You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Catatan Ketiga: Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan, “Di akhirat nanti, maqam kami di sisi Allah tidak ada satupun wali yang mampu sampai kepada maqam kami, bahkan mendekatinya sejak zaman sahabat hingga ditiupkannya sangkakala…”

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Catatan Ketiga: Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan, “Di akhirat nanti, maqam kami di sisi Allah tidak ada satupun wali yang mampu sampai kepada maqam kami, bahkan mendekatinya sejak zaman sahabat hingga ditiupkannya sangkakala…”

Ketahuilah, bahwa pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang seperti pernyataan ini dan yang serupa dengannya merupakan bagian dari gambaran tahadduts bin ni’mah (ungkapan syukur), pernyataan seperti ini bisa menjadi pernyataan yang menjijikkan di mata orang-orang yang tidak mengenal ahlullah atas keutamaan Allah Swt yang tidak terbatas. -Allah mempunyai karunia yang besar, Dialah yang menentukan siapa yang Dia kehendaki untuk diberi rahmat.-

Pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra disini bukanlah pengakuan diri atas apa yang Allah khususkan kepada beliau. Sebab pengakuan itu sesuatu dan pengkhususan diri adalah sesuatu yang lainnya. Bagi orang yang mempercayai kaum Sufi, martabat orang yang mengikuti itu terkait dengan sosok yang diikuti. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sendiri adalah pengikut Rasulullah Saw dan juga sama dengan manusia lain dalam timbangan Nabi Muhammad Saw di alam semesta ini, namun Sayyidi Syaikh Ra ber-tarqiyah menuju derajat yang tinggi bersama Nabi Muhammad Saw. d.(2)

Sayyidi Syaikh Ra sendiri memiliki maqam khusus dari sisi kedekatan beliau dengan hadhrah Mustafawiyyah lantaran apa yang beliau dapatkan dari banyaknya shalawat beliau untuk Nabi Muhammad Saw dengan lisan beliau yang khusus dan juga lisannya para pengikut beliau. Seorang ikhwan dalam timbangan Sayyidi Syaikh Ra merupakan pengikut beliau, mereka akan bersama dengan Syaikh Ra dalam tingginya posisi tersebut sesuai dengan sisi kecintaan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra; ini meliputi ikhwan yang paling rendah sampai paling tinggi dari anak yang paling kecil sampai orang yang paling tua. Jika dilihat dari sisi ini, maka tidak ada orang khusus maupun orang biasa dari umat ini yang sampai kepada maqam tersebut sejak zaman sahabat Nabi Muhammad Saw. Hal ini sebagaimana yang ditafsirkan oleh penukil pernyataan ini; yaitu sejak berakhirnya abad sahabat Nabi Muhammad Saw; artinya sejak permulaan abad tabi’in sampai sangkakala nanti ditiupkan.

Bagi orang yang munsif, hal ini tidak berarti mengurangi ragam martabat para wali sebelumnya, bahkan pada akhir pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra jelas dinyatakan, bahwa beliau Ra berlepas diri dari orang yang merusak kehormatan para wali Allah; baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.

Pernyataan di sini hanya seputar tahadduts bin-ni’mah dan juga memberitakan apa yang telah didengar dari Nabi Muhammad Saw. Maka tidak diragukan lagi bahwa memberitakan apa yang didengar dari Nabi Muhammad Saw merupakan bab tahadduts bin-ni’mah, tidak ada makna kritik pada Sayyidi Syaikh Ra. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tahu betul kadar bisyarah tersebut dan sosok yang memberitakan itu, terkecuali pada orang yang tidak tahu dengan posisi ma’rifatnya Sayyidi Syaikh Ra terhadap Allah Saw berikut implikasinya, yang sosoknya menyendiri pada maqam shidiq (jujur) dan tidak berbohong pada Allah dan juga makhluk-Nya.

Anggap saja jika kita katakan bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra belum mendengar bisyarah itu dari Nabi Muhammad Saw, maka itu bukan berarti Sayyidi Syaikh Ra mengatakan sendiri perkataan itu, sehingga beliau dalam posisi mengagungkan nikmat yang Allah beri kepada beliau dan juga sahabat beliau; yaitu dengan nikmat yang tidak bisa digapai oleh seorang walipun. Jika demikian kondisinya, maka kondisi ini juga tidak bisa dikritisi, sebab orang yang bersyukur terhadap nikmat; ketika jiwanya tenggelam dalam mensyukuri nikmat tersebut dibalik rasa syukurnya secara zhahir, maka yang ada hanya pilihan menganggap besar nikmat yang beliau dapatkan dari Allah Swt, dimana dalam kenyataannya tidak ada seorang wali pun yang bisa sampai kepada maqam tersebut sejak Allah ciptakan hingga berakhirnya alam semesta ini; maksudnya adalah selepas masa sahabat Nabi Muhammad Saw hingga hari Kiamat tiba. Maka Âlu bait, para sahabat nabi dan juga sosok yang bersyukur ini mau tidak mau dikatakan telah melakukan perkara yang terpuji dan tidak tercela. Terlebih lagi pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tersebut datang dalam kondisi jiwa beliau yang sadar, bukan juga bagian dari celetukan Sufi yang terkadang ngawur, juga bukan datang dari kondisi sakar (mabuk tidak sadarkan diri). Sebab Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra senantiasa dalam kondisi shahwu (sadar diri) dalam mengabarkan suatu perkara. Dimana telah ditetapkan bahwa thariqah beliau adalah thariqah syukur, kondisi syukur itu sendiri dipenuhi dengan ragam luapan jiwa yang mengagungkan nikmat yang datangnya dari Allah Swt, tentu ini bukanlah ungkapan sembarangan ataupun datang dari diri beliau sendiri, tetapi ini datang dari jiwa tentram, yang kuat dengan suluk kepada Allah Swt melalui thariqah beliau ini, bahkan kondisi ini merupakan tambahan kabar gembira lantaran berpegang teguh pada tali kecintaan sosok yang diikuti yaitu Nabi Muhammad Saw, sebab Nabi Muhammad Saw lah yang telah mentalqinkan beragam wiridan thariqah kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.

Perlu juga diketahui, bahwa keyakinan seperti yang telah kami paparkan dalam pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra ini tidak menjadi syarat bagi orang yang hendak masuk ke dalam tarekat al Ahmadiyyah ini. Sebab ragam persyaratan thariqah itu adalah satu perkara, sementara berkaitan dengan keutamaan thariqah adalah perkara yang lain. Perkara yang demikian sengaja diutarakan agar bisa lebih mendatangkan ketenangan jiwa bagi orang-orang yang mencintai Sayyidi Syaikh Ra juga meyakini sosok beliau dan bukan bagi orang-orang yang mengkritik beliau Ra.

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS MAQAM KHATMIYYAH & KHATMIYYAH SAYYIDI SYAIKH AHMAD AT-TIJANI RA (NAHJ AL HIDAYAH FI KHATM AL WILAYAH) SYAIKH AL ‘ALLAMAH SAYYIDI AHMAD SUKAIRIJ AT-TIJANY