You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Catatan Kelima: Tentang pernyataan al khatam dan al katam, meski memiliki pemahaman berbeda tetapi keduanya bersatu pada makna, bahwa yang disifati dengan maqam khatmiyyah, ia pula disifati dengan maqam katmiyyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Catatan Kelima: Tentang pernyataan al khatam dan al katam, meski memiliki pemahaman berbeda tetapi keduanya bersatu pada makna, bahwa yang disifati dengan maqam khatmiyyah, ia pula disifati dengan maqam katmiyyah

Perlu diketahui, bahwa hakekat dari maqam katmiyyah, adalah untuk menyifati maqam yang hanya bisa digapai oleh seorang wali Allah, dialah sang wali khatam akbar yang Allah khususkan dengan penampakan kewalian yang sempurna dalam maqam khatmiyyah.

Meski makna khatmiyyah dan makna katmiyyah itu berbeda dalam pemahamannya, namun keduanya adalah satu kesatuan, sebagaimana diungkapkan oleh sosok wali yang mengaku memiliki maqam tersebut, baik telah dijabarkan secara terperinci maupun global. Bisa jadi dalam konteks ini ada maqam yang lebih dahulu digapai dan maqam yang digapai belakangan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.

Asalnya adalah bahwa sosok yang disifati dengan maqam katmiyyah, dialah pula yang disifati dengan maqam khatmiyyah. Hal itu karena sosok yang memiliki maqam katmiyyah, ia adalah wali khatam, tetapi tidak semua wali khatam memiliki maqam katam, perkara ini sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby Ra.

Kamipun (penulis) tidak sepakat dengan apa yang dikatakan oleh khalayak umum yang menyatakan, bahwa siapapun yang menyifati dirinya dengan wali khatam, ia juga adalah wali katam, sementara nyatanya tidak ada wali yang mengaku memiliki pangkat wali khatam yang mengatakan bahwa dirinya juga wali katam kecuali Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra; beliaulah wali Quthub al Maktum yang juga berpangkat wali khatam. Maka dengan pernyataan yang jelas dan gamblang dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan apa yang telah kami tetapkan sebelumnya, maka tidak perlu diragukan lagi kebenarannya.

Andai dikatakan, bahwa yang memiliki pangkat wali maktum adalah Muhammad bin Isma’il al Imam; yang merupakan kakek dari ‘Abdullah al Mahdi, seperti yang diterangkan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya, sementara kalian katakan bahwa sifat wali ber-maqam katam ini belum pernah diakui oleh seorang walipun sebelum Syaikh kalian (maksudnya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra). Maka kami (penulis) jawab demikian: Yang kami maksud dengan pangkat wali khatam lagi katam adalah pangkat yang sesuai dengan istilah kaum Sufi, dimana sebelumnya engkau pun telah ketahui itu.

Sedangkan Muhammad bin Isma’il yang kalian sematkan sebagai wali maktum, maka hal itupun berdasarkan kesepakatan para pecinta beliau dan simbol kehati-hatian dari orang yang tidak suka kepada beliau.

Ibnu Khaldunpun mengatakan setelah beliau memaparkan seputar Ålu Bait, dimana masyarakat kala itu berada pada posisi tertekan oleh para penjajah, sehingga keberadaan Alu Bait tersebar dimana-mana, ditambah satu demi satu dari mereka keluar dari negeri tersebut, sebagian mereka bersembunyi, hingga mereka pun tidak lagi dikenal, berikut perkataan beliau:

فَلَوْ تَسْتَلِ الأَيَّامَ مَا اسْمِي مَا دُرْتُ # وَأَيْنَ مَكَانِي مَا عَرَفْتُ مَکَانِی

“Jikalau engkau bertanya siapa namaku dan dimana tempatku # maka aku tidak temui itu dan tidak tahu tempatku.”

Aku berkata: Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra seringkali menyenandungkan bait ini dan juga bait sebelumnya seperti yang tertera dalam Jawahir al Ma’âni, yaitu:

تَسَتَرْتُ عَنْ دَهْرِي بِظِلٍّ جَنَابِهِ # فَصِرْتُ أَرَى دَهْرِي وَلَيْسَ يَرَانِي

“Aku terhalang dari zaman dengan naungan sisi-Nya # sehingga aku bisa melihat zaman dan zaman tidak bisa melihatku.”

Sungguh martabat wali khatam lagi maktum nampak diantara para wali Quthub lainnya. Sebab beliau memiliki nisbat dari sisi hakekat al Muhammadiyyah, namun perkara diri beliau tersembunyi, tidak ada yang mengetahui itu kecuali Allah semata, sebagaimana sabda Nabi Saw,

لَا يَعْرِفْنِي حَقِيْقَةً غَيْرَ رَبِّي

“Tidak ada yang mengetahui hakekatku selain Rabbku.”

Meski hadits ini hanya berbicara seputar istilah yang berlaku, namun ia memiliki makna yang benar, begitu juga sang wali Quthub al Maktum ini, tidak ada yang mengetahui hakekat dirinya selain Allah Swt, Nabi Muhammad Saw dan sosok yang disifati dengan maqam tersebut.

Makna ini tidaklah seperti yang dimaksudkan oleh orang Syi’ah, sebagaimana wali khatam itu juga berkaitan dengan beberapa martabat, tidak seperti makna difinitif aslinya yang dipahami kalangan Sufi, sehingga ada yang mengatakan, “Fulan itu penutup ulama mujtahid, penutup qadhi yang adil, dan seterusnya. Diantaranya juga seperti perkataan Ibrahim al Akrami dalam Tarikh Wafati Abul Abbas Ahmad al Maghriby pengarang Nafhu ath-Thib wa Azhar ar-Riyadh dan ulama lainnya. Sungguh indah kala ia mengatakan:

قَدْ خُتِمَ الْفَضْلُ بِهِ # فَأَرَحُوْهُ خَاتِمٌ

“Keutamaan telah tutup dengannya # maka kulihat dialah sosok penutup.”

Yang dimaksud dalam pernyataan ini bukanlah penutup kewalian, Abul Abbas pun tidaklah mengakui maqam itu untuk dirinya. Maksud seperti inilah yang dimaksudkan oleh al ‘Arifbillah Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Shahib Mirbath yang terkenal dengan Ustadz Agung Abu ‘Alawi yang dituliskan biografinya oleh Abu Abdillah Muhammad bin Abu Bakar asy-Syibli Ba ‘Alawi dalam kitab beliau; Al Musyarra’i ar-Râwi fi Manâqib as-Sâdah al Kirâm Âlu Bani ‘Alawi, dimana beliau mengatakan dengan perkataan yang disanjung orang yang mencintai beliau:

وَالْمُقَفَّى مَا بَعْدَهُ مِنْ وَلِيٍّ # فَهُوَ لَا شَلَّ خَاتِمُ الْأَوْلِيَاءِ

“Dan sosok muqaffa (wali yang dimuliakan), tidak ada wali setelahnya # maka tidak sangkakan lagi dialah penutup wali.”

Kemudian beliau berkata: Sang penutup wali dalam istilah kaum Sufi adalah bagi orang yang telah mendapatkan warisan sisi al Muhammady, yaitu maqam Quthbaniyyah al Kubra. Sebagaimana sebutan bagi Raja Roma dengan istilah Kaisar dan Raja Persia dengan Kisra. Ustadz A’zham disini tidak mengakui maqam khatmiyyah bagi dirinya, tetapi para pecinta beliau yang menyenandungkan sya’ir di atas dan yang menisbatkan maqam tersebut kepadanya.

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS MAQAM KHATMIYYAH & KHATMIYYAH SAYYIDI SYAIKH AHMAD AT-TIJANI RA (NAHJ AL HIDAYAH FI KHATM AL WILAYAH) SYAIKH AL ‘ALLAMAH SAYYIDI AHMAD SUKAIRIJ AT-TIJANY