
Elsubha.com – Kenali Imammu; Nabi Muhammad Saw : Agungkan dan Muliakan Nabi Saw
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَعَمْرُكَ اِنَّهُمْ لَفِيْ سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُوْنَ
la’amruka innahum lafii sakrotihim ya’mahuun
“(Allah berfirman), “Demi umurmu (Muhammad), sungguh, mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan).””
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 72)
Ulama ahli tafsir sepakat, bahwa ayat ini berkaitan dengan jatah/bagian umur Nabi Saw dari Allah, inipun merupakan simbol puncak pengagungan sosok beliau Saw.
Sayyidi Ali Harazim Ra pernah bertanya: “Apakah ada kakek-kakek dari Nabi Saw yang tidak mukmin, sebagaimana dipahami orang sebagain orang yang ahli sirah dengan banyaknya khabar yang shahih dan yang tidak?” Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra menjawab: “Sungguh Azar itu adalah paman nabi Ibrahim As, kalau pun dia adalah ayahnya yang asli, maka Allah Swt tidak akan sebutkan nama Azar setelah kata “Abihi” (ayahnya), cukup dengan menggunakan redaksi, “Al Abb (ayah).” Yang menguatkan pendapat ini adalah beliau memohon ampunan untuk kedua orang tuany pada akhirnya, hal ini terjadi setelah Allah Swt mengabarkan agar beliau (nabi Ibrahim As) membebaskan diri dari ayahnya dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
وَمَا كَا نَ اسْتِغْفَا رُ اِبْرٰهِيْمَ لِاَ بِيْهِ اِلَّا عَنْ مَّوْعِدَةٍ وَّعَدَهَاۤ اِيَّاهُ ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗۤ اَنَّهٗ عَدُوٌّ لِّـلّٰهِ تَبَرَّاَ مِنْهُ ۗ اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ لَاَ وَّاهٌ حَلِيْمٌ
wa maa kaanastighfaaru ibroohiima li-abiihi illaa ‘am mau’idatiw wa’adahaaa iyyaah, fa lammaa tabayyana lahuuu annahuu ‘aduwwul lillaahi tabarro-a min-h, inna ibroohiima la-awwaahun haliim
“Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 114)
Sedangkan pada akhir umur ayah beliau, nabi Ibrahim As berkata (yang diabadikan dalam firman-Nya),
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلـِوَا لِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَا بُ
robbanaghfir lii wa liwaalidayya wa lil-mu-miniina yauma yaquumul-hisaab
“Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu-bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).””
(QS. Ibrahim 14: Ayat 41)
Kalau Azar adalah ayah nabi Ibrahim As, maka beliau tidak akan membebaskan diri darinya. Dalam pandangan secara mendalam terkait hal ini, Allah Swt mensucikan para nabi-Nya, Dia tidak akan ciptakan seorang nabi dari air mani yang najis dengan kekufuran.
Dalam hadits Nabi Saw bersabda,
لَمْ يَزَلَ اللّٰهُ يَنْقُلُنِي مِنَ الْأَصْلَابِ الْحَسَنَةِ إِلَى الْأَرْحَامِ الطَّاهِرَةِ
“Allah masih saja memindahkanku dari tulang sulbi yang bersih menuju rahim yang suci.”
