You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pangkat Wali Khatam Sudah Ditetapkan Kala Nabi Adam As Berada Diantara Ruh dan Jasad, Seperti Kenabian Nabi Muhammad Saw

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pangkat Wali Khatam Sudah Ditetapkan Kala Nabi Adam As Berada Diantara Ruh dan Jasad, Seperti Kenabian Nabi Muhammad Saw

Ketahuilah, bahwa orang-orang yang tidak paham istilah kaum Sufi mengenai makna mendalam sisi kewalian Nabi dan Rasul Saw serta para wali Allah lainnya, maka perkataannya tidak bisa dipahami, sebab pemahaman tersebut datangnya murni dari Allah Swt pada orang yang Dia kehendaki dan dengan apa yang Dia kehendaki. Tidak ada yang bisa mencegah itu terjadi.

Orang yang tidak mengetahui istilah kaum Sufi biasanya juga terburu-buru ingkar bahkan mengkritik, padahal perkataan itu tidak perlu lagi ditakwil lantaran maknanya sudah jelas.

Terkait maqamât para Sufi yang mereka tidak pahami, maka kamipun sampai muak memberikan pemahaman tentang hal itu kepada mereka. Sedangkan sisi yang mereka pahami, merekapun tetap mengingkari dan hanya mau menerima hal yang sesuai dengan pandangan mereka saja, meski sebenarnya perkataan tersebut menunjukkan makna zhahir dari sisi kebahasaan, namun mereka memahami-nya dengan makna lain.

Para Sufi merasa tersakiti dengan kerasnya hati para ahli fikih, ini yang membuat mereka tidak ingin menempati posisi ahli fikih. Allah Swt senantiasa menjadikan para Sufi sebagai kelompok yang Dia tolong hingga hari Kiamat, dimana akan nampak kekalahan pada mereka (orang yang ingkar) meski dalam kurun waktu yang lama. Diantara mereka sedikit sekali yang memang niatnya untuk menolong agama Allah sehingga Dia tampakkan pada mereka cinta akan kebenaran sehingga mereka mundur dan tidak berulah kembali; dimana jika sebenarnya jika mereka bertobat, maka merekapun mendapatkan bimbingan terhadap apa yang mereka katakan dan perbuat, sebagaimana nabi Musa As pun mundur dan berserah diri pada nabi Khidir terkait apa yang ia perbuat dihadapan nabi Musa As; perkara yang membuat nabi Musa As tidak bisa sabar dari perbuatan nabi Khidir, dimana nabi Khidir melakukan itu sesuai dengan apa yang dihikayatkan dalam Al Qur’an dan Allah Swt tutupi pentakwilannya dari nabi Musa As tanpa adanya caci-maki.

Kaum Sufi mampu memikul apa yang tidak mampu dipikul oleh ulama lain pada bathin dan jiwa mereka, sehingga muncullah perkara seperti yang muncul pada nabi Khidir. Orang yang menentang kaum Sufi; baik ilmu dan amalan mereka sampai pada derajat nabi Musa As atau belum, maka para Sufi pun memiliki batasan keilmuannya juga, ditambah mereka mampu meng-ejawantahkan maqam keilmuan tersebut. Sebab, ada kaidah yang menyatakan, bahwa diatas orang yang memiliki ilmu ada yang lebih berilmu.

Kami sampaikan perkara diatas sebelum mendalami pembahasan, “Nabi Muhammad Saw telah menjadi nabi, sementara nabi Adam As masih berada diantara ruh dan jasad,” sebagaimana tertera dalam hadits Nabi Saw, dilanjutkan dengan derajat penutup kewalian, dalam hal Nabi Saw telah mendapatkan pangkat nabi, sementara nabi Adam As masih berada ditempat yang sama (antara ruh dan jasad).

Disini kami (penulis) tidak sedang berbicara kepada orang yang percaya pada perkataan kaum Sufi, karena kamipun bagian dari mereka dalam hal pemahaman yang menenangkan diri bahkan kamipun bagian dari kalangan mereka, sebagaimana kamipun tidak sedang berbicara kepada orang yang berbicara seputar karamah kewalian, terlebih membicarakan sisi wali khatam serta ragam kekhususan pemilik maqam tersebut dalam hirarki tingkatan maqamât yang ada, sebab orang yang ingkar kepada kalangan Sufi pun tidak akan percaya dengan hal itu meski mereka tahu mendetail sisi keilmuan tersebut.

Akan tetapi kita disini berbicara kepada orang yang mencari kebenaran dan faedah dari orang yang lebih tinggi, orang yang rendah dan yang setara keilmuannya, karena sikapnya itu menandakan ia mau menerima kebenaran dan hujjah yang jelas tanpa ada sikap takabbur dan pengingkaran tentang tersingkapnya makna yang tersembunyi dari karangan para Sufi. Sungguh tipe terakhir ini adalah tipe yang layak diutamakan untuk diajak berdiskusi sehingga membuahkan hasil yang diharapkan meski memang upaya tersebut tidaklah mudah, namun kami ada bersama mereka dan mendikte mereka dengan apa yang kami dapatkan dari Allah yang berupa ilham, sehingga seolah-olah kami menukil perkataan dari sebuah kitab, atau mendiktekan apa yang di imla-kan pada kami sesuai apa yang ingin kami bahas kali ini yaitu tentang sosok wali khatam telah berstatus wali Allah kala nabi Adam As masih ada diantara ruh dan jasad.

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah mengatakan secara gamblang tentang makna ini dalam perkataan beliau, “Ruhku dengan ruh Nabi Saw seperti ini; sembari mengisyaratkan dua jari; jari telunjuk dan jari tengah, ruhnya Nabi Saw senantiasa memberikan madad kepada ruhnya para nabi dan rasul, sementara ruhku senantiasa memberikan madad kepada para wali Quthub…” Seperti yang sudah kami sampaikan pada muqaddimah pembahasan ini, bahwa perkataan ini bisa mengganggu pemahaman seseorang terlebih lagi jika yang bersangkutan tidak mengerti ungkapan seorang ‘Arifbillah kala mereka membicarakan nikmat Allah Swt yang mereka dapatkan.

Mereka akan menganggap dan menggiring, bahwa perkataan tersebut adalah celetukan ngawur yang berasal dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, dimana Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany tidaklah ma’shum dari syathahât (celetukan ngawur) tersebut. Sebagian lainnya ada yang menafikan jika pernyataan itu berasal dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, padahal pernyataan tersebut sering dinukil dari berbagai kitab.

Kamipun tidak heran dengan pernyataan tersebut, sebab pernyataan tersebut berasal dari petinggi Sufi yang Allah Swt berikan futûh dan ilmu ladunni yang mengakar dalam jiwa beliau. Dengan kondisi demikian, beliau pun mengungkapkan setetes ilmu yang mampu mengobati dahaga jiwa atau mengobati orang yang sedang sakit.

Andai dikatakan: Dengan demikian, berarti beliau Ra telah mengetahui kewalian diri beliau pada alam ruh, sebagaimana Nabi Saw yang mengetahui kenabian beliau Saw selagi nabi Adam As masih berada diantara air dan tanah, dimana ilmu mengenai ini tidak dicabut sehingga beliau mengetahui kewalian dirinya sejak masih bayi hingga beliau baligh.

Maka kami jawab demikian: Cakupan alam ruh itu luas, tidak ada satupun ruh kecuali kondisinya ber-ma’rifat pada Allah Swt dengan tingkatan ma’rifat yang berbeda-beda, dengan tidak melihat pertimbangan riwayat hadits Nabi Saw, “Setiap anak yang terlahir itu dalam kondisi fitrah,”dimana kondisi ini adalah kondisi tauhid dan tauhid itu sendiri adalah hasil dari ma’rifat-nya ruh. Ruh tidak ter-hijab kecuali setelah turun dari tempatnya yang paling tinggi dan terikat dengan jasad seseorang, akan tetapi sebelum ruh ini keluar dari jasad.

Ada ruh yang ber-ma’rifat bahwa ia akan terus ada dan masuk kedalam alam arwah sampai keluar dari alam tersebut dalam kondisi ta’at atau terpaksa. Ada juga ruh yang ber-ma’rifat sebelum dan sesudah ia masuk alam arwah, kemudian ketika ada berita yang tersembunyi, maka ruh pun ter-hijab dari itu, lalu ragam pengetahuan yang awalnya tersembuyi itu sedikit demi sedikit tersingkap pada alam sirr sebelum keberadaan ruh tersebut dan nampak wujudnya secara sempurna, dimana makhluk Allah yang paling ber-ma’rifat adalah para nabi As, yang pada urutan pertamanya adalah sayyidil wujud; Nabi Muhammad Saw.

Kamipun tidak mampu berbicara pada maqam para pemilik kenabian ini, juga apa yang Allah Swt ajarkan pada mereka serta seberapa sempurna ma’rifat yang mereka miliki. Sebab, mereka memiliki kawasan tersendiri yang tidak bisa dimasuki oleh selain mereka dibalik hijab diatas. Ruh mereka berada pada alam paling suci dibawah syi’ar “penghambaan kepada Allah,” tenggelam dalam ibadah. Mereka belum merasakan apapun, belum juga menyaksikan Allah Swt pada hadhrah Al Haq, ruh mereka tidak menoleh pada makhluk apapun.

Ruh para nabi adalah semua alam ini, tidak ada yang bersama dengannya lantaran tenggelam bersama Allah Swt hingga wujudnya nyata dan Allah memberitahukan kenabian kepadanya. Sedangkan ruhnya Sayyidul Wujud, Allah Swt memberitahukan kenabian pada maqam tertinggi dari penyaksian ruh, Allah Swt memberikan hak beliau Saw dan juga memberitahukan kepada makhluk, bahwa beliau (Nabi Muhammad Saw) adalah Nabi-Nya sementara nabi Adam As kala itu berada diantara air dan jasad. Seolah-olah beliau Saw mengatakan ini sebelum ruh beliau ditiupkan ke dalam jasad.

Oleh karena itu, ada orang yang menafsirkan perkataan tersebut dengan penafsiran, bahwa itu adalah dugaan orang yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang tidak dari perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Nabi Adam berada diantara air dan tanah;” maksudnya dalam kondisi pembentukan diri, dimana Allah Swt telah memberitahukan kepada beliau sebelum itu, maka beliau telah menjadi Nabi pada waktu itu dan ketika wujud beliau nampak. Perkara tersebut sebenarnya tidak lagi tertutupi, hanya saja kelaziman jasad menjadikan manusia lupa perkara sebelumnya.

Nabi Muhammad Saw adalah sosok yang memiliki ma’rifat paling sempurna dengan apa yang Allah Swt sudah beritahukan pada alam ruh dan berjalan sesuai dengan kelaziman jasad saat jasad beliau Saw terlahir, dimana ruh tersebut tetap mengetahui sisi kenabian itu.

Akan tetapi, ketentuan Allah yang berupa sisi lupanya Nabi Muhammad Saw yang seolah bercampur ketidaktaatan beliau pada Allah, itulah yang menyebabkan beliau Saw tidak menampakkan diri dengan kenabian sejak awal wujud, meski sisi ma’rifat kenabian tersebut telah tersembunyi pada alam sirr beliau sebelum wujud beliau ada di alam ini.

Maqam beliau semakin meningkat setelah wujud beliau ada di dunia ini hingga sampai pada apa yang diperintahkan kepada beliau Saw dengan kondisi yang terbaik. Setelah itu tidak ada lagi rahasia yang tersembunyi.

Hal ini sesuai sisi waratsah yang seyogyanya didapat oleh pewaris terbesar Nabi Saw paling besar dari umat ini, sosoknya dapat berjumpa dengan Nabi Saw dan menerima sirr serta ragam fuyûdhât dari beliau Saw, maka Allah pun memberitahukan kewalian Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra ketika wujud beliau nampak di alam ini dan beliau yakin dengan apa yang ada pada diri beliau di alam sirr. Dengan demikian, beliaupun bersyukur kepada Allah Swt melalui pernyataan beliau yang jelas dan tidak kacau, atau bukan celetukan ngawur atau tidak dengan jiwa yang labil, atau tidak juga dengan nasib jiwa yang beruntung, itu semua menggiring untuk bersyukur atas apa yang dinafikan oleh orang yang ingkar terhadap perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.

Setelah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra meyakinkan diri dengan apa yang terjadi, yaitu bisa berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw, bahkan Nabi Saw pun dalam perjanjian ruh itu memberikannya madad sehingga muncullah pernyataan Sayyidi Syaikh Ra, “Ruhku dan ruh beliau Saw seperti ini; sembari menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah,” sebagai ungkapan bersyukur atas nikmat yang didapat.

Secara gamblang, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menyatakan, bahwa beliau memiliki ketersambungan kuat dengan Nabi Muhammad Saw, bahkan beliau mampu berjumpa dengan Nabi Saw dalam rangka menerima apa yang ditalqinkan kepada beliau Ra, tidak ada sosok pewaris Nabi Saw lain dari umat beliau yang diberikan faidhah dan sosoknya mengetahui sisi ke-ma’rifat-an tersebut. Perkara ini sama sekali tidak mengurangi sisi kenabian.

Tidaklah engkau melihat bahwa seluruh nabi berangan-angan bisa menjadi umat Nabi Muhammad Saw, namun mereka tidak bisa lantaran Nabi Muhammad Saw muncul di dunia ini pada akhir zaman, kecuali orang-orang yang Allah Swt khususkan diantara para nabi yang ada. Meski demikian, perkara ini tidaklah mengurangi sisi kenabian, sebagaimana Allah Swt pun tidak ketinggalan memberikan kekhususan pada sosok yang Dia beritahu-kan sisi kewalian dirinya di zaman lampau.

Jika ada orang yang mengabarkan apa yang ia saksikan, maka seyogyanya orang yang belum sampai pada maqam tersebut tidak mengatakan bahwa yang bersangkutan berdusta terkait apa yang disaksikannya. Tidak ada pula kritikan yang mengena pada orang yang dikritiki, sebab kondisinya sedang bersyukur atas keutamaan yang Allah Swt telah berikan.

Sungguh, jari telunjuk itu lebih pendek daripada jari tengah, mendempetkan antara keduanya tidaklah menunjukkan adanya persamaan antara keduanya, kecuali orang yang memang ditabi’atkan untuk ingkar, dimana setiap orang yang akal dan ilmunya tidak sampai, maka mereka pun akan memerangi apa yang mereka tidak ketahui.

Begitu juga terkait penyampaian seseorang prihal orang yang memiliki maqam tersebut, tidak berarti mengurangi nilai orang yang menyampaikan informasi itu, seperti orang yang berdiam dekat sumber air dan mengambilkan air untuk orang yang datang bolak-balik dan mengisikan air sesuai besarnya bejana yang dibawa. Dengan demikian, orang yang mengkritik sejatinya tidak patut dihakimi atau juga menghakimi yang lain hanya bermodalkan informasi yang sampai padanya saja, padahal dia tidak punya keterkaitan bahkan juga tidak punya hubungan dengan sosok yang dia kritik.

Orang yang berakal sejatinya berserah diri pada perkara yang tidak dipahami, khususnya tentang perkara yang multi tafsir, dimana mengikuti penafsiran orang yang memiliki ilmu mendalam dalam masalah ini adalah hal yang tepat. Sebab, orang yang ilmunya sedikit, biasanya ia akan menentang perkara yang belum diketahui kebenaran atau kebatilannya.

Bisa jadi orang yang kami gambarkan diatas, dialah yang memiliki keyakinan yang buruk, namun malah menuduh kami yang memiliki keyakinan salah; yang tidak sesuai dengan jalan yang lurus, sehingga kami pantas mendapatkan hal yang sudah seharusnya kami dapatkan, padahal pada kata pengantar di awal, kami pun sudah menjabarkan bahwa kami membebaskan diri dari setiap perkara yang mengurangi sisi kenabian Nabi Muhammad Saw dan kami pun memohon pada Allah Swt agar engkau tidak tergolong orang-orang yang bodoh tentang perkara ini.

Apa yang kami katakan adalah kebenaran bagi orang yang memang mencari kebenaran dan tidak terburu-buru dalam menilai perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Kami sampaikan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra apa adanya, dengan berbagai ungkapan yang berbeda, semuanya itu dapat dirujuk kembali ke dalam kitab asalnya, dimana orang yang benar-benar mengerti perkataan para Sufi mampu memberikan pemahaman yang benar, pemahaman yang mengarah pada terbebasnya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dari pengakuan diri belaka atau celetukan ngawur yang tidak terpuji di hadapan Allah Swt dan juga manusia.

Penakwilan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tersebut kembali pada perkataan yang ditinjau dari sisi hadhrah al Muhammadiyyah yang berhadapan dengan hadhrah al Ahmadiyyah. Sebab, Muhammad dan Ahmad semuanya adalah nama Nabi Saw. Nana Muhammad lah yang senantiasa memberikan madad pada para nabi As, sedangkan nama Ahmad senantiasa memberikan madad kepada pada wali Allah, dimana sosok yang memberikan madad pertama (hadhrah al Muhammadiyyah) dan yang kedua (hadhrah al Ahmadiyyah) adalah satu, yaitu Nabi Muhammad Saw, bukan yang lainnya. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra di sini mengabarkan aspek ruh beliau dari sisi al Ahmadiyyah, dimana Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dalam maqam ini adalah nafs (jiwanya) Nabi Muhammad Saw, yang dalam istilah Sufi disebutkan dengan kata Ittihad.

Asy-Syibli pernah berkata kepada muridnya, “Aku bersaksi bahwa Akulah Muhammad, (beliau mengatakan ini tanpa diulangi); Aku bersaksi bahwa engkaulah Muhammad sang utusan Allah;” sang murid menyahut, “Akupun bersaksi bahwa Engkau adalah Muhammad sang utusan Allah;” perkataan ini tercetus pada pandangan terhadap inti hakeket yang mencuat dari diri Asy-Syibli atas apa yang telah Allah berikan kepada beliau dari sirr at-tashdiq (rahasia kejujuran jiwa), sehingga sang murid menyaksikan dalam diri Asy-Syibli ada hadhrah al Muhammadiyyah yang ber-tajalli pada beliau, sehingga Asy-Syibli adalah intinya Muhammad dengan penyatuan (ruh) yang tidak dapat dipahami pakar ilmu zhahir terlebih lagi orang awam. Jika toh tidak pantas kami katakan, bahwa pakar ilmu zhahir tidak bisa memahaminya, namun perkara ini jelas terjadi, dimana ada ulama yang mengkritik pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra ini. Oleh karena itu, perlu adanya penjelasan lanjutan berkenaan perkataan semacam diatas.

Maka kami (penulis) katakan: Konten perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra ini berkaitan dengan dua ruh yang memberikan madad kepada yang lain, dimana ruh yang kedua adalah ruhnya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, bagaimana bisa orang diatas menakwilkan dengan ittihad (penyatuan diri), dimana perbedaannya sangatlah jelas disini; bahwa maksud dari pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah isyarat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tentang perkara yang sudah Allah Swt berikan kepada beliau dan perkara yang merupakan perantara beliau mendapatkan futuh akbar, dimana ungkapan syukur beliau tidak nampak kecuali dengan membedakan dua ruh tersebut, maka seyogyanya orang yang menakwilkan perkara diatas mau bersabar dan menjelaskan apa maksud dari perkataan tersebut; perkataan yang kontennya adalah tergapainya kebaikan, meski kami katakan beliau dalam kondisi wushul.

Kami (penulis) katakan pula: Kamipun telah sebutkan bahwa perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra “Ruhku dan ruh Nabi Saw seperti ini,” perkataan itu memang berasal dari beliau, beliau katakan itu dengan tidak ngawur, hanya saja orang yang menukil pernyataan ini secara gamblang mengatakan, bahwa beliaulah yang menerima ragam madad yang mengucur dari faidhah Nabi Saw pada alam ruh, beliaulah yang memperoleh itu, sebagaimana beliaupun menerima ragam madad dari para nabi As dan kemudian memberikan madad tersebut kepada wali lain tanpa mereka rasakan, hal ini sesuai dengan rahasia hikmah Allah Swt tentang adanya perantara Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra; dimana Nabi Saw lah perantara antara diri Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dengan Allah Swt, sehingga sisi kemanusiaan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tidak hilang dan tidak pula terbakar cahaya yang ber-tajalli pada semua makhluk; dengan adanya hijab yang paling utama; yaitu Nabi Saw.

Kemudian bagian dari sisi kasih sayang Allah pada hambanya, yaitu ketika para perantara Nabi Saw (dari kalangan nabi) menerima ragam faidhah dari hadhrah al Muhammadiyyah dan memberikannya kepada para nabi lain, kala itu pula Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menerima ragam faidhah tersebut dari mereka para nabi As, yang tujuannya adalah untuk menurunkan panasnya cahaya ilahiyyah dengan cara menerima dan membagi-kannya berupa madad sesuai dengan kadar masing-masing. Perkara tersebut beliau saksikan sendiri, dimana orang yang sudah futuh pun mampu menyaksikan aliran madad dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.

Terkait dengan talaqqi dan ragam madad, kami telah buatkan pendekatan berupa perumpamaan yang kerap kami ulangi berkali-kali; baik yang kami takwilkan maupun tidak kami takwilkan dalam tulisan ini maupun tulisan lainnya. Jika toh kita perhatikan makna pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, maka jelaslah bahwa pernyataan itu tidak begitu jelas, sebab jika pernyataan tersebut jelas, maka ada sisi lain yang masih tersembunyi.

Jika toh orang yang mengkritik pernyataan tersebut mau menerima hujjah yang diberikan kepadanya, itu malah akan membuatnya tidak puas, sehingga tidak ada yang tersisa kecuali bentuk tafwidh dan taslim (penyerahan diri) akan makna yang terkandung dalam pernyataan tersebut, sehingga orang yang berserah diri dengan konsep ini tergolong ke dalam kalangan Sufi dan mampu melihat adanya bidadari di istana Surga. Setiap orang yang mendalami perkataan tersebut dengan cara memfitnah, maka ia tidak akan bisa keluar dari istana tersebut, meski sebenarnya pernyataan tersebut sangat jelas, sehingga tidak perlu lagi diberi penjelasan. Jelasnya pernyataan tersebut secara khusus bisa dipahami dengan dzauq dan bentuk taslim (penyerahan diri).

Andai dikatakan: Kalian telah menyelami pinggiran laut, dimana gaya renang kalian itu menakjubkan, bahkan tidak ada orang yang melebihi kemampuan kalian, lantas apakah masih ada orang yang mampu menandingi kalian? Maka kami katakan: Andai engkau termasuk orang yang berlapang dada dari sifat hasud terhadap Ahlullah dan menganggap besar lagi mengakui kebesaran maqam Syaikh al Akbar Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi sebagai ruh semua wali, maka perkara ini sudah pernah kami kemukakan dan nyatanya orang tersebut berakhir dengan naas. Posisi kami disini hanyalah penghantar bagi para pecinta disisi beliau, kami nukilkan pernyataan yang telah dikaji oleh ulama zhahir dan ulama bathin, maka simaklah apa yang beliau katakan dalam Fushûsh al Hikam yang kami nukil dari pen-syarah perkataan beliau dan kiranya ini cukup menjadi dalil yang bisa membuat mereka berserah diri dengan pernyataan tersebut.

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS MAQAM KHATMIYYAH & KHATMIYYAH SAYYIDI SYAIKH AHMAD AT-TIJANI RA (NAHJ AL HIDAYAH FI KHATM AL WILAYAH) SYAIKH AL ‘ALLAMAH SAYYIDI AHMAD SUKAIRIJ AT-TIJANY