
Elsubha.com – Catatan Keempat: Pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Terkadang yang ulama maksud dengan maqam khatmiyyah adalah maqam dimana Allah Swt tutup kewalian sisi al Muhammady.”
Perlu diketahui, ragam maqamât dalam istilahnya orang yang Arifbillah berbeda-beda, hal ini lantaran perbedaan ungkapan yang membutuhkan banyaknya penelaahan karya para wali Allah, hal ini juga berkaitan dengan apa yang mereka mutlakkan dalam istilah-istilah tersebut. Beragam keterkaitan istilah tersebut tentu mengarah pada ketenangan batin meski sebenarnya perkara ini tidak dibutuhkan lagi oleh orang yang sudah meyakini sang wali khatam berada dalam magam hakekat. Sebab, beliau tidak melihat kecuali gambaran yang Allah Swt datangkan dalam cermin bathin yang sesuai dengan kondisi jiwa beliau Ra. Allah Swt ber-tajalli pada orang yang meyakini sosok beliau; dengan penyaksian yang tidak bisa disaksikan oleh orang yang mengkritik maqam tersebut.
Hamparan ma’rifat tentu tidak diperlihatkan kecuali bagi orang yang memang ahlinya dan jika itu nampak pada selain empunya, maka ini malah akan menjadi fitnah bagi yang bersangkutan dan dia pun tidak akan pernah mendapatkan apapun dari maqam tersebut.
Aku (penulis) telah menelusuri dan mengikuti yang mereka mutlakkan terkait maqam khatmiyyah dan sosok pemegang maqam tersebut berikut ragam tandanya. Aku akan jabarkan hal itu namun tidak pada kitab ini, tetapi pada kitab Kaukab al Wahhaj. Kami nukilkan pembahasan tersebut dalam buku ini, aku tuliskan dalam pembahasan khatmiyyah: “Makna khatmiyyah dalam pernyataan para Sufi terkadang memiliki makna mutlak atau juga makna lain; yang para ulama maksudkan dengan ‘sosok penutup kelahiran’, maknanya adalah bahwa sosoknya merupakan anak terakhir yang lahir sebelum terjadi kemandulan pada seorang lelaki dan menopause pada seorang wanita. Maka maqam ini merupakan maqam yang dikhususkan bagi satu orang pada generasi awal sesuai dengan kalbunya Sayyidina Syits As.”
Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby dalam Fushûsh al Hikam memaparkan dengan paparan berikut:
“Nabi Syits As adalah yang terakhir dilahirkan dari jenis manusia, beliau pengemban asrar-Nya Allah, dimana setelah beliau tidak ada jenis manusia baru. Maka beliaulah sang penutup sisi kelahiran, kemudian dari sinilah terlahir secara turun-temurun anak keturunan nabi Adam As yang ketika itu dilahirkan di China, dimana bahasanya adalah bahasa negara tersebut, kemudian sejak itulah terjadi kemandulan pada lelaki dan juga wanita. Setelah itu pernikahan menyeruak tanpa diawali dari proses kelahiran baru. Nabi Syits As menyeru mereka kepada Allah Swt, namun mereka tidak menanggapi. Ketika Allah Swt matikan mereka dan juga matikan orang-orang yang beriman pada zamannya, hingga yang tersisa hanyalah orang-orang semisal hewan yang tidak menghalalkan apa yang sudah dihalalkan dan tidak mengharamkan apa yang sudah diharamkan, mereka bertindak sesuai hukum alam dan syahwat mereka, maka seketika itulah hari Kiamat akan datang.”
Pen-syarah Fushûsh al Hikam; Sayyidi Ahmad bin Ahmad bin Ramhu Az-Zabidi mengatakan pernyataan berikut: “Perlu diketahui, bahwa yang dimaksud pernyataan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby dengan ‘penutup kelahiran adalah penutup kewalian’. Sebab, penutup kewalian yang terfokus bagi Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby adalah maqam beliau sendiri. Sedangkan yang menempati maqam wali khatam mutlak adalah nabi Isa As, sebagaimana diisyaratkan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra diawal dan telah dijelaskan secara gamblang pada pernyataan beliau diberbagai ulasan, sehingga tidak tertutupi lagi bahwa kisah ini tidak cukup menggambarkan satu kondisi saja (isyarat dan menyatakan secara gamblang).”
Ada ulama yang menggiringnya pada makna wali khatam yang mutlak. Perkara yang membuat sebagian ulama menggiring pernyataan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby kepada makna wali khatam adalah, bahwa sang penutup kelahiran adalah pengemban asrar-nya nabi Isa As, maka sudah seharusnya ia tergolong wali Allah Swt dan ketika ia tergolong wali Allah Swt, maka setelahnya pun tidak ada lagi “anak” yang menjadi penutup wali, sebab nyatanya perkara tersebut tidaklah demikian. Sebab, bisa jadi beliau telah mengejawantahkan sisi kewalian sebelum turunnya nabi Isa As, mungkin saja sosoknya mau menjalankan sisi kewalian sebelum turunnya nabi Isa As atau beliau nampak dengan sisi kewalian, dan turunnya nabi Isa As pada zamannya atau sosok yang tersisa dari zaman setelahnya, dimana tidak ada seorangpun yang mampu mengejawantahkan sisi kewalian sehingga dialah yang menjadi wali khatam.
Terkadang para ulama memutlakkan maksudnya dengan makna penutup khilafah terbesar, hanya ada satu wali yang mengikuti jejaknya nabi Adam As; yaitu Sayyidina Ali Kw.
Terkadang yang para ulama maksudkan adalah penutup imamah, yaitu bagi anak keturunan Sayyidina Ali Kw lantaran muncul dengan sisi imamah yang sempurna, tidak ada yang menampakkan sisi ini selain mereka.
Terkadang yang para ulama maksudkan adalah maqam yang lebih dari itu, namun tidak sampai maqam kenabian; yaitu maqam Quthbaniyyah al Bathinah al Khâshshah. Sisi ini tidak diikuti kecuali oleh para wali Quthub sisi al Muhammady dengan hukum mewarisi dari Nabi Muhammad Saw. Inilah yang ditemui pada setiap zaman, seperti sosok mujaddid yang datang setiap seratus tahun. Maqam ini tidaklah khusus bagi sosok tertentu dan inilah yang diisyaratkan oleh wali Quthub Abu al ‘Abbas al Busty Ra dalam sya’ir gubahan beliau:
هُمْ أَمِنَّاءُ اللَّهِ فِي خَلْقِهِ وَهُمْ # نُجُوْمٌ بَدَتْ لِلنَّاسِ فِي لَيْلَةٍ ظُلْمَةٍ
إِذَا غَابَ نُحُوْمٌ لَاحَ نَحْمٌ وَهَكَذَا # إِلَى أَخِرِ الْأَزْمَانِ عِقْدَ الأحِبَّة
“Mereka adalah orang-orang terpercaya pada makhluknya, mereka # adalah bebintangan yang nampak bagi manusia dalam kegelapan
Apabila satu bintang hilang, maka muncul lagi bintang lainnya, seperti inilah # ikatan cinta hingga akhir zaman.
Wali yang mengaku memiliki maqam khatmiyyah bukan hanya satu saja, seperti Sayyidi ‘Ali Wafa yang dinisbatkan pada sang ayah; Sayyidi Muhammad Wafa`, bahkan bukan hanya satu orang yang memahaminya dengan menyelisihi maksud. Oleh karena itu al ‘Arifbillah Sayyidi asy-Sya’rani mengatakan dalam Thabaqât-nya: Aku berkata: “Ada sekelompok Shiddiqin yang mengaku memiliki maqam khatmiyyah seperti yang dinisbatkan Sayyidi ‘Ali Wafa untuk ayah beliau; Sayyidi Muhammad Wafa. Namun yang jelas adalah bahwa setiap zaman akan ada wali khatam-nya.”
Dalam Khalâshah al Atsår fi Tarjamah al Qasysyāsyi disebutkan dengan naskah berikut: Al Qasysyasyi mendapatkan maqam khatmiyyah pada masanya. Beliau pernah menuliskan pada Hasyiyah Risalah al ‘Arifbillah Salim bin Ahmad Syaikhan Ba ‘Alawi sebagai berikut: Syiqq al Jayb fi Ma’rifati Rijal al Ghaib; Al Khatam hanya ada satu di setiap zaman, Allah Swt menutup sisi kewalian dengan sosoknya, beliau adalah Syaikh Akbar; Muhyiddin Ibnu ‘Araby.
Dari nash yang kami tahqiq ini, maka ditemukan bahwa khatmiyyah merupakan martabat ilahiyyah, Allah turunkan kepada seseorang pada setiap zaman dan waktu, ia tidak pernah terputus selamanya hingga tidak tersisa di atas muka bumi ini orang yang mengatakan, “Allah, Allah.” Hal ini lantaran tidak kosongnya ragam martabat ilahiyyah dari para pengembannya sampai jiwa sang pengemban nantinya seperti bulatan yang meliputi martabat ilahiyyah yang ada sebelum dan sesudah itu; dengan itu, ragam perkara baik pun sempurna dan ragam hajat dikabulkan. Kami pun telah memastikan perkara itu, bahkan kamipun telah menempati posisi itu. Ada para masyayikh-ku pemegang maqam khatmiyyah, sanadnya bersambung sampai pada kami tanpa terputus insya Allah.
Setelah itu beliau berkata: Abdul Jami’ Ahmad Muhammad al Madani mengatakan padanya, “Semisal beliau hendaknya tidak diperbincangkan kecuali atas adanya izin ilahi dan melalui tiupan pada hati.
Dalam Rihlah al ‘lyyasyiyyah disebutkan dan disyaratkan bagi pemilik maqam ini dengan perkiraan; andai sosoknya mampu menghapus semua syari’at niscaya Allah akan hidupkan kembali gambaran syari’at itu dari memorinya tanpa dia ketahui. Dia pun mengetahui setiap gambaran dari semua hewan, tumbuhan, logam dan lainnya. Oleh karena itu, Sayyidi ‘Ali bin Faridh berkata, “Penampakan terlengkap pada setiap zaman, dialah yang nampak dengan kasyaf dan bayar-nya pada penghuni zaman tersebut tanpa mereka sangka. Ia adalah sisi ghaib-nya Allah yang tidak ditampakkan kecuali pada orang yang Allah Swt ridhai.”
Setiap wali yang sampai pada maqam ini, sosoknya memiliki sisi tajalli khusus sesuai sisi tarqiyah nya. Meskipun para wali Allah banyak yang telah menggapai maqam ini, tetapi martabat mereka berbeda-beda. -Semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya.-
Terkadang yang para ulama maksudkan adalah penutup maqam kewalian secara umum nan nampak, yang dimiliki oleh para wali yang memiliki sisi tashrif yang zhahir. Maqam ini ditutup oleh seseorang yang khusus; yaitu Imam Mahdi al Muntazhar.
Terkadang yang ulama maksudkan adalah penutup maqam kewalian sisi al Muhammady secara umum. Inipun khusus bagi seseorang; orang Arab yang memiliki asal-usul paling mulia namun bukan dari keturunan Nabi Muhammad Saw. Beliaulah yang bertemu dengan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby di kota Fess dan mendo’akannya.
Hal ini dikatakan dalam Futûhât al Makkiyyah ketika menjawab pertanyaan al Hakim at-Tirmidzi; pada pertanyaan ke-13, tentang siapa yang berhak menjadi penutup wali, sebagaimana Nabi Muhammad Saw sebagai penutup nabi: Beliau tuliskan: Maqam khatmiyyah itu ada dua: Sisi khatmiyyah dimana Allah Swt menutup kewalian secara mutlak dan sisi khatmiyyah, dimana Allah tutup kewalian sisi al Muhammady.
Penutup kewalian secara mutlak adalah nabi Isa As, beliau adalah wali dengan sisi kenabian yang mutlak pada zaman umat ini. Ada jarak antara sosoknya dan juga kenabian sisi syari’at dan risalah pada akhir zaman, beliaupun turun kembali sebagai penutup wali setelahnya, sebagaimana Nabi Muhammad Saw adalah penutup kenabian, yang setelahnya tidak ada kenabian tasyri’, andai nabi tasyri’ setelah beliau adalah nabi Isa As dari kalangan ulul ‘azmi dan para nabi khusus, akan tetapi hukum (kenabian) beliau pada zaman ini telah beralih pada yang lain, sehingga nabi Isa As turun kembali sebagai wali yang memiliki sisi kenabian yang mutlak, bersama para wali sisi al Muhammady. Beliau bagian dari kita (umat Islam), beliaulah penghulu kita. Nabi pertama adalah nabi Adam As dan yang terakhir adalah nabi Isa As; maksudnya sosoknya memiliki pangkat kenabian khusus, sehingga pada hari Kiamat nanti, beliau memiliki dua kebangkitan; dibangkitkan bersama kami (umat nabi Muhammad Saw) dan dibangkitkan bersama para utusan Allah.
Sedangkan penutup kewalian sisi al Muhammady, maka itu milik seseorang dari Arab yang memiliki asal-usul mulia; sosoknya nampak di zaman kita saat ini, aku tahu sosoknya pada tahun 595 H, akupun melihat tanda yang Allah Swt sembunyikan dari hamba Allah dan Allah tampakkan padaku, sosoknya berada di kota Fess, hingga aku melihat tanda penutup kewalian darinya yang berupa “cap penutup kenabian” yang tidak diketahui oleh banyak orang. Allah uji dia dengan pengingkaran terhadap ilmu yang Allah berikan dalam sirnya, sebagaimana Allah Swt tutup sisi kenabian tasyri dengan Nabi Muhammad Saw. Begitu juga Allah Swt tutup wali khatam sisi al Muhammady yang digapai dari sisi pewaris maqam al Muhammady, bukan dari sisi para nabi sebelumnya.
Sebab, dari kalangan wali Allah ada yang mewarisi sisi nabi Ibrahim, sisi Nabi Musa dan sisi nabi Isa As, kelompok wali seperti ini tidak ada lagi setelah sosok pewaris al Muhammady ini, dimana setelah beliau tidak ada lagi wali Allah yang mewarisi qalbur-nya Nabi Muhammad Saw; inilah makna dari sosok wali khatam sisi al Muhammady.
Beliaupun mengatakan ketika menjawab pertanyaan ke-15: Nah, ketika ragam hukum Nabi Muhammad Saw berbeda dengan hukum nabi dan utusan Allah yang lainnya dalam perkara kebangkitan (setelah kematian), halalnya binatang ternak, sucinya bumi untuk dijadikan tempat shalat, beliau Saw diberikan Jawâmi’ al Kalim dan kemenangan dengan diberikan rasa takut pada diri musuh, beliaupun diberikan ragam perbendaharaan bumi, maka Allah Swt tutup kenabian dengan sosok nabi Muhammad Saw, dimana pangkat setiap nabi yang turun setelah beliau berpangkat wali Allah, maka Allah turunkan maqam kekhususan sang wali, sehingga pantas jika maqam kewalian khusus ada juga wali khatam-nya, dimana namanya sama dengan nama Nabi Saw dan mewarisi akhlak beliau Saw, kita kenal sosoknya dengan nama al Muntazhar, beliau ini masih keturunan Nabi Muhammad Saw. Sementara wali khatam bukanlah berasal dari keturunan jasmani, tetapi yang menuruni sisi kema’rifatan dan ragam akhlak Nabi Muhammad Saw.
Terkadang yang para ulama maksudkan adalah penutup kewalian sisi al Muhammady bathin wa khash. Ini merupakan bagian dari makna yang keempat. Akan tetapi maknanya disini adalah, tidak nampaknya seseorang seperti penampakan sosok pemilik maqam ini. Beliaulah sang wali khatam dengan penampakan yang sempurna pada pangkat tersebut. Yang dimaksud dengan maqam khatam disini bukan tidak adanya wali lain setelahnya, akan tetapi maksudnya adalah tidak adanya wali yang muncul dengan penampakan kewalian yang sempurna seperti yang ditampakkan oleh pemilik maqam tersebut. Oleh para wali khas, inilah yang disebut sebagai wali khatam akbar, tidak ada seseorang yang lebih utama dari beliau selain para nabi dan sahabat nabi.
