
Elsubha.com – Catatan Berharga Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra : Shalawat Pada Nabi Saw
Shalawat pada Nabi Saw merupakan perkara agung, iapun merupakan pintu kesempurnaan dan jalan masuk terbesar menuju (hadhrah) Allah Swt. Barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun tidak bisa temui pintu selainnya untuk dapat masuk ke dalam hadhrah Allah Swt.
Diantara shalawat kepada Nabi Saw adalah bershalawat dengan shalawat Fatih, dimana shalawat Fatih ini merupakan perkara ilahi yang tidak dapat dinalar. Taruhlah jikalau engkau ingin menghitungnya; anggap saja ada 100.000 umat; setiap umat ada 100.000 kabilah; pada setiap kabilah ada 100.000 lelaki yang hidup; setiap orangnya berumur 100.000 tahun; setiap orang dari mereka dalam sehari membaca 1000 shalawat kepada Nabi selain shalawat Fatih…
Maka jangan engkau menoleh kebohongannya orang yang berdusta atau celahnya orang yang mencari celah, bahwa sungguh keutamaan ada ditangan Allah Swt.
Allah Swt berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki., maka sungguh keutamaan Allah Swt jauh untuk bisa dikiaskan dan cukuplah engkau dengan firman-Nya
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَّا لْخَـيْلَ وَا لْبِغَا لَ وَا لْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَا وَزِيْنَةً ۗ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wal-khoila wal-bighoola wal-hamiiro litarkabuuhaa wa ziinah, wa yakhluqu maa laa ta’lamuun
“dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 8)
Dengan demikian, tidaklah ada orang kecuali ia ber-tawajjuh pada Allah Swt dengan sebuah amalan yang sampai pada-Nya. Tidaklah pula seseorang ber-tawajjuh pada Allah dengan amalan yang paling dicintai Allah Swt melebihi shalawat Fatih. Bahkan tidak pula yang paling agung dan dekat di sisi-Nya kecuali satu martabat diatasnya, yaitu orang yang ber-tawajjuh kepada Allah Swt dengan isim a’zhim al a’zham bukan yang lain. (Keutamaannya setara dengan 600.000 bacaan shalawat Fatih).
Lafazh shalawat Fatih adalah:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ، وعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ ومِقْدَارِهِ العَظِيمِ.
“Ya Allah curahkanlah rahmat dan keselamatan atas penghulu kami Nabi Muhammad; pembuka sesuatu yang terkunci; penutup dari semua yang terdahulu; penolong kebenaran dengan jalan yang benar; dan petunjuk kepada jalan-Mu yang lurus; dan juga (curahkanlah rahmat dan keselamatan) atas keluarganya dengan sebenar-benar kekuasaan dan ukuran Allah yang Maha Agung.”
Redaksi, “الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ” adalah bagian dari gambaran alam semesta yang sebelumnya terkunci pada hijab tersembunyi dan gambaran ketiadaan, lalu terbuka dengan sebab keberadaan Nabi Saw, sehingga alam semesta keluar dari gambaran ketiadaan menjadi ada dan dari hijab tersembunyi kepada alam yang nampak, dimana jika bukan karena Muhammad Saw, maka Allah pun tidak akan ciptakan makhluk dan tidak pula mengeluarkan dari sisi ketiadaan menjadi ada. Inilah salah satu maknanya.
Makna yang kedua adalah bahwa beliau Saw membuka beragam kunci pintu rahmat ilahiyyah yang dengan sebab beliaulah terbukanya makhluk. Jika bukan lantaran Allah Swt menciptakan Nabi Muhammad Saw, maka Allah pun tidak menyayangi makhluk-Nya.
Penjabaran di atas memberikan petunjuk bagi kita agar engkau wahai pembaca tidak bersandar pada amalanmu, meskipun engkau berprasangka, bahwa dirimu telah melakukan banyak amalan. Berhati-hatilah jika engkau memperbesar prasangkamu dan lupa akan keutamaan Allah Swt padamu, karena itu adalah sikap ujub yang merupakan bagian dari perkara yang menggugurkan amalan. Bahkan yang terpenting adalah engkau harus berkeyakinan penuh, bahwa tidaklah Allah memberikan padamu kecuali itu murni dari sisi keutamaan-Nya, bukan yang lain.
Berkaitan dengan utamanya Al Qur’an dibandingkan semua amalan; baik dzikiran shalawat dengan shalawat Fatih atau dengan shighat shalawat lainnya, maka perkaranya itu lebih jelas dari matahari ketika dilihat, akan tetapi yang menjadi catatan adalah bahwa orang yang sering membaca Al Qur`an; baik dia mengetahui maknanya atau tidak mengetahuinya, maka dia bisa saja terang-terangan bermaksiat pada Allah tanpa terhentikan dengan bacaan Al Qur’an nya itu, maka pada kondisi orang yang seperti ini Al Qur’an bukanlah yang paling utama, bahkan sekalipun dia terus membaca Al Qur’an, maka dia pun akan terus berdosa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِاٰ يٰتِ رَبِّهٖ فَاَ عْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدٰهُ ۗ اِنَّا جَعَلْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اَكِنَّةً اَنْ يَّفْقَهُوْهُ وَفِيْۤ اٰذَا نِهِمْ وَقْرًا ۗ وَاِ نْ تَدْعُهُمْ اِلَى الْهُدٰى فَلَنْ يَّهْتَدُوْۤا اِذًا اَبَدًا
wa man azhlamu mim mang zukkiro bi-aayaati robbihii fa a’rodho ‘an-haa wa nasiya maa qoddamat yadaah, innaa ja’alnaa ‘alaa quluubihim akinnatan ay yafqohuuhu wa fiii aazaanihim waqroo, wa ing tad’uhum ilal-hudaa fa lay yahtaduuu izan abadaa
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sungguh, Kami telah menjadikan hati mereka tertutup, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka. Kendatipun engkau (Muhammad) menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk untuk selama-lamanya.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 57)
Setiap orang yang telah hafal Al Qur’an dan tidak berdiri pada batasan-batasannya, maka dia telah menjadikan Al Qur’an sebagai bahan tertawaan; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ اَنْـتُمْ هٰۤؤُلَآ ءِ تَقْتُلُوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُوْنَ فَرِيْقًا مِّنْكُمْ مِّنْ دِيَا رِهِمْ ۖ تَظٰهَرُوْنَ عَلَيْهِمْ بِا لْاِ ثْمِ وَا لْعُدْوَا نِ ۗ وَاِ نْ يَّأْتُوْكُمْ اُسٰرٰى تُفٰدُوْهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ اِخْرَا جُهُمْ ۗ اَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَنْ يَّفْعَلُ ذٰلِكَ مِنْکُمْ اِلَّا خِزْيٌ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يُرَدُّوْنَ اِلٰۤى اَشَدِّ الْعَذَا بِ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَا فِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
summa angtum haaa-ulaaa-i taqtuluuna angfusakum wa tukhrijuuna fariiqom mingkum ming diyaarihim tazhooharuuna ‘alaihim bil-ismi wal-‘udwaan, wa iy ya-tuukum usaaroo tufaaduuhum wa huwa muharromun ‘alaikum ikhroojuhum, a fa tu-minuuna biba’dhil-kitaabi wa takfuruuna biba’dh, fa maa jazaaa-u may yaf’alu zaalika mingkum illaa khizyung fil-hayaatid-dun-yaa, wa yaumal-qiyaamati yurodduuna ilaaa asyaddil-‘azaab, wa mallohu bighoofilin ‘ammaa ta’maluun
“Kemudian, kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (sesamamu) dan mengusir segolongan dari kamu dari kampung halamannya. Kamu saling membantu (menghadapi) mereka dalam kejahatan dan permusuhan. Dan jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal kamu dilarang mengusir mereka. Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 85)
Selanjutnya, maka shalawat pada Nabi Saw pada martabat orang ini adalah lebih utama dari membaca Al Qur’an tanpa mengamalkannya. Karena Allah Swt akan membalas shalawatnya satu kali dengan memberikan rahmat kepadanya sebanyak 10 kebaikan. Begitu juga yang berlaku pada semua alam di bumi ini, dibalas dengan 10 kali lipat dari setiap bacaan shalawat seseorang, maka dengan hal itu dia telah mendapatkan kebahagiaan yang abadi, dimana sungguh janji ini datangnya dari Allah dan pasti terwujud. Perkara ini pun berlaku bagi orang-orang yang taat dan orang-orang yang berbuat maksiat pada-Nya.
