
Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Syarat Seorang Murid
إِنَّ الْإِرَادَةَ لَا تَكُوْنُ إِرَادَةً # حَتَّى تَكُوْنَ لَهَا شُرُوطٌ أَرْبَعْ
الْعِلْمُ وَالتَّقْوَى وَقَوْلُ صَادِقٌ # وَتَمَامُهَا قَلْبٌ مُنِيبٌ يَخْشَعُ
(Lihat, Sayyidi Ahmad al ‘Iyyasy Sukairij, Raf’u An-Niqab Ba’da Kasyf al Hijab Amman Talaqqa Ma’a asy-Syaikh at-Tijany Min al Ashbab, Seperempat Kedua, hal. 62)
Sungguh suatu keinginan tidaklah menjadi keinginan # hingga ia menepati empat syarat
Ilmu taqwa perkataan jujur dan penyempurnaannya # adalah kalbu yang senantiasa meminta ampunan lagi khusyuk.
Seorang ikhwan diperbolehkan menziarahi para nabi dan para sahabat serta ikhwan sesama thariqah. (Lihat, Sayyidi Ahmad bin al ‘lyyasy Sukairij, Rafu An-Niqab Ba’da Kasyf al Hijab ‘Amman Talaqqa Ma’a asy-Syaikh at-Tijany Min al Ashbab, Seperempat Pertama, hal. 107)
Seorang murid tidak lazim mengikuti Syaikh Ra dalam semua perbuatan, perkataan dan ahwal beliau, kecuali memang ia diperintah untuk itu. Karena para wali Allah tidaklah ma’shum. al Junaid al Baghdadi Ra pernah berkata, ketika dikatakan padanya, “Apakah mungkin seorang yang ‘Arifbillah itu berzina?” Beliau menjawab, “Ketetapan Allah sungguh akan berlaku, dimana hukum itu telah ditetapkan pada masa lampau dan bukan untuk kemudian hari. ” (Lihat, Sayyidi Ahmad bin al ‘lyyasy Sukairij, Thuruq Al Manfa’ah fi al Ajwibah ‘An al As ‘llah al Arba’ah, hal. 12,13.)
