
Elsubha.com – Catatan Pertama: Terkait para wali sebelumnya telah sampai pada maqam wali khatam, namun wali setelahnya tidak ada lagi yang sampai pada maqam tersebut, sebab beliaulah wali khatam al akbar
Ketahuilah, memang ada sebagian wali Allah yang menisbatkan maqam yang telah digapai oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra kepada orang lain setelah kepulangari beliau ke Rahmatullah atau ada juga wali yang menisbatkan maqam tersebut untuk dirinya sendiri; baik hal tersebut karena kesalahan dalam penisbatan itu kepada dirinya atau juga kepada orang lain. Sedangkan terkait dengan pengakuan dusta dari sekelompok orang, seperti halnya yang sudah sempat kami sebutkan, bisa jadi hal tersebut terjadi lantaran adanya kesengajaan seseorang yang menganggap seorang wali memiliki maqam yang lebih tinggi daripada maqam Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra padahal sosoknya terbebas dari hal tersebut, sehingga yang tersisa hanyalah soal ketidakmampuan dalam membedakan antara kondisi jiwa dalam maqam tersebut dan juga antara sosok yang pantas menempati maqam itu bagi dirinya atau juga sosok wali lain, dimana perkara ini hanya dapat didengar secara langsung dari sosok yang memang pantas menempati maqam tersebut. Tidak ada kemuliaan yang lebih agung daripada keistiqamahan diri dengan menjauhkan diri dari sifat tamak terhadap apa yang ada pada orang lain.
Terkait dengan maqam ini, orang-orang yang Arifbillah menyebutkan beberapa tanda sosok yang berhak menempati posisi ini diantara makhluk Allah Swt, ini merupakan ragam sifat yang sudah diketahui oleh setiap wali khatam.
Sayyidi Abdul Wahab asy-Sya’rani Ra dalam kitab beliau Irsyad ath-Thâlibin illa Maratib al ‘Ulama’i al ‘Amilin, dimana didalamnya beliau menyebutkan ada 411 ilmu; diantaranya ilmu yang terkait dengan ragam sifat wali khatam pada setiap abad, berikut juga sifat wali khatam al akbar, juga mencakup beragam sifat terkait dengan keberhakan seseorang menempati maqam khatmiyyah, sebagaimana Nabi Muhammad Saw berhak menempati posisi khatimul anbiya sebelumnya dalam hal tasyri, dan bukan hanya sekedar mampu ber-talaqqi saja, sebagaimana terkait dengan perkara nabi Isa As.
Diantaranya pula ada ilmu yang membahas tingkatan-tingkatan wali khatam berikut maknanya, dimana dalam kitab ini disebutkan ragam ‘ulûm al Muhammadiyyah yaitu sejumlah 12.960 ilmu, di mana setiap dari jumlah tersebut memiliki ragam keilmuannya masing-masing yang tidak bisa dibicarakan secara vulgar. Sedangkan terkait dengan beragam ilmu tentang lauh mahfuzh, maka jumlahnya ketika dihitung dengan lisan sejumlah 360 lisan, di mana jumlah itu memiliki cabang 360 ilmu; baik secara global maupun terperinci yang merupakan hasil dari perkalian 360 tadi, itulah ragam keilmuan yang dituliskan di lauh mahfuzh.
Beliau juga mengatakan, “Aku juga mengarang kitab yang kuberi judul Tanbih al Aghbiya ‘Ala Qatratin Min Bahri ‘Ulûm al Auliya, di dalamnya aku sebutkan sebanyak 1071 ilmu, di mana setiap ilmu tersebut tidak diketahui oleh seseorang kecuali oleh para wali Allah itu sendiri. Aku pun menyebutkan beragam keilmuan tersebut dengan pemikiran-ku ataupun juga lantaran aku menelaah sebuah kitab, akan tetapi nama ilmu tersebut tidak dapat diketahui namanya, terlebih lagi kitapun tak mampu mendalaminya. Lalu aku melihat ternyata mayoritas akal para ulama bingung terhadap beragam keilmuan tersebut terlebih lagi jika bukan ulama, maka aku pun ber-istikharah kepada Allah Swt dan aku buang kitab tersebut ke sungai Nil. Disebutkan pula di dalam Ad-Durr an-Nazhîm fi ‘Ulûm al Qur’an al ‘Azhîm sebanyak 3000 ilmu, sebagaimana yang beliau sebutkan dalam Tanbih al Aghbiya tersebut. Orang-orang yang Arifbillah pun mengetahui, bahwa setiap ilmu dari beragam ilmu tersebut memiliki istilah tersendiri yang berbeda dengan ilmu yang lainnya dalam keseluruhan maupun sebagiannya, dimana setiap masalah pun tidak dapat dibedakan dan tidak pula dapat dirujuk kepada ilmu-ilmu yang lain kecuali bagi orang yang mengetahui beragam istilah setiap ilmu tersebut. Dan sudah kita ketahui bahwa tidak ada orang yang dihukumi sebagai orang yang mengetahui ilmu tersebut kecuali orang yang ‘Arifbillah itu sendiri. Karena orang yang tidak mengetahui beragam kaidah nahwu contohnya, maka tidak pantas disebutkan bahwa si fulan itu ahli dalam bidang nahwu atau fulan tersebut tidak pantas atau tidak tahu nahwu lantaran hanya mendapatkan khabar dari seorang ulama yang bergelut dibidangnya bahwa ia adalah orang alim, begitulah perkara semua keilmuan yang ada.
Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby dalam Futûhât al Makkiyyah mengemukakan sejumlah ilmu para wali; ketika beliau memaparkan beragam manzilah para wali Allah dan juga dalam jawaban beliau terkait dengan pertanyaan al Hakim at-Tirmidzi yang menguji orang-orang yang mengaku menempati maqam khatmiyah, yaitu terkait dengan kelayakan sosoknya sebagai wali khatam. Kemudian beliau pun memaparkan ulasan terkait wali khatam akbar dengan penampakan sempurna pada maqam khatmiyyah yang tidak bisa diikuti oleh para wali Allah lainnya; baik pada generasi sebelum beliau maupun generasi setelahnya dalam maqam tertinggi tersebut yaitu maqam khatmiyyah al akbar.
Lalu terkait dengan kemutlakan maqam khatmiyyah berikut ragam ilmu, martabat, sifat dan lain sebagainya, yang membedakan sosok pemilik maqam tersebut, maka para wali lainnya pun bisa memiliki beberapa sifat tersebut, sehingga haruslah ada pengukuhan kembali yang datangnya dari orang yang ‘Arifbillah, bahwa sosoknya memang sosok yang patut menempati maqam tersebut; yaitu berupa pengakuan dirinya sendiri atau pengakuan orang yang memiliki wewenang berbicara seputar maqam ini; yang membedakan sosoknya dengan orang yang mengaku menempati maqam tersebut untuk bisa wushul kepada Allah Swt dan juga mendapatkan maqam tersebut.
Telah Jelas pula bahwa maqam khatmiyyah tertinggi adalah maqam katam, dimana dengan maqam katam tersebut, pemilik maqam khatmiyyah yang memiliki maqam katam ini digambarkan dengan penampakan beliau yang sempurna. Maqam katam itu memiliki dua makna: Pertama, bisa jadi maqam tersebut tidak bisa diikuti oleh para wali lainnya; atau kedua, Allah Swt tampakkan maqam tersebut pada sosok yang Allah khususkan dengan maqam itu sendiri.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sudah banyak berbicara perihal maqam katam ini untuk orang yang mencari maqam ini atau yang ingin tahu tentangnya dari lisan beliau; terkait dengan ragam perkara yang tidak diketahui; baik di dunia maupun di akhirat. Baik maqam katam itu merupakan maqam sempurna yang merupakan lawan daripada kata al-ifsya waz-zhuhur (tersebar dan juga nampak). Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra juga telah mengatakan, bahwa beliau adalah sang wali Quthub al Maktum, dan dengan pernyataan beliau inilah nampak sisi kewalian beliau bagi orang-orang yang percaya kepada beliau, yang tidak lagi butuh beragam penjelasan tambahan terkait dengan maqam yang beliau miliki. Sementara orang-orang yang mengkritik maqam ini, maka itu datang dari kebodohan diri mereka, ada juga sebagian wali yang pura-pura bodoh kemudian fanatik sehingga perlu diberikan beragam dalil terkait dengan kebenaran martabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.-
