
Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Tatacara Berziarah Kepada Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra Secara Ghaib
Bagi murid Tijany yang belum bisa datang ke maqbarah beliau, ada tatacara menziarahi Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra secara ghaib, berikut tatacaranya:
- Melakukan shalat dua raka’at pada waktu apapun, yaitu waktu-waktu diperbolehkannya shalat nafilah, baik di siang maupun malam hari. Dalam shalat itu engkau cukup membaca surah al Fatihah saja.
- Setelah mengucapkan salam pertanda usai shalat, maka kondisikanlah dirimu seolah engkau berada di hadapan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra, sebab beliau sejatinya hidup dan bisa ber-tasharruf melakukan apa saja sesuai dengan izin Allah Swt.
- Kemudian mengucapkan sebanyak 3 kali,
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا شَيْحَنَا وَيَا أُسْتَاذَنَا وَيَا وَسِيْلَتَنَا إِلَى رَبَّنَا وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Semoga keselamatan, rahmat dan barokahnya Allah terlimpah atasmu wahai guru kami, perantara kami menuju Rabb kami.” - Lalu membaca surah al Fatihah sebanyak 7 kali dengan khusyu’ dan hadirnya kalbu, yang diawali dengan bacaan ta’awudz pada pertama kali dan basmalah setiap kali ingin membaca surah al Fatihah tersebut.
- Kemudian membaca:
أَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِجَاهِ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَقْبَلَ مِنِّى مَا تَلَوْتُهُ مِنْ هَذِهِ السُّورَةِ وَهَذِهِ الصَّلاةِ وَ تُبَلِّغُهُ بِمَخْضٍ فَضْلِكَ لِحَضْرَةِ شَيْخِنَا هَدِيَّةً مِنِّي إِلَيْهِ
“Ya Allah, sungguh aku memohon pada-Mu dengan kemuliaan nabi-Mu, penghulu kami Muhammad Saw agar Engkau berkenan menerima apa yang aku bacakan dari surah ini dan shalawat ini, dan (semoga) Engkau berkenan menyampaikannya yang hanya dengan keutamaan-Mu yang murni untuk guru kami sebagai hadiah dariku untuknya.” - Lalu usapkanlah kedua telapak tangan tadi ke mukamu.
- Kemudian angkat kembali kedua telapak tanganmu dan bacalah surah Al Fatihah, setelah sebelumnya didahului dengan bacaan ta’awwudz dan basmalah satu kali, dilanjutkan dengan membaca shalawat Fatih satu kali, lalu berdo’a:
أَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ يَا مَوْلَايَ بِجَاهِ عِبَادِكَ الَّذِينَ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهِمْ سَكَنَ عَضَبُكَ، وَبِحُرْمَةِ الْحَافِينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ، وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَبِحُرْمَةِ شَيْخِنَا سَيِّدِي أَحْمَدَ التِّجَانِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، وَبِحُرْمَةِ خَلِيْفَتِهِ سَيِّدِي الْحَاجِ عَلِي حَرَازِمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِإِخْوَانِي وَوَالِدِيْهِمْ وَجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَأَنْ تُفِيضَ عَلَيَّ مِنْ مَدَدِ شَيْخِي هَذَا مَا تَعُوْدُ بَرَكَتُهُ عَلَيَّ فِي دِيْنِي وَدُنْيَايَ وَأَخِرَتِي، وَأَنْ تُعْطِيَنِي كَذَا وَكَذَا (تُسَمَّى مَا شِئْتَ)
“Ya Allah, sungguh aku memohon pada-Mu, wahai Tuanku, dengan pangkat hamba-hamba-Mu yang apabila Engkau melihat mereka, kemarahan-Mu reda, (akupun memohon); dengan kehormatan para malaikat yang mengelilingi Arasy; dengan kehormatan nabi dan rasul-Mu; penghulu kami Muhammad Saw; dengan kehormatan guru kami Sayyidi Ahmad at-Tijany Ra dan dengan kehormatan khalifahnya; sayyidi al Hajj ‘Ali Harazim agar Engkau berkenan menyampaikan shalawat atas Sayyidina Muhammad dan bagi keluarga beliau, sahabat beliau, para istri beliau dan anak keturunan beliau, dan agar Engkau mengampuniku dan juga kedua keluargaku, mengampuni ikhwanku dan para orang tua mereka, juga mengampuni semua kamu muslimin dan muslimat; baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan Engkau memberikan kucuran faidh dari madad-nya guruku ini, yang barokahnya kembali padaku pada agama, dunia dan akhiratku, dan agar Engkau memberikanku ini dan itu (sebutkan hajat yang dimaksud).” - Kemudian membaca shalawat Fatih 1 kali dan bacaan
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامُ عَلَى
الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Mahasuci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan
dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para Rasul. dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.” (Qs. Ash-Shaffât [37]: 180-182)
Kami telah dapatkan dari sebagian ikhwan thariqah at-Tijaniyyah bahwa ini merupakan sebuah riyadhah (olah batin) untuk menjernihkan bathin dan menggembleng akhlak. Hasilnya dapat dilihat secara nyata setelah ia melakukan khalwat empat puluh hari dan juga dengan riyadhah lainnya.
Akupun mendapatkan faedah dari orang-orang yang telah futuh dalam thariqah ini, bahwa mereka biasanya menambahkan nama-nama muqaddam sandaran mereka; yang menalqinkan mereka wiridan, dengan menambahkan bacaan berikut setelah bacaan (*) di atas:
وَبِحَقِّ الْمُقَدَّمِ الَّذِي تَلَقَّيْتُ عَنْهُ هَذِهِ الطَّرِيقَةِ سَيِّدِي فُلَانٌ، وَبِحَقِّ الَّذِي أَخَذَ عَنْهُ سَيِّدِي فُلَانٌ …. الى سيدى الشيخ أحمد التجاني رضي الله عنه
“Dan dengan hak muqaddam yang darinya aku mendapatkan talqin thariqah ini; sayyidi Fulan dan juga dengan hak muqaddam yang ia mengambil darinya, sayyidi fulan…hingga sanad tersebut sampai pada Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra.
Hal ini bertujuan agar dipercepat datangnya ijabah dari Allah Swt lantaran sikap husnuzh-zhan pada Ahlullah (yaitu para muqaddam dalam sanad thariqah), terlebih jika kita mempunyai mata rantai sanad yang beragam. Kemudian setelah membaca ini baru menutupnya dengan do’a rahmat dan permohonan ampunan bagi mereka. Hal ini dilakukan baik muqaddam terkait masih hidup atau sudah meninggal dunia.
(Lihat, Sayyidi Ahmad al ‘lyyasy Sukairij, Raf an-Niqab Ba’da Kasyl al Hijab ‘Amman Talaqqa Ma’a Asy-Syaikh at-Tijany Min al Ashbab, bagian seperempat kedua, hal. 100-101.)
