
Elsubha.com – Ragam Kaedah dan Ilmu Ahli Kasyaf : Murid Yang Shadiq
Sungguh murid yang shadiq adalah orang yang mengetahui sisi keperkasaan Rububiyah-Nya Allah dan beragam hak pada martabat uluhiyyah pada setiap makhluk. Posisi itulah yang wajib ada pada semua hamba Allah selama-lamanya, dengan gambaran kepatuhan dan rendah diri, berdiam pada sisi mahabbah dan pengagungan-Nya.
Dialah orang yang mengetahui kebusukan jiwa dan semua tuntutan serta keinginan jiwanya yang bertentangan dengan ragam hak Rabbani. Dia pun mengetahui kelemahan jiwanya dalam mengurus nafsu ammarah bis-su’.
Ketika ia telah mengetahui perkara ini, ia pun akan kembali dengan kejujuran jiwa yang kuat dan kegigihan diri untuk mencari seorang dokter yang mampu mengobati penyakitnya. Meskipun demikian, mencari seorang syaikh dalam syariat bukanlah perkara yang wajib kecuali dengan beragam sebab-sebab tertentu, diantaranya adalah agar mampu ber-tawajjuh pada Allah dengan kejujuran jiwa, dan bersandar pada-Nya dengan kalbu yang konsisten serta konsisten dalam merendah diri pada-Nya seraya memohon pertolongan-Nya dalam menyingkap apa yang ada pada dirinya dari seorang syaikh yang telah wushul pada Allah; yang mampu mengeluarkan dia dari kesedihannya, mampu menunjukkannya pada Allah Swt dan memberikan arahan padanya untuk senantiasa menjalankan ragam perintah-Nya sampai dia pun tenggelam pada lautan-Nya, sehingga tidak ada lagi celah ataupun tipu daya kecuali ini.
Apabila seseorang diberikan taufik pada hal ini dan dia menjadi seorang murid, maka ketahuilah, bahwa seluruh syaikh senantiasa mengekang muridnya dan memperingatkan muridnya dari perkara hawa pada hal yang terkecil sekalipun, karena seorang murid di saat dia mengikuti hawa, maka dia sejatinya telah kafir pada Allah secara nyata karena dia telah menisbatkan pada dirinya sisi ke-uluhiyyah-an dan bermaksiat, tidak mengerjakan perintah Allah bahkan menyelisihinya, maka dia pada hakekatnya telah menyembah selain Allah. Andai ia pun mengatakan, “La Ilaha Illallah” pada kondisi ini, maka lisan halnya akan mengatakan, “Engkau telah berdusta bahkan engkau musyrik.” Dari gambaran ini, maka muncullah hadits Nabi Saw,
مَا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ إِلَهُ يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللَّهِ أَعْظَمُ مِنْ هَوَى مُتَّبَعُ
“Tidak ada dibawah kubah langit ini Tuhan yang disembah selain Allah yang lebih besar dari hawa yang diikuti.”
