
Elsubha.com – Catatan Berharga Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra : Fase Futuh
Kasyaf merupakan derajat paling rendah dari (futuh tahapan pertama) sisi kewalian, karena kasyaf dapat ditemukan pada ahlul haq dan pada ahli kebatinan, dimana pemiliknya tidak merasa aman dengan dirinya dari keterputusan dan ikut bersama orang-orang yang berbuat zhalim hingga maqam tersebut mampu dilewati (ini adalah dalam hal menyaksikan beragam perkara yang sirna, yang membuatnya mampu ber-tasarruf di alam), maka engkau dapat melihat orang-orang yang dipenuhi dengan kebatilan pun bisa berjalan di atas lautan, terbang di udara, mengambil rezeki dari yang ghaib, mereka adalah orang-orang yang kufur pada Allah Swt.
Perkara tersebut terjadi lantaran Allah Swt menciptakan cahaya, darinya malaikat diciptakan, Allah pun jadikan malaikat tersebut penolong bagi pemilik cahaya dengan memberinya taufik dan juga keteguhan serta melakukan perkara di luar nalar manusia.
Allah pun juga ciptakan kegelapan, darinya Allah cipakan syaithan diciptakan. Allah pun jadikan syaithan pembantu bagi ahli kebatilan dengan memberikan mereka istidraj dan tambahan kerugian serta kemampuan dalam di luar nalar manusia.
Futuh tahapan kedua adalah Allah Swt futuh-kan ia sehingga bisa menyaksikan ragam asrar Allah yang ter-hijab bagi ahli kezhaliman, sehingga para wali Allah Al ‘Arifbillah dalam menyaksikan ragam asrar dan berbicara pada mereka dalam jarak yang jauh, seperti halnya munajatnya seorang teman bagi temannya.
lapun dapat menyaksikan arwahnya orang-orang mukmin di atas kuburan dan juga malaikat katibin, para malaikat, alam barzakh, arwahnya orang-orang yang telah meninggal, ia pun mampu menyaksikan kuburan Nabi Saw dan tiang cahaya dari kuburan nabi menuju kubah barzakh.
Apabila dia telah mampu musyahadah dzatnya Nabi Saw secara yaqzhah, maka dia pun telah aman dari permainan syaithan lantaran dia telah berkumpul dengan Nabi Saw, kemudian berkumpulnya dia dengan nabi merupakan sebab menuju ma’rifat Allah Swt.
Apabila seorang hamba banyak berdzikir mengingat Rabb-nya dengan lisan, maka itu akan menghasilkan kehadiran kalbu. Apabila seorang hamba banyak berdzikir dengan hadirnya kalbu, maka Allah lah yang dia saksikan dan disanalah tidak perlu lagi dzikir lisan, akan tetapi dengan kalbu kecuali pada tempat yang dipinta untuk hal tersebut, karena hadhrah penyaksian Allah Swt adalah hadhrah yang membuat pikiran linglung dan mulut pun bisu, dimana yang bersangkutan tidak perlu lagi membutuhkan dalil.
Sungguh apa yang jaiz bagi para nabi sebagai mukjizat, maka itu berlaku pula bagi para wali sebagai sebuah karamah dengan syarat tidak adanya sisi tahaddi (menantang).
Kita telah mengetahui bahwa Nabi Muhammad Saw bertemu para nabi As pada malam isra` dan mengimami shalat mereka. Nabi Saw pun berbicara dengan nabi Musa As secara yaqzhah dan bukan dalam kondisi tertidur.
