You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Penegasan Keutamaan Sahabat Nabi

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Penegasan Keutamaan Sahabat Nabi

Sebelumnya kami telah nukilkan pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, kami kira itu sudah cukup menjadi bukti akan kedudukan sahabat nabi Saw yang sesuai dengan akidah Ahlussunnah terkait keutamaan yang Allah Swt anugerahkan kepada para sahabat nabi Saw dengan kekhususan yang tidak didahului dengan keutamaan selain mereka, begitu juga kelebihan selain para sahabat nabi Saw, tetap tidak bisa mengungguli mereka. Oleh karena itu, apa yang telah disebutkan syari’at mengenai para sahabat nabi Saw tentu tidak pantas untuk selain mereka, sekalipun Ahlullah telah mendapatkan ilham melalui musyahadah khusus.

Akupun melihat sandaran dalil baru yang merupakan tulisan dari Abu Isa al Wazzani (sosok yang telah mengijazahkan kami), yang berisikan soal dan jawaban tentang masalah yang sedang kita bicarakan. Berikut ulasannya: (Ulasan Pelengkap): Syaikh al Misnawi yang merupakan guru dari Sayyidi Abu ‘Abdillah; Sayyidi Muhammad bin Abdul Qadir al Fâsi mengatakan: Terkait hadits yang menunjukkan sempurnanya keimanan seseorang meski ia belum melihat Nabi Saw, bahkan ia lebih utama daripada orang yang telah melihat Nabi Saw, sementara yang kita yakini adalah sebaliknya, apakah hadits ini adalah hadits yang ditakwilkan berikut apa yang dikatakan dalam hadits tersebut? Maka beliau menjawab: Alhamdulillah, wash-shalallahu ‘alâ sayyidina wa maulânâ Muhammadin wa Ålihi wa shahbih…hadits yang sudah tersebar luas yang secara zhahir isinya bersebrangan dengan perkara yang sudah lumrah diketahui banyak orang mengenai unggulnya para sahabat nabi Saw dari semua umat, hadits tersebut perlu ditakwilkan. al Hafiz Ibnu Hajar al ‘Asqalani dan juga al Qasthallani telah mengumpulkan ragam hadits yang didalamnya berisikan takwilan ini, maka secara global pertanyaan mengenai itu merupakan pertanyaan yang masyhur bagi pen-syarah Risalah Ibnu Zaid, begitu juga dengan jawaban perkara ini yang mengarah pada takwil sekaligus membantah perkara yang sudah lumrah diketahui.

Imam Abu al Fadhl al ‘Uqbâni mengatakan: Para sahabat nabi Saw adalah umat yang paling utama, hal ini ditunjukkan oleh hadits,

خَيْرُ الْقُرُوْنِ قَرْنِى

“Sebaik-baiknya zaman adalah zamanku,”

dan juga khabar dari Nabi Saw,

إِنَّ اللَّهَ اخْتَارَ لِي أَصْحَابِى عَلَى سَائِرِ الْعَالَمِينَ، مَا عَدَا النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِيْنَ

“Sungguh Allah telah memilihkan untukku para sahabatku diatas seluruh (semua yang ada) alam ini, selain para nabi dan utusan Allah.”

Atas dasar inilah ahli ilmu berpendapat. Sedangkan hadits Nabi Saw,

أَيُّ النَّاسِ أَشَدَّ إِيْمَانًا

“Siapapun manusia ia memiliki keimanan yang paling dahsyat,”

maka hadits ini tidak menunjukkan perkara berbeda dari apa yang telah disebutkan sebelumnya, bahkan hadits ini malah sepakat dengan itu, tidakkah engkau lihat pada sabda Nabi Saw ketika malaikat berkata perihal mereka, “Iman yang paling dahsyat,” mengapa tidak dikatakan demikian, toh mereka senantiasa menyaksikan ragam perkara dahsyat (ilham). Oleh karena itu, perkara iman yang paling dahsyat itu dikatakan untuk kalangan para nabi dan juga pada sahabat nabi Saw.

Hal ini bukannya menafikan dahsyatnya keimanan yang mereka miliki, akan tetapi ini malah sesuai dengan kondisi yang dikatakan oleh malaikat tadi, hanya saja yang diisyaratkan dalam sabda Nabi Saw adalah bahwa generasi yang datang setelah para sahabat Nabi Saw tidak mendapatkan ciri “keimanan,” seperti halnya orang yang hidup pada zaman Nabi Saw. Sebab para sahabat memandang nabi dengan ainul yaqin dan orang setelah mereka (generasi setelah sahabat nabi Saw) memandang beliau Saw dengan ilmul yaqin; dimana caranya melalui ilmu teoritis, sang peneliti perlu mencari ragam perkara yang berkaitan dengan ilmu tersebut, seringkali ilmu yang didapat tidak cukup jelas, terkadang nampak di satu sisi, dan disisi lain dikaji kembali oleh yang lainnya, hingga mereka menemukan sisi keimanan generasi setelah sahabat nabi Saw, meski mereka tidak melihat Nabi Saw dengan ainul yaqin seperti orang yang ada pada zaman beliau Saw. Dengan demikian, mereka juga patut dilabeli sebagai orang-orang yang memiliki keimanan yang dahsyat.

Sementara mengenal sabda Nabi Saw,

لِعَامِلٍ مِنْهُمْ مِثْلَ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُوْنَ عَلَى مِثْلِ عَمَلِكُمْ

“Bagi seorang (sahabat nabi) yang mengerjakan (suatu amalan) ganjaran mereka seperti ganjarannya 50 lelaki yang mengerjakan amalan serupa amalan kalian,”

ini tidak berarti menafikan keutamaan para sahabat nabi Saw, sebab makna yang terkandung dalam hadits tersebut adalah “Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan,” nah mereka ini sama sekali tidak pernah mengerjakan amalan seperti amalannya para sahabat Nabi Saw. Saat ini kita tidak lagi memiliki celah untuk bisa melindungi dan menjaga Nabi Muhammad Saw serta mengerahkan semua harta yang kita miliki dalam rangka melindungi beliau dari gangguan orang yang tidak suka, maka kini hal itu tidak lagi bisa diwujudkan oleh seseorang bahkan tidak pula separuh amalan itu bisa dilakukan saat ini, hal ini pun sesuai dengan apa yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw. -Selesai.-

Syaikh al Imam Al ‘Arifbillah Sayyidi Abdul Jalîl al Qashiri dalam Syu’ab al Imân menegaskan bahwa tidak ada yang setara dengan para sahabat nabi Saw, hal tersebut karena keutamaan para sahabat nabi Saw itu terletak pada posisi mereka dari Rasulullah Saw; yaitu pada ilmu yang mereka dapati dan pengamalan mereka sesuai dengan ridha Allah Swt serta akhlak yang mereka amalkan seperti ilmu yang mereka dapatkan, sehingga merekalah orang yang paling alim sepeninggalan Nabi Saw. Sebab, mereka ada pada waktu Allah Swt ber-tajalli pada alam ini hingga diutusnya Nabi Saw, sehingga maqam ma’rifat dan juga luapan cahaya mereka menempati maqam, dimana Allah memperkenalkan Dzat-Nya dan juga mengajarkan mereka, dan orang yang telah Allah pandang, Allah ber-tajalli untuknya, maka tidak ada lagi orang yang bisa mengukur ragam keberkahan, keutamaan ilmu, sifat serta ragam kebaikan yang ada pada sisi bathin dan zhahir, dengan demikian, pahamilah ini!.

Sedangkan mengenai amal perbuatan mereka, maka para sahabat nabi Saw adalah orang yang paling ta’at pada Allah Swt, sebab perbuatan mereka bersumber dari perintah Allah Swt yang mengalir pada lisan Nabi Saw dalam setiap momentum yang terjadi, dimana Nabi Saw tidak memerintahkan mereka kecuali perkara yang wajib dan diridhai bagi mereka dan mereka pun ta’at pada apa yang diperintahkan untuk mereka, dengan itulah keridhaan Nabi Saw berwujud musyahadah dan mukāsyafah, maka pantas merekalah yang menempati posisi yang agung; posisi yang layak untuk dipuji.

Oleh karena itu, mencintai sosok mereka, ragam keutamaan, perangai baik yang ada pada diri mereka berikut posisi yang mereka peroleh adalah wajib, terlebih generasi yang datang setelah mereka, mereka semua adalah para imam besar hingga hari akhir. Merekalah pelindung sekaligus penolong agama Allah sejak munculnya agama Islam hingga tersebar menyeruak, merekalah yang berperan menyebarkan agama Islam, mereka layak mendapatkan ganjaran itu dan juga ganjaran yang mengamalkan agama ini, sebab jika bukan karena mereka, maka kita adalah orang-orang kafir sejak masa tabi’in hingga Kiamat tiba. Mencintai mereka hukumnya wajib, tidak ada orang yang mengingkari ini.

Diantara gambaran kecintaan kita kepada para sahabat nabi Saw adalah kita mendo’akan dan ridha terhadap mereka seraya memohonkan rahmat untuk mereka; baik diucapkan secara lirih maupun lantang. Juga mencegah orang lain untuk tidak ikut campur pada permasalahan mereka, dengan demikian Allah Swt ridha kepada mereka semua. Semoga Allah mengaruniakan kita keridhaan dan juga syafa’at mereka serta menjaga kita agar tidak menyakiti mereka.-

Syaikh Abu ‘Abdillah mengatakan, “Secara global, dapat dipastikan bahwa seluruh sahabat Nabi Saw adalah orang-orang yang adil, para tokoh besar dan sosok yang Allah Swt pilih bagi generasi setelah mereka tanpa perlu lagi dirinci keutamaannya. Inilah pendapat para muhaqqiq dan disepakati oleh para ulama.” -Selesai.-

Perlu juga diketahui, ada sebagian atsar dan perkataan ahli kasyaf serta para wali yang diduga lebih mengunggulkan sosok wali khatam daripada para sahabat nabi Saw, terlebih dari Abu Bakar dan ‘Umar, maka yang bersangkutan bebas mengucapkan itu selagi ia bisa memberikan penakwilan atas pernyataannya tersebut. Namun yang menjadi perhatian adalah, ini terkait dengan pernyataan sulit yang belum jelas sandarannya dan juga belum pernah dijelaskan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Sirin.

Al Hafiz as-Suyuthi mengatakan: Akupun menemukan takwilan lafazh yang sesuai dengan penakwilan hadits, “(Pahala) lima puluh orang ketika terjadi fitnah dahsyat pada zaman al Mahdi,” Roma tunduk kepadanya, para pasukan mengepungnya,” bahwa mengutamakan para sahabat nabi tidak dianggap benar dengan simbol adanya tambahan pahala bagi mereka dan juga bertambahnya martabat mereka di sisi Allah Swt. Ragam hadits shahih dan juga ijma’ ulama sudah menyatakan, bahwa Abu Bakar dan Umar adalah manusia yang paling mulia setelah para nabi dan juga utusan Allah Swt.

Hal tersebut kembali pada kondisi keadilan sempurna yang menyeruak pada zaman belakangan ini setelah manusia memperhatikan kondisi kezhaliman yang terjadi dan agama terasa asing.

Takwilan lainnya adalah pernyataan an-Nawawi terkait dengan hadits,

أُمَّتِي مِثْلُ الْمَطَرِ لَا يَدْرِي أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ

“Umatku seperti air hujan, tidak tahu yang baik itu yang di awal atau yang akhir,”

Berahwa maksudnya adalah orang yang memiliki kondisi jiwa menyerupai zaman itu untuk menyaksikan hal tersebut, sehingga tidak ada orang yang mengunggulinya ketika itu. Penyerupaan kondisi jiwa dengan zaman ini pun dikuatkan oleh ijma’ulama.

Dalam pernyataan al Qarawansi pun ada nukilan dari sebagian ulama yang lebih mengutamakan wali khatam daripada para sahabat nabi, kami pun tidak banyak mengulas perkara ini, kamipun tidak perlu menjadi terkenal seperti maqam tersebut. Jika bukan lantaran adanya tujuan dari sang penanya agar diberikan isyarat tentang sesuatu dari perkara ini, maka kamipun tidak hadirkan disini, sebab jawaban pertanyaan tersebut cukup hanya dengan menuliskan kembali pertanyaan tadi; Perkara ini (sahabat nabi lebih utama dari wali Allah) sesuai dengan ketetapan para imam yang menjadi rujukan banyak orang dalam menjelaskan ragam perkara bagi orang banyak, bahkan merekalah yang paling pantas menjadi cerminan suluk menuju Allah, dimana kita hanya bisa berpegang teguh pada mereka dengan dalil yang nampak seraya mencari tahu apa yang belum kita pahami dari pernyataan orang yang menampakkan keutamaan dirinya serta berprasangka baik dan tidak mengelaknya.

Syaikh Jasus tidak puas dengan jawaban Abu al Fadhl al ‘Uqbani yang beliau tuliskan dalam jawaban di atas, dimana tekstual jawaban beliau pun tidaklah bersebrangan dengan kami dalam hal mengunggulkan abad pertama, seperti yang diriwayatkan oleh Nabi Saw,

إِنَّ مِنْ أَشَدَّ النَّاسِ حُبًّا لِى نَاسًا يَكُوْنُوْنَ بَعْدِي يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ

“Sungguh manusia yang paling cinta padaku adalah sekelompok manusia yang datang setelahku, satu sama lain saling mencintai dengan keluarga dan hartanya kala melihatku,”

tidak pula riwayat, bahwa Nabi Saw pernah ditanya,

هَلْ أَحَدٌ خَيْرٌ مِنَّا ؟ قَالَ : قَوْمٌ يَجِيْتُوْنَ مِنْ بَعْدِكُمْ فَيَجِدُوْنَ كِتَابًا بَيْنَ لَوْحَيْنِ، يُؤْمِنُوْنَ بِمَا فِيْهِ وَيُؤْمِنُوْنَ بِي وَلَمْ يَرَوْنِي،  وَيُصَدِّقُوْنَ بِمَا جِئْتُ بِهِ وَيَعْمَلُونَ بِهِ فَهُمْ خَيْرٌ مِنْكُمْ

“Apakah ada orang yang lebih baik dari kami?” Nabi Saw menjawab, “Yaitu kaum yang datang setelah kalian, mereka menemukan kitab yang berada diantara dua lauh, mereka beriman dengan perkara yang ada didalamnya dan juga beriman padaku meski mereka belum pernah melihatku, mereka percaya dengan apa yang aku bawa dan mengamalkan apa yang ada didalamnya, maka mereka lebih baik dari kalian.” Sebagaimana yang disebutkan oleh al Fakihani bahwa tidak semestinya mengunggulkan para sahabat nabi dari berbagai sisi dengan keutamaan mereka yang mutlak.

Diriwayatkan dari Nabi Saw,

مَثَلُ أُمَّتِي مِثْلُ الْمَطَرِ لَا يَدْرِي أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ

“Umatku seperti air hujan, tidak tahu apakah yang baik itu yang di awal atau yang akhir,” Al Hafiz Ibnu Hajar mengatakan, “Ini merupakan hadits hasan yang memiliki berbagai jalur periwayatan dan sampai pada derajat shahih.

Hadits ini ketika dipadukan dengan hadits,

خَيْرُ الْقُرُوْنِ قَرْنی

“Abad terbaik adalah abadku,” bahwa makna umatku seperti hujan dalam luasnya kondisi jiwa, banyaknya harta dan luasnya rezeki. Sungguh Allah Swt telah membukakan bumi ini untuk mereka, memperbolehkan mereka memiliki harta, rumah, wanita serta para budak. Begitu juga pada akhir perkara mereka, Allah Swt luaskan ragam keberkahan dan melipatgandakannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits ketika turunnya nabi Isa As. Inilah yang dikatakan oleh as-Sahawi. Ulama lainnya mengikuti al Ja’bari bahwa ia mengatakan: Perpaduan antara kedua hadits diatas, bahwa ragam kebaikan yang diinginkan itu sesuai dengan kehendak Allah Swt yang berupa kenyamanan hidup, luasnya rezeki dan tidak mesti adanya pengutamaan diri mereka. Tidak boleh pula menakwilkan “Abad terbaik adalah abad yang lampau,” dengan abadku dan setiap abad setelahku, jika memang demikian, maka dalil firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
kungtum khoiro ummatin ukhrijat lin-naasi ta-muruuna bil-ma’ruufi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu-minuuna billaah, walau aamana ahlul-kitaabi lakaana khoirol lahum, min-humul-mu-minuuna wa aksaruhumul-faasiquun

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110), lantaran adanya riwayat,

خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُوْنَهُمْ

“Umat terbaik adalah abadku, kemudian yang datang setelah mereka, kemudian yang datang setelah mereka,” hal tersebut juga lantaran adanya kesamaan antara sahabat nabi dan yang bukan sahabat nabi.

At-Tirmidzi dan Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Tsa’labah secara marfu,

لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ أَجْرُ خَمْسِينَ قِيلَ مِنْهُمْ أَوْ مِنَّا يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ بَلْ مِنْكُمْ

“Bagi orang yang beramal pada hari-hari tersebut akan mendapatkan pahala 50 kali lipať. Dikatakan: ‘Dari kalangan mereka atau dari kalangan kami wahai Rasulullah?’, Nabi Saw bersabda, Dari kalangan kalian’.” Ibnu Hajar mengatakan: Hadits ini tidak menunjukkan pengutamaan mutlak bagi sahabat nabi Saw, juga tidak menunjukkan pahala, hanya saja pahala itu diberikan sesuai dengan amalan yang dilakukan. Sedangkan terkait dengan para sahabat Nabi yang beruntung dengan mampu menyaksikan Nabi Saw, maka ini berbeda, sebab, tidak ada seorang pun yang bisa menyamai perkara ini.

Pendapat yang semisal ini, maka dijawab dengan sabda Nabi Saw, “Makhluk apa yang paling dahsyat dan paling agung? Para sahabat berkata, ‘Malaikat’, Nabi Saw menimpali, Mereka sudah pasti, bagaimana tidak sementara mereka senantiasa menyaksikan perkara’, para sahabat kembali berkata, ‘para nabi?’, Nabi Saw kembali menjawab, Mereka sudah pasti, bagaimana tidak sementara wahyu turun pada mereka, para sahabat kembali berkata, ‘Kita (generasi sahabat nabi)?’, ‘Nabi Saw menjawab, Kalian sudah pasti, bagaimana tidak sementara aku berada diantara kalian’, ‘para sahabat kembali berkata, ‘Lantas siapa wahai Rasulullah?”, Nabi Saw bersabda, ‘Mereka adalah kaum yang datang di akhir zaman, mereka sering mendengar sesuatu dengan menguping, hingga mereka binasa karena sangat cinta dan rindu. Aku rindu pada mereka. Orang yang beramal diantara mereka mendapatkan pahala 50 lelaki yang mengerjakan hal serupa seperti amalan kalian, atau (mendapat pahala) 70 lelaki. Para sahabat kembali berkata, ‘Apakah dari kalangan kita (sahabat Nabi Saw) atau dari kalangan mereka’, Nabi Saw menjawab, ‘Dari kalangan kalian’, ‘Para sahabat menimpali, ‘Kenapa wahai Rasul?’ Nabi Saw bersabda, ‘Karena kalian menemukan penolong untuk kebaikan sementara mereka tidak.”

Dalam hadits lainnya disebutkan,

أَنْتُمْ فِي زَمَانٍ مَنْ تَرَكَ عَشْرَ مَا أُمِرَ بِهِ هَلَكَ ثُمَّ يَأْتِ زَمَانٌ مَنْ عَمِلَ فِيْهِ بِعَشْرِ مَا أُمِرَ بِهِ نَجَا

“Kalian berada pada zaman, dimana orang yang meninggalkan sepuluh perkara yang telah diperintahkan padanya, maka ia akan binasa, kemudian datanglah zaman dimana orang yang beramal dengan apa yang telah diperintahkan padanya, maka ia akan selamat.”

Disebutkan pula,

وَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِنَّ كَالْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ وَإِنَّ الْعِبَادَةَ فِي الْهَرَجِ كَالْهِجْرَةِ إِلَيَّ

“Dan  sungguh dibelakang kalian ada hari-hari kalian mesti bersabar, sabar pada hari-hari itu seperti menggenggam bebatuan, beribadah kala fitnah melanda seperti berhijrah padaku (Nabi Saw).”

Disebutkan pula,

فِي كُلِّ قَرْنٍ مِنْ أُمَّتِي سَابِقُونَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Pada setiap abad, dari umat ada orang-orang yang bersegera (melakukan amal kebajikan) sampai Kiamat tiba.” Sedangkan jawaban yang manukil pendapatnya al ‘Uqbani yang disebutkan dalam Jami’ al Mi’yâr, maka itu bukanlah sisi zhahir sebenarnya. Demikian pernyataan Syaikh Jasus.-

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS MAQAM KHATMIYYAH & KHATMIYYAH SAYYIDI SYAIKH AHMAD AT-TIJANI RA (NAHJ AL HIDAYAH FI KHATM AL WILAYAH) SYAIKH AL ‘ALLAMAH SAYYIDI AHMAD SUKAIRIJ AT-TIJANY