifati dengan maqam katmiyyah.
Kamipun nukilkan apa yang Allah Swt berikan kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, yang belum digapai oleh Syaikh Abdul Qadir al Jilani dan juga Syaikh Muhyiddin Ibnu Araby al Hatimi; yaitu sempurnanya penampakan sisi khatmiyyah yang diangankan oleh Syaikh Akbar Muhyiddin Ibnu ‘Araby, sampai beliau sendiri yang memastikan dan nyatanya bahwa maqam itu bukanlah miliknya, kelak tidak ada orang lain yang mengaku untuk dirinya. Andai sya’ir ini dikatakan oleh Syaikh Akbar; Muhyiddin Ibnu ‘Araby:
بِنَا خَتَمَ اللَّهُ الْوِلَايَةَ فَانْتَهَتْ # إِلَيْنَا فَلَا خَتْمَ يَكُوْنُ لَهَا بَعْدِي
“Dengan kamilah Allah tutup kewalian, dimana kewalian berakhir pada kami, #maka tidak ada penutup lagi setelahku.”
Kalian pun sebutkan bahwa beliau (Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby) menarik kembali perkataan tersebut, terlebih lagi pangarang Khabi’atul Kaun telah menyebutkan bahwa Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi tidak pernah menyebutkan itu dalam Futûhât al Makkiyah dan juga kitab lainnya. Lantas darimana kalian katakan bahwa Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby telah menarik perkataannya sebagai wali khatam dan pada bait sya’ir yang mana beliau menyatakan itu.
Aku (penulis) katakan: Terkait perkara Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby menarik perkataan, bahwa beliau bukanlah wali khatam, maka tidak diragukan lagi beliau sebutkan itu dalam kitab lainnya dengan pernyataan, bahwa beliau berkumpul dengan sang wali khatam yang ia sebut dengan sebutan sang wali maktum (wali yang tersembunyi), selain Imam Mahdi dan juga nabi Isa As, sebagaimana beliau pun pernah berkumpul dengan wali lainnya. Meski memang dibenarkan sisi khatmiyyah pada diri Syaikh Muhyiddin Ibnu Araby, sebagai wali khatam yang tidak ada seorangpun berani lancang mengakuinya, akan tetapi beliau menarik klaim, bahwa beliaulah sang wali khatam yang muncul dengan penampakan sempurna maqam khatmiyyah yang hakiki; yaitu maqam katmiyyah lagi menegaskan dirinya sebagai wali khatam.
Terkait penjelasan yang disebutkan dalam kitab Al Jâmi’ dan kitab lainnya seperti Ar-Rimah, maka itu dinisbatkan pada kitab Futûhât al Makkiyyah, kemungkinan itu manuskrip yang tidak dicetak, dimana manuskrip seperti itu banyak adanya. Aku sempat temui dua bait sya’ir tersebut, bahkan bersama bait yang ketiga, yang dinisbatkan pada Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby, berikut bait sya’irnya:
بِنَا خَتَمَ اللَّهُ الْوِلَايَةَ فَانْتَهَتْ # إِلَيْنَا مَقَامَاتِي فَلَا خَتْمَ مِنْ بَعْدِي
سِوَى الْخَتْمَ الْأَعْلَى الَّذِي عَمَّ خَتْمُهُ # نَبِيُّ الْهُدَى عَيْنُ الَّذِي جَاءَ مِنْ بَعْدِي
وَمَا فَازَ بِالْخَتْمِ الَّذِي لِمُحَمَّدٍ # مِنْ أُمَّتِهِ وَالْعِلْمُ إِلَّا أَنَا وَحْدِى
“Dengan kamilah Allah tutup kewalian, berakhir # pada kamilah beragam maqamatku, maka tidak ada penutup setelahku
Selain sang pemegang khatam tertinggi yang maqam khatmiyahnya telah menyeruak # sang nabi pembawa hidayah yang setelah beliau tidak ada lagi setelahnya
Tidaklah ada umatnya yang beruntung mendapatkan maqam khatam sisi Muhammad #, yang jelas, hanya akulah seorang (yang mendapatkannya).”
Pengarang Khabîatul Kaun yang tidak menemukan bait sya’ir di atas tidak berarti bahwa bai’t sya’ir tersebut tidak ada, hanya saja beliau menafikannya sya’ir tersebut dari Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby. Kita perlu membedah semua karangan beliau yang nyatanya bait sya’ir ini juga disebutkan dalam beberapa manuskrip Futûhât al Makkiyyah yang telah kami sebutkan dalam bait sya’ir di atas.
Kamipun berdalil terhadap pengarang kitab Khabiatul Kaun terkait perkara yang sampai pada kami bahwa beliau adalah sosok yang piawai dalam sisi ma’rifat, beliau juga mengakui maqam khatmiyyah untuk dirinya, hal ini disebutkan dalam kitab tersebut (Khabiatul Kaun); yaitu apakah sebelum adanya Nabi Muhammad Saw sudah ada wali quthub dan berapa jumlah mereka?.
Terkait dengan perkara ini, kami (penulis) akan jabarkan beragam dalil beliau dan jawaban kami untuk beliau dengan tujuan bisa lebih mendalami pembahasan ini, tanpa mengurangi rasa hormat kepada beliau dari sisi nasab dan spiritual keagamaan.
