
Elsubha.com – Kutipan Fash Al Hikmah karya al ‘Arif Manla ‘Abdurrahman bin Ahmad al Jâmi : Catatan II
Disini kami akan memaparkan apa yang disebutkan oleh Abu al Fath Kanun Ra dalam Ad-Durr al Manzhûm fi Nushrati al Quthub al Maktûm pada pembahasan pamungkas yang keenam. Lalu kami akan paparkan pula hasil diskusi kami bersama beliau dalam sebagian makalah yang isinya ragam kritikan yang perlu dijawab.
Jika toh nanti ada sebagian pernyataan yang kami ulang-ulang, hal tersebut bertujuan untuk menampilkan pembahasan dengan baik serta memperkuat ulasan tersebut dengan ragam pernyataan para ulama. Maka hendaknya orang yang sedang menela’ah pembahasan ini tidak berkedip dari ragam nukilan yang kami akan suguhkan. Berikut catatan pelengkap yang disebutkan dalam buku diatas:
Dalam kitab Mizab ar-Rahmah ar-Rabbaniyyah Fit-Tarbiyati Bith-Thariqah At-Tijaniyyah disebutkan: Tiga shalawat ini; Shalawat Jauharatul Kamal, Yaqutatil Haqa `iq dan shalawat Ghaibiyyah merupakan dalil paling kuat atas infirad (menyendirinya) Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany dengan martabat bathin sisi hakekat al Muhammadiyyah, tidak ada seorang walipun pernah mendapatkan ini, bahkan hingga kini belum ada yang mengklaim ragam shalawat tersebut. Dengan demikian, ini menunjukkan bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah sang wali maktum, wali quthub dan khatmil ma’lum.
Sebelumnya telah kami sebutkan, bahwa hasil dari pembawaan jiwa para masyayikh menunjukkan sifat ahwal mereka dan titik poros perkataan mereka, bukankah kita memasak bejana kecuali dengan apa yang ada di dalamnya?. Bukankah lisan itu kecuali ia adalah dalil yang menunjukkan apa yang ada di dalam kalbu?
إِنَّ الْكَلَامَ لَفِي الْفُؤَادِ وَإِنَّمَا # جُعِلَ النِّسَانُ عَلَى الْفُؤَادِ دَلِيْلًا
“Sungguh kata-kata itu letaknya didalam hati (fuad), adapun lisan itu hanyalah bukti dari apa yang ada dalam hati.”
Aku katakan: Terkait dengan maqam khatmiyyah, Syaikh Asy-Sya’rani mengatakan: “Ini adalah maqam mulia lagi agung, seorang salik tidak akan sampai padanya kecuali setelah melampaui 200.000 hijab, 47.000 hijab, 799 hijab dan ini tidak bisa digapai oleh sembarang wali.”
Ragam hijab tersebut adalah ragam manazil yang diwariskan para wali dari kalangan rasul Allah, sebagaimana yang dipaparkan oleh Ibnu ‘Araby dalam Futûhât al Makkiyyah. Setiap wali yang menempati satu maqam dari itu semua, maka Allah melepaskan ragam keilmuan yang tak terhitung, dimana setiap manzilah itu memiliki dzauq khusus untuk dirinya dan bukan untuk wali yang lainnya.
Terkecuali Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, sekalipun para wali sebelum beliau telah sampai pada maqam ini, tetapi tidak ada generasi setelah beliau yang bisa sampai pada maqam ini. Sebab beliau adalah wali khatam akbar, dimana Allah Swt tutup maqam al Muhammady dengan beliau. Khabar mengenai inipun datang dari sosok yang tidak diragukan lagi kebenaran pemberitaannya; yaitu Nabi Muhammad Saw. Siapapun bisa mempercayai perkara ini dan siapapun bisa mengingkarinya. Hal inilah yang dipaparkan oleh Sayyidi Muhammad al Kansûsi; salah seorang khalifah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dalam al Jawab al Muskit.
Kemudian Sayyidi Muhammad al Kansûsi mengatakan: Jika engkau katakan, “Apa hekekat dari sang wali khatam ini?” maka aku katakan: “Syaikh Abdul Qadir al Jilani pernah mengatakan, ‘Sosok yang Allah karuniakan nikmat dari Allah, sosoknya hanya mampu memperhatikan sifat jamal-Nya Allah Swt, sehingga ia tidak lagi bisa menisbatkan, bahwa dirinya telah mengaplikasikan sisi keagungan dan kesombongan Dzat Allah Swt dalam diri.”
Sedangkan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan, “Terkait dengan keagungan dan sisi kesombongan Allah, maka yang mengetahuinya hanyalah para rijal dan bukan para ‘Arifunabillah. Wali yang paling sempurna diantara mereka adalah wali quthub, dimana hakekat sisi kesombongan Allah tidaklah bisa diraih kecuali setelah ia melampaui tingkatan tinggi dari derajat wali quthub, dan itu pada maqam yang kita sebut dengan ‘penutup maqamat, hanya segelintir wali quthub saja yang mampu melampaui itu lantaran maqam-nya sangat luhur. Ketika wali quthub mampu ber-tarqiyah pada maqam itu dan wushul, disitulah Allah Swt ber-tajalli dengan sisi kibriya (kesombongan) Dzat-Nya. Sang wali pun akan terus ber-tarqiyah pada maqam itu selamanya. Andai Allah Swt ber-tajalli dengan sebuah biji atom dari sisi kibriya (kesombongan Dzat Allah), maka dalam sekejap mata, manusiapun bisa binasa kecuali sang wali quthub al Jâmi’, tetapi dengan syarat sang wali quthub tadi telah melampaui maqam khatam. Sementara jika ia pun belum sampai pada maqam khatam, maka sang wali belum mampu menerima tajalli Allah dengan sisi kibriya` -Nya.
Sayyidina Ali Kw pernah mengatakan: “Ma’rifat adalah penyingkapan tabir kesucian Allah Al Jalal, yang puncaknya adalah keterkejutan jiwa pada sisi kibriya-Nya Allah Swt.” Yang dimaksud puncaknya ma’rifat disini adalah maqam khatam sisi quthbaniyyah. (Selesai).
Pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany juga pernyataan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi, ketika menyebutkan bahwa wali khatam yang dimaksud memiliki ragam martabat, yang tertinggi adalah maqam yang tidak ada seorangpun memilikinya setelah beliau. Maqam inilah yang menjadi rebutan para wali.
Dalam pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sudah jelas dinyatakan demikian dan sungguh Nabi Muhammad Saw mengabarkan pada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra bahwa beliau adalah pemilik maqam tersebut, terlebih lagi Nabi Saw memberikan penekanan akan maqam ini pada beliau. (al Jawab al Muskit).
Disebutkan dalam sebagian risalah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Terkait maqam kami pada sisi Allah di akhirat nanti, tidak ada seorang walipun yang bisa sampai kepadanya sejak (berakhir) generasi sahabat Nabi hingga sangkakala ditiupkan. Tidak ada dari kalangan wali Allah yang sampai pada maqam kami, tidak pula mendekati maqam kami lantaran sulit dijangkau oleh semua para pembesar wali nan sulit jalannya. Aku katakan itu setelah aku mendengar dari Rasulullah Saw dan memastikannya. Tidak ada pembesar wali Allah yang bisa memasukkan para sahabatnya ke dalam surga tanpa hisab dan iqab, meski mereka telah melakukan banyak dosa dan kemaksiatan kecuali aku sendiri yang bisa untuk itu. Demikian seterusnya hingga Rasulullah Saw menjaminkan untuk mereka dengan perkara yang tidak boleh aku sebutkan, dimana perkara ini tidaklah bisa dilihat dan diketahui kecuali nanti di akhirat.
Dengan semua ini, kami tidak berniat mengkerdilkan para wali Allah dan tidak pula meremeh kan kedudukan mereka, maka dari itu agungkanlah kehormatan para wali Allah, baik mereka masih hidup atau sudah meninggal dunia. Sungguh orang yang mengagungkan kehormatan mereka, niscaya Allah Swt agungkan kehormatan dirinya. Sedangkan orang yang menghinakan mereka, niscaya Allah Swt akan mengkerdilkan ia bahkan Allah murka padanya, maka jangan sekali-kali mengkerdilkan kehormatan para wali Allah. Wassalâm.”
Lantaran agungnya maqam khatmiyyah ini, maka para wali di Fess banyak meminta maqam ini, diantaranya Maulana Idris yang meminta dari Nabi Saw agar memerintahkan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra untuk bermukim di Fess setelah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berniat untuk pergi keluar dari Fess menuju Syam.
Dengan permohonan itulah akhirnya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengurungkan niatnya dan menetap di Fess atas dasar perintah dari Nabi Muhammad Saw hingga beliau meninggal dunia. Perkara ini seperti yang dijabarkan dalam kitab Bughyah al Mustafid dari cerita Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Wallahu a’lam.
Disebutkan dalam surat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra untuk Abu Muhammad Sayyidi al ‘Araby bin Så ih dengan naskah berikut: “Ketahuilah, terkadang yang para ulama maksudkan dengan maqam khatmiyyah adalah maqam dimana Allah Swt tutup sisi kewalian al Muhammady dengan keberadaan sang wali. Hakekat sang wali khatam sendiri adalah apa yang diisyaratkan oleh Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby selain dalam Futûhât al Makkiyyah, yaitu bahwa pemilik maqam ini adalah sosok dimana para wali Allah memohon madad dari tabir cahaya kewalian beliau sebelum adanya jasad beliau yang nampak (di bumi) bahkan setelahnya. Sebagaimana sang penutup kenabian; Nabi Muhammad Saw, beliaulah yang memberikan kucuran madad pada semua nabi sebelum kemunculan jasad beliau yang mulia. Hal tersebut karena Nabi Muhammad Saw dalam alam arwah sudah mendapatkan pangkat kenabian dan mengetahui sisi kenabian beliau, bahwa beliaulah yang memberikan kucuran madad (bantuan ruhani) bagi para nabi yang lainnya. Sementara para nabi lainnya, mereka baru mengetahui kenabian mereka ketika mereka diutus. Begitu juga perkaranya dengan sang wali khatam al Muhammady, pada alam arwah beliau telah mengetahui kewalian dirinya dan nantinya memberikan madad kepada para wali lain. Sedangkan para wali lainnya, mereka tahu diri mereka adalah wali Allah di alam dunia setelah keberadaan jasad mereka di dunia dan telah memenuhi persyaratan wali, maka pahamilah ini!.
Yang dimaksud dengan “pemilik maqam ini adalah wali khatam;” adalah sempurnanya penampakan kewalian sisi al Muhammady nampak pada dirinya, dimana tidak ada wali yang menampakkan diri seperti beliau. Sebab wali setelah beliau tidak lagi menampakkan sisi kewalian diri seperti itu, maka pahamilah ini!. Maqam khusus ini untuk sang wali khatam akbar yang telah dipaparkan oleh at-Tirmidzi al Hakim dalam Khatm al Auliya dan Ibnu ‘Araby dalam ‘Unaqa Maghrib fi Khatmi al Wilayah wa Syams al Maghrib dan ulama lainnya.
Diantara tanda yang disebutkan oleh Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi adalah, bahwa sosoknya diuji dengan pengingkaran pada beliau terkait apa yang Allah Swt berikan dalam sirr beliau.
Diantara tanda lainnya adalah, apa yang dikatakan oleh Ibnu Wafa dan dinukil oleh Imam asy-Sya’rani dalam Thabagat-nya, dengan naskah berikut: Wali khatam (penutup wali) atas kalbunya sang penutup nabi. Diantara tandanya adalah, bahwa sosoknya mampu meng-ejawantahkan ragam wijdan para wali, dimana dirinya menyendiri dengan wijdar-nya sendiri, sebagaimana sang penutup nabi mengejawantahkan ragam wijdan seluruh nabi, dimana Allah Swt mengkhususkan diri beliau Saw dengan ragam kekhususan. Diantara tandanya adalah adanya kesesuaian dan kecocokan dalam hakekat al Muhammadiyyah dan ini tidak terjadi pada wali lainnya. Wallahu a’lam.
Terkadang yang ulama maksudkan adalah maqam yang disebut sebagai penutup maqamât, ia adalah maqamât tertinggi dari maqam quthbaniyah yang tidak bisa dimiliki kecuali oleh satu wali quthub saja. Maqam ini tidak dikhususkan bagi wali quthub tertentu, hanya saja disyaratkan sang wali memiliki kesempurnaan martabat, maqam ini terus berlangsung hingga ditutup oleh wali khatam akbar yang disifati dengan tidak adanya wali khatam setelahnya secara ghaib kecuali sosok yang awal tadi. Hal tersebut, pertama, karena sosoknya menyendiri dalam maqam tersebut, kedua, karena beliaulah yang menutup maqam kewalian sisi al Muhammady. Maqam wali khatam ini pun memiliki makna dimana para wali kamil dari kalangan wali quthub masuk ke dalam makna ini. Ia pun memilih makna yang khusus bagi penutup kewalian akbar yang semuanya itu memiliki derajat quthbaniyyah tertinggi, hanya saja kewalian penutup yang khusus itu lebih tinggi derajatnya daripada yang pertama yaitu kewalian ‘Âm (umum). Yang dimaksud dengan kewalian pertama (‘Âm) oleh pengarang al Jawab al Muskit seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya pada pernyataan bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, meskipun para wali sebelum beliau telah sampai pada maqam ini, hanya saja berdasarkan nash yang ada, bahwa maqam khatmiyyah dengan makna yang kedua (khash) hanya dimiliki oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, hanya saja hal tersebut tidak tertera di dalam nash tersebut seperti halnya pernyataan beliau yang telah kami nukil dari beliau sebelumnya; yaitu hanya khusus bagi satu wali saja.
Dengan demikian, tersingkaplah ketidakjelasan perkara kekhususan maqam khatmiyyah yang khusus, sehingga terkadang ada wali Allah yang mengakui kewalian dengan makna yang kedua (khash), sementara kita ketahui bahwa itu tergolong maqam kewalian yang pertama (Am). Oleh karena itu, ketika Syaikh As-Sya’rani manukil dalam Thabaqât-nya dari Sayyidi Ali Wafa bahwa beliau menisbatkan maqam khatmiyyah untuk ayah beliau Sayyidi Muhammad Wafa, beliau mengatakan setelah itu bahwa maqam khatmiyyah tersebut dimiliki oleh sekelompok Shidiqin dari kalangan wali Allah, namun menurutku, setiap zaman akan bermunculan wali khatam (maksudnya wali khatam yang bermakna umum).
Hal ini pun sebenarnya sudah ditunjukkan oleh Sayyidi ‘Ali Wafa dalam perkataan beliau, “Sosoknya merupakan wali yang paling sempurna, yang nampak dalam setiap zamannya,” maksudnya adalah sosoknya nampak dengan kasyaf yang ia miliki untuk para wali yang ada pada zaman tersebut tanpa mereka prediksi sebelumnya. Ini merupakan sisi ghaib-nya Allah Swt yang tidak Allah tampakkan kecuali kepada orang yang Allah Swt ridhai.
