You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Catatan Kedua:  Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan, “Tidak ada satupun para wali yang dapat memasukkan segenap sahabatnya ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa diberi hukuman kecuali hanya aku sendiri (yang dapat melakukan nya), sekalipun mereka (para sahabatku) berdosa dan banyak melakukan kemaksiatan.”

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Catatan Kedua:  Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan, “Tidak ada satupun para wali yang dapat memasukkan segenap sahabatnya ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa diberi hukuman kecuali hanya aku sendiri (yang dapat melakukan nya), sekalipun mereka (para sahabatku) berdosa dan banyak melakukan kemaksiatan.”

Perlu diketahui oleh murid Tijany yang senantiasa mengharapkan keutamaan Allah Swt, bahwa tema dari pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra di atas yaitu pada golongan sahabat beliau yang mendapatkan talqin thariqah dari beliau Ra; baik secara musyafahah maupun dengan beragam mata rantai sanad perantara, dimana mereka mengerjakan semua persyaratan thariqah yang ada, hal ini tidak terkait dengan beragam pengakuan orang yang masuk ke dalam golongan sahabat beliau tanpa mereka melakukan semua yang ada dalam thariqah At-Tijany Ra ini, diantaranya adalah dengan menjaga ragam perkara wajib dalam syari’at dan menjauhi ragarn perkara yang dilarang oleh syari’at seoptimal mungkin.

Para murid yang berpegang teguh dengan tali thariqah inilah yang kemudian diberikan kabar gembira dengan masuk Surga meskipun mereka telah melakukan beragam dosa di masa lampau, yaitu sebelum mereka terikat dengan thariqah At-Tijaniyyah dan setelah mereka masuk ke dalam thariqah ini. Sehingga dosa dari kemaksiatan mereka akan diampuni oleh Allah Swt, ini terkait dengan keutamaan Allah Swt yang Allah berikan kepada setiap anak kecil maupun orang dewasa, dengan catatan, mereka tidak merasa aman dari makar Allah Swt. Inilah perkara yang ditekankan dalam keutamaan thariqah dan juga keutamaan para sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Bisyarah dari Sayyidi Syaikh Ra untuk sahabatnya bukan berarti menjadi pintu pembuka kemaksiatan yang membuat mereka melakukan beragam perkara yang dilarang oleh Allah Swt, maka tidak mungkin beragam keburukan tersebut menjadi perkara yang mubah bagi sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, tentu ini bukanlah yang dimaksud oleh beliau, akan tetapi pernyataan beliau tersebut merupakan pernyataan yang sealur dengan apa yang warid terkait dengan hak Alu bait, bahwa mereka akan tergolong orang-orang yang berjalan pada barisan Ahlu Badar, yang Allah Swt katakan pada mereka dalam hadits Nabi Saw,

اِعْمَلُوامَا شِئْتُمْ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

“Berbuatlah sesuka kalian, karena sesungguhnya Aku (Allah) telah mengampuni kalian,” maka pernyataan ini bukan berarti adanya izin bagi mereka untuk melakukan kemaksiatan, karena Allah Swt sama sekali tidak pernah memerintahkan untuk melakukan perkara yang buruk, akan tetapi bisyarah tersebut berupa adanya ampunan Allah Swt bagi semua kondisi para sahabat, dan bukan berarti terbukanya pintu maksiat untuk mereka bisa melakukannya.

Sementara terkait dengan pernyataan, “Mereka pun akan masuk ke dalam surga tanpa hisab dan iqab,” maka hal ini pun tidak jauh beda dengan keberhakan orang-orang yang taat dari umat Nabi Muhammad Saw, yang bisa masuk surga tanpa di-hisab dan juga di-iqab, maka tidak mustahil jika sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mendapatkan hal tersebut lantaran keutamaan dari Allah Swt sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan, khususnya shalawat mereka yang banyak kepada Nabi Muhammad Saw dengan posisi mereka yakin kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.

Sayyidi Syaikh Ra tidak katakan bisyarah ini tanpa adanya bisyarah dari Nabi Muhammad Saw untuk beliau. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tidak katakan itu dari diri beliau, bahkan engkau pun bisa memastikan sendiri, bahwa orang yang tidak mengamalkan ragam persyaratan thariqah, maka ia pun tidak termasuk ke dalam golongan sahabat beliau Ra, begitu juga orang yang seenaknya saja berbuat dosa dan kemaksiatan, itupun tidak termasuk sahabat beliau Ra sekalipun dia sudah masuk ke dalam thariqah At-Tijaniyyah.

Disebutkan dalam sebagian tulisan Sayyidi ‘Ali Harâzim, bahwa orang yang sudah masuk ke dalam thariqah ini akan tertulis diantara kedua matanya kalimat “Hadza Tijany. (ini Tijany)”, dan diantara kedua matanya tertulis “Hadza Mahrumun (ini orang yang diharamkan masuk neraka).”

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menekankan, bahwa jangan sampai murid Tijany merasa aman dari dosa, karena dia sama dengan manusia lainnya secara umum yang bisa berbuat maksiat dengan sengaja maupun tanpa disengaja, sehingga perlu melakukan amalan untuk menggugurkan dosa tersebut dengan bertobat kepada Allah Swt dari dosa-dosa sebelumnya dan juga melakukan amal shaleh serta menjauhi beragam pelanggaran tersebut. Murid Tijany semacam ini akan senantiasa melakukan ragam perkara yang mampu menghapus dosa-dosa masa lampau dengan cara dia menegakkan shalat dan menjaga wiridan thariqah yang didalamnya ada pahala yang besar. Hal ini pun tentu ditopang dengan adanya keutamaan Allah Swt bagi murid Tijany tersebut.

Ketika murid Tijany melazimkan dzikirannya setiap hari, maka dia telah mendapatkan satu dari ragam kebaikan Allah Swt, dimana kebaikan yang diperbuat itu mampu menghilangkan atau memudarkan keburukan yang pernah dilakukan, sehingga tidak dipungkiri bahwa sang murid bisa masuk ke dalam Surganya Allah meski sang murid melakukan beberapa kemaksiatan, yang tidak terkait dengan ragam perkara yang meruntuhkan amalan seperti halnya syirik maupun murtad.

yang Sementara tentang murid Tijany meremehkan wiridan beserta ragam persyaratannya, diapun mengikuti hawa nafsunya sehingga tenggelam dalam kemaksiatan dan juga dosa, atau sisi setan lah yang kemudian merongrong diri sehingga jiwanya pun tunduk dan melakukan beragam perkara yang dilarang tersebut, yang demikian ini tentu tidak tergolong sebagai sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, maka dari sini pun jelas bahwa murid yang demikian tentu sama saja dengan manusia pada umumnya yang tidak memiliki ismah (keterlindungan dari melakukan dosa), hanya saja murid Tijany istimewa dari yang lain karena mampu beribadah dengan kejujuran jiwa yang hal tersebut memasukkan dia kedalam sisi aman yang diberitakan dengan bisyarah; yaitu diampuni ragam dosanya. Hal tersebut merupakan keutamaan dari Allah Swt lantaran ia tergolong sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Maka bukan lagi perkara yang membuat takjub ketika Allah Swt memberikan taufik kepada murid Tijany untuk menjauhi beragam perkara yang menyebabkan datangnya kemurkaan Allah Swt dengan keberkahan gurunya (Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra) yang telah diberikan bisyarah tersebut. Pernyataan Sayyidi Syaikh Ra tentu tidak menyelisihi beragam nash yang ada, bisa jadi kritikan yang datang itu terkait dengan ungkapan syukur Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan juga bagi sahabat beliau lantaran ulahnya sebagian orang yang bodoh dalam thariqah atau bahkan orang-orang yang membenci thariqah itu sendiri. Lantaran inilah, kemudian banyak pernyataan miring yang dilontarkan terkait pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang perlu ditanggapi dengan dalil yang jelas, maka aku pun menggubah syair berikut:

إِلَى اللَّهِ أَشْكُوا مِنْ أُنَاسٍ تَنَطَّعُوْنَ # وَصَالُوْا هَدْيَ الطَّرِيقِ بِطُغْيَانِ

فَقَالُوْا مَقَالًا فِي الطَّرِيقِ مُفَنَّذًا # لِيُؤْذُوْا مُرِيْدَهَا بِسِرٌ وَإِعْلَانِ

يَقُوْلُوْنَ قَالَ الشَّيْخُ مَنْ حَازَ وِرْدَهُ # بِإِذْنٍ فَلَا يُخْشَى مَوَارِدُ عِصْيَانِ

لِيَفْعَلَ مَا يَهْوَى وَلَا يَخْشَى الرَّدَى # وَيَجْتَنِبَ التَّقْوَى لِأَنَّهُ تِجَانِي

فَبِاللَّهِ لَا مَجْرَى عَلَى فِكْرِ عَاقِلٍ # قُبُوْلَ كَلَامٍ مِثْلَ هَذَا مِنَ الجَانِي

حَنَى مَا بِهِ قَدْ رَامَ تَشْوِيهَ هَذِهِ الـ # طَرِيْقِ جَزَاهُ اللَّهُ أَعْظَمَ حِرْمَانِ

وَهَذِي الطَّرِيقِ مِنْ شُرُوطِ سُلُوكِهَا # مُلَازَمَةُ التَّقْوَى عَلَى قَدْرِ إِمْكَانِ

وَمَنْ لَمْ يَكُنْ مُسْتَمْسِكًا بِشَرِيْعَةٍ # فَأَوْرَادُهُ لَا شَكٍّ أَوْرَادَ شَيْطَانِ

وَمَنْ رَامَ تَضْلِيلَ التِّجَانِي وَصَحْبِهِ # بِمَا قَالَهُ الْأَعْدَاءُ بَاء بِخُسْرَانِ

“Kepada Allahlah aku laporkan sebagian manusia yang keras kepala # mereka menyerang sisi thariqah dengan kezhaliman

Mereka nyatakan perkataan mengenai nilai aplikatif dalam thariqah dengan nada lirih dan lantang # yang bertujuan menyakiti murid thariqah

Mereka berkata, Sayyidi Syaikh berkata, “Barangsiapa yang telah mendapatkan wiridannya # dengan izin yang benar, #maka tidak ditakutkan lagi dia terjebak di tempat maksiat

Agar ia bisa melakukan apa yang dia inginkan tanpa takut murtad # bahkan ia pun bisa menjauh dari ketakwaan diri karena ia Tijany

Demi Allah, (perkataan ini) tidak pernah terlintas pada pikiran orang yang berakal # menerima perkataan semisal ini yang datangnya dari orang durjana

la durjana lantaran telah memburamkan thariqah ini # semoga Allah membalasnya dengan balasan kemurkaan paling besar

Diantara aturan thariqah dalam suluknya adalah # melazimkan ketakwaan sesuai kemampuan diri

Orang yang tidak bisa berpegang pada syari’at # maka tidak diragukan lagi wiridannya adalah wiridan syaithan Begitu juga orang yang menuduh Tijany dan sahabatnya sesat # dengan perkataan para musuh Tijany, maka ia akan merugi.”

Kemudian aku pun mengatakan:

اَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ الْعَظِيمِ عَلَى الَّذِي # افْتَرَى مِثْلَ هَذَا الْقَوْلِ فِي طُولِ الْأَزْمَانِ

فَقَالَ بِأَنَّ الشَّيْخَ قَالَ طَرِيقُهُ # بِهَا يَكْمُلُ الإِيْمَانَ فِي أَهْلِ إِيْمَانِ

وَقَالَ بِأَنَّ الْمُرَادَ لَيْسَ بِمُسَلِّمٍ # إِذَا لَمْ يُلَقَّنْ وِرْدَهُ بَيْنَ الإِخْوَانِ

لَعُمْرِكُمْ أَنَّ التِّجَانِي لَمْ يَقُلْ # مَقَالَةَ هَذَا الْقَائِلُ الْمُفْتَرَى الشَّأْنِي

وَلَا شَكٍّ أَنَّ الْمُسْلِمِينَ جَمِيْعُهُمْ # يَقُوْلُوْنَ مَا هَذَا الْمَقَالُ لتجاني

وَقَدْ بَرْهَنِ الإِنْصَافَ أَنَّ طَرِيقُهُ # مُنَزَّهَةٌ عَمَّا نُسِبَ الْحَانِي

وَلَكِنْ عَيْنُ الْبُغْضِ تَنْظُرُ لِلْقَذَى # وَتَطَبَّقُهَا الطَّبَّاقُ حَلْمُوْدَ عُمْيَانِ

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَنْ فَرْطِ جَهْلٍ مُرَكَبٍ # فَذَوِى جُحُوْدٍ وَهُوَ يَفْضِي لِخُسْرَانِ

إِمَّا كَانَ مِنْ حَقِّ الْبَغِيْضُ وَحِزْبِهِ # تُبَاعِدُهُمْ عَنْ بُغْضِ أَصْحَابِ عِرْفَانِ

وَلَكِن فُضُولٌ مِنْهُمْ وَجُرْأَةٌ # تَحُرُّ لَهُمْ سُوْءٌ عَلَى طُوْلِ الْأَحْيَانِ

فَيَا وَيْلُهُمْ مِمَّا يُلَاقُوْنَهُ غَدًا # وَيَلْقَوْنَ قَبْلَ الْمَوْتِ أَعْظَمَ إِيْهَانِ

“Sungguh laknat besar Allah bagi # orang yang berkata dusta seperti perkataan ini sepanjang zaman

Menyatakan, bahwa Syaikh berkata #thariqah beliau bisa menyempurnakan iman pada ahli iman

Juga perkataan bahwa seseorang belum sempurna menjadi muslim # jika belum ditalqinkan wiridan thariqah diantara ikhwan

Demi umur kalian, sungguh Tijany ini tidak mengatakan perkataan orang yang membuat-buat lagi aneh

Tidak diragukan lagi bahwa semua kaum muslimin # sepakat bahwa perkataan ini bukan Tijany yang katakan

Telah diberikan dalil agar insyaf, bahwa thariqahnya # terbebas dari apa yang dinisbatkan oleh orang yang durjana ini

Akan tetapi mata kebencian akan selalu memandang pada perkara buruk # batu membuat kedua pelipis tertutup bahkan buta

Andai bukan lantaran dungu, #maka dia adalah orang yang ingkar, yang akan menggiringnya pada kerugian

Sedangkan jika itu datang dari kelompok orang yang membenci (Tijany) # maka menjauhlah dari mereka; orang yang membenci ahli ma’rifat

Akan tetapi kelebihan dan keberanian merekalah # yang memerosokkan mereka sepanjang waktu

Maka neraka wail lah yang akan mereka temui nanti # bahkan sebelum kematian, mereka akan temui kesengsaraan.”

Kemudian kukatakan lagi:

وَقَدْ زَادَهُمْ هَوْلًا صَحِيْحَ ضَمَانَةٍ # مِنَ الْمُصْطَفَى لِلشَّيْخِ مَعَ كُلِّ الْإِخْوَانِ

وَقَالُوا بِهَذَا لِلْمُرِيدِ اغْتِرَارُكَ وَلَيْسَ يُبَالِي بِارْتِكَابٍ لِعِصْيَانِ

عَلَى أَنَّ كُلَّ الْمُتَّقِينَ ضَمَانُهُمْ # حَقِيقِيٌّ فَمَا هَذَا الضَّمَانُ لتجاني

فَقُلْنَا لَهُمْ يَا جَاحِدُوْنَ ضَمَانَهُ # خُصُوْصِيِّ وَلِلتَّحْصِيْصِ حُكْمٌ بِرَحْحَانِ

وَكَانَ خُصُوصِي فَهُوَ حَازَ مَزِيَّةً # عَلَى غَيْرِهِ فَلْتَعْرِفُوْهُ بِإِيْقَانِ

عَلَى أَنَّ ذَاكَ الضَّمَانُ بِشَارَةٌ بِمَا تَعْظُمُ الْأَفْرَاحَ مِنْ بَيْنِ إِخْوَانِ

فَتَنْشَطُ لِلْأَعْمَالَ نَفْسَ مَرِيْدُهُ # وَلِمَ لَا وَقَدْ حَقَّتْ بِرَوْحٍ وَرَيْحَانِ

فَيَأْخُذُ مِنْ بَيْنِ الْعُمُوْمِ نَصِيبَهُ # وَيَأْخُذُ حَظًّا فِي الْخُصُوصِ بِإِعْلَانِ

وَمَا ضَرَّنَا تَصْدِيقُنَا لِبِشَارِةٍ # وَكَانَ لَنَا فِيْهَا مِنَ اللَّهِ لُطْفَانِ

وَكَمْ كَذَّبُوا مَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ # وَأَقْبَحُ شَيْءٍ أَنْ يُكَذِّبَ ذُو شَأْنِ

“Huru-hara bagi mereka pun akan ditambah, sesuai dengan benarnya jaminan # dari Al Musthafa untuk Syaikh Ra dan seluruh ikhwan

Mereka mengatakan kepada sang murid, ‘ini adalah tipuan bagimu’, # diapun tidak peduli melakukan kemaksiatan

Bahwa sungguh jaminan bagi seluruh orang mukmin # benar adanya, maka jaminan ini bukan hanya untuk Tijany

Maka kami katakan pada mereka, ‘wahai orang-orang yang ingkar, jaminan itu # adalah kekhususanku’.

Pengkhususan ini memiliki kebenaran hukum Kekhususanku itu melampaui keistimewaan yang lainnya, # maka ketahuilah itu dengan penuh keyakinan

Bahwa jaminan itu adalah kabar gembira # dengannya rasa senang itu memuncak diantara ikhwan

Sehingga memupuk semangat pada jiwa murid, # mengapa tidak demikian sementara bisyarah itu dengan semerbak keharuman

la menentukan nasibnya dari orang umum # dan mengambil langkah dari orang khusus secara terang-terangan

Kepercayaan kami akan bisyarah pun tidak memudharatkan kami # dimana kami memiliki dua sisi luthuf dari Allah

Berapa banyak orang yang tidak berilmu itu kerap berdusta # dimana sesuatu yang terburuk adalah berdusta lagi aneh.”

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS MAQAM KHATMIYYAH & KHATMIYYAH SAYYIDI SYAIKH AHMAD AT-TIJANI RA (NAHJ AL HIDAYAH FI KHATM AL WILAYAH) SYAIKH AL ‘ALLAMAH SAYYIDI AHMAD SUKAIRIJ AT-TIJANY